seorang wanita cantik turun dari motor merapikan rambut panjang yang sedikit berantakan tertiup angin,lalu ia melangkah menuju fakultasnya,karna melangkah sambil menunduk melihat handphone kakinya tersandung batu, tubuhnya tersentak ke depan Aluna memejamkan mata karna dia yakin tubuh nya sebentar lagi akan mencium tanah, tapi setelah beberapa saat dia tidak merasakan sakit justru dia merasa tubuh nya ada yang menahan, saat Aluna membuka mata pandangan nya berhenti pada sorot mata tajam nan dingin..
penasaran dengan ceritanya? yuk lanjut baca🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Queen kaka Agustin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
Wanita muda yang baru masuk kedalam rumah, melemparkan tas nya ke sopa dengan kasar kalau duduk
"sialan, aku harus memisahkan mereka"
Ucapnya menggebu
Lalu memikirkan rencana apa yang akan dia lakukan,
dia tersenyum licik, di otaknya sudah banyak rencana2 jahat untuk memisahkan Alfian dan Aluna
...****************...
mobil yang mereka tumpangi memasuki gerbang mewah rumah Alfian
Hera,Aluna dan nenek Mita melangkah masuk kedalam
Sedang Alfian masih mengambil barang-barang ibu dan neneknya.
Mereka melangkah menuju ruang tamu
"duduk dulu sayang" ucap Hera
"iya mama , terimakasih" jawab Luna
Hera melangkah ke dapur menyuruh pelayan menyiapkan minum dan cemilan
Sedang nenek Mita pamit ke kamar, untuk istirahat
Alfian melangkah masuk ke dalam rumah meletakan belanjaan di meja dekat sopa
Lalu duduk di dekat Aluna
"cape mas" tanyanya perhatian
"lumayan sayang"jawabnya menghela napas lega
Hera muncul dari arah dapur di ikuti pelayan yang membawa nampan berisi minuman dan cemilan2 buatan nya sendiri
"ayo sayang di cicipi dulu, kue2 ini buatan mama loh" ucapnya antusias
Aluna tersenyum "iya mama, "
Lalu dia mengambil kue bawang, mencicipinya, matanya berbinar
"wah enak sekali ma, kebetulan ini cemilan kesukaan Aluna, "ucapnya
" benarkah?, syukurlah kalau kamu suka sayang, nanti akan mama bawakan " ucap Hera senang
Aluna tersenyum malu mendengarnya "terimakasih mama"
Hera tersenyum lalu berdiri melangkah menuju dapur
Dia menyuruh pelayan untuk membungkus semua stok kue bawang.
Setelah selesai hera membawa satu paperbag kue bawang
"ini sayang bawalah, nanti kalau kurang bilang, mama akan buatkan lagi" ucapnya lembut
Aluna terkejut pasalnya kue bawang yang hera berikan sangat banyak
"ini banyak sekali ma, apa tidak apa-apa, " ucapnya lirih
Dia merasa tidak enak sekaligus malu
"tidak apa-apa sayang ,Karana di sini tidak ada yang terlalu suka dengan kue bawang, hanya mama saja yang suka"ucapnya
"dan mama senang ternyata kamu juga suka , jadi mama punya partner penyuka kue bawang, mulai hari ini mama akan lebih semangat membuat nya"lanjutnya antusias
Aluna terharu mendengarnya, dia tersenyum lembut " terimakasih mama, sudah menyayangi ku seperti anak sendiri,"
"kamu memang anak mama sayang" jawabnya tersenyum bahagia
Aluna balas tersenyum hangat..
Alfian yang melihat itu hanya tersenyum tipis, dia juga bahagia melihat senyum lebar mama dan calon istrinya.
"ya sudah ma aku antar Aluna pulang dulu" ucap Fian
"kenapa buru-buru sekali nak" tanyanya
"iya ma maaf , nanti sore teman Aluna mau ke rumah "jawabnya
"oh baiklah, sering2lah main ke sini sayang" ujarnya sambil memeluk Aluna hangat
" iya mama ," jawabnya lalu mencium tangan Hera
"ma Aluna belum pamit sama nenek dan kakek" ucapnya
"iya mama hampir lupa, sebentar mama ke kamar nenek dulu" jawabnya berlalu ke arah kamar ibu mertua nya
Setelah menunggu beberapa saat Hera, nenek Mita dan kake Hanggono muncul mereka melangkah mendekat
Aluna yang lebih dulu menghampiri
"nenek, kakek terimakasih hadiahnya, semoga nenek dan kake selalu sehat, Aluna mau pamit pulang dulu" ucapnya lembut
"sama-sama sayang, aamiin, ya hati2 di jalan, sampaikan salam nenek pada Oma mu"jawab Mita ,sambil mengelus kepala Aluna
Lalu memeluknya hangat
Aluna beralih ke arah kakek Hanggono menyalaminya
"hati-hati nak" ucapnya
"iya kakek " jawabnya
Lalu mereka mengantar Aluna sampai depan rumah
Menunggu sampai mobil sudah keluar gerbang dan tidak terlihat.
Mereka melangkah masuk kedalam rumah
"Hera" panggil ayah mertuanya
"iya yah" jawabnya
"kita ke ruang kerja Ammar, aku ingin bicara dengan kalian, dan aku sudah menghubungi Ammar tadi untuk pulang sebentar" ucapnya
"iya ayah" jawabnya
mereka melangkah menuju ruang kerja Ammar
Hera membatin' pasti ada hal penting, '
biasanya kalau ada hal-hal penting Hanggono selalu mengajak mereka bicara di ruang kerja Ammar
......................
Ammar melangkah masuk kedalam rumah dengan langkah yang sedikit tergesa
Wajahnya dingin, tatapan nya tajam
melangkah menuju ruang kerja
Membuka pintu pelan Lalu melangkah masuk
dan duduk di sebelah istrinya
Hanggono menatap putranya
"apa kamu sudah tau tentang wanita itu"ucap nya
"iya yah, aku menyelidiki nya" jawabnya
"dia mulai bergerak, apa rencanamu" tanyanya menatap Ammar tajam
"untuk saat ini aku ingin lihat dulu dia akan melakukan apa" jawabnya
Hanggono yang mendengar itu menatap tajam
"sampai kapan ? Sampai menantumu celaka lalu putramu sakit lagi" bentak nya
Semua yang ada di ruangan itu menegang
"apa kamu gila Ammar, sudah jelas dia mengincar cucu menantuku, lalu apa yang kamu tunggu hah? Tanyanya lagi.
" maaf yah, bukan itu maksudku "jawab Ammar lirih
" lalu ?" tanyanya
Lalu Ammar mulai memberitahu langkah apa saja yang sudah dia pikirkan
dia ingin melihat dulu rencana awal wanita sialan itu. Setelahnya dia baru akan bergerak
Hanggono mengangguk mengerti
"baiklah ayah ingin lihat dulu pergerakan mu , tapi jiga terjadi sesuatu yang fatal terhadap cucuku, maka aku sendiri yang akan menangani nya" jawabnya tegas
Ammar mengangguk mengerti
"kalian harus hati-hati, ibu tidak mau cucu ibu sakit lagi seperti dulu, ibu melihat cintanya begitu besar untuk Aluna" ucap Mita
"iya Bu, itu tidak akan terjadi" jawab Ammar
" baiklah, ayah ke kamar dulu, ayo Bu " ajaknya ke arah Mita,
Mereka melangkah keluar dari ruang kerja
Kini hanya tinggal Ammar dan Hera saja di ruangan itu
Hera mengelus lembut tangan suaminya
" kita akan hadapi ini bersama mas"
Ucapnya menenangkan , punggung yang tegang itu sedikit mengendur mendengar ucapan istrinya
Dia menoleh menatap wanita yang sudah bertahun-tahun menemaninya itu
"terimakasih sayang" jawabnya Lalau memeluk Hera
"ya kita harus kuat, dan hadapi ini bersama-sama, jangan biarkan mereka menghancurkan lagi putra kita" ucap Ammar
"iya kamu benar, dan itu tidak akan terulang" jawabnya
"lalu apakah kamu akan bicara dengan Daniel"tanyanya
Ammar terdiam sejenak " ya dia harus tau, bagaimanapun ini menyangkut Aluna" jawabnya
Tidak ada lagi obrolan, Meraka sama2 merenung,
Keadaan ini membuat suasana terasa sulit, dengan beban pikiran yang berat.
...****************...
"hallo, ada apa"
"aku ada pekerjaan untukmu"
" pekerjaan seperti apa"
"nanti aku kirim fotonya. Edit yang bagus, jangan terlihat seperti editan harus mulus, "
"baiklah, tapi ingat bayaran di awal"
Si wanita yang mendengarnya tersenyum miring
" tenang saja , aku akan TF hari ini
"oke"
Tut. Panggilan terputus
Dia tersenyum miring,
mengirim foto-foto itu,
Lalu mentransfer uang ke no rek seseorang,
Setelah selesai dia duduk menyandarkan tubuhnya ke sopa, lalu meminum alkohol, menyesapnya dan tersenyum puas
"ini baru langkah awal Al, sebentar lagi kau akan jadi milikku "ucapnya menyeringai
"dan aku akan menguasai kekayaan keluarga mu, Lalu setelahnya aku akan menyingkirkan kalian semua"
Hahahahahah tawa itu menggema di ruang kamar yang sunyi.
Wanita itu Susan,
udah baca ceritanya malah berhenti di tengah jalan lagi...
awas aja... 😤😤