Eva dan Purbaya menikah karena cinta. Rumah tangga mereka tampak utuh hingga jarak dua tahun terakhir mengubah segalanya. Saat Purbaya menempuh studi doktoral di Jerman, Eva berjuang mempertahankan pernikahan sambil membesarkan Noya, putra mereka yang terlahir dengan Down Syndrome.
Purbaya berusaha setia, namun kebosanan dan jarak emosional perlahan menggerus rumah tangga mereka. Sepulang ke Yogyakarta, Eva mulai menyadari bahwa cinta yang ia jaga sendirian tak lagi sama.
Di tengah kelelahan batin, kehadiran seorang pria sederhana yang lebih dulu menerima Noya apa adanya mengguncang keyakinan Eva tentang arti cinta, keluarga, dan kesetiaan.
Ketika cinta tak lagi sama, apakah bertahan masih menjadi pilihan?
Ig deemar38
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Adra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MENYENANGKAN KELUARGA
Purbaya melirik jam tangannya.
Waktunya sudah mepet.
Ia berdiri pelan. “Mbak... aku berangkat dulu.”
Mbak Ningsih hanya mengangguk. “Iya, hati-hati.”
Purbaya tidak banyak bicara lagi. Ia langsung keluar dari ruang kerja, mengambil kunci mobil, lalu melangkah ke teras.
Baru saja hendak membuka pintu mobil--
“Papa!”
Suara kecil itu memanggil.
Purbaya menoleh.
Noya berlari kecil ke arahnya, wajahnya mulai mengerucut.
“Papa... ikut...” rengeknya sambil menarik ujung baju Purbaya.
Purbaya menghela napas pendek, lalu berjongkok.
“Noya di rumah aja ya?”
Anak itu menggeleng cepat. Wajahnya mulai berubah.
“Gamau... ikut Papa...”
Dari dalam, Mbok Sri buru-buru keluar. “Ngapunten, Pak... dari tadi nggak bisa dibujuk,” katanya sedikit panik.
Purbaya menatap Noya sebentar. Lalu tersenyum tipis. “Iya, nggak apa-apa, Mbok.”
Mbok Sri sedikit lega.
Purbaya kembali menatap anaknya. “Mau ikut Papa ke kampus?”
Noya langsung mengangguk cepat. “Iya!”
Purbaya mengusap pelan rambutnya. “Ya sudah... ikut.” Ia berdiri, lalu membuka pintu mobil. “Nanti Noya duduk yang manis ya.”
Noya langsung naik dengan semangat kecilnya. Purbaya menutup pintu, lalu beralih ke sisi pengemudi. Sebelum masuk, ia sempat menatap rumahnya sekilas.
Hari ini ia hanya ingin ke kampus. Bertemu beberapa orang. Sekalian membereskan ruang kerjanya.
Beberapa hari lagi, ia sudah mulai aktif mengajar. Dan mumpung masih suasana libur--hari kejepit--kampus pasti tidak terlalu ramai.
Ia menyalakan mesin. Melirik ke arah Noya di sampingnya. Anak itu duduk tenang, memeluk sabuk pengaman dengan caranya sendiri.
Purbaya tersenyum tipis. “Mau jalan-jalan sama Papa, ya?”
Noya tidak menjawab. Tapi matanya... terlihat senang. Mobil pun perlahan keluar dari halaman. Menuju kampus.
*
*
Sore itu dapur sudah hampir rapi.
Aroma masakan masih tersisa di udara, bercampur dengan hangatnya rumah yang sejak pagi dipenuhi suara orang. Setelah seharian sibuk, Mbok Sri akhirnya bisa bernapas sedikit lebih lega. Ia sedang menyusun piring di rak ketika ponselnya berdering.
Ia melirik sekilas ke layar.
Bu Eva.
Tangannya otomatis berhenti, lalu ia mengelap ujung jarinya di celemek sebelum mengangkat panggilan.
“Iya, Bu...”
“Di rumah gimana, Mbok?”
Mbok Sri bersandar ringan di meja dapur, matanya menyapu ruangan yang kini sudah tertata.
“Alhamdulillah, Bu... rame. Ibu sama yang lain sedang istirahat. Anak-anak dari siang masih main saja, nggak ada capeknya.”
Percakapan berjalan sebentar, sekadar saling memberi kabar. Mbok Sri jadi hafal pola seperti ini--Eva tidak pernah langsung bertanya apa yang sebenarnya ingin ia tahu.
Dan benar saja. Beberapa detik kemudian, pertanyaan itu muncul.
“Ibu... pulangnya kapan, Mbok?” Nada suara Eva terdengar biasa, tapi Mbok Sri menangkap maksud di baliknya.
“Katanya besok, Bu. Mungkin siang atau menjelang sore.” Setelah itu, tidak ada tanggapan yang berarti.
Hanya jeda yang terasa lebih panjang dari seharusnya.
Mbok Sri menatap ke arah jendela dapur. Cahaya sore mulai meredup, menyisakan bayangan samar di lantai. Dalam diamnya, ada sesuatu yang mengganjal.
Ia sebenarnya ingin mengatakan banyak hal. Bahwa keadaan seperti ini tidak akan selesai kalau terus dijauhkan. Bahwa kehadiran keluarga, justru bisa jadi kesempatan untuk memperbaiki. Bukan malah ditinggalkan.
Namun kata-kata itu hanya berhenti di dalam pikirannya. Ia mengenal Eva cukup lama untuk tahu--tidak semua yang benar akan diterima dengan mudah.
“Bapak sama Noya tadi keluar, Bu,” ucapnya kemudian, mencoba mengisi keheningan. “Ke kampus. Noya yang minta ikut.”
“Oh gitu.” jawab Eva pelan. Tidak ada pertanyaan lanjutan. Tidak juga tanda ingin tahu lebih jauh. Seolah hubungan itu dijaga... tapi hanya sebatas yang diperlukan.
Percakapan kembali mereda.
“Ya sudah ya, Mbok,” ujar Eva akhirnya.
“Inggih, Bu.”
Sambungan terputus.
Mbok Sri tetap berdiri di tempatnya beberapa saat.
Ponsel masih di tangan, sementara dapur sudah sepenuhnya rapi.
Ia menghela napas pelan. Kadang ia tidak mengerti. Masalah yang jelas-jelas ada... justru dihindari. Padahal semakin dijauhkan, semakin besar jaraknya.
Dan yang paling ia khawatirkan--bukan hanya hubungan itu yang retak.Tapi juga... anak kecil yang diam-diam ikut merasakan semuanya.
*
Di kamar penginapan, Eva duduk di tepi ranjang.
Koper miliknya sudah setengah terbuka sejak tadi siang. Beberapa pakaian masih terlipat rapi, sebagian lain dibiarkan begitu saja.
Ia menatap layar ponselnya sebentar.
Lalu mematikannya lagi.
Sunyi.
Padahal, kalau dipikir-pikir, tidak ada lagi alasan untuk tetap tinggal di Surabaya.
Semua urusannya sudah selesai sejak kemarin. Bahkan lebih cepat dari yang ia perkirakan. Awalnya, ia memang berniat langsung pulang--sesuai yang ia katakan pada Purbaya sebelum berangkat.
Namun rencana itu berubah. Bukan karena pekerjaan. Melainkan karena satu hal yang tidak ia duga akan bertepatan dengan kepergiannya. Kedatangan mertuanya.
Eva menghela napas pelan, lalu menyandarkan tubuhnya ke dinding kepala ranjang. Bayangan itu kembali muncul--wajah, suara, dan cara bicara yang selalu terasa mengatur. Bukan sekali dua kali. Dan setiap kali itu terjadi, Eva selalu merasa... tidak benar-benar punya ruang.
Ia menunduk. Bukannya tidak ingin pulang.
Hanya saja... ia belum siap menghadapi semuanya sekaligus.
Purbaya.
Ibunya.
Dan suasana rumah yang akhir-akhir ini terasa semakin asing.
Akhirnya, ia memilih menunda.
Satu hari.
Cukup sampai mertuanya kembali pulang.
Eva meraih ponselnya lagi, kali ini membuka aplikasi pemesanan tiket.
Jarinya bergerak cepat.
Penerbangan siang.
Besok.
*
Menjelang sore, mobil Purbaya berhenti di depan rumah. Ia turun lebih dulu, lalu membukakan pintu untuk Noya.
Begitu kakinya menyentuh tanah, Noya langsung berlari kecil ke arah pintu. Wajahnya cerah. Masih menyimpan sisa kegembiraan setelah tadi bermain bersama ayahnya di arena bermain.
Noya keluar sambil berlari. “Noya... pelan-pelan,” tegur Purbaya, membuat langkah kecil itu sedikit melambat.
Namun tetap saja, anak itu sulit menahan semangatnya.
Pintu rumah sudah terbuka.
Begitu masuk, suara riuh langsung terdengar.
Kedua anak Mbak Rina yang sedang duduk di ruang tengah menoleh bersamaan.
“Noya!” panggil mereka.
Noya langsung menghampiri, napasnya masih sedikit terengah.
“Kak...kak... ayo siap-siap!” ucapnya terbata, tapi penuh semangat.
“Kata Papa kita mau jalan-jalan ke Malioboro!”
Kedua kakaknya langsung saling pandang.
“Malioboro?” ulang salah satunya dengan mata membesar.
“Iya!” Noya mengangguk cepat.
Suasana langsung berubah lebih hidup. Anak-anak itu mulai ramai sendiri.
*
Malam di Malioboro semakin ramai.
Langkah mereka berhenti di salah satu lesehan yang cukup penuh, tikar-tikar sudah tergelar rapi di pinggir jalan. Aroma makanan langsung menyambut begitu mereka duduk.
“Di sini saja ya, Bu?” tanya Purbaya sambil membantu ibunya duduk.
Ibunya mengangguk. “Iya, dimana saja, kamu yang lebih tau tempatnya.”
Kedua keponakannya langsung duduk bersila, matanya sibuk melihat sekeliling.
“Paklik, aku mau itu,” bisik salah satunya sambil menunjuk menu.
Purbaya tersenyum tipis.
“Iya, pesan saja. Pilih yang menurut kalian enak.”
“Serius?!” mereka langsung berseru hampir bersamaan.
Mbak Rina menggeleng sambil tersenyum. “Dasar... baru juga dibilang langsung semangat.”
Purbaya tidak banyak komentar. Ia memanggil penjual, lalu mulai menyebutkan pesanan--beberapa menu, untuk semuanya.
Di sampingnya, Noya duduk lebih tenang.
Tangannya refleks merapikan posisi duduk anaknya.
“Noya, nanti makan ya.”
Noya hanya mengangguk kecil.
Beberapa saat kemudian, makanan datang satu per satu. Suasana langsung berubah lebih hidup. Anak-anak mulai makan sambil bercerita, sesekali tertawa karena hal-hal kecil. Ibunya tampak lebih santai, meski sesekali tetap mengingatkan agar tidak berisik.
Purbaya hanya memperhatikan. Sesekali ikut makan, tapi lebih banyak diam. Melihat mereka. Momen seperti ini... sebenarnya jarang.
Setelah selesai makan, mereka kembali berjalan menyusuri Malioboro. Lampu-lampu toko masih menyala terang.
Deretan pedagang menawarkan berbagai barang.
Anak-anak langsung mendekat ke salah satu lapak, antusias memilih gantungan kecil yang menarik perhatian mereka. Purbaya membiarkan mereka mengambil apa yang disukai, meski sempat ditahan oleh Mbak Rina. Ia hanya menjawab ringan--sekali-sekali tak apa.
Tanpa banyak pertimbangan, Purbaya kemudian memilih beberapa pakaian untuk ibunya dan keponakan-keponakannya. Semua diserahkan pada penjual begitu saja. Anak-anak bersorak senang, memanggilnya paklik yang baik, sementara Purbaya hanya membalas dengan senyum tipis.
Belanjaan di tangannya semakin banyak--oleh-oleh, camilan, dan barang kecil untuk dibawa pulang ke Cirebon. Tapi ia tak tampak keberatan.
Malam itu, ia hanya ingin menikmati hal sederhana--menyenangkan keluarganya.
terimakasih telah membuat cerita yang hebat👍👍
aku seneng banget akhirnya irgi dan eva menjadi sepasang kekasih semoga cepat diresmikan ke jenjang yg lbh serius kalian kan udah cukup dlm segala hal ga perlu ditunda lg menikahlah kalian secepatnya
yaa Allah yaa Allah aku yang ikutan baper maaas 😄😄
tapi hidup harus tetap dijalani.
semangat mas pur..
gusti Alloh ora sare. kejujuran pasti ada balasannya
bgm mas pur.. boleh😄😄