Siapkan tissue karena cerita mengandung bawang.
Apa jadinya jika sebuah pernikahan tanpa cinta harus terjadi atas unsur perjodohan?
Kiandra Anastasia seorang gadis yatim piatu berusia 17 tahun yang hidup bersama dua pembantu setianya yang menganggapnya seperti anak sendiri semenjak kepergian kedua orang tuanya untuk selama-lamanya karena sebuah kecelakaan, ternyata sejak kecil sudah dijodohkan oleh Almarhum kedua orangtuanya itu dengan seorang CEO perusahaan besar yang merupakan putra dari sahabat Almarhum Papanya, Aldo Wiryawan Prayoga nama sang CEO yang terkenal dengan sikapnya yang dingin dan tempramen.
Bagaimana kehidupan pernikahan antara Kiandra bersama Aldo? Akankah ada benih-benih cinta diantara mereka nantinya? Yuk ikutin cerita ini dari awal sampai akhir.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon saputri90, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
Tuan Wiryawan terlihat menatap sendu Kia yang kini duduk seorang diri di sebuah sofa panjang.
"Tak perlu merasa bersalah Kia, Om tak akan pernah menyalahkan dirimu, Om sangat tahu ini bukan salah mu, pasti ini semua ulah putri Tuan Bramantyo," gumam Tuan Wiryawan di dalam hatinya.
"Silahkan duduk Tuan Wiryawan!" Ucap Tante Widya yang mempersilahkan Tuan Wiryawan untuk duduk di kursi yang telah di sediakan Pak Narya.
Tuan Wiryawan pun duduk di kursi yang disediakan untuknya dan tak lama setelah itu Tuan Bramantyo pun duduk di kursi yang berdampingan dengannya.
"Ehemm, tak perlu banyak basa-basi, waktu ku sangat berharga, jadi tolong katakan ada apa memanggil kami kesini Widya?" Ucap Bramantyo pada Tante Widya dengan keangkuhannya.
"Ck, bukan aku yang memanggil kalian berdua, tapi Pak Narya yang memanggil kalian." Balas Tante Widya dengan senyum tipisnya.
"Pak Narya, katakan ada apa memanggil saya kesini?" Tanya Tuan Bramantyo seolah tak mengetahui permasalahan yang terjadi di depan Tante Widya dan Tuan Wiryawan.
"Begini Pak, ini mengenai putri Anda, Nadya___" jawab Pak Narya yang terpotong karena Tuan Bramantyo menyela ucapannya.
"Kenapa putri saya? Apa ada perbuatan putri saya yang tidak menyenangkan di sekolah ini?" Potong Tuan Bramantyo yang malah menambah pertanyaan untuk dijawab Pak Narya.
"Jadi begini Tuan Bramantyo, tadi pagi sewaktu apel putri Anda___," lagi-lagi jawaban Pak Narya di potong Tuan Bramantyo.
"Jika Anda mau menceritakan berita viral itu, saya tidak punya waktu untuk mendengarkannya, jadi langsung saja pada intinya, Anda berharap apa dari saya?" Potong Tuan Bramantyo yang memancing emosi Pak Narya, rasanya ia ingin marah tapi dia tak bisa melakukannya, karena orang yang dia hadapi bukanlah orang yang sembarangan.
"Saya meminta Tuan Bramantyo kesini hanya untuk menyampaikan teguran secara lisan dan tertulis mengenai putri Anda. Tuan Bramantyo yang terhormat, mulai hari ini hingga tiga hari ke depan, kami pihak sekolah memutuskan untuk merumahkan putri Anda, Nadya bisa kembali ke Sekolah setelah masa skorsinnya selesai," jawab Pak Narya yang mengumpul keberaniannya untuk menyampaikan berita ini pada Tuan Bramantyo, yang pastinya tak akan bisa diterima oleh Tuan penguasa itu.
"Hemm, hanya itu teryata," Ucap Tuan Bramantyo sambil mengelus-elus dagunya. Ia nampak santai namun hatinya tak terima anaknya di skorsing. Ia mengalihkan pandangannya dari Pak Narya ke arah Tante Widya dengan tatapan penuh arti.
"Tentukan nilai harga sekolah mu ini Wid, aku akan membelinya!" Cetus Tuan Bramantyo dengan ucapannya yang tak di sangka-sangka. Hanya karena putrinya di skorsing, ia jadi ingin membeli sekolah ini. Tante Widya merespon ucapan Tuan Bramantyo dengan senyum tipis penuh arti.
"Aku tak menjualnya Bram, sekolah ini milik mendiang Kakakku. Apa kau tak menerima jika putrimu di skorsing sampai ingin membeli sekolah ini? Sungguh menggelikan sikapnmu ini Bram," tolak Tante Widya dengan senyum tipisnya.
"Tentu saja, aku tak menerimanya, dia melakukan hal yang benar menurut ku, dia sedang membela sahabatnya yang menderita akibat keegoisan orang yang tengah duduk di samping ku," Tuan Bramantyo menyindir Tuan Wiryawan yang sejak tadi hanya menjadi pendengar sejati.
"Tutup mulut mu Bram! Aku tidak egois seperti yang kau pikirkan," sangkal Tuan Wiryawan yang menatap tajam Tuan Bramantyo yang duduk di sampingnya.
"Jika tidak egois lantas apa Wir? Lihatlah anak itu masih terlalu kecil untuk di nikahi putra mu yang sombong dan angkuh itu. Menikahkan dia sama saja menghentikan langkahnya untuk menapaki dunia ini. Jahat sekali kau Wir, anak itu baru saja ingin berkembang tapi sudah kau patahkan langkahnya," ucap Tuan Bramantyo yang seakan menampar Tuan Wiryawan. Tuan Wiryawan nampak terdiam setelah mendengarkan ucapan Tuan Bramantyo.
"Entah atas dasar apa kau melakukannya, aku tak perduli, semakin kau memaksanya, berarti kau semakin menyakiti perasaan putri ku, kau tahu akibat yang harus kau terima jika kau menyakiti putri ku,bukan? Ku jatuhkan saham perusahaan mu hari ini sebagai teguran kecil untuk mu, jika kau mau perusahaan mu kembali seperti semula, urungkan pernikahan dini antara Kia dan putramu. Pertimbangkan ucapanku, aku beri kau waktu sepuluh menit dari sekarang untuk berpikir. Ingatlah Wir, aku bisa membuat perusahaan mu gulung tikar detik ini juga!" Ucap Tuan Bramantyo dengan ancamannya.
Nadya yang mendengar Sang Daddy sudah mengeluarkan taringnya tersenyum senang dan memeluk tubuh Kia yang masih saja menundukkan kepalanya sambil memainkan jemarinya.
"Kia lihatlah Daddy ku sedang berusaha membebaskan mu dari pernikahan sialan itu," ucap Nadya berbisik di telinga Kia. Namun Kia tak bergeming.
Tuan Wiryawan tak langsung menanggapi ucapan Tuan Bramantyo yang tengah mengancam dirinya. Ia berpikir keras sebelum menanggapi ucapan Tuan Bramantyo yang saat ini ia terus pandangi.
Sedang Tuan Bramantyo terlihat begitu cuek menjadi pusat perhatian orang-orang dihadapannya, ia malah asyik dengan kesibukannya memainkan ponsel di tangannya. Ia sedang mencari nomor telepon seseorang yang ingin ia hubungi. Tak berapa lama nomor yang di cari pun ia temukan, ia pun segara menghubungi orang tersebut.
"Hallo Prof, saya Bramantyo, apa Anda masih mengingat saya?"
_________[Tentu saya masih mengingat Anda Tuan Bramantyo, siapa yang akan melupakan Tuan Bramantyo yang sangat dikenal sebagai pengusaha sukses dan berkuasa di negeri ini, apa kabar Tuan? Ada angin apa menghubungi saya?]
"Hahaha.... Saya tidak seterkenal seperti yang dikatakan Prof kok. Kabar saya kurang baik Prof, saya menghubungi Prof karena saya ingin minta tolong pada Profesor suatu hal,"
_______[Kurang baik bagaimana Tuan? Minta tolong apa ya Tuan? Sungguh terhormat sekali diri saya ini, diminta pertolongan oleh seorang pengusaha sukses seperti Tuan Bram, permintaan tolong Tuan ini akan saya jadikan perintah bagi diri saya,coba katakan perintah apa yang ingin Anda sampaikan pada saya Tuan!"
"Hahaha... Ya saya perintahkan Prof untuk melakukan Drop Out Mahasiswa yang bernama Arjuna Naryawanto hari ini juga," ucap Tuan Bramantyo dengan entengnya, sambil menatap Pak Narya yang kini sulit menelan salivanya, saat mendengar nama putranya di sebut sang penguasa tak punya hati yang ada di hadapannya.
_____ [Hanya itu Tuan? Baiklah segera akan saya laksanakan, tunggulah laporan saya dalam beberapa menit Tuan,"
" Terimakasih atas bantuannya prof, saya akan minta Tuan Adijaya untuk menaikan gaji Anda sabagai balasan rasa terima kasih saya," ucap Tuan Bramantyo di akhir panggilan teleponnya.
"Seharusnya kau tak melakukan itu Bram!" Tegur Tante Widya pada Tuan Bramantyo dengan nada bicara yang sinis.
"Jangan mengguruiku, Wid! Tak ada satupun orang yang boleh menghukum putriku kecuali diriku," Bantah Tuan Bramantyo dengan tatapan tajamnya.
Tante Widya memilih diam tak ingin lagi menanggapi ucapan Tuan Bramantyo. Ia juga memberi kode pada Pak Narya untuk tidak memprotes apa yang dilakukan Tuan Bramantyo pada putranya. kini pandangan mata Tuan Bramantyo pun beralih dari Tante Widya ke Tuan Wiryawan.
"Jadi bagaimana Wir? Katakan pilihan mana yang kau pilih, Wir?" Tanya Tuan Bramantyo yang menatap intens Tuan Wiryawan.
"Aku akan membatalkan pernikahan mereka____," jawab Tuan Wiryawan terpotong karena Tuan Bramantyo menyelanya. Ia tak dapat melanjutkan ucapannya, karena Tuan Bramantyo seperti tak ingin mendengar kelanjutan ucapannya, yang padahal sangatlah penting untuk Kia ketahui.
"Pilihan yang bagus, aku pastikan nilai saham perusahaan mu akan stabil esok hari Wir, dan untuk berita yang terlanjur viral karena ulah putri ku, biarkan jadi urusan orang-orang ku," sambung Tuan Bramantyo yang langsung beranjak dari kursinya.
Ia berjalan menghampiri sang putri yang tengah duduk bersama sahabatnya. Tanpa berpamitan dengan Tante Widya,Pak Narya ataupun Tuan Wiryawan, Tuan Bramantyo meninggal mereka yang masih duduk dengan mata yang terus memperhatikannya.
"Lets go Baby, kita pulang!" Ajak Tuan Bramantyo pada Nadya.