Berharap bisa lari dari kenyataan yang ada, namun justru membuat Killa terjatuh ke dalam kejadian yang tidak pernah dia duga dan itu membuatnya sangat terpukul.
Hubungan yang tidak pernah dia ingat dengan seorang pria bule, membuat Killa memilih untuk pergi sejauh mungkin. Hingga Killa memilih kembali dengan membawa seorang anak laki-laki berusia lima tahun.
Killa pikir, setelah dirinya pergi lama meninggalkan negaranya, dia akan kembali dengan tenang dan memulai hidup baru bersama putranya. Akan tetapi, ternyata tidak segampang itu. Dia dipertemukan kembali dengan seorang pria yang wajahnya masih melekat di ingatan Killa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lee_yuta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch. 26. Basah
Bab. 26
Di posisi seperti ini, membuat Vano semakin leluasa memonopoli Killa. Pria itu melakukan apa yang pernah mereka lakukan beberapa tahun silam.
Vano menjelajah di dalam sana. Sangking asiknya, sampai-sampai Vano lupa memberj jeda kepada Killa kalau wanita itu tidak pandai dalam mengambil napas.
Vano yang baru tersadar pun langsung menarik diri. Menatap wajah Killa yang begitu sayu. Wanita itu terengah. Mengambil napas sebanyak-banyaknya. Sebab tadi dia mengalami kesusahan napas akibat perbuatan Vano.
"Jangan ditahan gitu, sambil napas," ingat Vano. Membuat Killa menatapnya kesal.
Vano mengusap lembut bibir Killa yang basah. Pria itu tersenyum penuh kemenangan, karena bisa merasakan bibir yang dia damba hingga ia buat sampai membengkak seperti ini.
Sementara itu, Killa berusaha menguasai dirinya. Ia tidakmenyangka kalau akan terjadi hal seperti ini. Sesuatu yang baru ia lakukan, mesekipun sudah mempunyai seorang anak. Lebih lagi pria itu tidak kunjung bangkit dari atas tubuhnya.
"Minggir, berat!" Ujar Killa setelah sadar sepenuhnya.
Ia mendorong dada Vano yang begitu bidang. Mungkin kalau dilihat dari belakang, keberadaan Killa tidak akan terlihat. Sebab tertutup penuh oleh tubuh Vano.
"Nggak mau."
Vano menggeleng, dengan sengaja menggoda Killa. Pria itu justru semakin merendahkan dan menekan tubuh Killa yang berada di bawahnya. Menumpukan kedua siku di atas meja. Membuat jarak di antara mereka benar-benar tidak ada.
Killa merasa semakin terpojok posisinya. Benar-benar terkunci oleh Vano. Killa memejamkan mata sambil menarik napas. Berpikir apa yang bisa ia lakukan hingga pria ini cepat beranjak dari tubuhnya.
Kemudian Killa mengulurkan tangannya ke samping, berusaha menjangkau ponselnya dan berniat ingin menghubungi Nadia atau keamanan yang jaga di butiknya untuk mengusir pria menyebalkan ini.
Namun, rupanya pergerakannya tersebut diketahui oleh Vano. Dengan cepat Vano menahan tangan Killa dan menggenggambya begitu erat setelah ia arahkan di atas kepala. Membuat Killa tidak bisa bergerak dan waspada. Apa lagi yang akan dilakukan oleh bule ini. Sedangkan kakinya saja juga sudah dikunci oleh Vano.
"Mau ngapain? Hmm?" Vano tersenyum melihat usaha Killa yang begitu ingin kabur darinya.
Tatapan Vano seolah tengah meledeknya. Killa semakin kesal dibuat pria ini. Tidak kehabisan akal, Killa pun berusaha mengalihkan perhatian Vano.
"Ada yang dateng," ujar Killa agar Vano lengah dan dirinya mempunyai kesempatan untuk bangkit. Tidak dalam posisi yang begitu memalukan seperti saat ini. Bagaimana kalau nanti salah satu pegawainya benar-benar melihat dirinya seperti ini. Bisa hancur reputasinya di mata mereka.
Akan tetapi, upaya Killa tersebut tidak membuahkan hasil. Di mana Vano tidak mengalihkan tatapannya dari
"Aku memang sengaja nggak menutup pintunya. Biar mereka semua tahu, kalau kamu itu hanya milikku, Sayang," sahut Vano sembari menaikkan alisnya serta satu sudut bibirnya.
Sontak saja, pengakuan tidak terduga dari Vano membuat mata Killa melebar tidak percaya. Bagaimana bisa dia ceroboh seperti ini. Sudah ketangkap, masih saja ada hal lain yang membuat jantungnya tidak aman.
Dengan cepat, Killa menoleh ke arah pintu, di mana hal itu justru membuat Vano tersenyum begitu lebar. Sebab posisi Killa yang seperti ini memberinya ruang untuk dengan bebas menjelajah bagian yang sedari awal menjadi tempat favoritnya.
"Emmhh ....!"
Suara lenguhan terdengar begitu jelas dari mulut Killa, ketika Vano menempelkan bibirnya di permukaan klit leher Killa yang terekspos. Semakin membakar hasrat dalam diri Vano. Terbawa suasana, Vano pun menyesap begitu kuat di area tersebut. Membuat suara lenguhan terdengar lebih jelas dan cengkeraman tangan Killa lebih terasa. Seolah Killa sedang menahan sesuatu dan tidak ingin hal itu berlanjut.
Namun, sangat berbeda dengan Vano. Mendengar suara Killa yang begitu lembut dan penuh goda, lagi dan lagi seleranya naik begitu pesat. Sampai-sampai Vano tidak bisa menahannya. Terbukti dari pria itu menatap wajah Killa dengan tatapan penuh kabut serta napas yang memburu.
"Mau di sini atau pindah?"
Suara Vano begitu serak. Jelas sekali jika pria itu sedang menahan sesuatu yang benar-benar ingin menggila rasanya di tambah lagi Vano kembali membenamkan wajahnya di ceruk leher Killa. Menggodanya dengan memberi sentuhan sentuhan basah di sana.