Catherine merasa sangat beruntung memiliki ayah tiri sebaik Agus. Jika banyak berita tentang ayah tiri yang melecehkan anak tirinya, itu tidak terjadi pada Catherine!
Agus benar-benar menyayangi nya seperti anak kandung sendiri, menjaganya seperti anak kandung sendiri. Hingga kemudian, di usianya yang ke dua puluh tahun, Catherine sadar dan paham kenapa ayah tirinya itu begitu menjaganya agar tetap utuh!
Ia dijodohkan paksa dengan laki-laki yang bahkan tidak pernah ia kenal, seorang pengusaha tekstil kaya raya yang usianya sudah hampir tiga puluh lima tahun!
Duda dengan anak satu itu akhirnya resmi jadi suami Catherine! Lalu bagaimana dengan nasib pacar Catherine, si calon dokter itu? Dan bagaimana Catherine menjalani hari-harinya?
Simak terus kisahnya ya ...
Jangan lupa mampir ke "Cinta Jas Putih" dan "COMPLICATED" ya ...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elza Veronika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Maafkan Papa, Cat
Pagi itu Catherine rasanya sangat malas bangun, ia melirik sekilas ke sebelahnya. Kosong! Rama pasti sudah lebih dulu bangun! Ahh ... istri macam apa dia ini? Bangun pagi tidak bisa, apalagi melayani suaminya!
Catherine kembali menutupi wajahnya dengan selimut ketika kemudian pintu kamarnya terbuka. Rama hanya tersenyum simpul, lalu mengguncang pelan tubuh Catherine.
"Sayang, bangun yuk. Kamu ada kuliah kan?" Dengan lembut Rama mengguncang bahu Catherine.
"Rasanya malas banget hari ini." Catherine mendengus, lalu bangun dan duduk di kasur.
"Nggak boleh gitu, yuk bangun. Sudah semester tua kan?" Rama dengan sabar membantu Catherine bangun.
Catherine tersenyum, ia kemudian turun dari kasurnya. Ia hendak melangkah ke kamar mandi ketika kemudian Rama menarik tubuhnya dan memeluk erat tubuh itu. Entah darimana datangnya, Catherine malah membalas pelukan itu. Kenapa rasanya senyaman ini?
"Jangan pikirkan apapun," guman Rama lirih lalu mengecup lembut kening Catherine.
Catherine melepaskan pelukannya, menatap manik mata suaminya yang begitu teduh itu. Rama tersenyum, dan itu membuat wajah Catherine memerah, ada apa ini? Catherine menundukkan wajahnya, namun hanya sebentar karena kemudian Rama mengangkat dagunya, membuat kedua mata mereka kembali bertemu.
Rama makin mendekatkan wajahnya, kemudian dengan lembut ia menyapu bibir ranum di hadapannya itu. Catherine hanya diam, entah mengapa ia mulai nyaman dengan ciuman itu, ia mulai suka ketika Rama menyentuh bibirnya, menautkan bibir mereka seperti ini. Apa ini artinya ....
Rama melepaskan tautan bibirnya, "Segera mandi, aku tunggu di meja makan." ujarnya lalu melangkah keluar kamar.
Catherine hanya tercengang di tempatnya berdiri. Hanya begitu saja? Tunggu, apa maksudnya hanya begitu saja? Apa Catherine berharap Rama melakukan hal yang lebih tadi? Misalnya ... ah! Catherine menggelengkan kepalanya, lalu bergegas masuk ke kamar mandi. Membuang semua pikiran yang mengusiknya itu.
***
"Lho, mama sama papa kemana?" tanya Catherine ketika di meja makan hanya ada Rama dan Ayesha.
"Sudah berangkat jam tiga pagi tadi Sayang." Rama tersenyum, ia sudah mengoles roti tawar dengan Ovomaltine.
"Kenapa aku nggak kamu bangunkan, Sayang?" Catherine benar-benar merasa tidak enak, mertuanya hendak pergi keluar negeri dan dia malah asyik tidur? Menantu macam apa?
"Mama yang melarang aku membangunkan mu. Sudahlah, sini makan."
Catherine duduk di samping Ayesha, gadis itu sudah asik dengan roti isi selainya.
"Sayang, aku boleh kerumah mama nanti? Aku kangen." guman Catherine lirih.
"Tentu boleh, minta Pak Udin mengantarkan mu nanti." Rama tersenyum, ia kemudian meletakkan roti yang tadi ia oles dengan Ovomaltine di piring Catherine.
"Lho, ini ...." kenapa jadi Rama yang melayaninya makan? Astaga!
"Buat kamu, makanlah." Rama hanya tersenyum, lalu kembali meraih selembar roti tawar.
Catherine kembali hanya tercengang di tempatnya duduk. Hatinya makin tidak karuan, kenapa akhir-akhir ini perasaannya jadi aneh? Apa yang terjadi?
***
"Pak, kerumah orangtua saya ya. Tadi saya sudah izin bapak kok." guman Catherine ketika kelasnya sudah selesai.
"Baik Mbak, tadi bapak juga sudah telpon saya suruh antar kerumah bapak sama ibunya Mbak Cat." Pak Udin bergegas menghidupkan mesin mobil, lalu membawa mobil itu keluar dari halaman kampus.
"Pak ... Pak Udin nikah sudah lama?" tanya Catherine yang mulai merasa aneh dengan dirinya.
"Sudah hampir dua puluh lima tahun, Mbak. Alhamdulillah." jawab Pak Udin sambil tersenyum.
"Selama ini kalau boleh tahu hal-hal apa saja yang bikin Bapak kesal sama istri Bapak?" tanya Catherine hati-hati.
"Kalau saya sih paling kesel kalau istri saya susah dibilangin, egois dan lalai sama tugas dia dirumah, Mbak." Pak Udin tersenyum. "Tapi tiap orang beda-beda lho ya, nggak semua sama karakternya Mbak."
Catherine mengangguk tanda paham. Egoiskah dia? Dan untuk tugas seorang isteri ... Apa yang sudah Catherine lakukan memang? Tidak ada sama sekali tugas yang ia lakukan, astaga! Untung suaminya itu extra sabar, kalau tidak ... eh, tapi malah bagus kan kalau dia kena talak?
Namun semakin hari, kenapa perasaan Catherine jadi aneh? Rasa itu benar-benar membuat Catherine bertanya-tanya, apakah ia mulai jatuh cinta dengan sosok yang menjadi suaminya itu? Namun jujur bayangan Wilson masih ada! Cintanya untuk laki-laki itu masih utuh. Ia masih berharap kembali padanya, namun akhir-akhir ini Catherine cukup terganggu dengan perasaan aneh yang mulai muncul itu.
Rasa nyaman ketika berada dalam pelukan Rama, rasa suka ketika Rama mencium bibirnya. Apakah benar ia mulai jatuh hati? Lalu bagaimana dengan janji Wilson yang akan membawanya pergi kelak?
"Mbak, sudah sampai!" ujar Pak Udin mengangetkan Catherine dari lamunannya.
"Oh iya ... mari ikut ke dalam, Pak. Istirahat di dalam." ajak Catherine sambil meraih tas nya.
"Bapak mau di sini saja deh Mbak, izin tidur sebentar boleh?"
"Nggak di dalam saja? kebetulan ada kamar tidur tamu, Pak." tawar Catherine merasa tidak enak jika sejak tadi pagi sosok itu sudah setia menantinya di dalam mobil selama ia kuliah.
"Terimakasih, Mbak. Bapak disini saja." tolak Pak Udin sopan.
"Baik kalau begitu saya ke dalam dulu, Pak." Catherine bergegas keluar dari mobil, senyumnya mengembang ketika ia tiba di depan rumah itu.
Rumah yang dulu ia tinggali itu tidak banyak yang berubah. Dengan penuh semangat ia melangkah masuk, lalu mengetuk pintu itu keras-keras.
"Sebentar!" itu suara mamanya, ia pasti terkejut dengan kedatangan Catherine yang mendadak ini.
"Siap ...,"
"Halo Ma!" sapa Catherine dengan mata berkaca-kaca. Sontak ia menghambur dalam pelukan mamanya.
"Astaga, Sayang! Kenapa nggak bilang dulu kalau mau kesini?" Nina mempererat pelukannya, air matanya menetes. "Ayo masuk!"
Catherine hanya mengangguk sambil sesegukan, kemudian ia duduk di sofa dan kembali memeluk Nina erat-erat.
"Kenapa menangis?" tanya Nina getir, air matanya sendiri menetes terus.
"Aku kangen mama." jawab Catherine lirih.
"Kamu baik-baik saja bukan?"
Catherine hanya mengangguk dengan cepat tanpa bersuara.
"Kamu bahagia?" tanya Nina yang sebenarnya tidak perlu ia tanyakan pun ia sudah tahu jawabannya.
Catherine menatap mamanya dengan linangan air mata, "Entah apa yang Catherine rasakan sekarang, yang jelas kalau bisa Catherine ingin kembali ke masa dimana Catherine tinggal di sini bersama mama papa."
"Dia menyakitimu?" Nina tampak sangat khawatir, ia menatap putrinya dari ujung kepala sampai ujung kaki.
"Tidak! Jangankan menyakiti tubuhku, berkata kasar pun ia belum pernah melakukannya, Ma." memang itu kenyataannya! Rama sekali tidak pernah menyakiti dirinya.
"Syukurlah, mama sangat takut jika ia sampai berani menyakiti mu, Sayang." tampak raut wajah Nina lega luar biasa.
"Tapi meskipun dia sebaik itu, kenapa Cat sama sekali tidak bisa membalasnya, Ma?" rintih Catherine pilu, ia merasa sangat jahat.
"Maksudnya?" Nina mengerutkan dahinya.
"Kenapa Cat tidak bisa membalas cintanya untuk Cat? Padahal ia orang yang sangat baik, dia mencintai Cat."
Nina menghela nafas panjang, "Mungkin bukan tidak bisa, tapi kamu belum mau."
Catherine menatap Nina lekat-lekat, sama seperti apa yang Rama katakan kemarin bukan? Catherine bukannya tidak bisa, namun ia belum mau. Tapi sampai kapan? Mau sampai kapan?
"Kalau itu hanya kamu yang tahu jawabnya!" kembali perkataan Rama terngiang di telinganya, benarkah hanya Catherine yang tahu?