Warning : Cerita ini hanya untuk pembaca dewasa
Pasca berakhirnya pertunangan dengan mantan kekasihnya yang kasar dan super toxic, Lila memutuskan untuk kembali ke Brisbane, kota tempat ia tumbuh bersama empat sahabat masa kecilnya yang dulu ia perlakukan sebagai kacung.
Henry, Jacob, Aiden dan Pierre. Mereka yang dulu Lila anggap sebagai anak buah, kini menjelma menjadi empat pria dewasa yang super tampan dan sangat mapan. Sementara Lila justru bertahan dengan sisa tabungannya dan honor sebagai novelis tidak terkenal yang sangat sedikit.
Setelah dipermalukan oleh Henry di acara reuni SMA, Lila justru mendapatkan kejutan demi kejutan tak terduga dari keempat sahabat masa kecilnya yang diam-diam mencintainya sejak lama.
Jika kamu suka cerita ini, jangan lupa like, coment dan follow ya 😊
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azmi McFadden, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pernah Cemburu
"Tidak apa-apa! Mungkin saja kau merasa sakit hati padaku karena sesuatu yang dulu pernah aku lakukan padamu." Ucapnya yang masih enggan menatap mata Jacob yang duduk tepat di hadapannya.
Jacob terdiam sejenak, ia bisa memahami maksud dari ucapan Lila. Namun, sebagai seseorang yang tidak pernah menyimpan perasaan benci atau dendam. Ia hanya bisa tertawa lembut agar Lila tidak perlu menundukkan wajahnya seperti itu lagi.
"Aku tidak pernah berpikir bahwa kau orang yang jahat! Mungkin dulu kau memang sangat bersemangat, tapi aku pikir itu karena kau suka dikelilingi banyak teman."
"Begitu ya? Jadi kau berpikir begitu?"
"Jika memikirkan masa lalu, itu tidak akan ada habisnya. Yang bisa kita lakukan adalah mengenangnya dan tetap melangkah ke depan. Hidup terus berjalan, jika yang kita lakukan hanyalah meratapi masa lalu, kita tidak akan mendapatkan apa-apa dalam hidup ini. Hidup kita terlalu singkat untuk menyesali semua yang sudah terjadi!"
Lila tercenung, ia merasa kekosongan di dalam jiwanya sedikit demi sedikit terisi oleh cahaya-cahaya kecil yang aneh. Senyuman Jacob membuatnya mulai percaya pada dirinya sendiri.
"Jake, bukankah harusnya hari ini kau kembali ke Sydney?"
"Ya, aku akan berangkat pukul empat sore!"
"Apa Molly juga ikut bersamamu?"
"Iya, dia harus ke playgroup. Sudah 10 hari dia libur!"
"Pasti sulit merawat seorang anak sendirian!"
"Aku tidak merawat Molly sendirian. Orangtua mendiang istriku yang merawatnya. Istriku meninggal seminggu setelah melahirkan putri kami, sejak saat itu ayah dan ibu istriku yang merawatnya bersama dua orang pengasuh anak juga!"
"Begitu ya? Syukurlah! Itu artinya kau masih tinggal dengan orangtua istrimu?"
"Aku tidak tinggal dengan mereka! Aku tinggal sendirian di apartemen yang jaraknya hanya satu mil dari rumah sakit tempat aku bekerja!"
"Apa kau dokter spesialis?"
"Ya, aku dokter spesialis bedah saraf. Aku baru mulai membuka praktek tahun ini. Kenapa? Apa kau ingin konsultasi?"
"Hahahaha...mungkin! Sejak kecil kau sudah sangat jenius. Tapi tidak kusangka kau akan benar-benar jadi dokter spesialis di usia 27 tahun. Apa ayahmu masih hidup?"
"Ayahku masih hidup! Dia sudah menikah lagi!"
"Be-benarkah?"
"Ya! Dia menikah delapan tahun lalu dengan cinta pertamanya semasa SMA yang sudah bercerai dengan suaminya."
"Anak-anaknya?"
"Anak-anaknya berjumlah empat orang!"
"Kau punya empat saudara tiri ya? Tapi aku senang karena sepertinya kau sudah menjalani hidup dengan baik. Syukurlah! Aku harap secepatnya kau bisa mendapatkan ibu untuk Molly!"
"Sebenarnya aku tidak berpikir untuk menikah lagi!"
"Benarkah? Apa karena kau sangat mencintai istrimu?"
"Tidak, bukan karena itu! Lupakan saja!" Ucap Jacob. Tampaknya ada sesuatu yang tidak ingin ia katakan pada Lila. Terlihat dari raut wajahnya yang tiba-tiba berubah.
"Aku mengerti! Kau tidak perlu membicarakannya jika kau tidak mau. Tapi aku harap, kau tetap bahagia dengan atau tanpa seorang wanita yang mendampingimu!"
"Bagaimana dengan dirimu? Apa kau bahagia tinggal di Indonesia?"
"Hmm...bagaimana ya? Apa aku harus cerita?"
"Jika kau tidak ingin menceritakannya tidak apa-apa!"
"Benarkah?"
"Ya!"
"Hahahaha...sebenarnya tidak ada yang istimewa!"
"Kau bahagia?"
"Y-ya, a-aku bahagia!" Lila tersenyum canggung. Mencoba untuk mengatakan sesuatu yang sangat berbeda dengan kenyataan yang sebenarnya. Namun jika tiba-tiba dia menceritakan tentang kesulitannya, rasanya seperti dia sedang berusaha menarik simpati pada orang-orang yang dulu pernah terluka karenanya.
Dari balik kaca kedai crepes, terlihat hujan mulai turun. Lila dan Jacob teringat pada Aiden dan Molly yang pergi membeli es krim, namun belum juga kembali meski sudah 20 menit.
Dring...dring...dring...
Ponsel Jacob berdering, seperti yang diharapkan, Aiden meneleponnya. Ia langsung menjawab panggilan Aiden
"Aiden, kalian di mana?"
"Kami masih di kedai es krim. Molly, mau bicara dengan ayah?"
"Iya, Paman! Ayah...?"
"Hai, sayang? Bagaimana es krimnya?"
"Paman Aiden membawaku ke kedai ea krim yang sangat enak. Aku memesan es krim yang sangat besar!" Ucapnya bersemangat.
"Wah pasti sangat lezat ya? Baiklah, kalau begitu besok harus ke dokter gigi bersama nenek ya?"
"Tidak mau ke dokter gigi, Ayah!"
"Sayang, kamu sudah janji untuk ke dokter gigi kalau ayah membawamu ke rumah kakek di Brisbane, iyakan? Jadi, kamu harus menepati janji, ok?"
Meskipun dengan ragu dan terpaksa, Molly tidak punya pilihan selain mendengarkan kata-kata ayahnya.
"Baiklah, Ayah. Besok aku akan ke dokter gigi bersama Nenek!"
"Gadis pintar! Baiklah, ayah menunggumu di kedai crepes. Kalau hujannya sudah reda, minta Paman Aiden mengantarmu ke sini ya?"
"Baik, Ayah!"
"Halo, Jake? Di luar hujan. Aku dan Molly sedang makan es krim. Kalau hujan sudah reda, kami akan segera kesana!"
"Baiklah, tapi jangan biarkan Molly terlalu banyak makan es krim, Aiden! Nanti dia sakit gigi!"
"Ya ampun, anak-anak harus banyak makan es krim agar masa kecilnya bahagia. Sudahlah, jangan halangi kami! Kau bersenang-senanglah dengan Lila dan makan crepes yang tidak jadi aku makan. Oh iya, jangan coba-coba untuk menciumnya karena dia belum sikat gigi, hahaha..." ujar Aiden sambil tertawa terbahak-bahak sebelum mengakhiri panggilan.
"Aiden sialan! Awas kau ya? Pasti akan kuhajar kau sampai mati!" Batin Lila yang bisa mendengar ucapan Aiden dari ponsel Jacob.
Suasana menjadi canggung dan Lila hanya tersenyum kikuk seperti orang bodoh. Gara-gara omong kosong si berdebah Aiden, mungkin sekarang Jacob mulai mencurigai sesuatu.
"Apa kau bertemu Aiden pagi-pagi?"
"Y-ya, ka-kami tidak sengaja bertemu dan dia mengajakku kesini! Ahahaha..." Lila terpaksa berbohong karena ia tidak ingin Jacob tahu bahwa ia dan Aiden menginap di rumah pohon, berciuman bahkan hampir melakukan hubungan seksual.
"Syukurlah, sepertinya tidak sulit untuk membuat kau dan Aiden kembali akrab seperti dulu ya?"
"Hahahaha...menurutmu begitu?"
"Dulu pun kalian seperti anak kembar yang tidak bisa dipisahkan!" Ucap Jacob. Lila jadi teringat pada kenangan masa kecilnya disaat ia dan Aiden benar-benar sedekat itu.
Namun saat ini entah mengapa ia ingin mengingat kembali seperti apa hubungan antara ia dan Jacob dulu? Yang bisa dikatakan, paling bertolak belakang dalam segala hal. Jacob yang sangat pintar dan menolak untuk langsung naik ke SMP disaat mereka masih SD hanya agar bisa tetap bersama teman-temannya, Jacob yang rajin, baik, lembut dan tidak suka kekerasan harus berteman dengan anak perempuan kasar, nakal dan sangat jahil seperti dia.
"Kau benar, kalau diingat-ingat lagi dulu aku dan Aiden sangat dekat ya?"
"Benar! Dulu ada masa-masa di mana aku, Henry dan Pierre merasa cemburu dengan kedekatan kalian berdua!"
"Cemburu? Benarkah?"
"Bagaimana ya? Rasanya seperti kami juga berharap bisa sedekat itu denganmu. Tapi Aiden, dia selalu tahu bagaimana caranya untuk mendapatkan perhatianmu."
***