"Gak bisa begini. Pokoknya, bagaimana pun caranya, aku harus dapetin perempuan ini dan jadiin dia istriku. Harus!" gumam Ryu dalam hati penuh tekad.
***
"What's!? Kenapa sih ni Dosen satu maksa banget buat gue mau terima dia buat jadi pacarnya!? Aih.." gerutu Arin dalam hati.
***
Lalu, sebenarnya apa sih yang sudah terjadi pada mereka?
Kita coba baca yuk..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummu Friska Nanda Raisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Harus bagaimana lagi?
Untuk sesaat Arin pun terdiam sebelum akhirnya dia berkata, “Pak, bukannya sama saja kalau aku melaksanakan tes itu dan hasilnya menunjukkan bahwa anak ini bukan anak Bapak, Bapak tetap saja harus meninggalkan aku dan anak ini, kan!?”
Mendengar ucapan Arin seperti ini, Ryu pun menggelengkan kepalanya dan kemudian berkata, “Gak, Rin. Itu gak akan mungkin terjadi.”
“Gak akan mungkin terjadi gimana sih, Pak!? Bukannya Bapak tahu kalau sebelum aku melakukannya dengan Bapak malam itu, aku sudah terlebih dahulu melakukannya dengan pria lain,” ucap Arin keras kepala.
Tanpa menjelaskan yang sebenarnya, Ryu pun menghela nafas panjang dan kemudian berkata, “Rin, gini aja deh ya. Aku rasa ini memang harus dibuktikan agar kamu mengerti dan paham kenapa aku bersikap seperti ini. Ok!?”
Ryu mengatakan hal tersebut bukan tanpa sebab. Dia merasa jika dia tidak memutuskan seperti itu dan langsung memberitahukan yang sebenarnya, Arin akan tetap sama. Yaitu pasti ada rasa tidak percaya bahkan beranggapan kalau dirinya hanya mengada-ada dan terlalu memaksa diri serta memaksakan kehendak sendiri.
Sementara itu, Arin yang mengetahui kalau Ryu sangat memaksa seperti ini pun akhirnya dengan enggan berkata, “Baiklah. Toh hasil akhirnya pun akan tetap sama. Pake acara ribet-ribet begini segala.”
Ya, itulah yang dipikirkan Arin saat itu. Dia merasa, dengan melakukan tes atau pun tidak, hasil akhirnya akan tetap sama-sama membuat mereka sulit untuk bersama.
Ryu yang mendengar ucapan Arin seperti ini pun akhirnya tanpa membuang waktu langsung mengajak Arin untuk ke Rumah Sakit.
Setelah beberapa saat sampai di Rumah Sakit, mereka pun langsung menemui Dokter terkait. Namun sayangnya, setelah mendengar penjelasan dari Dokter, ternyata usia kandungan yang bisa melakukan tes seperti itu harus berusia 10 minggu ke atas.
Hal ini membuat Arin, khususnya Ryu menjadi syok karena pasalnya usia kandungan Arin saat ini baru menginjak usia 5 Minggu dan itu masih sangat jauh sekali dari waktu yang diperbolehkan.
“Bagaimana sekarang, Pak? Kita harus bagaimana?” tanya Arin.
Ryu pun terdiam. Dia benar-benar tidak tahu harus bagaimana caranya agar bisa membuat semuanya menjadi terbukti.
Melihat Ryu terdiam seperti ini, Arin pun akhirnya kembali mengulangi ucapannya dengan bertanya, “Pak, bagaimana sekarang?”
Setelah mencoba berpikir beberapa saat, Ryu pun kemudian berkata, “Kita sekarang temui Kakek aja dan coba berunding dengan Kakek.”
Mendengar ucapan Ryu, Arin pun hanya bisa mengikuti saja. Dia saat ini tidak dalam kondisi yang bisa mengatakan apa-apa.
Baik Ryu maupun Arin, keduanya akhirnya pergi meninggalkan Rumah Sakit dan kemudian pergi menuju rumah Kakek Ardi.
Hingga beberapa saat kemudian, mereka pun akhirnya sampai di rumah Kakek.
Kakek yang melihat kedatangan Ryu dan Arin ini pun merasa bingung.
Dengan segera Kakek Ardi pun langsung bergegas menghampiri mereka.
“Ada apa, Yu?” tanya Kakek penasaran.
Sebelum menjawab pertanyaan dari Kakek, Ryu pun terlebih dahulu berkata, “Kek, kita bicara di dalam saja ya. Nenek ada kan?”
“Nenek ada. Ayo kalau begitu. Kita masuk,” ucap Kakek Ardi yang kemudian mereka bertiga pun masuk ke dalam rumah.
Sesaat setelah itu, mereka pun akhirnya kini berada di ruang tamu.
Dengan tanpa mengulur waktu, Kakek pun kembali mengulangi pertanyaannya dengan bertanya, “Jadi apa yang membuat kalian datang ke sini secepat ini?”
Mendengar ucapan Kakek, Arin pun hanya bisa diam. Sedangkan Ryu pun untuk sesaat terdiam sejenak sebelum akhirnya berkata, “Kek, maaf. Untuk saat ini sepertinya kami masih belum bisa melakukan tes.”
Mendengar ucapan Ryu seperti itu, sontak membuat Kakek langsung 'deg’.
“Kenapa?” tanya Kakek Ardi bingung.
“Ini karena usia kandungan Arin masih belum cukup umur untuk melakukan tes seperti itu,” sahut Ryu.
“Memangnya di usia kandungan berapa supaya bisa melakukan tes?” tanya Nenek yang tiba-tiba muncul dari dalam.
Mendengar ada suara Nenek, membuat semua orang yang ada di ruang tamu tersebut pun spontan menoleh ke arah Nenek dan Ryu pun kemudian menjawab, “Usia kandungan 10 Minggu ke atas, Nek.”
“10 minggu!? Memangnya usia kandungan Arin sekarang berapa minggu?” tanya Nenek sambil duduk di sebelah Kakek.
“Usia kandungan Arin baru berusia 5 Minggu, Nek,” sahut Ryu.
Baik Nenek Indah maupun Kakek Ardi yang mendengar ini pun sontak langsung saling menatap satu sama lainnya.
Ryu yang melihat sikap mereka seperti ini pun akhirnya bertanya, “Lalu sekarang kita harus bagaimana, Kek, Nek?”
Sama halnya dengan Ryu, baik Kakek Ardi maupun Nenek Indah, keduanya sama-sama bingung harus bagaimana lagi.
Hingga akhirnya Kakek berkata, “Baiklah. Jika itu yang jadi kendalanya. Kita akan lakukan tes tersebut setelah usia kandungan Arin 10 Minggu dan hingga waktunya tiba, kita berdoa saja agar Tania tidak akan berbuat ulah lagi.”
Mendengar ucapan Kakek Ardi, baik Ryu maupun Nenek Indah, keduanya sama-sama menganggukkan kepala.
Namun sesaat kemudian tiba-tiba saja Ryu teringat dengan sikap Tania yang seperti itu akhirnya bertanya, “Bagaimana kalau sebelum waktunya tiba, Tania sudah terlebih dahulu membuat masalah dengan kita, Kek, Nek?”
Untuk sejenak Kakek pun terdiam dan kemudian tak lama setelah itu akhirnya menjelaskan semua rencananya.
Setelah beberapa saat berunding dengan Kakek dan Nenek, hati Ryu kini menjadi tenang.
Namun hal ini berbanding terbalik dengan Arin yang saat itu merasa seperti sudah menipu Kakek Ardi dan Nenek Indah.
Dia merasa bersalah pada keduanya karena saat itu Kakek Ardi dan Nenek Indah terlihat sangat yakin dengan siapa Ayah yang sebenarnya dari anak dalam kandungannya ini.
Sambil menahan rasa bersalah dengan Kakek dan Nenek, Arin pun hanya bisa diam membisu mendengarkan perbincangan mereka bertiga.
***
Sore harinya di rumah Ryu...
Tania yang memperhatikan gerak-gerik Ryu dan juga Arin yang selalu pulang telat ini pun merasa kesal.
Dan saat itu di ruang keluarga, sambil menonton televisi, dia menggerutu, “Ini kenapa sih sama mereka? Selalu aja pulang telat. Rasanya ada yang gak beres deh sama mereka berdua.”
Sesaat setelah bergumam seperti itu, tiba-tiba saja di saat yang bersamaan mobil Ryu pun datang dan di saat ini Tania lagi-lagi bisa melihat kalau Arin juga ikut datang bersama dengan Ryu.
Melihat situasi seperti ini, darah Tania pun langsung naik dan tanpa peduli apa pun juga, Tania pun langsung menghampiri Arin yang kala itu baru saja turun dari mobil.
Tania yang dari awal berniat menarik tangan Arin dengan kasar ini pun tiba-tiba saja langsung dihentikan oleh Ryu yang ternyata sudah mengetahui gerak-gerik Tania saat berjalan mendekati Arin.
Dengan tegas Ryu pun berkata, “Jangan pernah sekali pun kamu mencoba menyakitinya. Jika tidak, kamu akan berhadapan denganku.”
Setelah mengatakan hal tersebut, Ryu pun langsung merangkul pinggang Arin dan kemudian mengajaknya masuk.
Namun belum juga langkahnya jauh meninggalkan Tania, Ryu pun kembali berkata, “Tan, rasanya kamu sudah tidak ada kepentingan apa-apa lagi di rumah ini. Jadi aku minta, secepat mungkin kamu tinggalkan rumah ini.”
Setelah mengatakan hal tersebut, Ryu pun langsung melanjutkan langkahnya mengajak Arin masuk ke dalam.
Sementara itu, Tania yang mendapatkan perlakuan seperti ini pun langsung merasa kesal.
Dengan penuh emosi dan juga dendam, Tania pun berkata, “Gak bisa seperti ini. Aku harus bertindak agar semuanya bisa kembali seperti semula.”
Bersambung....
Sekalian rekomen buat yang kesusahan nyari novel yang seru dan bagus, mending coba baca yang judulnya (Siapa) Aku Tanpamu wajib searchnya pakek tanda kurung dan satu novel lagi judulnya Caraku Menemukanmu
Tingkahmu melebihi majikan yang menggajimu.
ap gk ad cctv to dirumahmu ryu biar kamu tau perlakuan weni ke arin tu kek gimana
lanjut
lanjut
lanjut
lanjut