NovelToon NovelToon
SANG PERWIRA

SANG PERWIRA

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh / Pengantin Pengganti
Popularitas:162.9k
Nilai: 5
Nama Author: Penapianoh

Memiliki jabatan perwira, wajah tampan, di gilai banyak wanita, dan juga terlahir dari keluarga konglomerat tak lantas membuat Aabid diliputi kebahagiaan dalam berumah tangga.

Bagaimana tidak, istri yang ia nikahi masih dalam hitungan hari itu, sedang bersama seorang pria di dalam kamar, kamar yang dipersiapkan untuk malam pertama Aabid bersama istrinya, yang rencananya akan mereka lakukan setelah Aabid pulang tugas, namun...

Penasaran dengan alurnya? yukk baca...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Penapianoh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SANG PERWIRA 26

Selina merenung sesaat setelah kepergian Aabid masuk ke dalam kamar. Angannya mulai melayang, membandingkan wajah penuh kebahagiaan Rara tadi malam dan kemurungan Rara kala pulang dari rumah sang nenek.

Keduanya membuat selina kembali berpikir bahwasanya apa yang dikatakan oleh Aabid ada benarnya.

Baju sudah di tangan, alamatnya pun benar, bahkan nama Rara jelas tertulis di sana. Jikalau ada yang salah tentu bukan Rara atau keluarganya yang salah, bukan?

Ponsel berdering, selina melirik ke arahnya.

"Ah, A'Dimas pasti menuntut penjelasan. Harus menjawab apa?" batin selina bertanya pada dirinya sendiri.

Pendar layar mati setelahnya, panggilan yang sempat diabaikan selina kini berubah menjadi rentetan pesan yang dikirim secara bertubi.

Selina kamu kemana?

Kamu belum tidur, kan?

Kamu ribut sama Dito?

kamu kenapa?

Jadi siapa yang kirim baju untuk Rara?

Selina Aa' mau bicara, masih kangen.

Rentetan pesan yang bergulir masuk bisa selina baca meski tak membukanya. Namun pesan terakhir yang Dimas kirim membuat hati selina menghangat lalu perlahan meraih ponsel dan balik menghubunginya.

"Assalamualaikum, A'," kata selina membuka suara begitu telepon diterima.

"Wa'alaikumslaam. selina, kemana aja?"

"Maaf, tadi selina teh, ke belakang."

"Oh, Aa' kira kamu ribut sama Dito."

"Enggak, cuma Dito kasih tahu kalau nggak usah dikirim kembali bajunya ke ekspedisi." selina berusaha menjelaskan agar semua selesai tanpa ada pertengkaran.

"Emang sudah tahu siapa yang kirim?" Nada bicara Dimas yang selina sudah hafal membuatnya mengernyit bingung.

Jadi benar bukan Dimas? Jika benar bukan Dimas yang mengirim, lalu siapa? Saat ini pertanyaan tersebut memenuhi kepala selina.

Tapi selina tak mau terus larut dalam kebimbangan dengan menepis segala pikiran yang baginya membingungkan.

"Kata Dito teh nenek." Akhirnya selina menjawab. Ah, ya sudah jika Dimas bersikap demikian tak ada salahnya selina juga berpura-pura tidak tahu. Keputusan akhirnya dibuat.

"Oh ...," jawab Dimas lega.

"Iya, kemarin sempat bersitegang di rumah nenek perihal baju dan Rara nangis. Jadi nenek kirim lagi untuk Rara, mungkin dari online jadi pake ekspedisi."

Alasan kembali diberikan agar terlihat natural dan tidak menimbulkan perdebatan panjang.

"Kenapa nggak bilang Aa'? Kalau kamu bilang Aa' kan bisa beliin untuk Rara."

"Jadi benar? Bukan A' Dimas yang mengirim?" batin selina.

Meskipun sudah membuang jauh keingintahuannya, tapi ia masih saja bingung.

"selina."

"Iya, A."

"Aa' sudah nggak sabar menunggu hari Minggu, sel." selina tersenyum malu-malu.

Sekalipun tidak berhadapan langsung, namun selina masih saja merasakan malu yang luar biasa setiap kali Dimas membahas perihal hari pernikahan mereka.

"Ya udah, ya, A'. selina shalat dulu."

"Oh, gitu, ya, sel. Ya ampun, Aa' sampai nggak tau waktu. Maaf, ya sel. Aa' nggak bisa tenang kalau belum denger jawaban dari kamu perihal baju itu."

"Aa' nggak percaya sama selina?"

"Ya enggak gitu, sel. Mungkin Aa' terlalu takut kehilangan kamu."

Lagi, kata-kata Dimas membuat selina harus menahan malu, pipinya pun menghangat di balik layar yang masih menyala itu.

"Udah dulu, ya, A'. selina tutup. Assalamualaikum."

"Wa'alaikumsalam."

Selina Ningtyas. Bahagia, sedih, atau malu bisa ia tutupi sedemikian rupa. Hal itu pula yang menjadikan Dimas semakin terpesona dan penasaran dibuatnya.

Tak begitu menanggapi sekalipun ia begitu ingin. Tak begitu menunjukkan bahagia sekalipun hatinya diliputi kebahagiaan yang mendalam.

Selina, gadis pendiam yang tak banyak bicara sekalipun banyak yang menggunjingnya, mengatakan hal yang tidak-tidak tentang pernikahan beda kasta yang sebentar lagi akan dijalaninya.

Selina memilih untuk tidak menjadikan emosi sebagai pelampiasan melainkan do'a.

Di balik telepon yang sudah mati, senyum tak hentinya tersungging di bibir Dimas. Bagaimana ia tidak merasa seberuntung ini, jika sebentar lagi ia menikahi gadis yang diidamkan sedemikian rupa.

Wajahnya yang menawan dan perilakunya yang sopan membuatnya tak ada alasan untuk berpaling pada wanita lain.

Dan ketaatannya pada sang Pencipta membuatnya semakin yakin bahwa selina tak hanya tepat, tapi mendekati sempurna untuk Dimas dan harus dia miliki seutuhnya.

***

Pagi harinya tak ada lagi perdebatan mengenai baju yang dikirim untuk Rara. Setelah selina memutuskan untuk mengatakan 'iya' baju tersebut kiriman dari Dimas untuk Rara pada ibunya.

Selain untuk memutus keributan hal itu dilakukan selina agar sang ibu tidak kepikiran menjelang hari H pernikahan dan Rara tak kembali murung.

Hal lain yang membuat perihal baju seolah memudar pagi ini adalah karena pagi ini persiapan pernikahan selina sudah dimulai.

Para tetangga hadir untuk membantu hajatan.

Sementara itu Aabid harus bersabar dikunci dari luar di dalam kamar setelah kesepakatan dilakukan dan disetujui oleh Aabid.

Semua dilakukan untuk menghindari adanya orang yang masuk tanpa permisi ke kamar tersebut dan akhirnya keberadaan Aabid diketahui lalu keributan akan terjadi.

Di dalam kamar Aabid hanya bisa bermain dengan ponsel barunya. Membuka berbagai informasi sekaligus menghibur diri dengan scroll media sosial, kemudian memainkan game kegemaran.

Ada Rasa bosan yang kadang menerpanya. Tapi mau bagaimana. Ia harus bersabar demi kelangsungan acara selina bisa berjalan dengan lancar.

Di dalam kamar ia melatih otot-otot kaki yang sudah mengalami banyak kemajuan. Ia melakukan gerakan peregangan hingga pelemasan, hal yang sudah lama ia tak lakukan.

Suara deru mobil terdengar di telinga Aabid ketika ia sibuk melatih otot kakinya. Pikirannya langsung tertuju pada seorang lelaki yang menjadi tokoh utama dalam acara yang hanya tinggal menghitung hari. Dimas.

"Ah." Ia mendesah, lalu kakinya mengayun ke arah jendela kamar tanpa ia minta.

Dari jendela kaca berukuran cukup besar yang tertutup kain gorden bermotif bunga ia berdiri di baliknya.

Aabid lalu menyibaknya sedikit dan bisa melihat dari tempatnya bahwa bukan lelaki yang pernah ia lihat di depan masjid yang turun dari mobil berwarna hitam yang terparkir di depan rumah, melainkan sebuah keluarga.

Hatinya menghangat, lalu kembali ke tempat semula dengan perasaan lebih tenang. Tapi kenapa? Entah mengapa semua yang berhubungan dengan selina ia tak tertarik untuk mengikuti, namun justru membenci.

"Assalamu'alaikum." Terdengar suara salam setelahnya.

"Wa'alaikumsalam. Eh, Bu Hasna. Maksudnya Hajah Hasna," sapa salah satu tetangga.

"Asri, ibu kamu datang, Sri," teriak salah satu tetangga lain yang juga membantu hajatan.

Lalu semua yang ada di ruang tamu bergegas masuk ke dalam kala tamu kehormatan yang membuat mereka sungkan memasuki rumah.

Asri datang tergopoh dari dalam. Menyambut kedatangan tamu yang ditunggu-tunggu. Hasna datang bersama kedua putri dan menantunya.

Asri meraih tangan sang ibu lalu mencium punggungnya.

"Silahkan duduk, Bu. Teh, Kang Veri, Kang Hendro, mangga sadayana." Asri mempersilahkan dengan penuh kerendahan hati setelah menyalami saudara beserta kakak iparnya.

Wajah keriput nan angkuh dan sombong itu melangkah dan diikuti keempat anaknya. Ia menatap ke seluruh sudut ruang dengan tatapan menghina.

"Kalau mau hajatan minimal rumah diperbaiki. Bikin malu aja," ujar Hasna mendudukkan diri di sofa berbahan sintetis milik Asri dan diikuti oleh kedua putri dan menantunya yang hanya diam tak menengahi sekalipun tahu bahwa perkataan itu menyinggung sang adik.

"Harun kan sudah ngebon di tempat kerja. Mungkin sudah nggak bisa bon lagi untuk ngurus rumah, Bu. Ibu maklum, dong," sahut Veni, terkesan menengahi namun sejatinya menghina.

Veni adalah anak ke dua Hasna, ibu dari Ayu dan istri dari Hendro yang bekerja di tempat yang sama dengan Harun.

Bekerja di tempat yang sama, membuat Ayu memiliki ketertarikan pada Dimas yang terkenal tampan dan berwibawa.

Segala upaya sudah Ayu lakukan demi mendapatkan simpati dari Dimas. Tapi Dimas justru menjatuhkan pilihan pada selina, hal itulah yang membuat Veni menaruh kebencian mendalam pada adiknya itu.

"Bukannya calon menantu Asri orang kaya katanya. Kenapa tidak minta tolong. Masak dia nggak malu sama keadaan rumah mertuanya?" ucap Hasna masih dengan nada sinis dan mata yang tak hentinya melihat ke seluruh sudut rumah Asri.

"Bu, kami tidak enak kalau harus merepotkan calon mantu. Lagi pula rumah ini sudah dicat ulang sama Dito kemarin. Cuma, mungkin karena warnanya ganti jadi kurang tajam saja. Hasna menghembuskan napas kasar. Lalu membuang muka.

"Ah, ya sudah lah. Ibu ke sini mau nganter kebutuhan untuk pernikahan selina tuh, di mobil. Nanti suruh Dito keluarin. Ibu nggak bisa nginep. Lagian kan nggak ada kamar di sini. Ibu ke sini kalau hari H saja lagi."

Asri terdiam. Apa yang dikatakan ibunya memang benar.

"Kalau mau, ibu bisa tidur di kamar Asri. Nanti Asri sama Mas Harun bisa tidur di depan tv," tawar Asri yang langsung disambut sinis oleh sang ibu.

"Ibu nggak biasa tidur di kasur keras dan berbunyi krek, krek kalau ibu gerak," hinanya yang membuat Asri mengelus dada.

"Makanya, Sri, hidup sudah susah. Bukannya giat cari rezeki malah giat ternak anak. Kamu lihat kakak-kakakmu. Punya suami mapan semua anak cuma satu. Lah kamu? Suami kerja gaji UMR, kamu malah nambah anak terus. CK!" lanjut Hasna seolah tak puas dengan setiap kata yang diucapkan.

"Laki-laki nggak mampu bayar untuk KB aja kamu perjuangkan."

"Bu, cukup, jangan ungkit masalah anak. Anak itu titipan. Dan Asri sama sekali tidak merasa dibebani."

"selina putus kuliah, Dito pengen masuk polisi kamu nggak bisa memenuhi. Kalau kamu tidak terbebani, ibu yakin anak-anak kamu yang terbebani."

Itu-itu dan itu yang selalu Asri dengar setiap kali ia bertemu dengan ibunya yang seolah tak bisa menerima apa yang sudah menjadi keputusan Asri meskipun sudah 21 tahun berlalu.

Cucu yang dilahirkannya seolah tak bisa membuat hatinya luluh. Namun, Asri gak terlalu mempermasalahkan, sekalipun gerimis membasahi hatinya, ia tetap berusaha tegar.

"Mana Dito dan selina?"

"selina mengantar Dito mengambil baju di rumah teman selina dan Rara juga ikut mereka."

Hasna berdecak.

"Anak itu masih saja kelayapan. Apa dia mau pernikahannya banyak kendala."

"Ibu! Justru kata-kata orang tua lah yang banyak berpengaruh bagi anak-anaknya. Kalau tidak bisa berkata baik lebih baik diam!" sentak Asri.

Ini adalah kali pertama Asri berani meninggikan suara.

Bukan apa-apa. selina berhak bahagia, ia begitu berharap selina bisa meraih kebahagiaan itu bersama Dimas yang begitu mencintai selina.

Terlebih dia percaya bahwa Dimas bisa membahagiakan selina.

"Asri!" Dengan tatapan tajam Hasna balik membentak seolah tak terima.

"nenek Lampir!" Di dalam kamar yang berbatasan langsung dengan dinding ruang tamu Aabid bisa mendengar dengan jelas hinaan demi hinaan yang dilontarkan karena memang suara Hasna sangatlah keras.

Entah mengapa tangan Aabid kini terkepal seolah tak terima. Ingin ia mendobrak pintu, lalu keluar, melempar wajah perempuan bermulut pedas itu dengan segebok uang, membeli kesombongan wanita yang bergelar Hajah tapi kelakuan seperti sampah. Namun ....

"Ah, uang siapa? Bukanya aku sedang jadi kere?! Ah, sial!" Aabid mendesah lagi, kemudian menghempaskan diri di tepian ranjang.

Merutuki dirinya akan tidak bergunanya ia bagi keluarga ini.

"Sudah, sudah. Di mana Harun, Sri?" Suara seorang pria menengahi.

Veri, suami dari Reni yang merupakan perwira polisi itu terdengar dan menghentikan perdebatan.

Aabid bisa bernapas lega, tapi tak sepenuhnya lega.

"Kang Harun teh masuk hari ini," jawab Asri.

"Tapi Hendro libur katanya." Suara tawa Veni lalu terdengar menyela.

"Ya ampun, Mas Veri. Ya jelas beda. Mas Hendro kan manager, bisa ijin kapan saja. Kalau Harun boro-boro ijin, libur aja gaji dipotong, iya kan, Sri?"

"Veni!" Veri menajamkan ucapan sembari menatap tajam Veni sang adik ipar yang menurutnya sudah keterlaluan.

"Iya, Teh Veni mah memang benar." Setelah menghela napas dalam Asri berujar dengan senyuman.

Asri berusaha tetap tenang dan tidak terpengaruh dengan ucapan saudara-saudaranya itu. Yang bisa merusak hari kebahagiaan selina.

Di dalam kamar, Aabid menyunggingkan senyuman sinis. Ancaman pun dilontarkan meski hanya dalam hati.

"Tunggu, Bro. Tunggu. Puas-puasin aja dulu, Bro!" gumam Aabid dengan nada penuh penekanan. Dengan tangan yang kembali terkepal.

1
Fazira Fazira
di kirain g'di lanjutin lagi Thor,💪semangat yaaa,..sehat selalu
Yanti Octavia
Masya Allah luar biasanya karyamu Thor, tetap semangat berkarya semoga sukses selalu,,di tunggu up gandanya selalu ya Thor😘😍🥰
bude gemoy
lanjutkan Thor.....💪💪💪💪💪
Danny Muliawati
sebel ya klo ga jelas gini
Reni Anggraeni
kangen Ama serina
Ai Oncom
kapan up lg kak..?
Reni Anggraeni
kk kmana TDK up torr
Sami asih
og gk lanjut lanjut sich...😭
Andri Yukarthi
kak knp ga lanjut...ceritanya aq suka banget /Cry/
ysl
kapan Up lagi
Neneng Sunengsih
lama ga up bolak balik tp blum ada 🤭
Nurhayati Lubis
di tunggu kelanjutan nya thor
Fera
lanjut thor
mimma
Luar biasa
mimma
Lumayan
Putri Sri Berganti
kenapa gak Update lagi ??
bude gemoy
double up Thor
Tak tunggu ya.....
aliyya
akhirnya up lg thor,,,
pasti selina hamil,,,
mama
kmn aj kak,kirain udah berhenti tak tunggu2 gk nongol2😍
Reni Anggraeni
makasih udah up tor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!