Ignazio Demetrios pria tampan dan beriwabawa, juga seorang pebisnis yang sukses di segala bidang. Di Usianya yang menginjak kepala empat masih saja melajang, bahkan ia mendapat julukan perjaka tua dan pria impoten.
Seumur hidupnya ia baru tertarik pada wanita belia yang berumur dua puluh lima tahun bernama Fiona Havelaar.
Satu hal yang tak pernah Fiona bayangkan, menikah dengan pria tua yang seumuran dengan pamannya membuat ia merasa jijik dan menyembunyikan pernikahannya dari teman kampusnya. Menikah dengan pria tua seperti aib yang harus Fiona tutupi rapat-rapat. Mampukah Fiona menyimpan aib yang ia sembunyikan di tengah gempuran Zio yang ingin menunjukkan bahwa dia pria normal? Yuk ikuti kisah Zio & Fiona
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riska Almahyra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berseteru
“Apa kamu berani?”
Kalau saja bukan adik kandungnya Filio ingin mencekik Fiona sekarang juga. “Pergi sana!” usir Filio.
Ignazio pertama kalinya melihat pertengkaran adik kakak yang sedikit membingungkan. Beberapa menit lalu mereka akur, tapi sekarang seperti musuh.
“Tanpa kakak suruh pun aku akan pergi,” ketus Fiona. Dia menarik tangan Ignazio untuk meninggalkan ruangan Filio.
Fiona berpapasan dengan Erik asisten Filio. “Itu apa?”
Erik mengikuti arah pandang Fiona yang tertuju pada sesuatu yang ia bawa. “Ini makan siang milik Tuan Filio.”
Fiona merebutnya. “Bilang pada Filio ini untuk menebus kesalahannya karena memukuli suamiku.”
Ignazio sedikit tersipu dan bahagia mendengar Fiona untuk pertama kali memanggilnya dengan panggilan ‘suami' di depan orang lain.
Erik menatap kepergian Fiona yang membawa makanan yang baru saja ia beli. “Kau membuatku dalam masalah besar nona Fiona.”
Erik masuk ke dalam ruang Filio dengan tangan kosong.
“Mana makananku?”
“Nona Fiona membawanya tuan.”
Jawaban Erik membuat kepala Filio mendidih seketika. Ia menghela nafasnya.
Fiona masuk ke dalam mobil Ignazio. Mereka memutuskan untuk pulang. Sesampainya di rumah Fiona berjalan menuju ruang makan. Ia duduk dan menikmati makanan Filio.
Ignazio mengambil air untuk minum istrinya. Ia menyimpan segelas air minum di hadapan Fiona, lalu duduk di samping istrinya yang melahap makanannya. “Kalian memang sering bertengkar?”
Fiona melirik Ignazio sesaat sebelum kembali fokus menghabiskan makanannya. “Sembilan puluh sembilan persen berantem, satu persennya kita akur.”
Ignazio tersenyum mendengar penjelasan Fiona. “Kalian sudah bukan anak kecil lagi, tapi masih sering bertengkar.”
“Sepertinya kita memang tidak di takdirkan untuk selalu akur. Namun Filio cukup posesif padaku.”
“Benarkah?”
Fiona menghabiskan satu gelas minum pemberian Ignazio. “Kamu bukan pria pertama yang di hajar oleh Filio.” Fiona menunjuk pipi Ignazio yang memar. “Itu tidak seberapa, Filio hampir menghabisi nyawa orang.”
Mendengar cerita Fiona sepertinya Ignazio tidak boleh mencari masalah dengan adik iparnya yang cukup temperamental.
“Semenakutkan itu kakakmu?”
“Hmmm apalagi Filio tidak suka pengkhianatan.” Fiona jadi teringat tentang kejadian di hotel. Ia menggebrak meja dengan kedua telapak tangannya.
Brak!
“Jadi siapa wanita yang tadi keluar dari kamarmu?”
Ignazio terkejut setengah mati. Melihat kelakuan istrinya. Dia merangkul bahu Fiona, dan merapatkan tubuhnya. “Kamu salah paham.”
Fiona menarik diri dan duduknya berpindah ke kursi di sebelahnya. “Salah paham apa, jelas-jelas kalian melakukan itu.”
“Melakukan apa? Aku hanya mandi air dingin untuk meredam hasratku. Dan wanita yang kamu lihat itu simpanannya Refal.”
Fiona mengacungkan pisau makanan ke hadapan Ignazio. “Awas saja kamu berani main di belakangku.”
Ignazio mengambil pisau yang di todongkan Fiona dan menyimpannya. “Tidak akan sayang, aku berjanji.”
Ignazio menggeser duduknya hingga merapat pada Fiona. Tangannya mengelus perut rata Fiona. “Aku tidak sabar menunggunya lahir ke dunia.”
“Aku takut jadi ibu,” ungkap Fiona.
“Kamu tidak perlu takut, aku akan selalu ada bersamamu. Kita akan menjadi orang tua yang paling hebat untuk anak-anak kita nanti.”
Fiona sedikit merasa tenang. Rasa bahagia itu tergambar jelas di benaknya, meskipun Fiona belum mencintai Ignazio. Tapi dia terus meyakinkan dirinya, bahwa semua yang dia jalani sekarang akan membuahkan hasil yang bahagia.
Fiona mengecup bagian wajah Ignazio yang memar. “Semoga cepat sembuh.”
Bibir Ignazio tersenyum. “Aku akan segara sembuh, apalagi sudah di beri obat yang mujarab.”
***
Fiona duduk di atas tempat tidur. Dia merasa aneh dengan kehamilannya, biasanya wanita hamil di trimester pertama mengalami morning sick. Tapi mengapa Fiona merasa tubuhnya tidak mengalami perubahan yang signifikan.
“Melamunkan apa?” Ignazio ikut bergabung. Dia mengecek ponselnya saat notifikasi masuk. Laporan keuangan yang di serahkan Refal membuat kepala Ignazio sedikit berdenyut.
“Kenapa aku tidak muntah-muntah seperti orang hamil pada umumnya?” Fiona mencoba menyuarakan isi hatinya.
Ignazio menyingkirkan pikiran tentang kantornya yang sedang mengalami masalah. “Mungkin kamu istimewa, nanti saat periksa kita tanyakan pada Erika.”
Fiona setuju. Ia merebahkan tubuhnya untuk pergi tidur. Melihat istrinya tertidur Ignazio pergi ke ruang kerjanya.
Pagi itu Fiona terbangun karena rasa mual di perutnya. Ia bangun dan pergi ke kamar mandi mengeluarkan isi perutnya.
Ignazio mendengar Fiona muntah. Ia melawan rasa kantuknya dan memaksakan diri untuk bangun. Kepalanya terasa pusing karena ia baru tidur selama tiga jam.
“Kamu kenapa?” tanya Ignazio di ambang pintu kamar mandi.
Setelah isi lambungnya keluar semua, Fiona berjalan dengan langkah lemas. Baru satu meter jarak tubuhnya dari Ignazio namun Fiona kembali merasa mual saat menc’ium wangi parfum yang di pakai Ignazio.
Fiona kembali muntah ke wastafel. Ignazio tidak bisa diam saja melihat istrinya kesulitan ia mendekati Fiona.
Baunya semakin menyengat, Fiona menutup hidungnya. “Jangan mendekat kamu bau,” ucap Fiona kesal.
Ignazio menajamkan indra penciuman pada bagian ketiaknya. “Tidak bau, aku pakai deodoran.”
Fiona mencoba membuka jari yang menjepit hidungnya, perutnya kembali mual. Bahkan Fiona hampir muntah lagi. “Hoek! Pergi jauh-jauh, jangan berdekatan denganku!”
Ignazio mundur beberapa langkah. Ia mengambil parfum untuk menyemprot seluruh tubuhnya.
Fiona keluar dari kamar mandi dan duduk di pinggiran tempat tidur dengan tubuh lemas, serta mulut yang terasa sangat pahit.
Ignazio menc’ium aroma tubuhnya dulu yang sudah di semprot parfum dan berjalan mendekat ke arah Fiona.
Hoek!
Fiona tidak dapat menahan dorongan yang keluar dari perutnya hingga muntahannya mengenai Iganzio.
Ignazio memandang jijik pada bajunya yang terkena muntah Fiona.
Hoek! Iganzio segera menutup mulutnya dan berlari ke kamar mandi.
Setelah di rasa lega, Ignazio membuka bajunya. Dengan keadaan bertelanjang dada ia berdiri di ambang pintu menatap lantai kamarnya yang kotor karena muntah Fiona.
“Kenapa kamu muntah di kamar?”
Sorot mata Fiona menghunjam sinis ke arah Ignazio. “Aku sudah bilang kamu bau dan jangan mendekatiku. Tapi kamu malah memakai parfum dan mendekat ke arahku!”
mksh kak bonusan Babnya lope lope sekebon cabe 💜💜💜💜