Setelah lima tahun menikah, Adipati Elang Ganendra dan Dewi Astjarjana dikaruniai seorang putri.
Elang Ganendra memberinya nama Dewi Anandhita.
Sejak dilahirkan, Anandhita sudah menunjukkan kekuatannya.
Namun sayang, kelebihan fisiknya membuat Elang Ganendra salah paham dan mencurigai istrinya.
Anandhita kecil harus hidup tanpa belaian kasih sayang seorang ayah.
Untungnya, Dewandaru, Ayah dari Elang Ganendra yang keturunan langsung dari Bathara Guru, sangat menyayanginya.
Dewandaru juga yang mengajari Anandhita dasar-dasar ilmu beladiri.
Anandhita pun bertekat memanfaatkan ilmunya untuk menegakkan keadilan dan menolong sesama.
Cerita dalam novel ini adalah fiksi yang bersifat untuk menghibur, sama sekali tidak ada maksud untuk mengubah sejarah.
Dibingkis dengan cara sederhana, dilengkapi dengan aneka budaya nusantara, dibumbui dengan romansa dan sedikit action, sangat sesuai dijadikan dongeng sebelum tidur.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dian Ekawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mengungsi (2)
Mereka berjalan berkelompok dan melanjutkan perjalanan secara bergantian.
Tiap kelompok dibagi menjadi dua atau tiga keluarga untuk menghindari kecurigaan penduduk desa yang akan dilaluinya bila mereka bepergian bersama-sama.
Satu kelompok melanjutkan perjalanan sebelum fajar, kelompok berikutnya berangkat ketika matahari telah terbit sempurna.
Kemudian disusul kelompok berikutnya berangkat meninggalkan penginapan saat sinar matahari telah terasa panas dikulit.
Sedangkan satu kelompok sisanya akan melanjutkan perjalanan esok hari karena ada orang tua yang membutuhkan istirahat lebih lama di kelompok mereka.
Kelompok Ujang sendiri melanjutkan perjalanan saat matahari tepat diatas kepala.
Ada tiga keluarga di kelompok Ujang. Mereka akan meneruskan perjalanan ke Desa Beber.
Sedangkan kelompok-kelompok sebelumnya, memilih tinggal di desa Patalagan, Cipinang, dan desa-desa lain di sekitarnya.
Selama perjalanan, Ujang sama sekali tidak mempedulikan Elang Ganendra.
Dia hanya mengurus keluarganya, dan sesekali menanyakan kabar keluarga anggota Gerombolan Bandit Tengik yang lainnya.
Anggota gerombolan yang lain pun bersikap sama seperti Ujang, tidak mempedulikan Elang Ganendra, bahkan memandang hina padanya.
Tapi mereka masih menghargai peringatan dari Elang Ganendra tentang rencana penyerangan prajurit kerajaan ke dusun mereka, sehingga mereka masih mempunyai waktu untuk melarikan diri dan menyelamatkan keluarga mereka.
Hanya itu penjelasan Bayu Mahardika sebelum berpisah, yang kemudian menjadi alasan mereka untuk tidak menyerang Elang Ganendra.
Elang Ganendra memakluminya dan menerima segala perlakuan mereka kepadanya dengan lapang dada.
Ia hanya ingin memastikan keselamatan keluarga dari Anggota Bandit Tengik yang pernah di kenalnya.
Bagaimanapun juga, mereka pernah bertetangga, berbagi nasi, berbagi suka dan masalah.
Tidak tega rasanya ia membiarkan prajurit kerajaan memusnahkan mereka.
Ki Bhanu Haryo dan seluruh warga desa menyambut kedatangan mereka dengan tangan terbuka dan tanpa banyak pertanyaan.
Mereka bergotong-royong mendirikan tiga buah rumah yang akan ditempati oleh Ujang beserta anggota Gerombolan Bandit Tengik yang lainnya.
Setelah menyaksikan Ujang dan keluarganya mendapatkan tempat tinggal yang layak, Elang Ganendra pamit undur diri.
Ia bermaksud untuk mencari tahu kabar pasukan prajurit kerajaan selanjutnya.
Ki Bhanu Haryo bermaksud memberinya kuda. Namun di tolaknya secara halus.
Elang Ganendra memilih jalan kaki sampai ke Hutan Halimun. Dari Hutan Halimun ia langsung terbang agar sampai ke Dusun Plapah secepatnya.
Sementara itu, dua ratus pasukan berkuda dan delapan ratus prajurit berjalan kaki memasuki Kadipaten Cirebon.
Semua pegawai Kadipaten menyambut dengan gembira bantuan dari kerajaan Djawa Dwipa tersebut, sedangkan rakyat yang tinggal di desa-desa yang dilalui pasukan prajurit hanya bertanya-tanya.
‘Untuk apa prajurit-prajurit itu kemari? Apakah ada hubungannya dengan upeti yang dicuri oleh Gerombolan Bandit Tengik?'
'Apakah mereka akan menangkap Gerombolan Bandit Tengik? Bagaimana bila mereka membunuhnya?'
'Siapa yang akan membantu memberikan tambahan uang bila gerombolan tersebut ditangkap?’
Itulah beberapa pertanyaan yang ada di kepala penduduk desa.
Mereka hanya bisa bertanya-tanya dan membicarakan secara diam-diam bersama warga desa yang lainnya tanpa bisa berbuat apa-apa.
Jangankan untuk melawan seribu pasukan kerajaan bersenjata lengkap, melawan pegawai Kadipaten Cirebon yang semena-mena saja mereka tidak berani.
Elang Ganendra sudah hampir sampai di Dusun Plapah. Ia bersembunyi di dalam hutan, memantau situasi dari balik pohon di kejauhan.
Dusun Plapah sudah menjadi dusun mati. Hanya ada rumah dan bangunan kosong serta beberapa barang yang sengaja ditinggalkan oleh pemiliknya.
Sama sekali tidak terlihat sosok manusia walaupun hanya melintas saja.
Setelah satu hari beristirahat dan menunggu di dalam hutan, Elang Ganendra mendengar derap kaki ratusan kuda bergemuruh diikuti dengan derap ratusan langkah kaki prajurit di belakangnya.
Seribu prajurit kerajaan bersenjata lengkap melangkahkan kaki dengan mantap menuju Dusun Plapah.
Ketika Dusun Plapah sudah masuk dalam jangkauan mata mereka, mereka menjadi ragu mengetahui keadaan tempat tinggal Gerombolan Bandit Tengik yang sudah sepi.
Mereka memasuki gapura dusun dengan langkah tidak bersemangat lagi.
Senopati yang memimpin pasukan tersebut memerintahkan beberapa orang anggotanya agar memeriksa tempat tinggal warga dusun satu persatu.
Tapi tak seorangpun yang bisa mereka temui.
Hanya ada beberapa barang ber-cap lambang Kadipaten Cirebon atau lambang Kerajaan Djawa Dwipa hasil dari jarahan Gerombolan bandit Tengik yang sengaja ditinggalkan penduduk dusun, yang prajurit tersebut temukan.
“Cari disekitar! Di dalam hutan! Siapa tahu mereka masih bersembunyi disana!!” Perintah Sang Senopati dengan nada tinggi.
Tentu saja ia kecewa karena merasa perjalanan jauhnya yang menelan biaya tidak sedikit karena membawa seribu pasukan seakan sia-sia.
Elang Ganendra yang bersembunyi di balik pohon, bergegas melompat ke atas menuju dahan yang paling tinggi tanpa suara.
Beberapa orang prajurit hanya lewat dibawahnya.
Setelah setengah hari mencari, para prajurit tersebut kembali ke hadapan Senopati dengan tangan kosong untuk melaporkan bahwa mereka tidak menemukan apa-apa.
“Kurang ajar!!!” Teriak senopati marah sambil menendang sebuah batu.
Batu yang ditendang Sang Senopati dengan kekuatan penuh itu terbang sampai ke hutan pinus di seberang hutan tempat Elang Ganendra bersembunyi.
Akhirnya, dengan dada dipenuhi angkara murka, Sang Senopati memimpin prajuritnya kembali ke Kadipatenan Cirebon karena di Dusun Plapah sudah tidak ada apa-apa, sedangkan prajuritnya membutuhkan makan, minum dan istirahat.
Senopati tersebut juga berniat mencari tahu kepada warga desa sekitar tentang keberadaan Gerombolan Bandit Tengik yang melarikan diri.
Tentu saja warga desa sekitar tidak bisa memberikan jawaban dengan pasti.
Selain merasa berhutang budi, mereka memang tidak mengetahui ke arah mana Gerombolan Bandit Tengik melarikan diri.
Mereka bahkan tidak mengetahui bahwa gerombolan tersebut telah pergi meninggalkan dusun yang telah puluhan tahun mereka tempati.
Elang Ganendra bernafas lega setelah pasukan prajurit tidak tampak lagi.
Ia memikirkan kemanakah akan menuju? Sang Raja sudah mengusirnya, tidak mungkin untuk meminta misi selanjutnya.
Bekal perjalanan pun semakin menipis, karena Raja tidak membayar misinya yang gagal.
Sedangkan selama tinggal bersama Gerombolan Bandit Tengik, Elang Ganendra sama sekali tidak mengambil bayarannya. Bahkan seringkali ia memakai uang bekalnya sendiri.
‘Sisa uangku masih cukup untuk membeli kuda dan beberapa makanan. Setelah itu aku akan pulang ke Djawi Wetan karena sudah tidak ada tempat lain yang aku bisa tinggal’ Batinnya.
Setelah makan dan minum secukupnya di sebuah kedai di desa sebelah, serta mendapatkan kuda gagah sesuai dengan keinginannya, Adipati Elang Ganendra memulai perjalanan menuju Djawi Wetan, ke kampung halamannya, Kadipaten Pringgondani.
Haha, salam dari Clarissa ❣️