NovelToon NovelToon
Istri Kontrak Favorit Brams Ravendra

Istri Kontrak Favorit Brams Ravendra

Status: tamat
Genre:Perjodohan / Romantis / Percintaan Konglomerat / Cinta Seiring Waktu / Komedi / Tamat
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: Sibewok

Ranum Haura. Gadis muda berusia 20 tahun, pergi ke kota untuk menghadiri interview di sebuah perusahaan farmasi. Namun interviewnya gagal, karena ia harus meluangkan waktunya menolong pria yang terlihat sesak nafas.

Ranum yang punya keahlian pijat refleksi, segera menolongnya, ia menekan titik syaraf pria paruh baya yang bernama Pak Barra itu.

Atas bentuk terima kasihnya, Pak Barra menjodohkan Ranum dengan cucunya, CEO kaya raya, tampan, bernama Brams Satria Ravendra.

Tapi. Brams menyodorkan pernikahan Kontrak pada Ranum tanpa sepengetahuan kakeknya.

Dan ketika Ranum diketahui hamil, Ranum pun diam-diam pergi meninggalkan Brams, sebelum kontraknya selesai.
Apakah Brams akan melepaskan Ranum?

Simak kisah selengkapnya. Jangan lupa. Ulasan, like, komentarnya ya. Untuk dukung novel ini. 😊🙏

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sibewok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26 - Kecelakaan

"Ckiiiittt!!!"

Ban mobil berdecit panjang hingga akhirnya berhenti di bahu jalan yang sepi.

Jantung Ranum masih berdegup kencang.

Tangannya mencengkeram dashboard.

Brams mematikan mesin mobil, lalu menoleh cepat.

"Apa itu?"

Ranum masih menatap ke depan dengan napas memburu.

"K-kucing..."

Jawabnya lirih.

Tanpa menunggu lagi, Ranum langsung membuka pintu mobil.

"Cepat turun!"

"Jangan diam saja!"

Brams ikut keluar meski wajahnya masih kebingungan.

Mereka berdua berlari ke arah seekor kucing betina yang terbaring di pinggir jalan.

"Meoow..."

"Meoow..."

Suaranya pelan.

Tubuhnya masih bergerak.

Namun kedua kaki belakangnya tampak tak sanggup menopang badan.

Ranum segera berjongkok.

Tangannya mengusap pelan kepala kucing itu.

"Kasihan sekali..."

Ia memeriksa tubuh kecil itu.

Tidak ada darah.

Tidak ada luka terbuka.

Mungkin ada luka dalam, pikir Ranum.

Brams ikut berjongkok.

"Kurasa dia baik-baik saja." ucap Brams.

"Tapi... Dia bahkan tidak bisa berdiri Brams."

Ranum menatap wajah kucing itu.

"Lalu lihat matanya."

"Dia gelisah."

Seolah sedang mencari sesuatu.

Tiba-tiba Ranum berdiri.

"Brams."

"Kau harus menemukan anak-anaknya."

Brams mengernyit.

"Anaknya???"

"Aku tidak mau tahu."

"Cepat cari."

"Aku ingin kau merawat mereka."

Brams menatap Ranum beberapa detik.

"Lho."

"Dari mana kau yakin dia punya anak?"

Ranum langsung menunjuk tubuh si kucing.

"Lihat perutnya."

"Lihat puting susunya."

"Apa kau tidak tahu ciri-ciri induk kucing yang sedang menyusui?"

Nada suara Ranum meninggi tanpa sadar.

Saking paniknya.

Brams ikut menaikkan nada bicaranya.

"Mana aku tahu, Ranum!"

"Aku bukan dokter kucing."

"Aku bahkan tidak pernah memelihara kucing."

Ranum mendengus kesal.

"Cepat cari!"

Brams menggaruk kepalanya kasar.

"Oke."

"Oke."

Ia mulai berjalan menyusuri semak-semak di pinggir jalan.

Sambil terus bergumam,

"Meow..."

"Meow..."

"Meow..."

Ranum yang melihat itu langsung memegang dahinya.

"Ya Allah..."

"Brams."

Pria itu menoleh.

"Apa?"

"Gunakan ini."

Ranum menyodorkan ponselnya.

Di layar ponsel sudah terbuka sebuah video.

Suara induk kucing memanggil anak-anaknya terdengar sangat jelas.

"Putar ini."

"Keliling."

Brams mengambil ponsel itu dengan wajah setengah tidak percaya.

"Masa begini bisa berhasil?"

"Coba saja."

Brams mengangkat bahu.

Lalu mulai berjalan sambil memutar suara tersebut.

"Meooow..."

"Meooooow..."

Tak sampai satu menit.

Terdengar suara kecil dari balik semak.

"Miw..."

"Miww..."

Brams langsung menghentikan langkahnya.

"Dapat!"

Dua anak kucing kecil keluar perlahan.

Mereka berjalan tertatih mengikuti suara dari ponsel.

Brams buru-buru mengangkat keduanya.

"Kalian ini..."

"Kecil sekali."

Ia membawa kedua anak kucing itu mendekati induknya.

Begitu melihat anak-anaknya...

Induk kucing langsung mengeong lirih.

"Meoow..."

Lidahnya perlahan menjilati kepala kedua anaknya.

Ranum tersenyum lega.

"Alhamdulillah..."

Ia berjongkok lagi.

"Masa cuma dua?"

"Apa masih ada lagi?"

Ranum bertanya seolah benar-benar sedang berbicara dengan si induk.

Kucing itu hanya mengeong pelan.

Brams tertawa kecil.

"Dia tidak akan menjawabmu."

"Aku tidak menyuruhmu bicara." Balas Ranum.

Ia menoleh pada Brams.

"Berikan aku jasmu."

Brams mengangkat sebelah alis.

"Untuk apa?"

"Cepat."

Tanpa banyak bertanya lagi, Brams melepas jas hitam mahal yang baru dipakainya pagi itu.

Ranum langsung membentangkannya di tanah yang bersih.

Dengan sangat hati-hati ia membungkus induk kucing beserta kedua anaknya menggunakan jas tersebut.

Brams hanya bisa menggeleng pelan.

"Itu jas Italia."

"Harganya—"

"Diam." Potong Ranum.

Ia menggendong ketiga kucing itu menuju mobil.

Lalu meletakkannya dengan hati-hati di kursi belakang.

"Kalian sekarang punya Tuan."

Ranum tersenyum pada ketiga kucing itu.

"Tuan Brams yang akan merawat kalian."

Brams menghela nafas, jarinya mengusap pelipisnya.

"Jasku..."

"...berubah jadi kasur kucing jalanan."

"Ini semua gara-gara ulahmu."

Ranum menutup pintu belakang.

"Kalau kau tidak menyetir sekencang tadi..."

"...kita tidak akan bertemu mereka."

Brams menghela napas panjang.

Untuk pertama kalinya hari itu...

Ia memilih menyerah.

"Baik."

"Aku yang salah."

Jawaban itu justru membuat Ranum menoleh.

"Kau mengaku salah?"

Brams hanya mengangkat bahu.

"Kalau tidak begitu..."

"...kita tidak akan pernah bisa pulang."

Ranum menahan tawanya.

Sudut bibirnya terangkat tipis.

Brams kembali masuk ke balik kemudi.

Mesin mobil menyala.

Mobil melaju perlahan meninggalkan jalan sepi itu.

Dari kursi belakang...

Terdengar suara kecil yang silih berganti.

"Meow..."

"Miw..."

"Meow..."

Brams meringis.

Tangannya beberapa kali menutup sebelah telinga.

"Berisik sekali."

Ranum justru tersenyum puas.

"Biasakan saja."

"Itu anak-anakmu sekarang."

Brams spontan menoleh.

"Anakku?"

"Iya."

"Kau kan sudah resmi menjadi Tuannya."

Brams menggeleng sambil tertawa pelan.

Entah mengapa...

Perjalanan pulang yang seharusnya sunyi...

Kini dipenuhi suara tiga ekor kucing kecil.

Perjalanan kepulangan mereka pun berlanjut kembali...

Hingga akhirnya, mobil memasuki halaman luas kediaman Ravendra saat sore hari tiba.

Dan saat malam harinya. Dua pelayan sedang sibuk mempersiapkan keberangkatan menuju acara amal tahunan keluarga Ravendra.

Brams mengambil Navy nya dari lemari.

Sedangkan Ranum berjalan perlahan menuruni tangga, dengan warna dress yang berwarna sepadan dengan Brams.

Sesekali tangannya memegang pinggang.

Langkahnya jauh lebih pelan dibanding biasanya.

Brams yang berdiri di bawah tangga memperhatikan.

"Kau yakin mau ikut?" Tanyanya datar.

Ranum mengangguk.

"Kalau bukan acara amal tahunan yang diselenggarakan Kakek..."

"...aku tidak akan datang."

"Tapi demi Kakek..."

"...aku harus datang."

Tatapan Brams melembut sesaat.

"Kau begitu perhatian pada pria tua itu."

Ranum menatapnya tenang.

"Karena aku berbeda denganmu."

Jawaban itu membuat Brams hanya tersenyum tipis.

Tak lama kemudian mereka keluar menuju mobil.

Saat Ranum hendak masuk...

Ia kembali meringis pelan sambil memegang pinggangnya.

Gerakan kecil itu tidak luput dari perhatian Brams.

"Kau tahu..." Suara Brams terdengar santai.

"Kau sangat liar tadi pagi."

Ranum langsung menghentikan langkahnya.

Wajahnya memerah.

"Aku tidak mau membahasnya."

Ia membuka pintu mobil.

"Bahkan melihat tubuhku sendiri saja aku malu."

Brams bersandar di pintu mobil.

"Lalu?"

Ranum menarik napas.

"Lain kali..."

"...jangan tinggalkan terlalu banyak jejak merah di tubuhku."

Brams mengangkat sebelah alis.

"Sepertinya..."

"...kau justru suka membahasnya."

Ranum spontan mengatupkan bibir.

Ia sadar telah terpancing.

Sedangkan Brams hanya menyeringai kecil.

Ia memutar kunci mobil di ujung jarinya sebelum akhirnya duduk di balik kemudi.

Satu jam kemudian.

Mobil memasuki halaman sebuah gedung megah.

Lampu kristal menghiasi bagian depan ballroom.

Karpet merah membentang panjang.

Acara amal tahunan keluarga Ravendra selalu menjadi sorotan para pebisnis, tokoh masyarakat, hingga media.

Brams turun lebih dulu.

Kemudian membukakan pintu untuk Ranum.

Beberapa kamera langsung menyorot ke arah mereka.

Kilatan lampu kamera memenuhi halaman.

Brams sama sekali tidak memedulikannya.

Ia hanya berjalan tenang di samping Ranum.

Memasuki ballroom.

Di dalam ruangan...

Kakek Barra menyambut mereka dengan senyum lebar.

"Ranum."

"Kemarilah."

Pria tua itu langsung menggandeng tangan Ranum.

Satu per satu anggota keluarga besar Ravendra mulai diperkenalkan.

"Ini pamannya Brams."

"Ini bibinya."

"Dan itu sepupu-sepupunya."

Ranum menundukkan kepala sopan kepada setiap orang.

Acara berlangsung hangat. Waktu berlalu dalam acara tersebut.

Hingga... saat semua orang menikmati acara tersebut.

Brak!

Suara benturan keras menggema dari sisi ballroom. para tamu panik. ada yang berteriak dan semua kepala spontan menoleh.

Lampu gantung berukuran sedang di dekat meja suvenir mendadak terlepas dari gantungannya.

Prang!

Kaca lampu pecah berserakan.

Meja suvenir berisi puluhan botol parfum eksklusif jatuh menghantam lantai.

Cairan parfum memercik ke berbagai arah.

Aroma mahal langsung memenuhi ruangan.

Namun...

Jeritan seorang wanita jauh lebih mengejutkan daripada suara pecahan kaca.

"Aaahhh...!"

"Tolong...!"

"Mataku...!"

"Perih...!"

Ranum memegangi wajahnya.

Kedua matanya terpejam rapat.

Tubuhnya gemetar.

"Aku..."

"Aku tidak bisa melihat!"

"Kakek...!"

Barra yang berada tak jauh dari sana langsung berlari.

"Ranum!"

Suara pria tua itu menggema memenuhi ballroom.

Di sisi lain ruangan.

Brams yang sedang berbicara dengan beberapa tamu langsung menoleh.

Jantungnya serasa berhenti berdetak.

"Ranum!"

Tanpa berpikir panjang ia menerobos kerumunan.

"Semua minggir!" Teriaknya keras.

Orang-orang spontan memberi jalan.

Brams langsung berlutut di hadapan Ranum.

"Ranum." Tangan ranum langsung meraba tubuh Brams.

"Lihat aku."

Tangannya memegang wajah istrinya.

"B-brams, aku..."

"Aku tidak bisa..."

"Mata ku Brams..."

"Rasanya panas dan perih..."

Brams melihat kedua mata Ranum memerah.

Air matanya terus mengalir, isak tangis ranum mengisi ruangan, orang-orang iba menatap apa yang terjadi pada istrinya Brams Ravendra.

Dan Rasa panik yang jarang muncul di wajah Brams kini terlihat jelas.

Tanpa membuang waktu...

Ia segera mengangkat tubuh Ranum ke dalam pelukannya.

"Kakek."

"Aku akan bawa Ranum ke Rumah Sakit."

Barra mengangguk cepat.

"Cepat pergi."

"Obati Ranum."

"Jangan pikirkan acara ini."

"Biar Kakek yang mengurus semuanya."

Brams tidak menjawab. Ia langsung berlari keluar ballroom.

Sementara itu...

Di ruang utama.

Seorang wanita berdiri mematung sambil memperhatikan kekacauan yang baru saja terjadi.

Garcia menghela napas pelan. Sahabat Brams.

Tatapannya beralih kepada perempuan di sampingnya.

"Kau pikir..."

"...aku menyukai rencanamu tadi Mira?" Suara Garcia terdengar dingin.

Perempuan itu mendengus.

"Aku geram, karena kau diam saja melihat tingkah Ranum, aku sangat tidak menyukainya, sejak dia merebut posisimu di sisi Brams."

"Apalagi setelah Livia menceritakan perjalanan bisnis mereka. Itu membuatku muak." ucap Mira.

Garcia mengepalkan tangannya. "Tapi aku tidak pernah menyuruhmu melukai gadis itu."

Mira terdiam. "Aku tahu." Jawabnya pelan.

"Kalau dia sampai buta permanen bagaimana?" Tatapan Garcia berubah tajam pada temannya.

"Dengarkan aku. Jangan pernah menyentuh Ranum lagi." Gracia mengingatkan.

"Kau belum mengenalnya. Dan kau juga belum mengenal Brams saat seseorang berani melukai orang yang ada di sisinya."

Mira mendecak kesal. "Baik. Aku mengerti." Sungguh ia padahal membela sahabatnya sendiri, ia tidak bisa menebak apa yang akan ia rencanakan untuk mengusir Ranum dari sisi Brams.

Gracia melangka lebit dekat pada Mira.

"Mira, ingatlah! Mulai sekarang... Jangan bertindak tanpa sepengetahuanku."

Mira pun kembali mengangguk. "Oke."

Bersambung...

1
partini
wow
partini
betul ke cucumu Dammmm stupid
masa iya ga lihat cara devan ke istri nya macam mana 🤦
partini
waduh buta ga yah,,aihhh Kunti bogel beraksi
tuh kucing bukan dapat tuan tapi dapat Ba Bu
Meow: buta sementara kak, biar Brams di buat repot dulu sebelum di tinggal Ranum 🤭
total 1 replies
한스 |HANSEN|Author DarkRomance
bantu kakak 🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!