Setelah malam naas penjebakan yang dilakukan oleh Adik tirinya, Kinanti dinyatakan hamil. Namun dirinya tak mengetahui siapa ayah dari bayi yang dikandungnya.
Kinanti di usir dari rumah, karena dianggap sebagai aib untuk keluarganya. Susah payah dia berusaha untuk mempertahankan anak tersebut. Hingga akhirnya anak itu lahir, tanpa seorang ayah.
Kinanti melahirkan anak kembar, berjenis kelamin laki-laki dan perempuan. Kehadiran anak tersebut mampu mengubah hidupnya. Kedua anaknya tumbuh menjadi anak yang genius, melebihi kecerdasan anak usianya.
Mampukah takdir mempertemukan dirinya dengan laki-laki yang menghamilinya? Akankah kedua anak geniusnya mampu menyatukan kedua orang tuanya? Ikuti kisahnya dalam karya "Anak Genius : Benih Yang Kau Tinggalkan."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SyaSyi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kedekatan Gio dengan Satria dan Bunga
"Saya ingin beli MacBook Pro M1," ucap Gio kepada sang pelayanan toko. Membuat Satria melongo.
Barang itu, adalah barang yang sangat dia inginkan. Namun, dia menyadarinya. Kalau harga barang yang dia inginkan sangat mahal, Satria lebih memilih untuk menyimpan uangnya untuk biaya sekolahnya. Cita-citanya sangat mulia. Dia ingin, dia dan sang adik bisa sekolah hingga ke jenjang bangku kuliah. Dia juga ingin membahagiakan sang Bunda yang selalu berjuang untuk dia dan sang adik.
Kehidupannya tak seperti anak seusianya yang bisa menikmati hidupnya. Satria dan Bunga lebih banyak menghabiskan waktunya di warung bakso sang Bunda. Sejak mereka bayi, Kinanti sudah membawa mereka. Namun, Kinanti berhasil membuat kedua anaknya menjadi anak yang genius dengan kehidupan yang penuh keterbatasan.
"Ayah, harga MacBook Pro M1 itu sangat mahal. Laptop saja sudah cukup Ayah," protes Satria.
"Tak apa, Sayang. Ayah ingin menyenangkan hati kamu. Selama ini kamu hidup dengan keterbatasan. Ayah bangga sama kamu, dengan hidup keterbatasan kamu bisa tumbuh menjadi anak yang luar biasa. Apapun keinginan kamu, katakan sama Ayah. Ayah akan mewujudkannya," ucap Gio.
"Makasih ya Ayah," ungkap Satria dan Gio membalas dengan senyuman.
Satria terlihat bahagia, barang yang selama ini dia inginkan. Hari ini di wujudkan oleh Ayahnya. Bukan hanya Satria, Bunga pun terlihat bahagia. Semua ini adalah buah kesabaran mereka, terbayar sudah segala penderitaan dan kesedihan mereka rasakan terbayar sudah.
"Ayah, lihatlah! Aku dibelikan Ayah," ungkap Satria dengan wajah yang terlihat bahagia.
"Iya Sayang. Bagus banget. Bilang apa dong sama Ayah," ucap Kinanti.
Gio merasa senang, karena mendapatkan kecupan di pipinya dari Satria. Bunga pun tak mau kalah, dia menunjukkan kepada Gio semua yang dia beli. Gio mendapatkan kecupan juga dari Bunga.
"Makasih ya Sayang, sudah menjadi ibu yang hebat untuk kedua buah hati kita. Aku mencintai kamu," ucap Gio. Bunga dan Satria terlihat bahagia, melihat kedua orang tuanya saling mencintai.
Kini mereka sudah dalam perjalanan pulang. Bunga kini tidur dalam pangkuan sang ayah. Gio mampu memberikan ketenangan dan kenyamanan untuk sang anak. Sedangkan Satria duduk diantara sang ayah dan bunda. Kinanti merasa bahagia, karena Gio begitu menyayangi kedua buah hati mereka. Dia bersyukur, karena akhirnya kedua buah hatinya bisa bertemu ayah kandung mereka.
Mereka sudah sampai di apartemen Gio. Gio turun sambil menggendong Bunga. Sedangkan Satria di gandeng oleh Kinanti. Erland dan baby sister kembar yang membawa barang-barang belanjaan.
"Er, nanti tolong kamu langsung ke hotel tempat Kinanti menginap selama ini! Tolong kamu checkout dan bawa semua barang-barang milik mereka. Sus, tolong bantu asisten saya ya! Kamu ikut ya dengannya!" titah Gio. Mau tak mau Erland mengikuti permintaan bosnya itu. Baby sister kembar pun, terpaksa harus menemani Erland.
Gio meletakkan sang anak di ranjang kamarnya. Karena apartemennya hanya memiliki dua buah kamar. Kamar satunya untuk baby sister kembar. Gio berniat mempekerjakan satu orang ART untuk masak, mengurus pakaian mereka, dan membersihkan apartemen. Dia tak ingin istrinya capek. Dia ingin Kinanti hanya fokus kepadanya dan kedua buah hatinya. Terlebih, kembar akan sekolah kembali. Buah hatinya yang menjadi prioritasnya.
"Sementara waktu, kalian tidur bertiga dulu ya. Aku tidur di sofa untuk sementara waktu. Kita harus segera membeli rumah, karena apartemen sudah tak pantas untuk tempat tinggal kita," ungkap Gio.
"Bagaimana kalau kita tinggal di rumah orang tua aku saja? Aku akan merebut rumah orang tua aku lagi dari tangan mantan ibu tiri aku," ujar Kinanti.
"Tidak Sayang, hal ini sudah menjadi tanggung jawab aku sebagai seorang suami dan seorang ayah. Sudah sepatutnya aku membahagiakan kalian. Aku akan bekerja keras untuk bisa membahagiakan kalian," ungkap Gio.
Dia ingin kedua buah hatinya dan istrinya merasa bangga memiliki seorang ayah atau suami sepertinya. Gio memilih untuk mandi, membersihkan tubuhnya. Sedangkan Kinanti keluar dari kamar, membuatkan teh manis hangat untuk suaminya. Kinanti akan berusaha untuk menjadi istri yang baik untuk suaminya. Perlahan rasa cinta itu tumbuh di hati Kinanti.
Satria dan Bunga terlihat sudah terlelap. Setelah puas berjalan-jalan bersama kedua orang tuanya. Gio duduk di tepi ranjang. Seutas senyuman terbit di sudut bibirnya. Dia masih tak percaya, kalau dirinya kini sudah menjadi seorang ayah dan suami. Berawal dari sebuah kesalahan yang tak di sengaja, dia justru meninggalkan benih di rahim Kinanti.
Kinanti masuk ke dalam kamar, dan melihat sang suami sedang duduk di tepi ranjang masih menggunakan handuk yang dililitkan di pinggangnya.
"Mas, diminum dulu teh manis hangatnya," ujar Kinanti.
Gio bangkit dan meletakkan jari telunjuknya di bibirnya, dia tak ingin kedua anaknya terbangun. Inilah waktu yang tepat untuk dirinya berdua bersama sang istri.
"Aku mau mandi, tetapi enggak ada baju. Gimana ya?" tanya Kinanti.
"Coba aku tanya dulu ya, Erland sama Susi sudah dimana," sahut Gio.
Gio langsung menghubungi Erland, ternyata mereka masih terjebak macet. Tak bisa datang cepat. Hingga akhirnya dia memutuskan sang istri memakai kemeja panjangnya.
"Aku risih, tak pernah pakai pakaian mini. Lagi pula percuma saja kalau tak bisa ganti pakaian dalam. Aku tunggu mereka sampai saja deh," ungkap Kinanti.
"Ya sudah, kita ngobrolnya di luar saja yuk! Biar enggak mengganggu anak-anak," ajak Gio dan Kinanti mengiyakan. Mereka kini sudah berada di balkon apartemen mereka. Menikmati indahnya suasana malam, bertaburan bintang-bintang di langit.
Mereka kini duduk bersebelahan, Gio meraih tangan sang istri dan menghadap ke arah istrinya.
"Besok, kita cari rumah ya! Setelah dapat, baru kita ke Yogya. Gimana? Soalnya rumah sangat penting untuk kita. Kasihan anak-anak, tak bisa bebas berekspresi. Aku ingin membeli rumah yang luas, yang memiliki banyak kamar, dan fasilitas yang lengkap untuk anak-anak. Aku ingin membahagiakan mereka. Mencari sekolah yang bagus untuknya," ungkap Gio.
"Aku bahagia, karena hidup aku kini lebih berarti. Tak hidup sendiri lagi di apartemen. Sudah ada kamu dan buah hati kita, yang membuat hidup aku lebih berarti dan berwarna. Kadang Allah itu lucu ya, menakdirkan kita bertemu seperti ini. Kita harus melewati malam panjang bersama. Aku boleh tidak menanyakan ke kamu? Asal mula kamu bisa seperti itu? Karena aku yakin kalau kamu itu wanita baik, bahkan akulah yang merenggut kehormatan kamu untuk pertama kalinya," ujar Gio.
Kinanti mulai menceritakan mengapa malam itu bisa bersama Gio. Perlahan Gio tampak mengepalkan tangannya. Entah dia harus merasa marah atau bersyukur, karena bisa bertemu Kinanti, dan akhirnya menikah dengan Kinanti.