Gara-gara wine tumpah Aruna Wijaya harus menikah kontrak dengan seorang iblis berwajah tampan Devara Mahesa.
Tanda tangan kontrak diatas materai menjadi penanda Aruna resmi terjerat dalam pelukan hangat Devara yang mematikan dan penuh dendam rahasia.
Hingga Bayu datang, seorang dokter keluarga Wijaya yang menyimpan kenangan masa lalu kelam Aruna menawarkan kebebasan.
Apakah Aruna akan menerima tawaran Bayu lepas dari iblis?, ataukah akui dendam diatas materai itu sudah menjadi candu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senjani jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DDM|13|Kontrak Pasal 2
-Apartemen lantai 22 Skyline City.
Alana duduk disofa menyelingkan kaki jenjang-nya yang polos. Tangan kanannya memegang setengah gelas wine. Perempuan itu hanya memakai piyama berbahan satin. Pandangannya menatap lurus kearah pintu masuk apartemennya.
Tak lama Alana memainkan gelasnya, Derap langkah seseorang mampu Ia dengar dari dalam ruangan-nya. Klik.. Pintu apartemennya terbuka, terdengar suara langkah kaki tegas, santai.
Devara masuk kedalam, melemparkan asal jas nya kearah sofa. Ia duduk, kedua tangannya menangkup wajahnya yang tampak lelah. Alana melirik Devara, tersenyum sekilas.
"Sejak kapan?" Tanya Alana lirih sembari meneguk wine yang ada digelas.
Devara menyender di sofa tersebut, merogoh kotak berisi rokok, Alana mendekat dan meraih lighter yang hendak dinyalakan oleh Devara, jarak mereka semakin dekat Alana menyalakan lighter itu, terdengar bunyi suara klik yang tak begitu nyaring namun membuat mata Devara langsung menatap perempuan didepannya dan mendekatkan rokoknya yang sudah Ia tahan dengan bibirnya.
"Beri tahu ayahmu, persediaan senjata yang akan dikirim masih kurang" Ucap Devara sambil menghembuskan rokoknya.
Alana terkekeh, meletakkan gelas wine nya dengan nyaring dimeja kaca itu. Perempuan itu bangkit dari duduknya dan beralih duduk dipangkuan Devara. "Gampang, tapi ijinkan aku menyentuh gadis itu dengan tanganku" bisik Alana tepat ditelinga Devara, jemari lentiknya mengusap tengkuk Devara dengan lembut, lelaki itu tak menolak sama sekali.
"Aku tidak memberikan barang milikku kepada orang lain Al" Devara meraih tangan Alana yang sudah mulai aktif membuka kancing kemeja-nya.
Alana bangkit, membenarkan piyama satin-nya yang sudah terbuka dibagian bahu mulusnya. Lalu meraih gelasnya yang ada dimeja dan memecahkan gelas wine itu dengan sekali hantaman kearah meja, bagian paling tajam digelas yang pecah itu diarahkan ke leher Devara. "Orang lain, Dev aku tunanganmu, aku Nyonya Mahesa yang sah. Bukan perempuan gila itu" Urat leher Alana nampak keluar, suaranya meninggi, matanya merah dalam sekejab seperti dirasuki roh jahat.
Devara masih santai, Ia mematikan rokoknya. Bibirnya tersenyum setengah. "Al, kamu memang tunangan resmi ku, tapi Aruna aset mahal yang aku miliki, hanya aku yang berhak mengotori aset yang sudah aku beli Al" Ucap Devara tenang, datar bahkan saking tenangnya ujung lancip dari gelas itu sudah melukai lehernya.
Alana membuang gelas itu. Ia menjerit histeris, "Aku gak peduli Dev, dia gak pantas berdiri disamping kamu"
Devara beralih, Ia memeluk Alana, badannya bersama Alana, namun pikirannya sudah berada di penthouse memikirkan apa yang Aruna lakukan setelah Ia tinggalkan di Kantor-nya siang tadi.
"Al, kamu putri konglomerat dan pintar beda jauh dengan gadis itu. Aku tidak pernah menyamakan kamu dengan dia, sekarang kamu tidur. Aku tidak menginap malam ini" Ujar Devara seraya melepas pelukannya.
Alana terus memegang tangan Devara, Air matanya tertahan di pelupuk matanya. Seperti tak mau Devara pergi meninggalkannya sendirian. Devara melepas pelan tangan perempuan itu. "Al, jangan membuatku marah"
Alana diam, tak berani menentang. Ia hanya melihat Devara pergi meninggalkannya. Sendirian lagi hari ini. Padahal belum genap seminggu Ia pulang dari luar negri hanya untuk menemui lelaki pujaannya Devara. Lelaki yang sangat Ia kagumi sejak duduk di bangku sekolah.
Walaupun Devara tak pernah mengucapkan menyukai dirinya, namun Alana punya kuasa, bagaimanapun Devara tak bisa mejauhi dirinya karena Devara adalah tangan kanan ayahnya untuk melakukan bisnis gelap yang selama ini Devara lakukan. Alana tersenyum sekilas, mengambil ponsel yang ada di sofa. Mencari deretan nomor yang tertera dilayar ponselnya.
"Cari skandal tentang gadis itu, saya gak mau tau sebelum besok kalian harus dapat" Bentak Alana kepada seseorang dibalik teleponnya.
..........
Devara memasuki lift, didalam lift Ia melihat pantulan dirinya dicermin. Lehernya berdarah, Devara mengusap menggunakan jempolnya, sekali usap lalu merogoh sapu tangan di kantong celananya dan membersihkan tangannya yang menurutnya kotor itu.
Drrtt.. ponsel Devara bergetar, Pria itu mengambilnya dari saku, tertera nama Andre dilayar ponselnya. "Pak, Dokter Bayu telah sampai di penthouse". Devara membacanya satu detik, lalu mencengkram ponsel itu dengan kuat dan memasukkan kembali ponselnya kedalam saku celana.
Sementara itu di penthouse, Bayu berhasil masuk dengan dibukakan pintu oleh Andre, Andre yang sedang mengenakan piyama sehabis mandi tak menemani Bayu untuk mengantar kekamar Aruna. "Maaf dok, saya mau ganti baju dulu, dan Pak Devara masih diluar. Silahkan ke kamar Ibu Aruna dulu nanti saya datang"
"Baik Pak" balas Bayu dengan senyuman ramah.
Bayu berjalan seorang diri, langkahnya dibuat cepat agar cepat sampai ke kamar Aruna. Klik, kamar Aruna tidak terkunci. Bayu menutupnya kembali dengan pelan. "Run" Panggilan lembut itu terdengar penuh kehangatan ditelinga Aruna, lelaki yang Ia sukai sejak dulu. Matanya berbinar melihat Bayu.
"Aku tidak bisa bicara lama sebelum Devara datang, Ini ponsel kamu simpan. Kamu tinggal tekan panggilan darurat, aku segera datang menjemput kamu" Sambil melihat cctv yang tampak tak bergerak, Dengan pelan dan perlahan Bayu menyelipkan ponsel kecil itu kedalam selimut Aruna. Aruna tersenyum dan mengangguk pelan.
Bayu mengambil tangan Aruna yang tampak mulai mengurus, terlihat jelas tulang tanpa lemak, jauh seperti tiga tahun lalu. "Mana obat yang katanya mau dokter antar?" Ujar Aruna, pipinya nampak tersipu.
Bayu tersenyum merogoh tas medisnya, pandangannya masih menatap Aruna. "Jangan telat makan, minum obatnya yang teratur" Suara Lembut Bayu berbeda dengan Devara, Aruna merasa seperti dilindungi dan sangat dijaga. Aruna tak ada hentinya tersenyum.
Klik... Suara pintu kamar Aruna dibuka oleh Devara, dibelakangnya Andre menunduk takut. Tangan Devara menyilang, tatapan tajam matanya tak bisa terlihat tak menyeramkan menurut Aruna. Gadis itu langsung melepaskan tangan Bayu, namun Devara sudah menangkap basah mereka berdua.
Wajah Bayu terlihat pucat, Ia segera mengemasi peralatan medisnya. "Sudah selesai Pak, saya pamit pulang....."
Devara mendekat, merangkul Bayu dengan erat tangannya mencengkram pundak Bayu dengan kencang. "Kerja bagus, silahkan keluar dokter" sambil menuntun Bayu keluar dari kamar Aruna.
Aruna terkejut dengan apa yang dilakukan Devara, gadis itu melihat Andre yang masih berada di ambang pintu, mulut Aruna berkata "Ada apa..?" tanpa bersuara. Andre menggelengkan kepala pelan lalu berjalan keluar.
Devara masuk kembali kedalam kamar Aruna, tak lupa menutup pintu kamar kembali. Ia mendekati ranjang Aruna, sekilas menatap obat yang telah diberikan oleh Bayu. Lalu memandang Aruna sekilas dan berjalan kearah jendela kaca.
"Run, kamu melanggar kontrak pasal 2" tatapan Devara lurus, melihat cahaya kota Skyline dari jendela kamar Aruna, gemerlap cahaya yang menjadi pemandangan indah tapi tampak suram dimata Devara, tangannya yang sedari tadi berada di saku celananya keluar lalu mengepal dengan keras dan memukul jendela kaca didepannya, pelan namun membuat kaca itu sedikit retak.
Aruna menutupi telinganya, matanya terpejam saat dilihatnya Devara yang akan mengamuk. Namun suara gebrakannya tak senyaring yang Aruna bayangkan. Gadis itu kembali membuka matanya lalu beranjak dari kasurnya mendekati Devara. Berjalan perlahan dengan sisa keberanian yang Ia miliki, punggung bidang Devara semakin jelas didepan matanya, satu langkah lagi akan sangat dekat dengan pria itu. Aruna berhenti sebelum maju selangkah terakhir, sambil meremas kedua tangannya.
"Langgar semua..boleh?" Suara Aruna lirih, jarak mereka hanya selangkah. Disaksikan pemandangan kota yang dimata mereka sudah tak menarik sama sekali.