"Kalau memang Mas Dani serius, Mas bisa langsung bilang ke orang tua saya." Ujar Laras.
"Baiklah kalau itu yang kamu inginkan, malam ini juga aku akan bilang ke orang tua kamu. Dan kalau orang tua kamu setuju, maka kamu juga harus setuju untuk menikah denganku." Jawab Dani santai.
Larasati Dewi Arumsari (20) gadis muda yang bekerja sebagai pengasuh keponakan dari Ramdani Aditya Persada (31) tiba-tiba di lamar oleh laki-laki itu.
Entah apa yang Dani rencanakan sebenarnya. Laki-laki dingin itu sebenarnya memiliki prinsip untuk tidak lagi jatuh cinta apalagi sampai menikah. Lalu bagaimana bisa dia berubah pikiran setelah Maminya berencana menjodohkan dia dengan pengasuh keponakannya itu?
Akankah Dani akan jatuh cinta kepada Laras setelah perjuangan gadis itu? Atau justru Laras yang akan menyerah dan berpaling kepada seseorang yang selama ini mencintai dirinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anggi Dwi Febriana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terciduk
Hari ini pekerjaan Dani lebih banyak dari biasanya di karenakan pekerjaan Danisa di alihkan semua kepadanya. Mau tidak mau Dani harus mengerjakan pekerjaan milik kakaknya itu.
Dengan mengendarai mobilnya sendiri, Dani berusaha tetap tenang dengan kemacetan sore ini. Sebenarnya sudah menjadi hal yang sangat wajar kalau di jam pulang kantor seperti ini jalanan menjadi macet. Hanya saja karena mungkin Dani terlalu lelah setelah seharian bekerja membuatnya merasa sedikit muak dengan kondisi ini.
Untung saja kemacetan tidak berlangsung terlalu lama, Dani bisa menjalankan mobilnya lagi untuk bisa segera sampai rumah. Bayangan dinginnya air menyiram tubuhnya membuat otak Dani sedikit lebih segar.
Sesampainya di rumah tanpa repot-repot memarkirkan mobilnya terlebih dahulu Dani langsung keluar dari mobil meninggalkan mobilnya tepat di depan rumah.
Biarlah Pak Asep yang memarkirkannya nanti, Dani hanya ingin cepat-cepat mandi.
Tidak seperti biasa, keadaan rumah menjadi sepi karena tidak ada suara celotehan dari Lala karena gadis kecil itu ikut ke luar kota bersama orang tuanya.
"Laras...." Dani memanggil pengasuh dari keponakannya itu.
Bukannya Laras yang menyahut tapi Mbok Ijah.
"Laras lagi pulang ke rumahnya Mas Dani, ada apa? Mas Dani butuh sesuatu?" Tanya Mbok Ijah kepada Dani.
"Pulang ke rumahnya?" Tanya Dani memastikan.
"Iya, kan Lala ikut Mbak Danisa sama Mas Dimas, ya udah Laras di liburin, kan tugas Laras ngasuh Lala, kalau enggak ada Lala siapa yang mau di asuh kan." Ujar Mbok Ijah kepada Dani.
Mendengar ucapan Mbok Ijah Dani mengangguk paham.
"Ya udah kalau gitu aku mandi dulu ya Mbok, Oo iya tolong minta embak buatin kopi ya, anter ke kamar aku aja." Ujar Dani berpesan kepada Mbok Ijah sebelum dia benar-benar pergi ke kamarnya.
"Baik, di tunggu ya kopinya."
Saat Dani melewati ruang keluarga terlihat Mami Irene sedang membaca majalah fashionnya. Sebenarnya Dani tidak berniat untuk menyapa Maminya itu, tapi Mami Irene justru memanggilnya.
"Dani.... "
"Heemm... Kenapa Mi?" Dani berhenti tepat di depan anak tangga.
"Pulang-pulang bukannya nyapa Mami malah main nyelonong aja, enggak sopan tau." Ujar Mami Irene kepada Dani.
"Heemm, jadi Mami mau marah-marah doang nih manggil aku?" Bukannya meminta maaf Dani malah cuek saja.
"Ya enggak." Jawab Mami Irene. "Tadi Mami denger kamu manggil Laras, kenapa?" Tanya Mami Irene kepada Dani.
"Enggak kenapa-napa, mau minta di bikinin kopi aja." Jawab Dani santai.
"Laras lagi pulang ke rumahnya sampai 3 hari ke depan, mungkin baru kesini minggu sore." Tanpa Dani bertanya Mami Irene menjelaskan kepada putranya itu.
"Ooo, ya sudah. Kalau enggak ada pembahasan yang lebih penting aku mau ke kamar dulu mandi." Ujar Dani cuek.
Dari wajahnya dia sama sekali tidak tertarik dengan pembahasan Mami Irene mengenai Laras.
"Kamu jangan kangen sama Laras." Ujar Mami Irene tiba-tiba. Ada senyum jahil yang tergambar di bibirnya.
Mendengar ucapan Mami Irene sebenarnya Dani sedikit terkejut tapi dia berusaha untuk menutupinya. Sebenarnya maksud Mami Irene mengatakan itu apa?
"Kangen? Nggak usah ngaco deh." Jawab Dani santai.
"Siapa yang ngaco sih, Mami kan cuma ngomong. Kamu jangan kangen di tinggal Laras pulang." Ujar Mami Irene seraya tertawa kecil.
"Itu namanya ngaco, udah ah aku mau mandi."
Namun sebelum Dani benar-benar pergi ke kamarnya Mami Irene mengucapkan sesuatu yang membuatnya menghentikan langkahnya lagi.
"Tadi malem kayaknya Mami liat kamu lagi makan berdua deh sama Laras. Mami sih setuju aja ya kalau emang kamu suka sama Laras. Toh Laras anaknya baik, sopan, cantik, dan enggak neko-neko lagi." Ujar Mami Irene kepada Dani.
Ya, tadi malam Mami Irene lah yang melihat Dani dan Laras yang sedang berdua di dapur. Setelah melihat itu Mami Irene berpikir bahwa tidak ada salahnya jika Laras benar-benar menjadi menantunya. Toh dia tidak pernah mempermasalahkan mengenai status seseorang. Kalau masalah pendidikan Laras yang hanya lulusan SMA Mami Irene juga tidak keberatan. Dan kalau memang Laras mau dia bisa menguliahkan Laras di Universitas manapun yang Laras mau.
"Enggak usah mikir yang macem-macem, Mami tau sendiri kalau aku enggak mau nikah. Apalagi Laras itu kan pengasuh keponakan aku sendiri, mana mau aku nikah sama pengasuh. Lagian tadi malem itu aku cuma laper, dan kebetulan ada Laras di dapur. Jadi apa salahnya kalau aku minta tolong dia buat masakin aku." Jawab Dani santai. Ucapan Mami Irene ini terdengar tidak masuk akal untuk Dani. Apa tadi? Tidak ada salahnya menjadikan Laras sebagai menantu keluarga Persada? Heyy tentu saja itu sudah sangat salah.
"Minta tolong dimasakin sekaligus minta di temenin makan. Ya udah sekalian aja di jadiin istri biar Laras bisa masakin sama nemenin kamu makan setiap hari." Ujar Mami Irene menggoda Dani. "Lagian buat Mami enggak masalah meskipun Laras itu pengasuh." Tambah Mami Irene.
"Ya buat Mami emang enggak masalah, tapi buat aku masalah." Jawab Dani.
Sebenarnya maksud Dani bukan untuk merendahkan posisi Laras sebagai pengasuh. Dani hanya tidak mau disuruh untuk menikah. Toh Dani memang tidak memiliki perasaan apapun kepada Laras.
"Oke, tapi kalau memang Laras nantinya adalah jodoh kamu, kamu bisa apa kan." Ujar Mami Irene santai.
Saat ini di kepalanya sedang memikirkan cara agar bisa membuat Dani menikah, dengan Laras atau siapapun itu, Mami Irene hanya ingin Dani menikah. Dan untuk saat ini kandidat utama untuk menjadi istri Dani dia jatuhkan kepada Laras.
Mendengar ucapan Mami Irene Dani berlalu begitu saja tidak ambil pusing. Baginya ucapan Mami Irene hanyalah omong kosong belaka.
Biarkan saja Mami Irene mau bagaimana dan dia akan tetap dengan keputusannya untuk tidak menikah.
Laras? Bagaimana bisa Dani menikah dengan gadis yang hanya bisa menunduk jika diajak berbicara. Kalau pun Dani menikah nantinya, dia ingin memiliki istri yang bisa mendebatnya juga. Dani tidak tertarik memiliki istri yang terlalu penurut.
Lagi pula usia dirinya dan Laras sepertinya jauh. Yang ada nanti orang-orang mengira kalau Dani justru menikahi keponakannya sendiri.
Sesampainya di kamar Dani langsung ke kamar mandi untuk menyegarkan tubuhnya yang terasa lengket saat ini. Guyuran air yang dingin membuat otot di tubuhnya menjadi terasa rileks.
Mumpung sedang tidak ada Lala, mungkin dia akan pergi ke club untuk menjernihkan kepalanya. Mengurus perusahaan membuat kepalanya terasa ingin pecah. Lagipula sudah lama dia tidak pergi ke tempat menyenangkan itu.
"Baiklah, malam ini mari kita pergi untuk bersenang-senang." Ujar Dani berbicara dengan dirinya sendiri.