Warning!! Adult content, dibawah umur dilarang mampir!
Bijaklah dalam memilih bacaan, novel ini bergenre Adult romance.
Membaca novel ini bisa membuat senyum-senyum, panas dingin dan baper berkepanjangan. Mengandung konten dewasa, pembaca dibawah umur dilarang ngintip, atau nanti akan penasaran.
Sofia Anna harus tercebur kedalam dunia yang tak pernah dibayangkannya. Satu masalah hidup membuat dia menjalani pekerjaan yang tak biasa. Menjadi simpanan pria-pria beristri.
Hingga suatu hari seseorang dari masa lalu menemukannya dan merubah segala yang ada di hidup Sofia.
"Apa kamu adalah kak Niko?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fitTri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bersamamu
*
*
Sofia merasakan sesuatu yang hangat mengusap wajah dan lehernya. Membuat perempuan itu membuka matanya dari lelapnya ia tidur.
Tampak wajah familiar yang dua malam ini selalu ada setiap dirinya membuka mata. Satria tengah tersenyum menatap wajah bantalnya yang mata bulatnya masih mengerjap mengumpulkan kesadaran.
"Ayo bangun pemalas!!" ucapnya, yang telah rapi dengan stelan jas berwarna navy.
"Hhhmmmm ..." Sofia hanya menggumam, kemudian menggeliat merenggangkan tubuhnya yang terasa remuk. Sisa pergumulan semalam.
"Bangunlah, cepat mandi!!" ujar Satria lagi, seraya menarik selimut yang menutupi tubuh telanjang perempuan itu. Namun Sofia menahannya dengan sekuat tenaga.
"Jam berapa ini?" katanya dengan suara serak khas bangun tidur.
"Jam tujuh." jawab Satria yang terus menarik selimut tebal dari tubuh Sofia.
"Masih pagi ..." menahan selimut dengan tangannya, kemudian melingkarkan tubuhnya, bergelung. "Dingin, kak!" katanya lagi, manja.
"Cepatlah bangun, aku bisa terlambat meeting kalau kamu masih begini." katanya, mendekatkan wajahnya ke telinga Sofia. Hembusan napasnya yang hangat menerpa kulit perempuan itu hingga tubuhnya meremang.
"Hari ini kamu kerja, kak?" tangannya malah meraih pundak Satria. Lalu melingkar dileher pria itu.
"Ehmmm ..." pria itu menggumam, mengecup telinga Sofia yang masih bergelung dibawah selimut tebalnya.
"Nggak bisa libur sehari lagi?" Sofia yang tengah menikmati kecupan lembut Satria yang turun ke leher jenjangnya.
"Libur satu hari cukup. Hari ini pekerjaan ku menumpuk gara-gara kamu merajuk kemarin." Satria agak menggeram, merasakan sesuatu yang mulai bangkit dibawah sana.
"Siapa suruh kamu menyekap aku disini seharian, kak." Sofia menyurukkan jari-jarinya di sela rambut Satria.
Pria itu memundurkan wajahnya sedikit. Menatap manik coklat sayu yang baru terbangun dibawahnya. Seringaian muncul di sudut bibirnya.
"Siapa suruh kamu menolak waktu aku meminta kamu untuk ikut denganku?" kata-katanya mulai tidak formal lagi.
"Siapa suruh kamu berbohong dan merahasiakan banyak hal dari aku?" balas Sofia, tak kalah sengit.
Satria tersenyum, lalu mendaratkan ciumannya pada bibir Sofia yang selalu menggodanya. Menikmati kelembutannya yang benar-benar telah menjadi candu baginya.
Sesaat kemudian Satria dengan terpaksa melepas ciumannya.
"Jangan menggodaku, waktu kita sedikit pagi ini. Nanti aku terlambat ke kantor. Reputasiku bisa hancur di depan investor." katanya, dengan napas terengah-engah, terpaksa harus menahan hasratnya yang mulai bangkit.
Sofia melepaskan tangannya yang melingkar dileher Satria, kesal.
"Cepatlah mandi!! Kamu tidak mau ikut?" Satria berdiri dan membenahi stelannya yang sempat hampir terbuka.
"Boleh?" Sofia bangkit dengan mata yang berbinar.
"Cepatlah, jam sembilan aku sudah harus ada di kantor."
Kemudian perempuan itu segera berlari ke kamar mandi dengan menarik selimut yang melilit ditubuhnya.
Satria tergelak menggelengkan kepala.
***********
Setelah selesai sarapan, Satria segera menuju kantor cabang yang berada di pusat kota Bandung. Dengan membawa serta Sofia di sampingnya. Yang mengenakan dress selutut berlengan pendek berwana biru navy, sama seperti stelan yang dikenakannya. Membuat mereka tampak serasi seperti pasangan kekasih.
"Hentikanlah, kak. Astaga!!" Sofia menggerutu sambil menahan kedua tangan Satria yang tak henti mengganggunya.
Pria itu terkekeh tanpa mau menuruti perkataan Sofia yang berada dalam rangkulannya.
"Ini dimobili!" Sofia berbisik, mengingatkan pria itu, wajahnya menahan malu karena keberadaan sang sopir yang tengah berkonsentrasi mengendarai mesin beroda empat milik Satria.
"Pak Amir? ..." Satria memanggil sang sopir yang tengah fokus ke jalan raya.
"Iya, pak?" jawab pria paruh baya itu, sekilas melirik tuannya lewat kaca spion.
"Apa pak Amir mendengar dan melihat apa yang terjadi disini?" tanyanya, dengan tangan yang tak lepas dari Sofia.
"Maaf, pak. Saya tidak dengar. Tidak bisa melihat juga karena saya sedang menyetir." jawab pria itu lagi, mendukung kekonyolan majikannya.
Satria tersenyum. "See? Dia tidak mendengar, dia sedang konsentrasi!!" katanya, setengah berbisik.
Sofia mencebik. Sebelah sudut bibirnya tertarik keatas.
"Sejak kapan kamu segenit ini!!" gerutunya lagi, sambil terus berusaha menyingkirkan tangan nakal sang papi dari tubuhnya.
"Sejak semalam." Satria berbisik ditelinga Sofia. Membuat perempuan itu tersipu mengingat kejadian panas semalam, kedua pipinya merona.
Satria tergelak, merasa puas dengan dirinya sendiri karena selalu berhasil menggoda perempuan yang berada dalam pelukannya. Fia nya.
Sementara sopirnya yang berada dibalik kemudi hanya menggelengkan kepalanya. Menyaksikan tingkah konyol majikannya yang baru pertama dia lihat. Selama ini tuannya itu tak pernah menunjukkan tingkah aneh. Satria selalu bersikap dingin dan berwibawa. Sikapnya selalu terjaga didepan siapapun.
Tapi dalam dua puluh tahun sepanjang dia menjadi sopir pribadi Satria, baru kali ini dia melihat kelakuan lain dari majikannya tersebut. Tahun ini Satria memang sedikit berubah. Sikapnya yang kaku dan dingin mulai berkurang. Satria malah lebih sering tersenyum, bahkan tertawa. Terutama ketika sedang bersama Sofia.
Tingkat kegalakannya terhadap karyawanpun sepertinya berkurang satu level dari sebelumnya. Kini Satria sedikit memiliki toleransi. Dulu pria itu bahkan tak pernah mau melirik siapapun yang berbuat kesalahan dalam pekerjaannya. Surat pemecatan sudah pasti diterima tanpa peringatan bagi siapapun yang berbuat kesalahan.
Tapi kini Satria berubah. Gurat bahagia selalu terpancar dari wajahnya tak lama setelah pria itu menemukan perempuan yang kini berada dalam pelukannya.
Pak Amir bersyukur tuannya bisa merasakan kebahagiaan seperti ini. Dia yang paling tahu betapa berat kehidupan majikannya tersebut selama ini. Selalu mendapat tekanan dari sang ayah yang otoriter, ditambah dengan berbagai pekerjaan berat yang harus selalu dia selesaikan tepat waktu. Pergi ke sana kemari demi melebarkan sayap bisnis perusahaan keluarganya hingga dia berhasil seperti sekarang ini. Dan jangan lupakan pula kelakuan istrinya yang sering membuat masalah diluar sana, Satria yang harus selalu bertindak menyelesaikan kekacauan yang timbul akibat perbuatannya Lara.
Semoga tuannya terus begini. Harap nya dalam hati.
*
*
Sofia terduduk di sudut sofa diruang kerjanya Satria. Sudah dua jam pria itu meninggalkannya disana untuk menghadiri rapat penting di ruangan lain yang lebih besar bersama para investor dari luar negri. Beruntung ada ponsel baru yang semalam diberikan Satria yang mampu membuatnya bisa mengusir kejenuhan. Dengan bermain game atau menghubungi orang-orang yang nomornya dia ingat dikepalanya. Mengabarkan dirinya sedang ada keperluan mendadak yang tak bisa ditunda.
Ponsel mahal keluaran terbaru seperti milik Satria, dengan nomor baru pula yang sengaja dipilihkan pria itu untuknya. Yang hanya nomor-nomor penting saja yang berada dalam kontak telfon nya. Satria yang memerintahkan. Jangan ada nomor lain selain nomor keluarga, teman kerja, dan tentunya nomor pribadinya sendiri. Ancamannya tak main-main tentang Sofia yang harus berhenti dari pekerjaannya sebagai penghibur lelaki hidung belang. Atau pria itu akan meledak lagi, lebih hebat dari pada kemarin. Membuat Sofia bergidik ngeri mengingat betapa beringasnya pria itu ketika marah.
*
*
Hampir jam makan siang ketika Satria memasuki ruangannya, mendapati Sofia tengah tertidur di sofa disudut ruangan. Tubuhnya meringkuk seperti bayi.
Pria itu duduk ditepi sofa, mengelus pipi merona Sofia dengan punggung tangannya. Ingin membangunkannya tapi tak tega. Perempuan itu tampak nyenyak sekali. Dia pasti bosan menunggu dirinya rapat selama itu.
Satria melepaskan jas yang dikenakannya, dipakainya untuk menyelimuti sebagian tubuh Sofia. Kemudian bangkit, bermaksud akan memesan makanan agar saat Sofia bangun nanti mereka bisa makan siang bersama.
Namun tangannya terasa ditarik saat Satria hendak melangkah. Sofia rupanya sudah bangun. Perempuan itu bangkit, merubah posisinya menjadi duduk.
"Kamu bangun." Satria mundur, kembali duduk disampingnya Sofia.
"Lapar." Sofia dengan suara serak khas bangun tidur. Menyugar rambut hitam sebahunya yang agak berantakan.
"Tunggulah, aku mau pesan makanan." Satria hendak bangkit lagi, meraih ponsel dimeja kerjanya. Tapi Sofia tak melepaskan tangannya. Satria kembali terduduk.
Sofia langsung menyurukkan kepalanya di dada pria itu. Menenggelamkan wajahnya. Merangkul pundak Satria dengan posesifnya.
"Terimakasih," Sofia mengeratkan pelukan ditubuh tinggi Satria.
"Untuk?" Satria yang terkejut mendapati pelukan tiba-tiba dari Fianya.
"Karena kamu sudah kembali dan menepati janjimu dulu." Sofia makin merapatkan wajahnya di dada bidang pria itu.
Satria tersenyum, mengelus lembut kepala Sofia.
"Kak Nik-ko?" Sofia mendongak.
"Hmm??" Satria menggumam.
"Kamu janji, tidak akan meninggalkan aku lagi?" Sofia dengan mata bulatnya menatap manik hitam milik Satria.
"Aku janji." jawab Satria tanpa ragu.
Mereka terdiam, kama saling tatap.
"Kak Nik-ko?" ucap Sofia lagi.
"Stop calling me like that!!" ujar Satria, menghindari tatapan sayu perempuan dalam pelukannya.
"Kenapa?" Sofia mengerutkan dahi.
"Rasanya aneh mendengar kamu memanggilku dengan sebutan itu." jawab Satria, menahan senyum.
"Kak Nik-ko?"
"Stop, Sofia!" Satria terkekeh.
"Kenapa? aku suka memanggil kamu seperti itu."
"Aku bukan lagi pemuda dua puluh tahun yang kamu beri sebotol air mineral waktu itu."
"Terus?"
"Aku pria matang yang hampir separuh baya," Satria terkekeh lagi. "Rasanya aneh ada yang memanggilku dengan sebutan kak."
"Aku sudah tua." satria mengerutkan dahi sambil tertawa.
Sofia menggelengkan kepala. "Kamu belum tua!!" melingkarkan kedua tangannya di pinggang Satria.
Pria itu tergelak. "Umurku 40 tahun!" ujarnya,
"Kamu pria matang!" ucap Sofia, mendongakkan wajahnya, "Dan tampan!" lanjutnya, membuat wajah tegas Satria tersipu.
Ah ... perempuan ini membuatku merasa sepuluh tahun lebih muda. batinnya, diiringi tawa renyah yang menggema di seluruh ruangan.
"Tapi tetap saja aku tidak mau kamu memanggilku dengan sebutan kakak. Rasanya seperti sedang mengobrol dengan keponakan kalau kamu terus begitu."
"Terus, aku harus memanggil kamu apa, kak?" Sofia sengaja menggoda kak Niko nya.
"Panggil aku seperti biasa." jawab Satria.
"Apa?"
"Call me Papi!" katanya, "Aku suka ketika kamu memanggilku dengan sebutan Papi." lanjutnya.
Sofia tersenyum. "Papi?"
Satria mengangguk.
"Oke, papi.", mengeratkan pelukannya. "Papi Niko."
Kemudian keduanya tergelak.
*
*
Bersambung....
like
koment
vote!!
ya ampun padahal udah 5 tahun lalu tapi masih apal 🤭🤭