Lavinia Xerxes pergi dari Inggris menuju ke Amerika untuk mencari kakaknya yang tak ada kabar selama sebulan lamanya.
Hal itu membuat dirinya tinggal di apartemen sang kakak yang ditinggalinya bersama teman sekamarnya yaitu Rocco Robert yang sebenarnya adalah pemilik asli apartemen itu.
JANGAN LUPA FOLLOW
INSTAGRAM @ZARIN.VIOLETTA
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zarin.violetta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
Bab 26 (LavCo)
"Aku tak ingin mendengar masa lalunya yang suram itu," ucap Lavia pada akhirnya.
Velvet memegang tangan Lavia dan masih tak melepaskannya.
"Kau menyalahkannya setelah apa yang terjadi pada hidupmu, Lavia?" tanya Velvet yang tampak mulai mengerti tentang Lavia.
"Ya, di otaknya hanya ada ayah dan sama sekali tak ada tempat bagiku. Jika aku bisa memilih, aku tak akan mau dilahirkan dari rahimnya," ucap Lavia tanpa ekspresi.
"Tidak tidak ... Kau tak boleh begitu, Lavia. Dia tak seburuk itu. Kehidupan masa kecilnya sangat sulit. Maaf, dia sudah terlibat prostitusi anak ketika itu karena harus membiayai neneknya yang sakit. Lalu entah bagaimana akhirnya dia pindah ke Inggris setelah neneknya meninggal. Dan aku tak menyangka hingga akhir hidupnya pun dia begitu menderita," kata Velvet.
"Dan itu pula yang membuatku ingin mengikatmu dengan Rocco," lanjut Velvet.
Lavia masih diam dan akhirnya berdiri.
"Maaf, aku permisi dulu," ucap Lavia yang seakan tak ingin melanjutkan pembicaraan ini lagi.
Velvet menahan tangan Lavia dan tak membiarkannya pergi.
"Tolong, duduklah dulu," kata Velvet tegas.
Lavia menggigit bibirnya dan berusaha kerasa menahan air matanya untuk tak keluar.
Lavia jarang menangis dan mendengar ibunya diungkit, membuat rasa emosinya kembali terpancing.
Tangannya bergetar dan Velvet menyadari hal itu. Dia memeluk Lavia dan mengusap punggungnya.
"Aku tak akan pernah membiarkanmu pergi dari hadapanku. Dan Rocco yang akan menjagamu mulai saat ini. Itu keputusan mutlak dariku, Lavia. Dan kau tak bisa menolaknya," ucap Velvet lirih di telinga Lavia.
Velvet melakukan hal itu agar Lavia bisa melanjutkan hidupnya dengan bahagia.
"Hanya kau yang bisa menyelamatkan dirimu sendiri dan aku memberi jalan untuk itu," lanjut Velvet.
"Lupakan semuanya dan kau akan memulai dari nol bersama kami. Aku sangat bisa mengerti menjadi dirimu karena aku juga pernah mengalaminya. Tapi bedanya, ibuku sangat menyayangiku dan aku dipaksa takdir kehilangan dirinya," ucap Velvet.
Lavia masih tak mengatakan apa pun dan justru duduk berjongkok di depan Velvet.
Baru kali ini ada seseorang yang tahu bagaimana rapuhnya Lavia sebenarnya dan itu membuatnya begitu emosional.
Lavia menutup wajahnya dengan lengannya.
Rocco menghampirinya tapi Velvet mencegahnya dengan memakai tanda melalui tangannya.
Velvet duduk berlutut di depan Lavia.
"Aku sangat tahu apa yang kau alami saat ini dan aku tak bisa membiarkanmu pergi di mana kau bisa menghancurkan hidupmu sendiri jika aku tak mencegahmu," ucap Velvet memeluk bahu Lavia.
Lavia masih tak menyahut karena air matanya sudah membanjiri tangannya tanpa suara.
"Kau melampiaskan kemarahanmu pada orang yang mungkin turut andil dalam penderitaanmu. Kau ingin menghabisi mereka semua dan berharap setelah mereka semua tiada, hidupmu akan berjalan dengan sempurna. Tapi sebenarnya, masalah itu datang dari hatimu sendiri. Kau tak ingin melihat dirimu sendiri bahagia karena kau takut hal itu tak sesuai ekspektasimu dan kau selalu berpikir bahwa kau akan berakhir sama seperti ibumu," lanjut Velvet.
"Kau bahkan tak tahu apa yang kau inginkan dalam hidupmu. Kau bingung, kau tersesat, kau selalu berubah-ubah dan itu membuatmu semakin tersiksa dengan dirimu sendiri," ucap Velvet.
"Mom," ucap Rocco.
Velvet melihat ke arah Rocco dan menggelengkan kepalanya agar Rocco tak ikut campur dalam hal ini. Velvet hanya ingin membuka mata Lavia tentang betapa berharganya hidupnya untuk disia-sia kan dengan pikiran-pikiran negatif yang selalu ada di otaknya.