NovelToon NovelToon
Untuk Kehidupan Kedua Kami

Untuk Kehidupan Kedua Kami

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi ke Dalam Novel / Fantasi Isekai / Fantasi / Romansa / Mengubah Takdir
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: sila

Kalista, seorang food blogger dengan ribuan penggemar dimana mana.
setiap konten yang di upload nya di media sosial akan selalu mendapat jutaan views.
tentu saja hobinya yang paling jelas adalah makan.

Aruna, putri dari seorang paruh baya pemilik restoran terkenal, dia bekerja ditempat ibunya sebagai latihan karena setelah lulus SMA dia akan meneruskan usaha ibunya itu.
salah satu kebiasaan nya adalah melakukan beatbox.

Luna, anak dari seorang petani, didesa nya orang tuanya adalah yang paling kaya.
mereka punya banyak tanah yang dijadikan kebun buah dan sayur, padi dan juga dijadikan tempat ternak hewan yang salah satunya adalah sapi dan kambing.
Luna sendiri punya satu sapi kesayangan yang dia berikan nama blackmoo, sapi nya hitam dan selalu lapar hingga terus berisik.

secara tidak terduga ketiga gadis itu mati dan berpindah ke masa lalu dijaman kuno, abad pertengahan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 26

Jam pulang telah berlalu sejak lima menit lalu, semua pelajaran telah berakhir dan para murid akademi pun segera kembali ke asrama masing-masing.

Namun Vione dan Rosetta berdiri didekat gerbang akademi sambil mengobrol santai.

Mereka menunggu Lysander yang tampaknya ingin mengatakan sesuatu.

"Nah, ini nih, lama banget." Gumam Vione sambil menyilangkan tangannya.

Rosetta disampingnya hanya mendengus pelan, ia merasa geli dengan betapa dramatisnya gadis itu.

"Dramatis amat, kek istri nunggu suaminya pulang aja." Gumamnya dengan nada menggoda.

Vione hanya menyenggol lengannya, lalu pandangannya kembali pada Lysander, laki-laki itu mendekat dengan santai dan tenang seperti biasanya.

"Mau bicara apa?" Tanya Vione tanpa basa-basi.

Lysander hanya tersenyum tipis. "Santai saja, ini tentang Caily."

Vione dan Rosetta segera menegakkan tubuh mereka dan memandang Lysander dengan lebih serius, reaksi mereka berdua membuat Lysander tersenyum geli.

"Baiklah kita pergi." Katanya sambil mengulurkan tangannya hingga dibawah kaki mereka bertiga muncul sebuah pentagram.

Sihir teleportasi membawa mereka menghilang dalam sekejap mata dari area gerbang itu.

Dari kejauhan, Alisa menatap dengan tatapan tajamnya, asap hitam diatas kepalanya melayang-layang dan terus berputar dengan santai.

"Jika mereka benar-benar berlatih serius, apakah rencana kita akan terganggu?" Tanya Alisa dengan suara pelan, tangannya menyilang dengan angkuh.

"Jika laki-laki itu ikut membantu, mungkin iya." Sahut asap hitam itu.

"Lalu apa yang harus dilakukan?" Tanya Alisa dengan tidak sabar.

"Apa kau tidak bisa merayunya saja?" Tanya asap hitam itu balik.

Mata Alisa berbinar dengan cara yang aneh, tampaknya asap hitam itu membangunkan sisi rakusnya akan perhatian dan kekuasaan.

"Ini layak dicoba." Gumamnya sambil menjilat bibir bawahnya dengan aneh.

"Alisa?"

Gadis itu terperanjat kaget saat mendengar namanya dipanggil, ia menoleh dengan canggung.

"A-ah, Chalios? ada apa?" Tanyanya dengan suaranya yang lembut dan manis seperti biasa.

Chalios menaikkan satu alisnya dan memandang dengan rasa penasaran.

"Apa yang sedang kamu lakukan disini? tidak kembali ke asrama?" Tanya Chalios sambil menatap langit sore yang indah.

Alisa tersentak pelan, ia tampak gugup dan canggung, hal itu disadari oleh Chalios.

"Ada apa?" Tanyanya lagi sambil memandang lurus pada wajah cantik Alisa.

"Itu... tadi aku lihat Rose dan Vio pergi, mereka tidak kembali ke asrama." Jawabnya dengan suara pelan.

Chalios menghela napas panjang.

"Memangnya kenapa? mereka sudah besar dan bisa melindungi diri mereka sendiri." Katanya dengan acuh tak acuh seolah lupa dengan kejadian saat perburuan hewan kontrak waktu itu.

Alisa memandangnya dengan puas namun tentu saja itu hanya dia lakukan dengan diam-diam.

"Tapi, peraturan akademi tidak memperbolehkan para murid keluar terlalu lama, ada terlalu banyak bahaya diluar sana, jika terjadi sesuatu pada mereka berdua maka pihak akademi yang harus bertanggung jawab, apalagi mereka berdua adalah bangsawan kelas atas." Ujar Alisa panjang lebar, wajahnya nampak sekali kalau dia sedang khawatir.

Dan tentu saja Chalios yang jatuh cinta padanya mudah tertipu, laki-laki itu mengulurkan tangannya dan mengusap pucuk kepala Alisa dengan lembut.

"Jangan pikirkan apapun, mereka yang berbuat mereka jugalah yang harus bertanggung jawab."

"Ta-tapi-"

"Sudahlah, sebaiknya kamu kembali ke asrama saja, aku akan mengantarmu." Katanya sambil menarik tangannya dengan lembut, membawanya pergi menuju asrama wanita di kelas A.

Disepanjang jalan, keduanya menjadi pusat perhatian karena lagi-lagi Alisa berhasil membuat seorang pangeran repot-repot mengantarnya pulang, apalagi mereka pulang dengan bergandengan tangan.

"Chalios, apa sebaiknya kau jangan bersikap seperti ini lagi? akan ada banyak rumor buruk tentang kita nantinya." Ucap Alisa dengan tatapan sendunya.

Chalios mempererat genggaman tangannya, otot rahangnya menegang dan wajahnya tampak keras karena emosi.

"Jangan dengarkan apapun, kau sahabatku, siapapun tidak punya hak untuk mengatakan hal buruk tentangmu-" Matanya melirik kearah wajah Alisa yang tampak bingung dengan lugunya yang menurut Chalios sangat menggemaskan.

"Ya?" Gumam Alisa pelan.

"Lain kali kau dengar rumor buruk atau salah satu dari mereka hendak menyakitimu, katakan saja padaku." Tambah Chalios mempererat genggaman tangannya dan memandang tajam pada setiap murid yang dilaluinya.

Mereka semua mundur dengan kepala tertunduk dan segera pergi, bahkan ada yang terang-terangan segera menutup pintu asrama mereka.

Alisa mengangguk pelan, senyumnya mengembang sempurna hingga membuat Chalios memandangnya intens, tatapan itu membuat rona merah di pipi Alisa timbul dan Chalios semakin merasa gemas dengan gadis itu.

...

"Astogek! lu kemane aje!" Teriak Caily saat melihat kedatangan Rosetta dan Vione.

Rosetta memutar bola matanya sedangkan Vione hanya mendengus pelan.

"Udah sehat lo?" Tanya Vione dengan nada malas.

Caily mendengus pelan, ia mengulurkan tangannya lalu menepuk pundaknya dengan kasar hingga Vione tersentak pelan.

"Sehat jasmani dan rohani!"

Rosetta tertawa pelan.

"Baiklah, aku akan pergi, kalian lanjutkan saja obrolannya." Sela Lysander tiba-tiba, ia melangkah menuju pintu rumah sang guru meninggalkan tiga gadis itu yang kini langsung berubah menjadi serius.

Ketiganya melangkah mendekati pohon besar disebelah rumah, yang ternyata disana sudah ada kursi dan meja dari kayu.

"Gimana latihannya?" Tanya Rosetta tanpa basa-basi, matanya memandang dengan serius.

"Itu bertahap, sekarang gua masih belajar mengendalikan hewan-hewan biasa tanpa kekuatan roh." Balas Caily sambil menunjuk kearah satu tupai diatas pohon, hewan itu langsung melompat turun dan menghampiri Caily.

Vione mengangkat alisnya, ia merasa kekuatan Caily sangat menarik.

"Bisa jadi kaki tangan gak sih? kek disuruh ngebersihin rumah gitu?"

Caily mengelus dagunya seolah berpikir dan mempertimbangkan hal-hal seperti itu.

"Boleh juga."

Rosetta yang sedari tadi diam langsung meraup wajah gadis itu dengan santai.

"Gak usah ngadi-ngadi anjir, kita lagi serius ini." Katanya dengan kening berkerut.

"Ekhem." Caily mengangguk singkat dan suasana diantara ketiganya kembali serius.

"Gue cuma mau nanya, kalau semisal lo naik level, apa lo juga bisa naklukin hewan yang udah dikontrak oleh orang lain?" Rosetta menatap lurus pada Caily.

Sedangkan yang ditatap hanya memasang wajah bingung.

"Misalnya apa lo masih bisa ngasih satu atau dua perintah sama hewan kontrak orang lain?" Tambah Vione memperjelas maksud dari pertanyaan Rosetta.

Caily termenung sejenak, ia tidak sempat berpikir sejauh itu, yang ia pikirkan hanya melatih kemampuannya hingga batas maksimal.

Dia segera menoleh kearah Rosetta. "Gimana kalo dicoba sama Fenrir?"

Rosetta tersadar dan segera memanggil hewan kontraknya dan sedetik kemudian hewan legendaris itu muncul didekatnya dengan aura angkuhnya, tampaknya ia jauh lebih sehat dari sebelumnya.

"Kali ini mungkin jauh lebih sulit, kekuatan dan energinya sudah pulih, mungkin dia jauh lebih kuat dari pertarungan waktu itu."

Caily mengangguk singkat, ia membuka penutup matanya dan menatap lurus pada mata hewan itu.

Matanya yang semula biru menenangkan kini berubah menjadi merah Ruby yang cantik.

Rosetta dan Vione serentak saling bertatapan, keduanya baru menyadari perubahan warna itu.

Disisi lain, Caily masih berusaha menjinakkan Fenrir dengan kemampuannya, namun tampaknya hewan itu menolak keras meskipun ia tidak menyerang seperti sebelumnya.

"Kau tidak akan bisa melakukannya padaku, anak manusia lemah!"

Suara keras dan berat itu membuat Caily mundur selangkah, ia terkejut karena hewan itu berbicara dengan normal layaknya manusia, bahkan bahasanya bisa ia mengerti.

Ia menoleh kearah Rosetta dan Vione yang ternyata keduanya malah memberikan satu jempol dan kedipan mata.

Caily menghela napas panjang, ia seharusnya tidak lupa kalau Fenrir adalah hewan legendaris, dan sebanyak yang ia tahu, hewan dengan kemampuan tingkat tinggi seperti Fenrir kemungkinan besar bisa berkomunikasi layaknya manusia sungguhan.

Ia menatap lurus pada mata hewan itu, sorot matanya tajam akan semangat yang tinggi.

"Lihat aku hewan berbulu! kau sudah ku taklukkan sekali, maka aku juga bisa menaklukkanmu berkali-kali!" Teriaknya dengan lantang.

Keangkuhan dan nada sombongnya membuat Fenrir mendengus pelan karena kesal, tentu saja hewan itu juga punya keangkuhan dan kesombongannya sendiri, kali ini ia akan menjaga harga dirinya dengan sekuat tenaga.

1
Dewiendahsetiowati
kapan ketahuan belangnya si biang kerok Alisa
UMMI HABIBAH
lanjut thorrr
Dewiendahsetiowati
gak ada jari emas kah untuk salah satu MC nya
Dewiendahsetiowati
hadir thor
Dia Fitri
/Good/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!