Sebuah kenyataan hidup yang sangat pilu dan menyakitkan membuat sebagian orang mengalami kejadian trauma yang sulit dilupakan. Namun, tidak semua orang merasa bahagia menikmati hidupnya yang penuh luka yang membekas di hati mereka.
Kebahagiaan yang diimpikan telah sirna oleh kenyataan pahit yang mereka alami. Disini, akan dibahas dalam sebuah novel LUKAS yang akan menguras emosi dan air mata.
Bagaimana kelanjutan kisah mereka? Jangan lewatkan update terbaru dari perjalanan kehidupan yang penuh pilu ini!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tabir Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26. Sadar
Pak Baron dan Bu Dalia merasa enggan menceritakan akan kejadian yang menimpa Aqila. Dengan terpaksa, Pak Baron pun berbohong pada Azka mengenai Aqila yang hampir saja dinodai oleh Bayu.
"Aqila tadi pingsan di kamar mandi, nak. Untung saja, ibumu segera meletakkannya di ranjang dan mengolesinya dengan minyak kayu putih," ujar Pak Baron membohongi anaknya.
"Kenapa bisa pingsan di kamar mandi? Apakah Aqila kelelahan?" tanya Azka duduk di samping Aqila.
Apa mungkin di kelas di bully lagi oleh teman-teman Clarissa lagi, sehingga Aqila tidak mau menceritakan masalahnya pada kakaknya lagi?" tanya Azka pada dirinya sendiri seraya memegang tangan adiknya.
Beberapa jam kemudian, Aqila sadar dan mengerjapkan matanya berkali-kali.
"Aw. Aku dimana?"
"Aqila. Kamu sudah sadar?" kata Azka menatap adiknya sendu.
"Bagaimana bisa kamu jatuh di kamar mandi. Lain kali hati-hati kalau sedang mandi! Untung Ibu segera menolong mu. Kalau tidak bisa masuk angin kalau kelamaan pingsan di dalam," cerca Azka yang mengomeli adiknya yang baru sadar.
Aqila sendiri menatap bingung dengan apa yang dikatakan oleh kakaknya. Padahal terakhir kali bertemu adalah dengan Tuan Bayu.
"Kamar mandi?"
Aqila baru teringat setelah mendengar penuturan kakaknya. Dirinya pingsan bukan karena jatuh dari kamar mandi. Melainkan Tuan Bayu yang telah membuatnya pingsan dengan memukul leher belakang.
Cukup miris hidup Aqila. Dirinya menatap selimut yang nampak berbeda dari miliknya. "Selimut ini-", ucap lirih Aqila terpotong dan memegang selimut itu dengan meremasnya.
Tiba-tiba Aqila menangis meratapi nasibnya yang selalu saja diperdaya oleh lelaki hidung belang. Pertama Tuan Dimas dan sekarang Tuan Bayu.
Hiks...hiks...hiks
Azka yang menasehati adiknya untuk lebih berhati-hati, dibuat terkejut oleh tangisan Aqila. "Loh, kenapa menangis Aqila? Maafkan Kakak bila memarahi mu terlalu lama. Ini karena Kakak sayang sama kamu, dik?" ucap Azka memeluk Aqila dengan mengusap punggungnya.
Dalia yang sejak tadi memandang interaksi kedua anaknya, kembali menitikkan air mata karena Aqila menangis. Sedangkan, Baron sudah kembali ke dapur untuk melanjutkan tugasnya sebagai pelayan.
*
Di tempat berbeda, Dimas telah menyelesaikan tugasnya bertemu klien tesebut dengan cepat. Tidak perlu empat hari untuk membuat kesepakatan bersama para kliennya. Besok, Dimas sudah bisa kembali ke rumahnya dan melanjutkan kerinduannya bersama Aqila.
Entah kenapa perasaannya tidak bisa dibohongi. Gadis itu telah mencuri hatinya berulang kali walau harus dengan cara licik dahulu.
"Pak. Terima kasih atas kerjasamanya kali ini. Saya sangat senang bertemu dengan Pak Dimas. Selanjutnya, semoga kerjasama ini tetap berlanjut." kata Pak Iwan mengulurkan tangan sebagai tanda kesepakatan bersama untuk perusahaan.
"Tentu, Pak." ucap Dimas tersenyum dan mereka melanjutkan acara makan malam tersebut di sebuah restoran yang cukup ramai. Keduanya makan di ruang VIP, jadi cukup leluasa untuk mengobrol satu sama lainnya.
Selesai makan malam, Dimas dan Pak Iwan pun berpisah dan Dimas kembali ke hotel bersama sekretarisnya yang sejak tadi memang mengikuti kemana bos berada.
"Baiklah. Kamu boleh istirahat malam ini. Pesan tiket untuk besok pagi kita kembali ke Jakarta," pinta Dimas pada sekretarisnya.
"Baik, Pak. Selamat malam."
"Selamat malam juga."
Dimas membuka pakaiannya untuk mandi malam karena merasa panas sejak tadi sore berada di luar. Hanya dua puluh menit saja Dimas mandi, dirinya ingin segera tidur cepat agar tidak terlambat bangun besok pagi.
"Selamat malam Aqila ku. Tunggu aku pulang, sayang," gumam Dimas tersenyum menatap foto Aqila di ponselnya. Kemudian, Dimas terlelap dalam tidurnya sampai mimpi indah bersama Aqila.
lanjutin aja laaah 😎🤫🥺
heeeemmm mau alasan apalagi neeeh
yaakiiiiin neeeh 🫣🫣🏃🏃
ntar temen arisannya mengira jika Bayu lah suami Davina donk 👉👈
padahal sepasang kekasih itu akan seneng banget jika kekasihnya selalu berada di sampingnya
lha klo kamunya wafat, lalu yang menjaga Aqila siapa donk ???
eeeeiiiiitttssss tapi kamu kan masih terikat dengan pernikahan ya, lalu jaga Aqila gak bisa maksimal deeeh
kamu doa aja supaya Aqila selalu dalam lindungan Allah
aamiin ya rabbal alamiin
ternyata kena prank ama Kak Dina deeeeh
huuuuuuffttttt syukurlah jika itu semua hanya mimpi belaka
semula dirinya yang ingin membunuh Dimas eeeh ini malah dia sendiri yang wafat 👉👈
ada apa ini sebenarnya???
kenapa ada adegan tusuk menusuk seeeh....
Idul Adha kan masih lama tuuuh 🤣🤣🤣🤣🏃🏃🏃🏃
dan Aqila yang sedang dalam posisi membawa pisau 😱😱😱😱
karena percuma aja, ikutan ajang kumpul-kumpul eeeh gak membawa pada kebaikan
kapan ya, Dimas akan mergoki Davina ama Bayu