Yuki Amaranggana, seorang gadis anak pengusaha nomor satu, Bhanu Tungga Jaya, harus turun tahta menjadi seorang pembantu rumah tangga!
Apakah yang akan dialaminya selama menjadi asisten rumah tangga? Bagaimana kisah cintanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yudhi Nita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pengakuan Ferry
Yuki menyipitkan mata, menatap sekeliling, seolah bertanya 'Dimana aku?'.
Ferry segera mengajaknya bicara, "Ini di rumah sakit, kamu terjatuh di hutan pinus, ingat?" tanya Ferry sembari memegang jemari tangan Yuki.
Gadis itu melepaskan pegangan Ferry. Sebentar kemudian dia kembali menutup matanya, menghela napas. Sepertinya tadi samar-samar dia mendengar suara Rangga, tapi ternyata malah Ferry yang ada di dekatnya saat ini. Dia agak kecewa.
Yuki kembali membuka matanya, "Iya, aku ingat aku jatuh. Setelah itu aku nggak ingat apa-apa."
Bagus .... batin Ferry.
"Apa, Kak Ferry yang membawaku ke sini?" tanya Yuki memastikan.
Ferry tersenyum licik, "Iya, tentu saja. Aku yang menyelamatkanmu!"
Yuki menghela napas.
Ternyata Kak Ferry yang menyelamatkanku.
Gadis itu merasa sangat kecewa. Seseorang yang diharapkan, ternyata bukan penyelamatnya.
"Aku berutang banyak padamu, Kak."
"Udah, nggak usah dipikirkan."
"Dhea!!" jerit Yuki teringat sahabatnya itu. "Apa yang terjadi dengan Dhea? Terakhir itu, dia meneleponku untuk menemuinya di hutan pinus!" Gurat kekuatiran tercipta di wajah cantik Yuki. Kepala gadis itu masih ditutup oleh perban karena telah dijahit oleh perawat.
"Udah, kamu nggak perlu kuatir. Dhea udah aman di penginapan."
Ferry menenangkan gadis itu. Dia berkata seperti itu karena ingat bahwa setelah adanya pemberitahuan dari pihak kampus elit, dia dan para panitia telah mengecek absen mahasiswa dan mahasiswi baru. Semua lengkap, kecuali Yuki. Jadi dia yakin bahwa sahabat Yuki itu baik-baik saja.
Yuki kembali meregangkan kembali ototnya yang tadi menegang karena teringat sahabatnya itu.
"Kiki, bolehkah aku melanjutkan pernyataanku yang terpotong saat tadi?" pinta Ferry.
Yuki yang sedang kalut saat itu, menganggukkan kepala, pasrah.
"Kiki meski waktunya tak tepat, tapi aku tetap akan mengatakannya. Aku menyukaimu, Kiki. Maukah kamu jadi kekasihku?" tanya Ferry.
Yuki menatap nanar pada lelaki itu. Sedikitpun dia tidak mencintainya. Namun, lelaki itu telah banyak berkorban untuknya.
Jika aku menjawab 'ya', apakah aku bisa mencintainya?" batin Yuki bergejolak, antara utang budi dan kejujuran hatinya.
Fyuh!
Yuki menghela napasnya.
Jika nggak, kasihan juga. Dia telah berkorban banyak. Sepertinya dia benar-benar menyukaiku, tapi Mas Rangga .... Kenapa saat ini aku malah memikirkannya??
"Gimana, Kiki?"
Pertanyaan singkat lelaki itu mengagetkannya.
"Oh, eh, tolong beri aku waktu seminggu lagi, Kak Ferry!" pinta Yuki.
Lelaki ini pun belum tau identitasku, hanya lelaki tulus yang kuharapkan.
"Baiklah, kutunggu jawabanmu, seminggu lagi."
Gurat kecewa terlihat di wajah Ferry karena saat itu dia belum juga mendapatkan kepastian dari gadis itu.
Pintu terbuka, seorang perawat masuk dan mengecek tekanan darah Yuki, serta mengecek kesadaran gadis itu.
"Mas bisa keluar dulu? Saya juga akan membersihkan luka di tubuh Nona Kiki."
Ferry mengangguk lalu keluar dari ruangan saat perawat melakukan tugasnya.
"Nona Kiki udah sadar, besok kita lakukan pemeriksaan neurologis dengan dokter. Apa anda masih merasa pusing?" tanya perawat itu pada Yuki.
"Kadang-kadang, Mbak," jawab Yuki.
"Baik, lebih baik anda banyak beristirahat dulu, ya? Jangan berpikir terlalu banyak."
"Iya, Mbak."
"Sekarang saya bantu membersihkan luka-luka di tubuh Nona Kiki."
Kiki mengangguk. Perawat itu kini sibuk dengan tugasnya.
*
Seorang pria paruh baya datang tergesa-gesa ke depan pintu bangsal menemui Ferry.
"Ferry, gimana keadaan Kiki?" tanyanya.
"Eh, Pak Hari. Kiki sudah sadar, dia sepertinya baik-baik saja. Hanya cedera ringan di kepala. Perawat sedang memeriksa dan membersihkan luka di tubuhnya."
"Sebenarnya, apa yang terjadi?" tanya Pak Hari pada lelaki itu.
"Emmm ... maafkan kami, Pak. Ini semua karena kecerobohan kami, kurangnya pengawasan terhadap para mahasiswa baru. Entah bagaimana Kiki bisa sampai ke hutan pinus dan terperosok ke dalamnya. Sekali lagi, maafkan kami, Pak!" Ferry membungkuk berkali-kali di depan Pak Hari.
"Sudah, sudah. Kamu yakin Kiki sekarang dalam keadaan baik-baik saja?" tanya pria itu lagi.
"Iya, Pak. Saya ajak bicara, dia masih nyambung."
"Apa kata dokter?"
"Ehh ... saya kurang tau, Pak!"
"Tadi katanya mahasiswa kampus elit yang bawa Kiki ke rumah sakit?"
"Errr ... mereka hanya membantu saya, Pak!"
"Kenapa kamu nggak tau apa kata dokter??"
"Saya sibuk menelepon teman-teman di penginapan tadi, Pak!" kilah Ferry gelagapan. Dia tak mau kalo Pak Hari tau bahwa mahasiswa dari kampus elitlah yang menyelamatkan Yuki.
Pria paruh baya itu kuatir akan keadaan anak tunggal kesayangan sahabatnya itu.
Perawat yang mengurusi Kiki keluar dari ruangan, "Sudah selesai. Mohon agar memperhatikan waktu kunjung," ujarnya.
"Iya, Mbak. Saya hanya menengok keadaan mahasiswa saya sebentar," jelas Pak Hari.
"Baik, Pak. Silakan."
Perawat itu meninggalkan mereka, membawa peralatan medisnya.
"Aku akan menemui Kiki dulu, kamu tunggu di luar," ujarnya pada Ferry.
"Baik, Pak," angguk Ferry.
Pak Hari masuk ke ruangan, mendekati Yuki.
"Om Hari!!" pekik Yuki tertahan. Gadis itu menutup mulut dengan kedua tangannya.
Pria itu meletakkan telunjuknya di depan bibirnya, "Pssst ... di depan ada Ferry yang jaga! Gimana keadaanmu, Ki?" tanya Pak Hari.
"Yuki nggak apa-apa, Om! Om jangan bilang ke papi sama mami ya? Nanti mereka heboh kalo tau anaknya sakit!" pinta Yuki memohon.
Dia tau benar meski kedua orang tuanya tega menyuruhnya pergi dari rumah untuk bekerja keras menjalankan misi, tapi jika mereka tau dia sakit apalagi kecelakaan begitu, pasti mereka membatalkan misi itu.
"Tapi Om mau memberitahu pada mereka bagaimana pun keadaanmu!" Dahi pria itu berkerut mendengar kemauan Yuki.
"Om, kalo mereka tau, maka terbongkar semua penyamaranku!"
Dan ... jika mereka tau, aku bakal pergi dari rumah Bu Yayah. Aku nggak ingin berpisah dulu dari Mas Rangga, sebelum aku tau perasaannya padaku.
Entah kenapa sekarang Yuki merasa begitu berat meninggalkan rumah Bu Yayah jika misinya belum tercapai, tambah lagi yang memberatkan yaitu hatinya pada Rangga, berat rasanya meninggalkannya meski harus jadi asisten rumah tangga di sana.
"Kamu yakin kamu bisa jaga dirimu sendiri setelah ini kalo Om nggak bilang pada orang tuamu?" tanya Pak Hari merasakan keras kepala anak itu.
"Iya! Yuki janji! Yuki harus menyelesaikan misi Yuki dulu, perusahaan papi akan aman di tangan Yuki kalo Yuki bisa melewati semua rintangan hidup!" kata gadis itu yakin.
Pria paruh baya itu hanya menghela napasnya, "Baiklah, kamu udah dewasa, pasti tau mana yang akan kamu jalani. Meski Om akan merasa bersalah pada kedua orang tuamu jika mereka tau kamu celaka."
"Asal Om diam aja, pasti mereka nggak akan kuatir, kan?" Gadis itu mengerjapkan matanya memohon, meski lemah.
"Anak ini, masih lemah gitu tapi keras kepalanya malah makin kuat! Baiklah, Om kasih waktu sekali lagi, kalo kamu nggak bisa jaga diri, terpaksa Om menemui orang tuamu!" ancamnya.
"Iya, Om! Yuki janji!" Dia membentuk huruf 'V' dengan dua jarinya.
*****
Author \= Pasti author kena timpuk readers, gara-gara kamu Fer!!
Ferry \= Kesempatan kan Thor!
Author \= Huh! Kesempatan dalam kesempitan!! Awas kamu dihujat netijen. Aku tutup mata dan telinga!
Ferry \= Kabooorrr!!!
Author \= Weeeh!! Tugasmu jaga Kiki!!