Kakak laki-lakinya disandera oleh bos gangster karena tidak bisa membayar hutang setelah kalah dalam pemainan judi. Adik perempuannya dijual untuk dinikahkan dengan pria yang sedang koma.
Seperti sebuah kutukan, dia menyebrang dan menjadi adik perempuan itu.
Dan di dalam kisah ini dia bukan protagonisnya. Setelah terbangun dari koma, suaminya mengajukan cerai.
Ketika dia melihat nominal tiga ratus juta yang menjadi harta gono-gini bagiannya. Tanpa nostalgia, dia menandatangani surat perceraian itu dalam satu tarikan nafas.
Saat dia hendak berbalik badan, suaminya yang akan segera menjadi mantan suami itu merobek surat cerai yang baru dia tandatangani dan berkata. "Tiga ratus juta setiap bulan selama kau masih menjadi istriku."
Dengan spontan dia berbalik badan, senyum ribuan watt di wajahnya. "Suamiku~~"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chu Seldom, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
26. Saingan Cinta, Bunga dan Kumbang
Ketika Lun Li keluar dari toilet, putri angkat paman ketiga telah menunggunya.
Lun Li menatap orang itu lalu memiringkan kepalanya, ingin melihat apa yang ingin dia lakukan kepadanya. Berhubung dia yang mencarinya lebih dulu, pasti ada sesuatu yang ingin dia sampaikan.
Asannya memilih tempat yang sepi pasti karena pembicaraan mereka tidak boleh di dengar oleh orang lain. Dia sedikit penasaran.
"Nona Lun..." dia memulai dengan ragu-ragu.
Lun Li mengangkat alisnya, meminta orang itu untuk melanjutkan.
"Nona Lun saya hanya ingin menjelaskan.. "
Lin Li mengerutkan kening, tangannya menghentikan orang itu. "Kakak ipar, kau seharusnya memanggilku dengan sebutan itu," ucapnya dengan serius. Lucu sekali orang ini, dia datang ke jamuan privat dimana orang asing tidak bisa ikut dengan identitas sebagai putri angkat paman ketiga, tapi masih meneriakkan 'Nona Lun' di sana dan 'Nona Lun' di sini. Lun Li merasa orang ini kontradiktif, kalau dia tidak melihat sendiri bagaimana sepanjang hari ini orang terus tersenyum kepada setiap orang ketika paman ketiga mengenalkannya sebagai putri angkatnya, Lun Li akan pikir jika paman ketiga telah menipu orang ini dan membawanya dengan paksa sebagai putri angkat.
Dan seandainya hal tersebut memang benar dia bersedia membantunya untuk meluruskan masalah ini dan membebaskannya. Tapi kenyataannya tidak seperti itu, orang ini suka rela dan benar-benar senang menjadi putri angkat paman ketiga.
"Li Yiru, aku tidak berminat untuk mendengarkan penjelasan yang ingin kau katakan. Tapi aku penasaran dengan satu hal," Lun Li berhenti berpura-pura sopan kepadanya, dan ingin langsung ke intinya saja. "Apakah sahabat baikmu itu tidak mengetahui identitasmu yang baru ini? Atau kau memang datang sebagai bidak yang dia kirim?" dia bertanya.
Dia tidak ingin tahu motif Li Yiru yang tiba-tiba menjadi putri angkat paman ketiga, karena sudah jelas mereka pasti memiliki agenda kurang lebih sama dengan atau kalau tidak tujuan mereka saling melengkapi satu sama lain sehingga memutuskan untuk bekerja sama.
Tapi sejak dahulu kala, musuh dari musuh adalah teman. Jika Li Yiru ingin menusuk Yu Jin dari belakang, mengkhianatinya atau bersaing dengannya. Dia bersedia untuk mendukung.
Melihat Li Yiru yang tidak segera memberikan jawaban, sepertinya Lu Yiru menjadikannya sebagai sasaran. Tapi kenapa, tentu saja sumber masalahnya adalah Jiang Yi!
Lun Li mengerucutkan bibirnya dengan kecut, dia memang tidak boleh memetik bunga yang cantik atau akan tersengat oleh kumbang. "Diantara kau dan Yu Jin siapa yang lebih dulu menyukai Jiang Yi?" entah kenapa dia penasaran akan hal itu. Kalau Li Yiru yang lebih duluan menyukai Jiang Yi maka dia memang tidak beres dari awal, kalau Yu Jin yang lebih duluan menyukai Jiang Yi maka Li Yiru adalah pelakor. Mau siapa yang lebih dulu menyukai Jiang Yi intinya Li Yiru yang paling jahat, dia musuh dalam selimut dan menusuk dari belakang.
Tiba-tiba Lun Li merasa sedikit kasihan kepada Yu Jin.
Dari pembicaraan yang tidak berhasil itu, Lun Li jadi tahu jika dia punya musuh baru.
Sekembalinya Lun Li dari toilet, dia melihat Jiang Yi dengan mata tidak senang.
Jiang Yi hanya bisa pasrah melihat makanan yang menggunung di atas piringnya. Siapa lagi yang telah mengusik wanita ini. Matanya menyapu pada semua orang yang ada di meja makan satu persatu dengan dingin. Menjanjikan pembalasan yang tidak sederhana.
"Yiyi?"
Jiang Yi menoleh kemudian memasukkan acar bawang ke dalam mulutnya lalu menelannya tanpa mengunyahnya lebih dulu.
Jiang Ran yang kebetulan menoleh ke arah mereka, tersedak oleh daging kepiting. Dia segera minum air dan memukul-mukul dadanya untuk melegakan tenggorokan. Namun dia kembali tersedak ketika melihat makanan yang memenuhi piring kakaknya, semuanya adalah makanan yang paling tidak disukai oleh pria itu. Kepiting, Lobster, akar lotus, daging kambing, cabai yang digunakan sebagai hiasan piring, dan acar, makanan yang selama ini tidak pernah disentuh oleh kakaknya.
Tapi semua itu masih belum cukup membuatnya kaget, karena pada saat ini kakaknya memakan tumis pare dari sumpit Lun Li!
Dia bahkan mengucapkan terimakasih!!!
Jiang Ran bergidik. Menatap kakaknya dengan curiga. Jangan-jangan itu bukan kakaknya, tapi tiruan yang menyerupai nya.
Seumur hidup dia belum pernah melihat ada orang yang bisa memaksa kakaknya untuk memakan pare, bahkan tidak dengan ibu mereka.
Jiang Ran mengambil ponselnya lalu diam-diam merekam video. Hal langka ini tidak boleh dilewatkan. Dia harus berbagi dengan ibunya dan ayahnya.
Di sana Lun Li merasa hatinya sudah cukup membaik. Dia meneguk jus jeruk dan bersandar pada punggung kursi. Menatap pria di sampingnya yang memakan makanannya dengan baik, dia merasa perasaannya semakin baik.
"Yiyi minumlah." dia menuangkan segelas penuh jus jeruk dan memberikannya kepada Jiang Yi. Minuman manis yang tidak disukai oleh pria itu.
Jiang Yi meletakkan sumpitnya, menerima jus itu dan meminumnya hingga setengah. Melihat wanita itu tidak menyuruhnya untuk menghabiskannya, Jiang Yi menghela nafas lega. Sepertinya penderitaannya telah berakhir.
Makan malam itu diadakan di hotel bintang lima yang juga merupakan properti milik keluarga Jiang, karena besok bukan akhir pekan jamuan diakhiri lebih awal.
"Berhenti."
Lagi-lagi Lun Li meminta menghentikan mobil ketika mereka melewati danau. Jiang Yi yang tidak percaya lagi jika wanita itu ingin membeli jagung, memberikan isyarat kepada sopir untuk tidak berhenti.
"Berhenti." ulang Lun Li lebih keras.
Tapi Jiang Yi tidak ingin berhenti.
"Berhenti!" kali ini Lun Li berteriak sambil menutup mulutnya dengan kedua tangan dan wajahnya memucat.
Kali ini mobil berhenti.
Tapi mobil yang berhenti mendadak menimbulkan guncangan yang keras. Lun Li yang sudah melepaskan sabuk pengamannya terdorong maju ke depan. Beruntungnya Jiang Yi sigap dan menahannya sehingga kepalanya tidak terbentur.
"Hoek."
Seketika itu udara di dalam mobil membeku.