Sinopsis
Alya Maheswari percaya satu hal: cinta pertamanya sudah mati.
Lima tahun lalu, ia meninggalkan kota kecilnya dengan hati yang hancur dan mimpi yang hampir padam. Ia memilih kuliah di luar kota, membangun hidup baru, dan berjanji tak akan pernah kembali ke tempat yang menyimpan terlalu banyak kenangan.
Namun takdir punya caranya sendiri.
Saat ibunya sakit, Alya terpaksa pulang. Dan di kota yang penuh senja itu, ia kembali bertemu dengan Arka Pratama — pria yang pernah menjadi rumahnya… dan juga luka terbesarnya.
Arka bukan lagi pemuda ceroboh yang dulu ia kenal. Kini ia lebih tenang, lebih dewasa, dan menyimpan sesuatu yang belum pernah sempat ia katakan.
Di antara rahasia masa lalu, kesalahpahaman yang belum selesai, dan perasaan yang ternyata tak pernah benar-benar pergi… apakah cinta mereka benar-benar sudah berakhir?
Atau justru, senja hanya menunggu untuk kembali pulang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon penulis handal wakakkak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26: Audit Terhadap Pengkhianat
Kamis pagih di Melbourne terasa seperti medan perang yang dingin. Alya tidak lagi bangun dengan mata sembap. Dia bangun dengan kemarahan yang jernih—jenis kemarahan yang membuatnya mampu membaca ribuan baris data tanpa berkedip. Di meja makan, Arka masih menatap layar laptop dengan wajah pucat. Partner bisnisnya di Sydney, seorang pria bernama Kevin yang dulu adalah sahabat kuliahnyah, baru saja mengirimkan draf pemisahan aset.
"Dia mau mengambil algoritma utamanya, Al," suara Arka parau. "Dia bilang itu kontribusi dia karena dia yang 'menjaga' klien di lapangan sementara aku cuma 'bersembunyi' di Carlton."
Alya meletakkan cangkir kopinya dengan denting yang tajam. "Dia nggak cuma mau pisah, Bang. Dia mau merampokmu karena dia pikir kamu sedang kehilangan fokus."
Alya menarik laptop Arka. Matanya memindai draf itu. Sebagai auditor, dia dilatih untuk melihat apah yang tidak tertulis di antara baris-baris kalimat legal. "Kevin bilang dia yang menjaga klien? Coba cek log akses server minggu lalu."
Arka mengetik cepat. "Ada akses dari IP Sydney... jam dua pagi. Berkali-kali."
"Dia sedang menyalin database klien, bukan menjaganya," cetus Alya. "Dia mempercepat proses pisah ini karena dia tahu investor Sydney itu sebenarnyah lebih tertarik padamu, tapi dia ingin membawa 'barang jarahan' sebelum kamu sadar."
Alya berdiri, mengenakan jaket trench-nya dengan gerakan tegas. "Simpan semua log itu, Bang. Jangan balas emailnya sampai aku pulang. Aku punya 'perang' sendiri di kantor, tapi strateginya sama: jangan biarkan mereka pikir kita lemah hanyah karenah kitah memilih untuk punya rumah."
Di kantor lantai 12, suasana terasa seperti kulkas yang rusak—dingin dan bau busuk. Rekan setim Alya, seorang pria bernama Marcus yang sejak awal mengincar posisi Regional Lead, tampak sedang tertawa kencang di ruang istirahat dengan Regional Head. Begitu Alya lewat, tawa itu mendadak surut, diganti dengan senyum simpul yang meremehkan.
"Pagi, Chief," sapa Marcus dengan nada yang terlalu ramah. "Gimana kabar 'keterikatan domestik'-mu? Kami baru saja bahas rencana audit fisik ke Jakartah minggu depan. Bos bilang kamu absen, jadi aku yang bakal ambil alih koordinasinya."
Alya tidak berhenti berjalan. "Bagus, Marcus. Semoga kamu sudah baca revisi anggaran yang aku buat. Karena kalau kamu pakai format lama, kamu akan terjebak di bea cukai karena laporan emisi vendor yang tidak sinkron."
Alyah masuk ke ruangannya dan langsung mengunci pintu. Dia tidak membuka email kerja. Dia membuka folder "Data Mentah Vendor Karbon" yang dikirim tim Jakarta tiga hari lalu—data yang mereka bilang "kaku" saat dia kritik.
Dia bekerja seperti mesin. Menggunakan rumus-rumus kompleks, dia membandingkan manifes pengiriman dengan laporan penggunaan bahan bakar. Dan di sana, di baris ke-4.500, dia menemukannya. Sebuah pola yang sangat rapi, terlalu rapi untuk sebuah kesalahan manusia.
Ada penggelembungan biaya logistik sebesar 12% yang dialirkan ke sebuah perusahaan cangkang di Singapura. Dan perusahaan itu punya kaitan dengan vendor yang direkomendasikan oleh... Marcus.
Alya tersenyum dingin. "Jadi ini alasannya kalian ingin aku tetap di Melbourne atau tetap sibuk dengan urusan rumah tangga? Supaya tidak ada yang melihat lubang ini?"
Pukul 15.00, Alya meminta pertemuan mendadak dengan Regional Head. Marcus ikut masuk ke ruangan itu, tampak percaya diri dengan map di tangannya.
"Ada apa, Alya? Masih mau bahas soal absen ke Jakarta?" tanya bosnya, bosan.
Alya meletakkan tabletnya di atas meja. Layarnya menampilkan diagram alir yang rumit tapi jelas. "Saya tidak akan ke Jakarta, Sir. Tapi saya menyarankan kita memanggil tim kepatuhan internal pusat sore ini."
Marcus mengerutkan kening. "Apa maksudmu?"
"Data yang kamu bilang 'kaku' itu, Marcus, sebenarnya adalah bukti penggelapan," kata Alya tenang, suaranya seperti pisau bedah. "Vendor logistik yang kamu rekomendasikan ternyata melakukan double billing. Dan saya menemukan aliran dananya berakhir di akun yang berafiliasi dengan nama keluargamu di Singapura. Itulah alasan kalian menyerang saya dengan isu 'domestik', bukan? Agar saya terdistraksi?"
Ruangan itu mendadak sunyi sesunyi kuburan. Wajah Marcus berubah dari merah menjadi putih pucat dalam hitungan detik. Regional Head mengambil tablet Alya, matanya bergerak cepat membaca baris-baris bukti yang tak terbantahkan.
"Marcus?" suara bosnya rendah dan berbahaya.
"Ini... ini salah paham, Sir. Alya pasti memanipulasi datanya karena dia kesal posisinya terancam—"
"Data mentah tidak bisa dimanipulasi setelah masuk server pusat, Marcus," potong Alya. "Kamu tahu itu. Dan omong-omong, Sir, saya sudah mengirimkan salinan ini ke Direktur di Singapura lima menit yang lalu. Sebagai bentuk 'tanggung jawab domestik' saya agar kantor pusat tahu kenapa efisiensi kita menurun."
Alya berdiri, merapikan jaketnya. Dia menatap Marcus yang kini tampak seperti tikus terjepit. "Jangan pernah meremehkan orang yang memilih untuk tinggal, Marcus. Kami punya lebih banyak waktu untuk memperhatikan detail karena kami tidak sibuk mencari cara untuk lari."
Alya keluar dari ruangan itu dengan kepala tegak. Dia tidak merasa menang; dia hanya merasa telah membersihkan kotoran yang menghalangi jalannya.
Saat dia sampai di rumah, Arka sedang menelepon dengan nada tinggi. "Aku punya log akses servernya, Kevin! Kalau kamu berani membawa draf itu ke investor, aku akan menuntutmu atas pencurian kekayaan intelektual dan spionase industri. Pilihannya dua: kamu mundur dengan damai dan ambil bagianmu yang jujur, atau kita selesaikan ini di pengadilan Federal."
Arka menutup telepon, napasnya memburu. Dia melihat Alya berdiri di pintu, memegang sekantong belanjaan berisi daging steak dan botol anggur murah.
"Gimana, Bang?" tanya Alya.
"Dia ciut," jawab Arka, lalu tertawa lega. "Dia nggak sangka aku tahu soal akses server jam dua pagi itu. Kamu benar, Al. Dia pikir aku sedang tidur atau terlalu sibuk dengan tembok hijau ini sampai lupa memantau sistem."
Alya mendekat, meletakkan belanjaannya, dan memeluk Arka erat di depan tembok hijau mint mereka. "Mereka pikir kita lemah karena kita memilih untuk punya akar. Mereka lupa kalau akar itu yang membuat pohon tetap tegak saat badai, sementara mereka hanya daun yang terbang ditiup angin."
Malam itu, mereka merayakan kemenangan kecil mereka. Bukan dengan pesta besar, tapi dengan makan malam di meja lipat yang masih goyang, di ruangan yang baunya mulai benar-benar seperti rumah.
"Besok," kata Arka sambil menuang anggur ke gelas keramik karena mereka belum punya gelas kristal, "kita beli gorden. Aku nggak mau Mr. Henderson melihat kita merayakan kemenangan ini terlalu keras."
Alya tertawa. "Biarkan saja dia melihat, Bang. Biar dia tahu kalau tembok hijau ini bukan cuma soal warna. Ini soal siapa yang bertahan di dalamnya."
Di luar, hujan Melbourne turun lagi, mencuci aspal Carlton yang bau bensin. Tapi di unit 3B, semuanya terasa bersih. Sangat bersih.
Izinn
ahh pria solo itu lagii🤣🤣