Tatapannya hangat dan lembut, ku fikir dia mencintaiku, nyatanya tidak, ada wanita lain dihati suamiku, wanita yang merupakan cinta pertamanya, wanita yang dia kagumi sejak remaja yang tidak bisa dia miliki.
Entahlah aku ini dianggap apa, mungkin dijadikan sebagai pelampiasan rasa sakit hatinya, atau untuk memberitahu wanita itu kalau dia juga bisa menikah dan melanjutkan hidup meskipun bukan dengan wanita itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aenyn unyu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MAAF
Sementara itu, Marni dan juga suaminya masih setia berada dirumah sakit bersama dengan keluarga Tari yang lainnya, mana mungkin dia akan pergi saat Tari belum siuman.
Fahri merangkul istrinya dan mengelus lengan Marni, “Tari akan baik-baik saja Mar, banyakin berdoa saja.”
Marni tidak menanggapi ucapan suaminya, dia hanya bisa diam membisu, waktu terasa berjalan lambat untuknya, dia dan Tari bersahabat sejak masih SD, kedekatan mereka tidak usah diragukan lagi, mereka sudah layaknya saudara, Marni tidak bisa membayangkan kalau terjadi apa-apa sama sahabatnya itu, apalagi kondisi Tari yang tengah dalam keadaan hamil.
Perhatian Marni teralihkan saat mendengar suara deringan ponselnya, deringan itu juga sekaligus memecah keheningan dilorong rumah sakit tersebut.
Marni menatap nama pemanggil yang tertera dilayar.
“Siapa.” tanya Fahri lebih mendekat untuk mengetahui siapa yang menelpon istrinya.
Marni tidak menjawab karna Fahri sudah melihat siapa yang menelpon.
Asroni memintanya untuk memberitahukannya tentang keadaan Tari, namun karna kepanikannya sehingga membuat Marni lupa akan hal tersebut.
“Angkat dek, Asroni pasti khawatir dengan kondisi Tari, dia pasti tidak bisa tenang disana karn terus kefikiran sama Tari.”
“Mas saja yang jawab.” ucap Marni menyerahkan ponselnya pada sang suami, dia rasanya tidak sanggup untuk menjelaskan keadaan Tari.
Tanpa banyak kata Fahri meraih ponsel istrinya, dia sedikit menjauh.
10 menit kemudian, Fahri kembali, Marni tidak menanyakan apa-apa, namun Fahri melaporkan hasil pembicaraanya dengan sepupu istrinya itu.
“Asroni sangat khawatir dengan kondisi Tari, dia menyayangkan dirinya yang saat ini berada dimesir, tapi dia terus berdoa supaya tidak terjadi apa-apa dengan Tari dan bayinya."
Sepertinya Marni tidak memiliki kekuatan hanya sekedar mengatakan satu huruf saja, dia hanya mengangguk pelan.
********
2 jam yang terasa mencekam, 2 jam yang penuh akan ketegangan, dokter yang menangani Tari masih belum keluar, ditengah ketegangan itu pintu ruang icu akhirnya terbuka juga, wajah-wajah tegang itu langsung menyongsong kedatangan dokter, kecuali Budi, dia sama sekali tidak ikut bergabung mengeremuni dokter, dia merasa malu, malu karna merasa sikapnyalah yang menyebabkan Tari seperti ini.
Ternyata tidak hanya keluarga saja yang tegang, tapi dokter yang menangani Tari juga, wajah dokter yang berusia sekitar 40 tahun bernama dokter Harun itu masih menyisakan sisa-sisa ketegangan diwajahnya.
“Dokter bagaimana keadaan putri saya dan bayinya, mereka baik-baik sajakan.” pertanyaan umi Diah.
“Iya dokter, keadaan menantu saya dan calon cucu saya bagaimana.” ulang umi Warsih.
Wajah tegang dokter Harun berubah menjadi senyum tipis sangat tipis, dan ini tentu saja menjadi pertanda baik.
“Tuhan masih menyayangi saudari Tari dan juga bayinya, alhamdulillah saudari Tari bisa melewati masa kritisnya, setelah perjuangan kami team dokter, Tuhan akhirnya menunjukkan mukjizatnya, semua team dokter heran, mengingat seriusnya kondisi saudari Tari, kami berfikir tidak bisa menyelamatkannya dengan bayinya, ataupun iya Tari bisa diselamatkan, bayinyalah yang kemungkinan tidak akan selamat, tapi sekali lagi, ini adalah kekuasaan Tuhan, entah amalan apa yang saudari Tari lakukan sehingga kami bisa melihat sendiri mukjizat itu.” dokter Harun menjelaskan panjang lebar.
Mendengar penjelasan dokter Harun, serentak semua yang ada disana bernafas lega, termasuk juga Budi, ketegangan perlahan terkikis dari wajah-wajah tersebut.
Dan yang paling lega diantara semuanya mungkin adalah Budi, biar bagaimanapun, meskipun dia tidak pernah mencintai Tari, tapi Tari adalah istrinya, masih berada dalam tanggung jawabnya, kalau terjadi apa-apa sama Tari dia pasti akan menjadi orang yang paling bersalah.
“Syukur alhamdullilah ya Allah, terimakasih atas kekuasanmu.” lirih umi Warsih penuh syukur.
“Bi, putri kita dan calon cucu kita selamat bi.” ucap umi Diah pada suaminya.
“Iya umi, kita harus banyak-banyak bersyukur pada gusti Allah SWT, gusti Allah selalu maha baik.”
“Iya bi.”
“Apa kami bisa melihat keadaan Tari dokter.” tanya Biah.
“Kondisi pasien masih sangat lemah, tapi kalau hanya satu orang saja bisa.”
“Budi.” panggil umi Diah menoleh ke belakang.
Budi mendekat saat namanya dipanggil, “Nakk, kamu sebagai suaminya, masuklah, temui istrimu nak.” kalau tahu bagaimana Budi memperlakukan putrinya, mungkin umi Diah tidak akan membiarkan Budi untuk menemui putri kesayangannya.
“Umi saja yang menemui Tari, mungkin Tari lebih membutuhkan umi.” tolak Budi halus, jujur dia merasa malu bertemu dengan Tari, Budi fikir mungkin umi Diah yang paling pantas untuk menemui Tari untuk pertamakalinya setelah wanita itu sadar, bukan dirinya yang selalu membuat Tari sakit hati.
"Enggak enggak." tolak umi Diah, wanita yang dihormati oleh Tari itu berfikir bahwa sekarang Budilah yang paling berhak atas Tari, saat proses ijab qabul mereka sudah melepas tanggung jawab mereka sebagai orang tua kepada Budi sebagai suami Tari, "Kamulah yang harus masuk nak, temuilah Tari, umi yakin Tari lebih ingin bertemu denganmu."
"Masuk saja mas." timpal Sarah.
Budi akhirnya menyerah, dengan langkah pelan dia berjalan mendekati pintu ruang icu itu.
Semua orang yang ada disana mungkin saja berfikir kalau Budilah yang paling memiliki hak untuk melihat kondisi Tari pertamakali, namun diantara semua yang ada disana, ada dua orang yang tidak menginginkan Budi masuk ke dalam, orang itu adalah Biah dan Marni.
Kedua wanita itu menatap Budi tajam.
"Laki-laki gak berguna, entah apa fungsinya sebagai suami." batin Marni jengkel, Tari memang tidak pernah bercerita sedikitpun tentang masalah rumah tangganya, hanya saja Budi yang tidak pernah ada untuk Tari dan sangat jarang menjemput Tari itulah yang membuat Marni berfikir kalau memang Budi adalah laki-laki gak berguna.
*******
Tari masih sangat lemah, tidak bisa menggerakkan tubuhnya, hanya kelopak matanya saja yang bisa dia gerakkan.
Dan saat mendengar suara langkah mendekat, dia sedikit menoleh, melihat Budi mendekati bankar tempatnya berbaring.
Begitu tahu kalau yang masuk adalah Budi, Tari langsung membuang pandangannya, dia tidak ingin bertemu dan melihat suaminya itu.
Budi berhenti tepat didekat Tari, melihat sikap Tari, dia sadar Tari tidak ingin melihatnya, oleh karna itu, dia hanya berdiri dan membisu bagai patung tanpa mengatakan apapun.
Hal itu terjadi cukup lama, sampai pada akhirnya, bibir Budi tergerak, "Maaf." satu kata itu saja tanpa ada embel-embel dibelakangnya.
Tari memejamkan matanya, perih rasa hatinya, dari sudut matanya yang terpejam merembas kristal bening, "Hanya maaf saja mas." batinnya sesak, "Tidak bisakah kamu menjelaskan kenapa sikapmu begitu cuek kepadaku dan juga anak kita, tidak bisakah kamu memberi perhatian kepada kami mas."
"Aku tidak ingin masuk." Budi melanjutkan saat melihat air mata yang mengalir dipipi Tari dengan mata terpejam, Budi semakin yakin kalau Tari enggan melihatnya, "Karna aku yakin kamu tidak ingin melihatku, tapi umimu memaksaku, maafkan aku Tari kalau keberadaanku membuatmu tersiksa."
*******
hati& pikiran mu ke orang Lain...
giliran sudah menikah dengan Fitri
hati mu ke Tari...
penyesalan selalu datang belakangan an
lanjut Thor ceritanya di tunggu updatenya