Aqilla Pramesti begitu putus asa dan merasa hidupnya sudah benar-benar hancur. Dikhianati dan diceraikan oleh suami yang ia temani dari nol, saat sang suami baru saja diangkat menjadi pegawai tetap di sebuah perusahaan besar. Ia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya. Namun, takdir berkehendak lain, siapa sangka nyawanya diselamatkan oleh seorang pria yang sedang berjuang melawan penyakitnya dan ingin hidup lebih lama.
"Apa kamu tau seberapa besar perjuangan saya untuk tetap hidup, hah? Kalau kamu mau mati, nanti setelah kamu membalas dendam kepada mereka yang telah membuat hidup kamu menderita. Saya akan membantu kamu balas dendam. Saya punya harta yang melimpah, kamu bisa menggunakan harta saya untuk menghancurkan mereka, tapi sebagai imbalannya, berikan hidup kamu buat saya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reni t, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
"Apa kamu bilang? Kamu akan menceraikan aku?" tanya Dona dengan dada naik turun menahan sesak. "Hanya gara-gara anak kamu kabur dari sini, kamu akan menceraikan aku?"
"Walau bagaimanapun mereka itu anak kandung Mas, Dona, darah daging saya. Mas gak terima kamu ngomong kayak gitu tentang mereka," jawab Ilham seraya menunjuk wajah Dona menggunakan jari telunjuknya sendiri. "Mas tau, kamu gak suka mereka tinggal di sini. Padahal, mereka itu anak sambung kamu."
"Iya, aku emang gak suka mereka tinggal di sini. kamu gak liat aku lagi hamil, hah?" timpal Dona dengan suara lantang. "Kamu nggak tau gimana rasanya jadi wanita hamil, Mas. Mau ngapa-ngapain males, badan udah mulai berat. Eh ... kamu malah nyuruh aku ngurus anak-anak kamu!"
"Tapi tidak sepatutnya juga kamu usir mereka dari rumah kita, Dona."
"Aku nggak ngusir mereka! Sumpah demi apapun, aku belum ketemu lagi sama mereka sejak mereka nyampe di sini!"
Ilham terdiam seraya mengusap wajahnya kasar. Rasanya tidak mungkin anak-anak pergi begitu saja tanpa alasan. Jika mereka ingin pulang ke rumah ibunya pun, Kaila dan Keano pasti akan minta diantarkan. Rasanya benar-benar aneh, ia yakin telah terjadi sesuatu dengan mereka. Rasa khawatir mulai memenuhi dada. Walau bagaimanapun mereka adalah darah dagingnya. Terlebih, Aqilla pasti akan murka apabila tahu bahwa anak-anaknya menghilang begitu saja.
"Apa mungkin mereka diculik?" celetuk Ilham, kembali memandang wajah Dona.
"Mana mungkin mereka diculik, Mas. Mereka itu bukan bayi. Kaila pasti akan berteriak kalau ada orang asing masuk rumah ini," decak Dona dengan sinis.
Ilham terdiam, berjalan mondar-mandir tepat di depan jendela yang masih terbuka lebar mencoba untuk berpikir.
"Apa mungkin Kaila mendengar apa yang kita bicarakan tadi, Mas? Dia takut dan akhirnya kabur dari sini?" seru Dona membuat langkah Ilham seketika terhenti.
"Gak mungkin. Mana mungkin Kaila gak sopan menguping pembicaraan orang dewasa."
Dona mendengus kesal. "Ya udah terserah kamu aja, Mas. Kamu itu gak pernah mau denger pendapat orang lain. Maunya menang sendiri dan apa yang kamu katakan harus selalu benar," decak Dona dengan kesal. "Aku capek, mau tidur. Lebih baik kamu cari anak-anak sebelum mantan istri kamu tau mereka hilang. Aku gak mau ikut campur sama urusan kalian, ya."
"Bantuin Mas mikir dong, Dona. Mas harus gimana?"
Dona tersenyum menyeringai. "Kamu minta pendapat aku? Bukannya kamu gak pernah mau denger pendapat orang lain?"
"Dona."
"Akh, entahlah. Kamu yang bawa mereka ke sini. Jadi, kamu sendiri yang harus menanggung resikonya. Cari mereka sampe dapet kalau kamu nggak mau mereka beneran diculik. Oke?" ucapan terakhir Dona sebelum wanita itu berbalik lalu melangkah meninggalkan kamar.
Ilham mencengkram kuat tirai gorden seraya menatap keluar dengan dada naik turun, menahan sesak. Pikirannya berkecamuk. Bagiamana jika sesuatu yang buruk menimpa kedua buah hatinya? Ia bukan hanya akan disalahkan, tapi dirinya pasti akan kehilangan pekerjaan yang sudah ia perjuangkan.
"Kaila, Keano, sebenarnya kalian di mana? Kenapa pergi gak bilang dulu sama Ayah? Kalau kayak gini, bisa-bisa Ayah dipecat sama Pak Radit," gumamnya penuh penyesalan.
***
Keesokan harinya tepatnya pukul 06.30. Tidak seperti biasanya, Aqilla masih meringkuk di atas ranjang dengan menutup hampir separuh tubuhnya menggunakan selimut tebal. Wajahnya nampak pucat, matanya sedikit membengkak karena menangis semalaman. Ia menyesalkan perbuatannya sendiri.
Menyerahkan anak-anak hanya demi sebuah balas dendam. Penyesalan memang selalu datang terlambat, tapi ia mencoba untuk berpegang teguh kepada sebuah keyakinan yaitu, tidak mungkin Ilham menyakiti anak kandungnya sendiri. Ada darahnya mengalir di tubuh Kaila dan Keano, meski pun Ilham menjadikan mereka senjata agar dirinya membatalkan pernikahan dengan Radit, tapi ia yakin, mantan suaminya itu menyayangi kedua buah hatinya sama seperti dirinya menyayangi mereka.
"Kaila, Keano. Ibu kangen banget sama kalian," gumamnya, seraya menyeka kedua matanya yang kembali berair.
Suara ketukan di pintu membuyarkan lamunan panjang seorang Aqilla. Wanita itu sontak menoleh dan menatap ke arah pintu yang dibuka dari luar, Radit melangkah memasuki kamar seraya membawa nampan berisi sarapan.
"Kamu udah bangun?" tanya Radit dengan senyum kecil, melangkah mendekati ranjang.
Aqilla menatap nampan berisi roti isi slay kacang dan juga segelas susu hangat yang masih mengepul. Wanita itu perlahan mulai bangkit lalu duduk tegak seraya mengusap wajahnya menggunakan telapak tangan.
"Seharusnya nggak usah bawa sarapan ke sini segala, Mas. Ini bentar lagi aku mau bangun ko," ucap Aqilla, tersenyum ringan.
"Kalau kamu ngerasa gak enak badan, tiduran aja gak apa-apa, tapi jangan lupa sarapan dulu," jawab Radit, meletakan apa yang ia bawa di atas meja lalu duduk di tepi ranjang.
Telapak tangan pria itu perlahan mulai bergerak naik, mengusap satu sisi wajah Aqilla dengan lembut, mencoba menyingkirkan air mata yang masih tersisa di sana. Aqilla hanya bergeming, memandang sayu wajah pria bernama lengkap Raditya Nathan Wijaya. Jantungnya seketika berdetak kencang, rasa aneh mulai menyelusup masuk relung hatinya yang paling dalam. Ditengah kesedihan yang ia rasakan, rasa lain terselip di antaranya. Rasa yang pernah ia rasakan ketika dirinya jatuh cinta kepada mantan suaminya.
"Aku baik-baik aja, Mas," lirih Aqilla, meraih lalu menggenggam telapak tangan Radit dengan senyum canggung.
"Kamu gak bisa bohong sama Mas, Qilla. Kamu nggak baik-baik aja, muka kamu pucat, mata kamu bengkak, badan kamu juga agak demam. Apa kamu mau ke Rumah Sakit?" tanya Radit dengan lembut.
Aqilla menggeleng-gelengkan kepala seraya mengusap punggung tangan Radit dengan lembut. "Nggak usah, Mas. Aku beneran gak apa-apa ko."
Radit menarik napas panjang lalu menghembuskan secara perlahan. "Kamu kangen sama anak-anak?"
Aqilla mengangguk lalu tertunduk.
"Gimana kalau kita tengokin mereka ke rumah mantan suami kamu?"
"Tapi hari ini kamu sibuk, Mas. Kamu harus ngurusin persiapan pernikahan kita."
"Kamu tenang aja, urusan itu udah Mas serahin sama Dion. Dia yang akan ngurusin semuanya, Mas tau beres."
"Apa boleh kita ke rumah Mas Ilham?"
"Kenapa tidak? Atau, kamu mau membawa mereka kembali ke sini? Biar nanti Mas melobi si Ilham di kantor."
"Nggak usah, Mas. Aku nggak mau Mas Ilham memanfaatkan masalah ini buat memeras kamu. Aku cuma pengen ketemu mereka sebentar, setelah itu pulang. Lagian, anak-anak udah janji akan hadir di pesta pernikahan kita, 'kan?"
"Hmm ... baiklah, kamu sarapan dulu setelah itu siap-siap."
Aqilla mengangguk seraya tersenyum kecil.
Ilham berdiri tegak. "Mas juga mau mandi dulu. Setelah kamu siap, kita langsung berangkat. Oke?"
"Mas Radit," lemah Aqilla, membuat Radit yang hendak melangkah seketika mengurungkan niatnya.
"Iya, Qilla."
"Kamu harus janji sama aku, Mas. Setelah aku balas dendam sama Mas Ilham, kamu akan operasi transplantasi ginjal. Kamu harus tetap hidup apapun yang terjadi."
Radit bergeming dengan perasaan berkecamuk.
"Aku nggak pernah melupakan perjanjian kita, Mas. Bertukar nyawa, aku bersedia menyerahkan nyawaku buat kamu karena kamu adalah orang yang sangat berharga buat aku."
Bersambung ....