NovelToon NovelToon
Seni Bela Diri Sejati

Seni Bela Diri Sejati

Status: tamat
Genre:Fantasi / Petualangan / Fantasi Timur / Dan budidaya abadi / Epik Petualangan / Tamat
Popularitas:208.9k
Nilai: 4.9
Nama Author: WestReversed

Kala Piningit, seorang bocah yang hidup di kaki Gunung Loro Kembar mengira musibah telah menjatuhi dirinya saat sebuah ledakan besar di puncak gunung itu meratakan gubuknya.

Saat hampir tidak memiliki harapan untuk hidup, dirinya menemukan seorang kakek ringkih di dalam lubang ledakan yang perlu diselamatkan. Harapan hidup kembali mengisi jiwanya yang kosong, berkat kemurnian jiwa, semesta telah memilihnya menempuh jalan panjang untuk menyelamatkan Nusantara dari kehancuran.

Inilah kisah tentang kelahiran Kesatria Garuda, sang Putra Garuda, yang tidak lahir dari perut ibu melainkan dari pertempuran berdarah!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WestReversed, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bertemu Maheswari

Kala memilih untuk berkeliling. Melihat apakah ada pekerjaan yang bisa ia bantu.

***

Malam tiba. Pranor-pranor yang kondisinya sudah cukup pulih mulai mempersiapkan tenda-tenda dan membersihkan puing-puing bangunan yang tersisa untuk menyambut para tabib ahli. Mereka lebih bersemangat saat mengetahui bahwa Maheswari ikut dalam rombongan itu.

Kala menunggu di pintu masuk kota, tempat di mana para tabib itu akan datang. Pranor lain melihat Kala sebagai adalah orang yang paling antusias dalam menyambut Maheswari sehingga mungkin saja dirinya adalah salah satu penggemar berat tabib cantik itu, tetapi mereka tidak bisa berkata apa-apa karena Kala telah sangat berjasa bagi mereka.

Rombongan yang ditunggu-tunggu akhirnya datang. Kerumunan tabib berjalana kaki memasuki kota. Busana yang mereka kenakan berwarna serba putih dan mereka juga membawa obor yang memancarkan api putih, terlihat sangat serasi.

Para tabib itu berjumlah puluhan, dengan rerata adalah tabib lelaki yang mencari pengalaman di lapangan. Tak banyak tabib perempuan, tetapi Kala sama sekali tidak melihat kehadiran Maheswari di sana. Seharusnya, dari bentuk tubuhnya saja Maheswari sudah mencolok.

Sayangnya, ada beberapa tabib wanita yang memakai jubah dan topeng untuk menutupi wajah, sehingga Kala tidak bisa memastikan apakah Maheswari ada di antara mereka atau ternyata tidak.

"Mungkin di antara tabib berpakaian tertutup itu, ada Kak Mahes," gumamnya pelan.

Kala tak menyerah, ia memilih untuk mengikuti rombongan tabib itu dari belakang, secara tidak sembunyi-sembunyi. Biarlah menjadi sorotan, biarlah Maheswari yang menghampirinya sendiri.

Mereka menerima sambutan hangat dari pranor-pranor yang sudah menunggu. Pasang-pasang mata menatap dengan jeli, tetapi tetap tidak bisa melihat keberadaan Maheswari. Nasib mendapatkan kabar burung, yang memang tidak selalu benar.

Rombongan tabib memasuki tenda yang sudah disiapkan sebelumnya. Terdapayt dua tenda, satu untuk lelaki dan satu untuk perempuan.

Kala ingin segera masuk ke tenda wanita dan menanyai mereka satu demi satu, tetapi langkahnya diadang secara tidak sopan oleh seorang penjaga yang bersenjata lengkap. Raut wajah Kala berubah menjadi dingin.

"Tidak sembarang orang boleh, terlebih laki-laki," kata penjaga itu.

"Aku ada urusan, tolong Saudara jangan mempersulit." Kala membalas dengan nada datar.

"Urusan apa?"

"Urusan yang tidak perlu kau ketahui."

"Kalau begitu, kau tidak aku izinkan masuk ke dalam."

"Masuk."

"Pergi."

"Masuk."

"Heh? Memangnya siapa dirimu? Sudah kukatakan pergi, maka pergilah!" Penjaga itu mulai menarik pedangnya.

Kala segera mengeluarkan aura pembunuh, ia sudah membunuh banyak Hewan Perusak ditambah satu Hewan Spirit dan itu cukup untuk menakut-nakuti Pranor di depannya. Orang bersenjata itu juga mengeluarkan nafsu membunuh, mereka beradu sengit meski dalam keadaan diam. Tidak bisa dilihat kalau mereka sedang bertarung.

Aura membunuh yang mereka keluarkan sangat banyak. Orang-orang di sekitar juga dapat merasakan hal yang sama, ada yang memilih menjauh sebab tak tahan, tapi juga ada yang memilih untuk segera merelai.

"Ada apa ini?!" seru seorang pria paruh baya yang datang menghampiri mereka dengan raut wajah tidak bagus.

Kala segera menarik aura pembunuhnya karena menyadari bahwa orang yang datang itu adalah pria yang memberinya Esensi Prana saat terjadi peperangan. Pranor bersenjata itu juga menarik aura pembunuhnya.

"Maaf, aku hanya ingin bertemu seseorang di dalam, tetapi penjaga ini tidak memberiku kesempatan," kata Kala memberi penjelasan.

"Aku diberi tugas untuk menjaga tenda ini," sahut Pranor itu.

Pria paruh baya itu meneliti wajah Kala. Tampak setenang air. Tak ada niat jahat. Kala jelas memiliki alasan yang kuat atas permintaannya itu.

"Siapa yang memberimu tugas ini?" tanya pria prauh baya itu lagi.

"Tetua dari Perguruan Angin Utara," jawab sang penjaga sambil membungsungkan dada. Dia yakin selama orang ini tahu bahwa dirinya diutus oleh Perguruan Angin Utara, maka tidak akan lagi memiliki keberanian untuk mengekangnya, mengingat perguruannya adalah perguruan aliran putih terkuat di Geowedari.

"Kalau begitu, biarkan anak muda ini masuk."

"Memangnya siapa kau?!"

Pria itu tak banyak bicara, namun secara mengejutkan dirinya menarik rambutnya sendiri, saat itu seakan-akan kulit wajahnya ikut tertarik dan menampilkan wajah seorang pria paruh baya yang lain.

Tiba-tiba saja sang penjaga bersimpuh lutut dengan seluruh tubuh bergemetar.

"Aku adalah Yudistira, apakah kau mengenaliku?"

"Patriark ... maafkan aku yang tidak cukup bijak mengenalimu sebelumnya!" Penjaga itu menjatuhkan pedangnya dan menjura ke arah pria paruh daya yang rupa-rupanya bernama Yudistira itu.

"Kau biarkan dia masuk atau aku akan melaporkan perbuatanmu kepada tetua agar dia dapat melaporkanmu kepadaku!" katanya berbelit-belit, tapi dapat dipahami oleh Pranor itu.

Kala sendiri tidak menyangka bahwa pria ini adalah pemimpin dari Perguruan Angin Utara!

Menurut penuturan gurunya ketika sedang menceritakan telaga persilatan, seharusnya Yudistira memiliki kekuatan lanjutan setelah Alam Kristal Spirit yaitu Alam Formasi Spirit tingkat menengah.

Namun, pemimpin Perguruan Angin Utara itu memang terkenal pandai menyamar. Bukan hal mengejutkan lagi jika mengetahui bahwa dirinya dapat menyembunyikan aura Alam Formasi Spirit dan menampilkannya menjadi aura Alam Kristal Spirit ketika terjadi peperangan di kota ini dua pekan yang lalu.

"Silakan masuk, Saudara, maafkanlah sikapku tadi." Penjaga itu mempersilakan Kala masuk.

Kala segera berterimakasih kepada Yudistira. Pria paruh baya itu balas mengangguk dan dia berpesan pada Kala untuk bertemu dengannya di taman kota nanti malam. Kala tahu letak taman kota, jadi dia mengyetujui permintaan itu.

Kala memasuki tenda tabib perempuan setelah mengucap salam. Suasana berubah menjadi canggung karena tenda ini tidak memiliki sekat di setiap kamar, jadi Kala bisa melihat seluruh tempat tidur beserta seluruh tabib-tabibnya yang sedang bebenah. Mereka semua menatap Kala tajam. Kala berkeringat dingin dan tersenyum kaku.

Karena tidak mau berlama-lama di tempat itu, segera saja Kala menyisir ke seluruh ruangan dengan pandangan matanya. Namun sepertinya ia datang terlalu cepat, sebab tabib-tabib yang tadinya mengenakan topeng dan jubah masih belium sempat melepas itu semua.

Kala menggeleng pelan lalu berbalik dan keluar dari tenda itu.

Pranor yang tadi berjaga melirik Kala heran, tapi tidak berani bertanya apa pun padanya.

Beberapa langkah kemudian, terdengarlah suara seorang perempuan yang halus sekaligus menenangkan. Memanggil nama Kala dari belakang. Suara itu adalah suara yang dikenalinya. Suara yang dicarinya. Kala tersenyum lebar.

"Saudara, tunggu!"

Kala berbalik dan mendapati wajah yang telah dinantikannya. Itu adalah wajah Maheswari. Benar kata gurunya, Maheswari tidak mengalami penuaan sama sekali sebab dia adalah Pranor tingkat Alam Kristal Spirit. Wajahnya tetap cantik sempurna!

"Apa kau adalah Kala Piningit?"

"Bukan." Kala tersenyum semakin lebar.

"Ah, ternyata saya memang salah lihat. Maafkan saya yang telah mengganggu langkahmu, Saudara." Maheswari menunduk kecewa sebelum berbalik ke belakang.

"Kak Mahes." Kala memanggilnya saat Maheswari hampir memasuki tenda.

Perempuan itu sontak berbalik, dia menatap Kala lekat-lekat. "Kala?"

Kala mengangguk sambil tersenyum. "Iya, ini aku."

Tiba-tiba saja Maheswari berlari kencang. Lantas mendekap Kala erat-erat, bagaikan akan kehilangan pemuda itu selama-lamanya bila tidak terus mendekapnya!

Kala tidak tahu harus berbuat apa, tetapi yang jelas ia tiada memiliki niat membalas pelukan Maheswari. Tak sempat berpikir sebab sekejap kemudian, dirinya merasa merasa air hangat mengalir di lehernya. Maheswari menangis!

1
Sukamto
Lakon nya lemah jadi males membaca cerita mu bro
Gagal Tobat
Kecewa
Christ Mlg
😅😅😅😅
Christ Mlg
😅😅
Christ Mlg
😅
Ikhwan charles
nyesal aku baca novel ini nggak jelas lanjutan ny
Alfi Ghaf
author pindah lapak kah?
Alfi Ghaf
tapi kepalanya
Alfi Ghaf
wah mohon tarik diri wkwkwk
Alfi Ghaf
atau aku akan
Alfi Ghaf
bulu kuduk
Alfi Ghaf
mereka bergerak
Alfi Ghaf
mengapa kau tahu tentangku?
Alfi Ghaf
sayang biarkan aku melayani kamu terlebih dahulu
Alfi Ghaf
mengapa kau mengeluarkan tas kecil ini?
Alfi Ghaf
M9?du
Alfi Ghaf
tapi tetap saya ada yang kejahatan?
ambigu cuy
Alfi Ghaf
kasihan Kala sifat kemanusiaannya mulai hilang sedikit
Alfi Ghaf
menuju mana?
Alfi Ghaf
lorong di sini
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!