"Mas Kenzo! Pocongnya kabur lagi!" teriak Srini sambil ngemil ceker ayam._
"Bukan waktunya makan, sri! Itu pocong bawa kabur anak kepala desa!"
Kenzo, dukun muda nyeleneh dan Srini, kuntilanak centil juga narsis , harus menghadapi Gerombolan pocong pemburu nyawa,Pengkhianatan makhluk gaib yang mereka percaya ,Rahasia mengerikan di balik kematian orang tua Kenzo.
misteri apa yang terjadi mengapa bisa ribuan pocong mengepung sebuah desa dan mengapa orang tua Kenzo bisa mati secara misterius. temukan jawabannya di buku ini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon the last shadow, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
-
Kenzo terbaring di atas tikar bambu di dalam gubuknya, tubuhnya masih lemah setelah pertempuran dengan Nyi Roro Kidul. Lengan kanannya dibalut perban dari daun gaib yang diberikan Azura, sementara Srini—yang rambut putihnya masih belum kembali hitam—duduk di sampingnya sambil mengipasinya dengan daun pisang.
"Mas, kamu nggak apa-apa kan? Tadi kamu kayak orang kesurupan mau lawan Ratu Kidul sendirian!" Srini memanyunkan bibirnya, tapi matanya berkaca-kaca.
Kenzo mengerang pelan. "Aku... aku nggak nyangka dia ternyata penyebab orang tuaku hilang."
Azura yang berdiri di dekat jendela menghela napas. "Dan kau baru saja tahu kalau kakekmu masih hidup—dan sakti mandraguna."
Kenzo menatap langit-langit gubuk, pikiran kalut. Lelaki tua berjubah hitam itu—kakeknya—telah menghilang secepat muncul, hanya meninggalkan pesan: "Cari aku di Gunung Merapi saat bulan purnama."
"Jadi, kita harus ke Merapi sekarang?" tanya Maya si pocong, tiba-tiba muncul dari balik pintu dengan wajah penasaran.
"Kita harus siap dulu," Azura memotong. "Nyi Roro Kidul pasti akan kembali dengan pasukan lebih besar. Dan kakek Kenzo... ada sesuatu yang dia sembunyikan."
Srini melompat berdiri. "Oke, berarti kita latihan lagi! Kali ini aku bakal bantu Mas Kenzo sampai kuat kayak kakeknya!"
Kenzo mencoba tersenyum, tapi dadanya sesak. Kakekku ternyata hidup. Dan dia punya kekuatan yang bisa mengusir Nyi Roro Kidul dalam sekejap... Kenapa dia tidak menyelamatkan ayahku lebih dulu?
**Malam di Gunung Merapi**
Bulan purnama menggantung di langit, memancarkan cahaya perak yang menyapu lereng gunung. Kenzo, Srini, dan Azura berdiri di depan gua batu yang tertutup simbol-simbol kuno.
"Mas, ini tempatnya? Angker banget..." Srini bergidik, jari-jarinya mencengkeram lengan Kenzo.
Azura mengamati simbol di dinding gua. "Ini segel **Pamungkas**. Hanya keturunan darahnya yang bisa membukanya."
Kenzo mengangkat tangan, tanpa sadar mengikuti naluri. Darah dari lukanya menetes ke simbol pusat—
**KRAK**!
Pintu gua terbuka dengan gemuruh. Di dalam, sang kakek duduk bersila di atas batu datar, matanya tertutup.
"Kau datang," ujarnya, suaranya seperti gemuruh bumi.
"Kenapa kau sembunyikan semua ini?" Kenzo langkah mendekat, suaranya gemetar.
Kakeknya membuka mata—warnanya biru tua, sama seperti Kenzo saat kemasukan Azura dulu. "Keluarga kita bukan sekadar dukun, Kenzo. Kita \*penjaga gerbang\* antara dunia manusia dan alam gaib. Ayahmu dikhianati karena ingin memutus rantai pengorbanan tumbal ke Nyi Roro Kidul."
Srini mendelik. "Jadi... Mas Kenzo ini keturunan **penjaga** **gerbang**? Kayak anime aja!"
Azura mendesis. "Ini bukan lelucon, Srini. Jika Kenzo mewarisi kekuatan sebenarnya, dia bisa membebaskan orang tuanya—atau memicu perang dengan seluruh kerajaan gaib."
Kakek Kenzo mengangkat tangan. Di telapaknya, segel berkilau seperti bintang. "Pilih, cucuku: terima warisan ini dan hadapi konsekuensinya, atau tetap jadi dukun kecil yang bersembunyi di hutan."
Kenzo menatap segel itu, lalu ke arah Srini dan Azura. Di luar gua, angin berbisik membawa suara Nyi Roro Kidul: "*Aku akan menenggelamkan seluruh Jawa*..."
Dia menghela napas. "Aku nggak punya pilihan, kan?"
Tangannya menggenggam segel—
**BOOOOM**!
Energi meledak, menerangi seluruh gua. Ketika cahaya mereda, Kenzo berdiri dengan mata bersinar biru elektrik, dan di dahinya kini ada tanda segel pusaka.
Srini melompat kegirangan. "Wih, Mas sekarang kayak tokoh utama shounen!"
Tapi Azura dan sang kakek sama-sama tegang. "Dia sekarang target semua penguasa gaib," bisik Azura.
Di kejauhan, dari arah Laut Selatan, gelombang hitam setinggi gunung mulai bergulung.
**Laut Selatan – Malam itu**
Gelombang setinggi seratus meter bergulung di tengah laut, membawa kapal-kapar nelayan seperti mainan. Di puncak ombak, Nyi Roro Kidul berdiri dengan gaun hijau tua berkibar, matanya memancarkan amarah yang membara.
"**Bawa seluruh pasukan. Hancurkan Gunung Merapi dan bawa kepalanya ke hadapanku**!"
Dari dalam laut, ribuan siluman laut muncul—para prajurit berkulit sisik, wanita duyung bertaring, dan ular raksasa bermata merah. Mereka mengangkat senjata dari karang dan mutiara hitam, siap membanjiri daratan.
Gunung Merapi – Puncak Gua
Kenzo memandang telapak tangannya yang kini bercahaya biru. Setiap aliran darahnya terasa seperti dialiri listrik. "Ini... kekuatan kakek?"
"Bukan," kakeknya berdiri di sampingnya, wajahnya keras. "Ini kekuatanmu sendiri. Aku hanya membuka segelnya."
Srini mengendus-endus udara tiba-tiba. "Huh? Bau asin... laut?"
Azura langsung waspada. "Dia datang."
Di kejauhan, garis hitam di horizon samudera mulai mendekat—gelombang raksasa yang menyapu seluruh pantai selatan Jawa.
Kenzo mengepalkan tangan. "Kita nggak bisa lawan itu sendirian."
"Kita nggak sendirian," kakeknya tersenyum, lalu meniup peluit dari tulang—
SWUUUIIIING!
Dari balik kabut gunung, bayangan-bayangan mulai berdatangan:
- Gendruwo dari hutan-hutan Jawa, bersenjatakan batu dan kayu besi.
- Laskar Lelembut yang terbang dengan sayap kelelawar, dipimpin oleh Wewe Gombel tua.
- Prajurit Banaspati berapi, mengendarai kuda dari abu vulkanik.
- Pasukan Pocong yang dipimpin Maya, kain kafan mereka berkibar seperti bendera perang.
"Mereka semua... ikut kita?" Kenzo terbelalak.
"Mereka ikut kamu ," kakeknya menepuk bahunya. "Kau sekarang Pemegang Segel, keturunan terakhir Penjaga Gerbang. Mereka akan mati untukmu."
Srini melompat ke depan. "Wah, berarti aku bisa jadi komandan pasukan kuntilanak? Asyik! Aku mau pasukan pakai baju merah semua, kayak aku!"
Maya mencibir. "Dasar kunti norak."
BRUUUUUM!
Gemuruh menggelegar. Gelombang pertama Nyi Roro Kidul sudah menghantam kaki gunung, menyapu desa-desa di bawahnya.
Kenzo menarik napas dalam. "Gimana caranya hadapi ombak segede itu?"
Azura maju, tangannya menyala biru. "Kau punya darah Penjaga Gerbang. Kau bisa ubah keseimbangan alam ."
"Tapi aku nggak tahu caranya—"
"Tutup matamu,"kakeknya memotong. "Dan bayangkan laut terbelah."
Kenzo memejamkan mata. Di kegelapan, dia mendengar suara angin, gemuruh ombak, lalu—
"BUKA!"
KRAAAAAK!
Tanah bergetar. Di kejauhan, gelombang raksasa itu tiba-tiba berhenti di udara, seolah ditahan tembok tak terlihat.
Nyi Roro Kidul menjerit marah. "Kau pikir bisa menghentikanku, anak manusia?!"
Kenzo mengangkat kedua tangannya, dan untuk pertama kalinya, suaranya bergema seperti dewa:
"LAUT SELATAN—PULANG!"
BOOOOM!
Gelombang itu berbalik arah, menyeret pasukan Nyi Roro Kidul kembali ke dalam laut.
Srini ternganga. "Mas... kamu tadi kayak Moana versi Jawa!"
Tapi Kenzo langsung limbung. "Aku... pusing..."
Dia terjatuh. Kekuatannya masih terlalu mentah.
Kakeknya menangkapnya. "Perang belum selesai. Dia akan kembali dengan lebih kuat."
Di tengah laut, Nyi Roro Kidul bangkit lagi, wajahnya hancur oleh kemarahan.
"Kenzo... AKU AKAN MENGUBUR ORANG TUA-MU HIDUP-HIDUP!"
feed back la yaa😍