Ayunda Zhia Wijaya yang baru saja kehilangan calon suaminya, sedang mencoba untuk bangkit dari keterpurukan.
Kehilangan demi kehilangan yang dialami oleh Ayunda meninggalkan bekas trauma yang mendalam di diri gadis itu, hingga Ayunda selalu dilanda keraguan untuk menjalin sebuah hubungan.
Namun takdir malah mempertemukan Ayunda dengan Bennedic Rainer, seorang pemuda tanggung yang jiwa mudanya begitu berkobar.
Ben yang merupakan sepupu dari boss Ayunda di kantor, kerap menggoda Ayunda dan selalu kepo dengan hidup Ayunda.
Sekuat apapun Ayunda menghindari Ben, pemuda itu malah semakin mengejar Ayunda dengan gila.
Mampukah Ben yang juga masih labil menyembuhkan rasa trauma yang dialami oleh Ayunda dan memberikan kebahagiaan yang sesungguhnya untuk wanita yang usianya lebih tua dari Ben tersebut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bundew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
HUJAN
Ayunda mengusap batu nisan Opa Ronny sekali lagi sebelum bangkit berdiri. Ben dengan sigap, membantu Ayunda untuk bangkit berdiri dan mereka berdua segera berjalan beriringan meninggalkan gundukan tanah tempat keluarga besar Ayunda di makamkan.
Setelah menyusuri beberapa blok pemakaman, Ayunda menghentikan langkahnya dan menatap pada gundukan tanah lain berselimutkan rumput warna hijau yang tentu saja Ben juga tahu itu makam siapa.
Meskipun Ayunda tak mendekat atau bersimpuh, atau meletakkan bunga di makam tersebut, namun tak bisa dipungkiri kalau tatapan mata Ayunda pada makam tersebut menyiratkan kerinduan yang amat sangat mendalam.
"Ay," panggil Ben lirih.
Ayunda hanya menggeleng samar dan segera melanjutkan langkahnya menuju ke gerbang utama kompleks pemakaman. Ben hanya mengekori istrinya tersebut dan tak berucap sepatah katapun.
"Jadi jalan-jalan?" Tanya Ben meminta persetujuan Ayunda.
"Terserah! Kan tadi kamu yang ngajak," jawab Ayunda seraya mengendikkan bahunya.
Ben segera mengambil helm Ayunda dari atas motor, lalu memakaikannya ke kepala sang istri.
"Aku bisa sendiri," protes Ayunda yang sama sekali tak digubris oleh Ben.
Selesai memakaikan helm pada Ayunda, Ben ganti memakai helmny sendiri, lalu naik ke atas motor sport-nya.
Sepertinya Ben sengaja menjemput Ayunda memakai motor ini tadi, agar saat Ayunda menbonceng, tubuh mereka bisa saling menempel seperti perangko.
Benar-benar modus ala Ben!
Masih bagus Ayunda memakai celana panjang tadi pagi saat ke kantor.
Bayangkan kalau Ayunda memakai rok seperti sebelumnya.
Kan ribet!
"Ay!" Tegur Ben yang langsung membuat Ayunda tersentak kaget.
"Jangan bengong! Cepat naik!" Titah Ben seraya memberi kode pada Ayunda agar segera naik ke atas motornya.
Ayunda hanya menghela nafas dan segera naik ke atas motor besar Ben. Dan sebelum Ben menarik lengan Ayunda agar berpegangan dan melingkar di pinggangnya, Ayunda memilih untuk langsung melingkarkan lengannya di pinggang Ben saja dan menyandarkan kepalanya di punggung Ben yang bidang.
"Eh, udah pinter," gumam Ben seraya nyengir penuh kemenangan.
Ayunda hanya memutar bola matanya dan semakin mengeratkan pegangannya pada Ben karena merasakan udara sore ini yang dingin tak seperti biasanya.
Dan punggung Ben rasanya hangat ternyata.
Motor Ben segera melaju meninggalkan kompleks pemakaman dan terus melaju membelah jalanan kota yang mulai diterangi oleh lampu-lampu di kiri dan kanan jalan yang menciptakan suasana temaram.
Ben dan Ayunda masih saling diam, dan Ayunda tetap menyandarkan kepalanya di punggung Ben yang khusyuk mengemudikan motor besarnya.
Ayunda juga tidak tahu Ben akan membawanya kemana.
"Ay!" Tangan kiri Ben mengusap lengan Ayunda yang masih melingkar di pinggangnya.
"Hmmm?" Ayunda bergumam di punggung Ben
"Mau makan dulu apa jalan-jalan dulu? Kamu udah lapar belum?" Tanya Ben setengah berteriak karena mengimbangi suara angin yang menampar-nampar wajah mereka.
"Terserah kamu saja!' Jawab Ayunda ikut-ikutan berteriak.
"Kita makan dulu, ya!" Ben membelokkan motornya ke sebuah warung makan pinggir jalan yang menyajikan menu serba lalapan.
"Makan disini?" Tanya Ayunda setelah Ben memarkirkan motornya dan mereka berdua turun dari atas motor.
"Kenapa? Kamu nggak doyan? Kita bisa pindah ke tempat lain kalau kamu nggak doyan," cecar Ben dengan nada khawatir yang lebay.
"Bukankah seharusnya aku yang tanya kayak gitu sama kamu? Kan biasanya kamu makannya di restorant bintang lima. Kok tumben makan di warung kaki lima pinggir jalan? Emang doyan?" Ayunda balik bertanya pada Ben dan pemuda itu sontak tergelak
"Doyanlah! Asal makanannya dimasak matang aku doyan kok! Aku kan pemakan segala," jawab Ben di sela-sela gelak tawanya.
"Pemakan segala? Kok kedengarannya mengerikan, ya!" Gumam Ayunda seraya menggaruk tengkuknya.
"Aku juga bisa makan kamu kalau kamu udah siap dan nggak sedih lagi," bisik Ben yang sontak membuat bola mata Ayunda melebar dan wajahnya bersemu merah.
"Duduk, Ayang!" Ben menarik tubuh Ayunda dan menyuruhnya untuk duduk di bangku plastik warna hijau yang ada di sebelahnya.
"Mau minum apa? Es teh, es jeruk, atau yang anget-anget?" Tawar Ben to the point sesaat setelah Ayunda duduk.
"Es jeruk aja," jawab Ayunda cepat.
"Baiklah! Makannya mau yang mana?" Ben menunjukkan gambar menu di warung makan serba lalapan tersebut pada Ayunda.
"Kamu mau yang mana?" Ayunda malah balik bertanya pada Ben.
Pemuda itu tampak berpikir sebentar.
"Lele goreng aja kayaknya. Kau mau samaan juga?" Jawab Ben yang kembai bertanya menunyang akan dioesan oleh Ayunda.
Namun istrinya tersebut menggeleng.
"Aku ayam goreng aja," ujar Ayunda yang langsung membuat Ben mengangguk. Ben segera menyebutkan pesanan mereka berdua pada sang penjual, lalu menunggu pesanan disiapkan.
"Nanti langsung pulang aja, gimana? Cuacanya mendung. Takut kehujanan di jalan," usul Ayunda membuka percakapan.
"Nggak bakal hujan!" Sergah Ben sok tahu.
"Tapi mendungnya gelap, Ben!" Tukas Ayunda setelah mengintip keluar tenda warung makan.
"Udah! Percaya sama aku! Malam ini nggak bakal hujan! Kita akan jalan-jalan sampai malam!" Ben merangkul Ayunda da tetap berucap dengan keras kepala.
Baiklah, terserah!
Ayunda paling malas berdebat, apalagi dengan Ben bocah yang keras kepala.
Pesanan Ben dan Ayunda sudah matang. Pasangan suami istri tersebut segera menikmati makanan mereka sambil sesekali mengobrol ringan.
****
Jam menunjukkan tepat pukul tujuh, saat Ben dan Ayunda keluar dari warung tenda dengan perut yang sudah terasa kenyang.
Ayunda menatap sekali lagi pada langit malam yang diselimuti mendung tebal warna hitam. Angin yang berhembus juga semakin dingin menandakan akan turun hujan sebentar lagi.
"Ben, ayo kita pulang saja!" Ajak Ayunda sekali lagi sedikit memaksa pada suaminya yang keras kepala tersebut.
"Udah! Tempatnya dekat kok! Sebentar lagi sampai. Malam ini nggak bakal hujan!" Jawab Ben yang tetap keras kepala.
"Sebenarnya kita mau kemana, sih?" Tanya Ayunda penasaran.
"Nanti kamu juga tahu!" Ben sudah selesai memakaikan helm ke kepala Ayunda. Pemida itu segera naik ke atas motornya, dan Ayunda juga menyusul naik.
Ben baru melajukan motornya beberapa meter, saat hujan deras tiba-tiba datang dari arah depan dan membuat Ben dan Ayunda basah kuyup seketika.
"Ben!" Pekik Ayunda seraya menyembunyikan wajanua di punggung Ben.
Ben dengan gesit membelokkan motornya ke sebuah ruko pinggir jalan untuk berteduh bersama pengendara motor lain.
"Ah!" Ben berdecak kesal sesaat setelah turun dari motor.
"Kan aku sudah bilang!" Omel Ayunda pada suami bocahnya tersebut.
"Iya, maaf! Tapi tadi kalau pulang juga bakal kehujanan di jalan," jawab Ben yang masih saja beralasan dan mencari pembenaran.
Dasar Ben!
Ben merangkul Ayunda yang sepertinya sedikit kedinginan. Hujan masih mengguyur meskipun hanya tinggal gerimis. Namun kalau Ben dan Ayunda tetap nekat naik motor dan menerjang gerimis, mereka pasti tetap akan basah kuyup saat sampai di rumah. Sementara malam semakin larut dan Ben tidak bisa terus-terusan mengajak Ayunda berteduh seperti ini.
Ben mengedarkan pandangannya ke sekeliling tempat mereka berteduh, saat pemuda itu melihat papan reklame sebuah hotel yang hanya berjarak sekitar dua ratus meter dari tempat Ben dan Ayunda berteduh.
Sepertinya tidak masalah, Ben dan Ayunda menginap di hotel malam ini.
Toh mereka juga sudah sah menjadi suami istri.
"Ay, ayo naik!" Ben segera mengajak Ayunda naik ke atas motor.
"Masih hujan, Ben! Kita bisa basah kuyup kalau nekat," Tolak Ayunda memberikan alasan.
"Dekat, kok! Cuma dua ratus meter."
"Cepat, sebelum hujannya deras lagi!" Perintah Ben memaksa Ayunda agar bergegas.
"Dua ratus meter? Kita mau kemana memangnya?" Tanya Ayunda bingung.
"Menginap di hotel," jawab Ben dengan senyuman tanpa dosa.
"Apa?"
.
.
.
Next belah duren, thor?
Nggak tahu!
Othor mau belah pepaya aja 😂
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.
biar agak hangat, suhu AC dinaikkan.