Namaku Naura Callista, aku datang ke ibu kota untuk kuliah disalah satu unniversitas disana dengan mendapatkan beasiswa.
Aku berasal dari panti asuhan di kota S, kota yang jaraknya lumayan jauh dari ibu kota.
Satu tahun lebih berlalu. Aku memutuskan untuk bekerja di sebuah restoran dekat kampus untuk memenuhi kebutuhan hidupkh di jakarta, karena selama ini pihak pantilah yang memenuhi kebutuhan hidupku.
Linda adalah pemilik resto itu, hubunganku dengan Linda sangat dekat, kami sudah seperti keluarga. Suatu ketika Linda mengidap penyakit, dan itu membuat pernikahannya mulai renggang karna suaminya jarang pulang kerumah.
Linda menceritakan kekhawatirannya pada Aura, dia takut suaminya jatuh kepelukan perempuan lain dan pada akhirnya meninggalkan dia.
Hingga pada akhirnya, Linda memaksa Aura untuk menikah dengan Brian. Mungkin lebih baik Brian berada dipelukan Aura yang sudah dia anggap seperti adik sendiri, dari pada harus merelakannya dengan orang lain sebelum dia menghbuskan nafas terakhirnya.
Aura yang merasa banyak berhutang budi pada Linda, terpaksa menuruti permintaan Linda untuk menikah dengan suaminya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna Wullandarrie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Aura langsung memeluk Erlan, dia bersyukur memiliki Erlan. Laki laki yang bisa menjaga kehormatan wanitanya, dialah laki laki sejati.
Aura semakin yakin bahwa Erlan laki laki yang baik dan tepat untuknya.
Sebelum sampai dirumah, mereka menyempatkan makan malam terlebih dahulu.
Mobil Erlan berhenti didepan rumah Brian setelah menempuh perjalanan kurang lebih 2 jam.
"Makasih kak,," Ucap Aura. Erlan mengangkat sudut bibirnya.
"Entah sudah berapa kali kamu mengucapkan kata itu sejak pertama kali kita bertemu,," Ujarnya dengan senyum yang mengembang.
"Apa tidak bisa diganti dengan yang lain,,?" Lanjutnya, Erlan mendekatkan wajahnya.
"Yang lain,,? a,, apa maksudnya,,?" Ujarnya gugup karna Erlan semakin mendekat. Erlan menunjuk pipinya seraya memajukan bibirnya, memberi isyarat agar Aura mengecup pipinya. Aura membulatkan mata dan menggeleng pelan.
"Ayolah,, ini hanya di pipi,," Rengek Erlan dengan wajah cemberutnya, sikanya berubah 180 derajat, dia seperti anak kecil yang sedang merengek pada ibunya.
Aura tertawa geli melihat tingkah Erlan.
"Baiklah,, tapi kaka tutup mata,," Pinta Aura, dengan senang hati Erlan menutup mata dan semakin memajukan wajahnya.
Aura meletakkan telapak tangan di bibirnya, lalu menempelkannya di pipi Erlan.
"Selesai,," Ujarnya. Erlan membuka matanya.
Tangannya meraih tangan Aura yang menepel di pipinya.
"Apanya yang selesai,?? mencium dengan tangan..?,," Kata Erlan sembari mengangkat tangan Aura. Aura mengangguk.
"Mana bisa mencium pipi pakai tangan,," Ujar Erlan.
"Tentu saja bisa, biar Aura ulangi lagi, kaka lihat baik baik,," Kata Aura, lalu dia mengulanginya lagi.
"Astaga sayang ciuman macam apa itu,,," Erlan menahan tawanya, sedangkan Aura hanya menyengir kuda.
"Masuklah,, sudah malam,," Lanjutnya.
"Iya kak,, hati hati dijalan,," Ujar Aura. Erlan mengusap lembut kepala Aura sebelum dia keluar dari mobil.
Aura tersenyum lebar dan melambaikan tangan.
"byeee,,," Lalu masuk kedalam rumah setelah mobil Erlan semakin menjauh.
Aura bergegas masuk ke kamarnya, kemudian menyegarkan tubuhnya dibawah guyuran shower.
Jam menunjukan pukul 10 malam, Aura keluar kamar menuju dapur untuk mengambil air minum, langkahnya terhenti saat melewati ruang keluarga. Linda yang duduk disana tengah tertidur dengan tv yang masih menyala didepannya.
Aura menghampiri Linda, dia menatap sendu wanita cantik itu yang sudah dia anggap seperti kakaknya sendiri. Aura menggoyangkan lengan Linda dengan pelan.
"Mba,, bangun mba,,," Ucap Aura.
Perlahan Linda membuka matanya,,
"Ra,, kamu udah pulang,," Ujarnya. Aura mengangguk.
"Mba kenapa tidur disini,,? nungguin kak Brian lagi,,?" Tanya Aura dengan iba. Linda tidak menjawab, dia menundukan pandangannya.
Aura duduk disamping Linda kemudian memeluknya. Hatinya teriris,, dia bisa merasakan apa yang Linda rasakan saat ini.
Sudah satu bulan belakangan ini kak Brian selalu pulang malam, bahkan terkadang kak Brian baru kembali kerumah esok harinya.
Aku merasa iba ketika harus melihat mba Linda yang selalu setia menunggu kepulangan kak Brian. Disaat seperti ini, mba Linda butuh sosok suami yang seharusnya selalu meluangkan waktu untuknya.
Aku tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi di antara mereka, aku tidak ingin masuk terlalu jauh dalam permasalahan rumah tangga mereka. Aku hanya bisa menemani mba Linda yang selalu setia menunggu kepulangan kak Brian.
"Mba,,, sebaiknya mba tunggu di kamar saja, ini udah malem ngga baik untuk kesehatan mba,," Ujar Aura dengan lembut.
"Auraa,,," Suara Linda bergetar menahan tangis. Matanya yang sendu menatap Aura.
"Apa mas Brian punya wanita lain,,?" Suara Linda tercekat, matanya berkaca kaca. Perlan buliran bening itu membasahi pipinya.
Hatiku sakit mendengar ucapan mba Linda, mataku bahkan mulai perih dan berkabut, sebisa mungkin aku menahan air mataku agar tidak ikut tumpah di depan mba Linda. Karna aku harus menguatkannya.
"Mba,, jangan bicara seperti itu. Kak Brian tidak mungkin melakukan hal seperti itu. Dia sangat mencintai mba dan selama ini dia setia sama mba. Mungkin memang benar kak Brian sedang sibuk dengan pekerjaannya,," Aura mencoba menenangkan Linda.
Ya, selama ini Brian selalu memberikan alasan jika saat ini perusahaannya sedang berkempang pesat, itu membuat waktu kerjanya semakin bertambah. Meskipun sebenarnya Aura sedikit ragu dengan alasan Brian.
Malam itu Aura mengantar Linda ke kamarnya.
"Jangan pergi Ra, temani mba disini,," Pinta Linda saat Aura akan beranjak dari kamarnya. Aura mengangguk, dia duduk ditepi ranjang disamping Linda yang sedang berbaring.
Setelah Linda terlelap, Aura beranjak dari duduknya lalu keluar dari kamar Linda.
"Kak Brian,," Ucap Aura saat baru saja menutup pintu.
"Mba Linda sudah tidur,,?" Tanya Brian, Aura mengangguk.
"Aura mau bicara,," Ujarnya,, Brian mengikuti langkah Aura yang menjauh dari kamarnya.
"Ada apa,,?" Brian menatap Aura.
"Aura tidak tega setiap malam melihat mba Linda yang selalu setia menunggu kepulangan kaka. Setiap malam mba Linda selalu menangis. Sebenarnya apa yang membuat kak Brian selalu pulang malam,,?? Tolong jangan sakiti perasaan mba Linda,," Ujar Aura dengan mata berkaca kaca.
"Kamu tidak perlu ikut campur urusan rumah tangga kami, ada hal yang tidak bisa kami ceeitakan pada siapapun. Dan kaka tidak merasa menyakitinya, kaka selalu bersikap baik padanya. Soal pulang malam, kamu tau sendiri kaka banyak kerjaan dikantor,," Jelas Brian.
"Tapi kak,,," Brian langsung memotong ucapan Aura.
"Tidurlah,, dan tidak perlu mencampuri urusan kami,," Ujar Brian, lalu berlalu meninggalkan Aura dan masuk ke kamarnya.
Aura menghela napas, tidak ada yang bisa dia perbuat. Dia tidak bisa terlalu jauh mencampuri urusan rumah tangga mereka.
Keesokan harinya,,,
Erlan mengantar Aura ke kampus.
"Kamu kenapa,,?" Tanya Erlan. Sejak Erlan jemputnya, wajahnya terlihat sendu dan tidak banyak banya bicara.
"Aura kepikiran sama mba Linda,," Jawabnya dengan mata yang berkaca kaca. Aura mulai menceritakan semuanya pada Erlan, sebisa mungkin dia menahan air matanya agar tidak tumpah, namun sia sia. Perlahan air matanya membasahi kedua pipinya.
Erlan yang tidak tega melaihat Aura menangis, langsung menepikan mobilnya. Erlan menyeka air mata Aura, dan membawa Aura dalam pelukannya.
Tangannya mengusao lembut punggung Aura.
"Jangan menangis, semuanya akan baik baik saja, pecayalah,," Ujar Erlan, dia berusaha menenangkan Aura.
"Kamu harus tau, setiap orang yang sudah berkeluarga pasti akan merasakan masa masa seperti itu. Tidak ada hubungan yang mulus tanpa masalah. Masalah dalam rumah tangga akan menjadi pelajaran yang berharga untuk mereka. Terkadang setelah ada masalah, hubungan mereka akan semakin baik dari sebelumnya. Kamu tidak perlu menghawatirkan mereka, mereka sudah dewasa dan bisa menyelesaikan masalahnya sendiri,,"
Erlan melepaskan pelukannya setelah Aura terlihat lebih tenang.
"Tidak akan terjadi apapun, mereka akan baik baik saja dan selalu bersama,," Ujar Erlan, dia sengusap kepala Aura. Aura mengangguk.
"Jangan pernah menangis lagi didepan kaka, Atau kaka akan menciummu,," Ledek Erlan.
Aura menatao Erlan, dia mengerucutkan bibirnya.
"Tidak lucu,,," Kata Aura.
"Tentu saja,, karna yang lucu cuma kamu,," Erlan mencubit kedua pipi Aura dan menggoyang goyangkannya.
"Kak Err,,, sakit,," Pekik Aura. Erlan terkekeh.
Terimakasih sudah membaca novel ini, jangan lupa tinggalkan like dan komennya yah agar Author semakin semangat melanjutkan novel ini.
jika ada salah salah kata, mohon beri kritik dan sarannya🙏.