Zella, mahasiswi baru di Universitas Swasta Indonesia telah membuat Leon, ketua BEM yang tegas dan penuh wibawa jatuh cinta pada pandangan pertama saat OSPEK Mahasiswa.
Tidak hanya itu, Levi, seorang dosen jutek, galak, dan tidak banyak bicara yang juga putra pemilik Universitas tersebut juga ternyata diam-diam menaruh hati pada Zella.
Zella yang belum menginginkan untuk berpacaran harus terus menerus mendapatkan teror dari mahasiswi yang mengidolakan Leon dan Levi.
Leon dan Levi pun terus berjuang dengan cara mereka masing-masing untuk mendapatkan hati Zella.
Siapakah diantara mereka berdua yang mampu memenangkan hati Zella?
Adakah Leon atau bahkan Levi yang memenangkannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AdindaRa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 26
Zella memandang satu persatu orang yang mengelilinginya dan menuntut jawaban dari Zella.
"Begini pah, Kak Azel, dan semuanya. Aku akan menjelaskan ceritanya secara detail nanti. Saat ini, yang diucapkan Boby memang benar." jelas Zella sambil melirik ke arah Levi.
"Pak Levi acuh banget ternyata," batin Zella sedikit kecewa melihat sikap Levi.
"Papa Green, saya Boby Narendra akan terus berjuang untuk mendapatkan hati putri anda, Grizelle Alexandria." ucap Boby dengan menundukkan badannya di depan Papa Green dan Kak Azel.
Leon mencari kesempatan untuk mendekati Zella serta menghalau Boby untuk mendekat dengan Zella.
"Sini Zella sayang, aku suapin." tawar Leon dan Zella membuka mulutnya sambil melirik ke arah Levi.
"Pak Levi benar-benar tidak memandang ke arahku sama sekali. Sebenarnya apa sih maksud Pak Levi selama ini? Berbuat baik padaku, perhatian, bahkan memberi kado yang bukan sedikit harganya." gumam Zella dalam hati sambil menikmati suapan Leon.
"Enough, Sayang. Aku kenyang." ucap Zella sedikit keras dan berharap Levi cemburu bahkan marah kepadanya.
Tapi lagi-lagi Levi masih tetap pada posisi awalnya sambil mengobrol dengan Reza dan Dion.
"Sini gantian, biar aku yang suapin." ucap Zella mengambil garpu dari tangan Leon dan mulai menyuapi Leon.
Levi yang sudah cemburu dari awal kedatangan Boby dan pengakuan Zella pun langsung pergi ke kamar mandi. Sekembalinya dari kamar mandi tampak Levi mengobrol dengan Nay di meja yang lain dan membuat Zella jadi kesal.
Zella mulai tidak menikmati acara barbeque sejak kedatangan Boby dan langsung masuk ke mansionnya. Silla pun memberi kode pada Nay untuk tetap menemani Kak Lily, dan ia pergi menyusul sahabatnya.
"Zella, boleh aku masuk?" tanya Silla dan Zella pun mempersilahkannya.
"Laki-laki tadi . . . " Silla mulai menanyakan tentang Boby pada Zella.
"Boby, cowok playboy di sekolah aku dulu. Dari kelas satu SMA udah sering banget bikin masalah sama aku." jawab Zella.
"Dia tergila-gila banget kayaknya sama kamu, Zell." ucap Silla.
"Hemmm, dia memang berkali-kali nyatain perasaannya sama aku. Tapi dia juga sering gonta ganti cewek." jelas Zella.
"Kalo kamu sama Kak Leon?" tanya Silla lagi.
Zella pun akhirnya menceritakan kejadian saat makan malam di taman bersama Leon. Ia mengaku berpacaran dengan Leon dengan harapan Boby tidak lagi mengejar Zella. Tapi ternyata, Boby masih pantang mundur jntuk mendapatlan Zella.
"Berarti Kak Levi masih ada kesempatan dong buat dapetin hati kamu?" tanya Silla.
"Maksudnya?" Zella balik bertanya.
"Yaaaah, masih ada harapan buat jadiin kamu kakak ipar aku." jawab Silla serius.
"Ya Ampuuun, La. Kamu gak liat tadi Pak Levi aja cuek gituh. Jangan ngadi-ngadi deh." ucap Zella yang masih sedikit kesal karena diacuhkan Levi.
"Tapi kamu tahu kan gimana perhatiannya Kak Levi sama kamu. Dia bela-belain ngajarin Nay kelola bisnis kamu, bahkan buat kuliah kamu aja dia bela-belain kesini." jelas Silla.
"Aku gak paham, La. Sikap dia itu gak bisa ketebak. Buktinya sampai detik ini masih lempeng aja orangnya." ucap Zella.
"Kira-kira kamu ada rasa suka, sayang, atau bahkan cinta gak sama kakak aku?" Silla terus mendesak Zella.
Zella terdiam agak lama, "Aku juga gak tau nih, La." jawab Zella yang masih bingung dengan perasaannya.
"Hemmm, yaudah kalo gitu diantara kak Levi dan Kak Leon kamu pilih siapa?" Silla masih terus mendesak Zella.
"Kalo aku pilih Pak Levi, dia acuh begitu. Kalo pilih Kak Leon juga aku gak yakin sama perasaanku." jawab Zella.
Silla pun sedikit kecewa mendengar jawaban Zella. Tak lama kemudian Nay masuk ke kamar Zella dan mereka pun tertidur.
Sedangkan di taman, para lelaki masih berkumpul menghabiskan malam minggu mereka dengan bermain game. Boby sudah pamit pulang tidak lama setelah Zella masuk ke mansion.
Reza dan Levi bermain catur sedangkan Leon, Azel, Dion dan Papa Green bermain kartu.
"Leon, apa benar Zella berpacaran denganmu?" tanya papa Green.
"Maunya sih begitu, Papa Green." jawab Leon yang kemudian bercerita tentang Zella yang mengakui Leon sebagai pacarnya saat di depan Boby.
"Kami masih bersaing untuk mendapatkan hati Zella, Papa Green." terang Levi dan membuat semua yang ada di taman tertawa.
"Hebat bener Levi, menahan rasa cemburu dengan makan barbeque." ledek Dion yang memperhatikan Levi dari awal.
Papa Green dan Azel sekarang makin tenang melepaskan Zella di Bandung nantinya. Hingga tengah malam akhirnya para Lelaki beristirahat di ruang yang sudah disediakan papa Green.
***
Pagi harinya, Levi nampak sudah siap memakai sepatunya untuk lari pagi. Zella juga sudah siap mengambil sepedanya di garasi.
"Pak Levi mau kemana?" tanya Zella sambil menuntun sepedanya.
"Lari pagi aja sekitar sini." jawab Levi. "Silla sama Nay belum bangun?" tanya Levi kemudian yang melihat Zella sendirian.
"Udah tadi, trus tidur lagi." jawab Zella. "Yang lain masih tidur ya, Pak?" tanya Zella dan Levi mengangguk.
"Yap, termasuk pacar kamu." ucap Levi dan langsung berlari meninggalkan Zella.
Zella memutar bola matanya malas dan langsung mengayuh sepedanya pelan. "Lah, Pak Levi cepet amat larinya ya. Smape gak kelihatan tadi belok kemana." gumam Zella dan terus mengayuh sepedanya.
Levi yang bersembunyi di tembok samping mansion Zella pun kembali berlari mengikuti kemana Zella pergi. Baru setengah jam Zella mengayuh sepedanya, ia menepikan sepedanya didepan kedai es.
Zella langsung memesan es dan meminumnya sambil duduk meluruskan kakinya didekat sepedanya.
"Kalo berolahraga pagi, dilarang meminum air es karena tidak cepat diserap tubuh, dan justru akan membuat kamu merasa semakin haus. Kamu akan lebih mudah terserang dehidrasi dan rasa kembung jika seperti ini." jelas Levi panjang lebar dan langsung mengambil es yang dipegang oleh Zella dan membuangnya.
Levi langsung mengodorkan botol minumnya pada Zella dan Zella langsung meneguknya.
"Pak Levi ngikutin saya ya?" tanya Zella yang sedikit terkejut dengan munculnya Levi tiba-tiba.
"Heloooo, yang duluan pergi itu saya atau kamu?" tanya Levi.
"Yaaa, Pak Levi sih." jawab Zella.
"Mana mungkin saya ngikutin kamu, yang udah jelas jadi pacar orang." jelas Levi dan Zella pun hanya terdiam.
Levi langsung mengambil sepeda Zella dan menaikinya. "Kamu naik disini," ucap Levi menunjuk ke arah besi tengah sepeda Zella. "Kita akan pulang. Kamu sudah lelah bukan?" tanya Levi.
"Tapi Pak, . . . " Zella ingin menolak ajakan Levi karena tidak dapat membayangkan posisinya yang berada sangat dekat dengan Levi.
"Saya gak akan bertindak macam-macam dengan pacar orang." ucap Levi yang sedikit faham dengan apa yang Zella fikirkan.
Tanpa fikir panjang, Zella pun menuruti apa kata Levi. Kini keduanya sudah sangat dekat di atas sepeda Zella.
"Pak Levi," panggil Zella dan Levi hanya menjawab dengan deheman.
"Saya tidak berpacaran dengan Leon." jelas Zella yang sedikit gugup dengan posisinya saat ini.
"Saya sudah tahu." jawab Levi santai. Dan Zella berbalik menghadap ke arah Levi hingga membuat Levi menghentikan kayuhan sepedanya.
Zella memandang Levi kesal. "Kalo sudah tahu kenapa dari tadi ngeledek terus?" tanya Zella kesal.
"Maaf." ucap Pak Levi singkat dan membuat Zella makin kesal.
"Jelaskan padaku, apa maksud Pak Levi bersikap baik padaku selama ini?" tanya Zella menuntut penjelasan.
Levi diam dan terus menatap Zella. "Haruskah aku ungkapkan sekarang jika aku mencintaimu, Zella?" gumam Levi dalam hati.
"Nothing, Zella. Aku tidak bermaksud apa-apa." jawab Levi dan membuat Zella membuang mukanya.
Levi kembali mengayuh sepedanya menuju ke mansion Zella