"Berhentilah berpikir terlalu tinggi. Dari dulu sampai sekarang aku tidak pernah memiliki perasaan apapun padamu, " ~ Ardiofael Sato
"Aku bermimpi untuk menjadi istrimu dimasa depan, " ~ Keysia Holand
===
Sungguh hal yang sangat aneh bisa memiliki perasaan ini sejak lama. Maka sudah seharusnya sejak awal harus dihapus. Ketika harus menghapus perasaan, ada dua orang anak kecil yang hadir karna sebuah kesalahan.
Hal yang paling aneh, ketika tidak tau bersama siapa melakukannya sampai dua sikembar kecil mewarnai warna hitam itu jauh lebih terang.
===
Kopi itu pahat
Senja itu sempit
Rindu itu sakit
#RAS ❤
Salam dari Lis'R Story
💏💏💏
Ikutin keseruan Keysia Holand dan Ardiofael Sato dalam cerita my secret love
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lilis Seryani Pasaribu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Introgasi
Suasana didalam ruangan itu terasa mengeluarkan atmosfir yang sangat aneh. Semua mata tertuju pada seorang lelaki yang kini bahkan tak berani mengangkat kepalanya melihat tatapan itu. Bulu kuduknya terasa berdiri disetiap kulitnya, ada aroma mengancam. Bahkan dia pun sangat sulit untuk menelan air liurnya sendiri.
"Kau!" suara itu terdengar kuat seperti bentakan, namun ada seorang wanita paruh baya yang menenangkan pria paruh baya itu dengan mengelus lengannya.
Pria paruh baya itu tampak menarik napas dalam-dalam, mencoba untuk tidak emosi dengan situasi ini. Daffa-ya, lelaki itu yang tengah berusaha menahan emosi terhadap anak kebanggaanya. Siapalagi kalo bukan Ardiofael Sato.
"Dio, jelasin semua." putusnya
Dio mengangkat kepala dan melihat keempat orang tua itu menatapnya tak sabar, dia merinding mendapat tatapan mengerikan itu.
"Seperti yang aku katakan sebelumnya sama papa dan mama. Malam itu aku--" Dave meletakkan gelasnya dengan kuat di meja kaca itu sehingga menimbulkan suara.
"Jangan tersedat, ceritakan semua tanpa ditambahi ataupun dikurangi." ancam Dave dengan sorot mata tajam
"Baiklah, tapi please kalian jangan menatapku seperti aku pelaku dari semua ini,"
"Lantas apakah aku yang akan kamu jadikan sebagai pelaku?" potong Daffa
"Ya, enggak juga pa."
"Dio, kamu pelakunya disini. Tidak ada manusia lain yang bisa menanggungnya," sarkas Rara ikut kesal.
"Sayang, jelasin. Mama ingin mendengarnya lebih jelas," tutur Lisa menekankan setiap kata yang dia lontarkan.
"Iya baiklah. Jangan ada yang potong," belum selesai ia mengatakan sorot tajam keempatnya membuat nyalinya ciut kembali.
"Papa tidak ada waktu untuk menunggu omong kosong yang kamu rangkai dalam otak kamu. Cepat selesaikan dan ceritakan sedetail mungkin." tegas Daffa
Dio menarik napas dalam dan mulai menjelaskannya," Jadi malam dimana ulangtahun James berlangsung, aku bertemu dengan mommy anak-anak. Awalnya, dia hanya dititip James padaku karna James akan berdansa dengan kekasihnya. Tak lama Mark datang membawa minum padanya, dan aku gk tau kalo minum itu diberinya obat-- ya kalian mengerti maksudku. Dan Mark hendak melakukannya, namun aku halau dan akhirnya wanita itu menarikku dan yahh terjadilah--" jelasnya canggung.
"Siapa wanita yang kamu maksud? Kenapa tidak membawanya kemari?" tanya Dave yang mulai mengerti alurnya.
"Ehm-- itu, ya..."
Daffa memicingkan matanya melihat Dio. Dio tak harusnya menutupi semuanya dari Dave karna pada akhirnya akan ketahuan juga. Daffa menghela napas kasar karna tak kunjung juga anaknya itu menjawab.
"Keysia," jawab Daffa sedikit berat
"Keysia? Ehm, dari keluarga mana?" Dio memicingkan mata dengan pertanyaan yang dilontarkan Dave, apa mungkin lelaki itu lupa dengan keponakannya sendiri, Ck... memalukan sekali!
"Kamu tak mengenalnya Dave?" tanya Lisa
"Keysia? Sangat banyak yang memiliki nama itu. Tentu saja untuk mengenalnya, aku harus tau dia dari keluarga mana." Rara ikut mengangguk tanda setuju dengan pernyataan suaminya itu.
"Keysia Holand," Jawab Dio gugup
"Keysia Holand? Sepertinya tidak asing." Seketika itu juga Dave memukul meja dengan kuat membuat orang yang berada diruangan itu terkejut. Dio merasakan air menetes dari setiap sudut rambutnya.
"Kamu gila! Keysia yang kamu maksud keponakan ku?" tanya Dave menggebu dan Dio hanya menggangguk
Dave menarik kerah baju Dio dan melayangkan tinjuannya pada Dio, membuat sudut bibir lelaki itu mengeluarkan darah segar. Daffa dan Lisa yang melihat itu hanya diam sementara Rara berusaha menahan suaminya.
"Kurang aj*r kamu Dio. Kamu tidak menghargai Uncle disini. Bagaimana bisa kamu melakukan itu pada keponakanku. Kamu tahu betapa stressnya kak Sila menunggu kabar Keysia selama beberapa tahun ini, ternyata anak-anak itu yang menjadi alasan dia melarikan diri. Kamu--" kepalan tangan Dave mengantung diudara kala mendengar suara teriakan Rara dan Lisa.
"Dave, aku mohon udah. Jangan sakiti Dio lagi," mohon Lisa seraya memeluk tubuh putranya.
"Sayang, udah. Kamu dengerin Dio dulu," tahan Rara
Pria paruh baya itu menghela napas dan melepaskan cengkramannya pada baju yang Dio kenakan. Dia tampk menahan emosinya.
"Jelaskan lebih detail lagi," ucap Dave yang kembali duduk
"Gitu uncle, itu mengapa aku beberapa tahun ini selalu mencari Keysia. Dia melarikan diri dariku,"
"Huft,.. sudahlah emosiku sedang memuncak. Dimana anak itu sekarang?"
"Di Itali."
"Kenapa kamu tidak membawanya kemari?" sorot mata itu tajam lagi
"Dia berkata sibuk dan tidak ada waktu,"
"Kamu gila? Bagaimana bisa kamu memisahkan dia dari anak-anaknya. Uncle gak mau tau, kamu sekarang terbang kesana jemput dia kemari."
"Tapi--"
"Jangan banyak tapi. Cepat lakukan," putus Dave tak terbantahkan.
"Pergi, jemput istrimu Dio. Jika saja obasanmu tau apa yang kamu lakukan, dia pasti kecewa berat padamu." tambah Daffa yang masih duduk tenang.
"Anak-anak?"
"Ada Naynay nya yang ngurus disini. Pergilah,"
"Rain!" teriak Daffa
"Ya, Tuan?"
"Panggil Arley kemari." perintahnya.
Tak berapa lama, Arley datang menghadap dan terkejut ketika melihat bibir Dio yang mengeluarkan darah.
Sepertinya, Fael kena hantam!
"Ya, Tuan... ada yang bisa saya bantu?"
"Kamu pesan sekarang tiket penerbangan pertama ke Italia, dan bawa anak ini pergi menjemput istrinya."
"Baik, Tuan."
Dio menunduk pamit ijin kepada keempat orang dewasa itu. Sesampai diluar Arley tertawa mengejek melihat Dio yang merasa kesakitan.
"Gimana?"
"Apanya?" ketus Dio
"Haha... sudah dari awal gua bilang lo bawa Key, tapi lo nya bandel. Ehm, bukan tapi gengsi lo yang terlalu tinggi. Haha, sekarang lo balik lagi deh baru juga tiba dua jam yang lalu," ejek Arley senang.
"Diam lo,"
Didalam ruangan masih terasa suasana yang panas tadi, Dave masih tersulut emosi sementara Daffa diam tak ada niat membuka pembiacaraan. Wajar jika Dave marah melihat anak bandel itu.
"Dave maafin Dio ya. Kan kamu juga tau kalo dia usaha cari Keysia dan dia baru bisa menemukannya. Bukannya dia gk bertanggung jawab, dia bahkan sampai stress mencari Key dan anak-anaknya."mohon Lisa
"Sudahlah, Lis. Ini bukan jadi masalah, anak itu harus diberi peringatan." Daffa menaikkan sebelah alis matanya mendengar ucapan Dave. Kecemburuannya mode on.
"Apa lo bilang? Lis? Hello, sejak kapan Tuan Dave yang terhormat begitu santai berbicara dengan istri saya?"
"Sayang udahlah," tahan Lisa
"No, dia gak bisa manggil kamu kayak gitu." bantah Daffa
Bodh aku. Kenapa gk ingat ni orang kadar cemburunya gak berkurang. Padahal sudah tua dan punya cucu. Mengerikan sekali! *batin Dave.
"Sorry Daf, gua tadi hanya terbawa emosi sedikit."
"Kali ini lo gua ampuni, berhubung anak gua bersalah sama keponakan lo. Tapi tidak untuk kesekian kalinya Dave, gua akan motong lidah lo." ancam Daffa
"Cemburu lo akut banget Daf," ejek Rara
"Heh! Wajar gua cemburuin istri gua. Bukan istri orang," Lisa menggeleng kepala mendengar ucapan Daffa.
Ini suamiku masih posesif!
"Sabar-sabar ya Lis punya suami kayak dia," ucap Rara yang sebenarnya mengejek Daffa.
"Apa maksud lo?" geram Daffa
"Udah sayang, kamu udah tua. Nanti asam urat kambuh," ucap Lisa menahan
"Sayang aku belum asam urat loh," ucap Daffa manja
Dave dan Rara geleng-geleng kepala melihat Daffa yang sekarang bergelayut manja pada Lisa. Sementara, Lisa menundukkan kepalanya malu melihat kelakuan suaminya.
"Sudah, kami akan menginap disini. Rain, tolong siapkan kamar tamu." suruh Dave
"Hem, seenaknya ngatur pengawal orang. Cih," decih Daffa padahal Dave mengangkat bahunya acuh tak acuh. Kemudian Dave pamit ijin menuju kamar bersama Rara. Lisa menahan emosi dan memukul kepala Daffa dan berlalu pergi meninggalkan Daffa yang menjerit kesakitan karna terantuk pinggiran sofa.
Lis'R Story