NovelToon NovelToon
Pengantin Pengganti

Pengantin Pengganti

Status: tamat
Genre:Contest / Perjodohan / Nikahkontrak / Cintamanis / Patahhati / Vampire / Romantis / Tamat
Popularitas:561.5k
Nilai: 5
Nama Author: Arik Tri Buana

Kinara pergi ke Korea untuk menemui ayahnya tapi tiba-tiba dia dipaksa untuk menjadi pengantin pengganti oleh saudara tirinya, Winter. Karena Winter sedang sakit.

Dan penderitaan Kinara benar-benar dimulai saat menikahi Sian. Pria itu mengira bahwa Kinara adalah Winter...

Bagaimana nasib Kinara selanjutnya?
Update seminggu sekali

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arik Tri Buana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

25. Dunia Berputar di Sekitarmu

“Hei hei hei!”

Kinara tersentak dan mengangkat wajah menatap Minji yang duduk di hadapannya. ”Apa?”

”Kau melamun lagi?” tanya Minji dengan nada menuduh.

”Tidak.”

Minji mengamati Kinara dengan tajam. ”Kau tidak mendengar kata-kataku tadi, bukan?”

Kinara mengabaikan pertanyaannya. ”Apa yang kamu kata kan tadi?” ia balas bertanya.

“Lupakan! Pergi sepuluh menit lagi. Aku akan ke toilet.”

Kinara menatap pintu yang tertutup namun menit berikutnya pintu itu kembali terbuka. Pintu itu menampilkan sosok wanita cantik yang begitu elegan.

“Kamu yang bernama Winter?”

“Ya.”

“Kenapa mencuri tempatku? Pemeran wanita utama itu dibuat untukku! Jangan mencurinya dariku.”

“Aku tidak mencurinya. Produser yang meminta padaku.”

“Benarkah? Apa yang kamu tawarkan pada produser? Tubuhmu?”

“Jaga bicaramu. Aku bersikap sopan padamu karena kamu adalah senior. Tapi jika kamu melewati batas, jangan salahkan aku.”

“Jika kamu tahu aku adalah seniormu maka kamu jangan bersikap sombong. Aku katakan Winter, kamu memang cantik tapi kamu hanya pajangan.”

Kinara ingin mengatakan sesuatu namun salah satu kru masuk ke ruangan dan meminta mereka untuk keluar.

Drama Spring Time adalah drama yang ditunggu-tunggu karena bertabur bintang kecuali ‘Winter’ yang hanya artis pendatang baru.

Pada hari pertama ada pembukaan sederhana dilanjutkan pembacaan naskah. Dalam drama pemeran utama wanita dan pemeran utama pria banyak melakukan interaksi namun Kinara tidak tahu itu siapa.

“Lin, kamu akhirnya datang.”

Kinara langsung menoleh dan melihat siapa yang datang. Pria tampan yang sedang berjalan sedang dikerubungi oleh orang-orang.

Kinara tetap duduk meskipun orang-orang berdiri. Di tengah diskusi. Produser yang duduk di samping Kinara langsung menoleh dan menatap Kinara.

“Aku hampir lupa, semua orang yang akan bekerja di sini harus akrab satu dengan yang lainnya. Sekarang aku akan memperkenalkan pemeran utama wanita.” Produser itu menatap Kinara.

“Aku Winter Kim. Aku berharap kita bisa bekerja sama dengan baik. Aku mohon bimbingannya dari kalian semua. Terima kasih.”

“Winter pasti sangat beruntung bisa bermain dengan Lin meskipun seorang pemula,” ucap Ruhi.

Ucapan Ruhi bukanlah untuk menyanjungnya namun menyeret orang lain untuk beropini. Sebagai pendatang baru Kinara sudah dapat bekerja dengan Lin dan merebut peran dari Ruhi yang sudah berkecimpung di industri sejak lama.

Semua orang mulai mencurigai Kinara dalam mendapatkan perannya. Suasana mulai mencurigakan dan Kinara tidak tahu bagaimana harus bereaksi.

...

Sekitar empat belas hari, Sian merasakan kekosongan tanpa kehadiran Kinara. Oleh sebab itu Sian memutuskan untuk kembali memperkerjakan pengurus rumah tangga untuk mengurus rumahnya.

Meskipun begitu, Sian jarang sekali pulang ke rumah dan lebih banyak menghabiskan waktunya di kantor. Karena setiap kali pulang, ia akan mendesah pelan dan merasa konyol. Konyol dan kesepian. Perasaan kesepian. membuatnya merasa lebih konyol lagi.

“Ada dokumen yang berada di ruang kerjaku. Sekitar setengah jam Erik akan mengambilnya untukku.”

“Baik, Tuan Muda. Tuan...”

“Ada apa?”

“Beberapa hari yang lalu, Nyonya Muda sudah pulang.”

“Beberapa hari yang lalu? Kenapa kamu baru mengatakannya?” Sian berteriak pada pembantu rumah tangga itu melalui telepon.

“Maaf Tuan Muda. “

“Lalu apakah dia baik-baik saja?”

“Nyonya Muda terserang demam. Dia selalu mual dan muntah. Saya ingin membawanya ke rumah sakit tapi Nyonya selalu menolaknya.”

“Kenapa kamu tidak membawanya ke rumah sakit terlepas dia mau atau tidak! Mengapa kamu tidak memberitahuku lebih awal?”

“Maaf Tuan, Nyonya melarangku untuk memberitahu. Dia takut jika mengganggumu.”

Napas Sian menjadi tidak teratur setelah mendengar itu.

“Tuan Muda, Nyonya Muda sekarang baik-baik saja. Saya sudah memeriksanya pada dokter keluarga. Hanya saja...”

“Kenapa?”

“Saya merasa ada sesuatu yang salah dengan Nyonya. Saya melihat Nyonya beberapa kali berada di balkon sambil meletakan kepalanya di lengannya. Saya pikir Nyonya sakit karena depresi.”

Sian memegang teleponnya dengan sangat erat. Ia terbenam dengan kata-kata pengurus rumah tangganya.

Saat itu terdengar ketukan di pintu ruangannya dan Erik melonggokkan kepala dari balik pintu.

“Erik, aku akan pulang dulu. Urus sisanya!” ucap Sian lalu pergi begitu saja.

Sudah dua minggu terakhir ini Sian tidak bertemu dengan Kinara, dan selama dua minggu terakhir ini ia berulang kali ingin menelepon perempuan itu, tetapi akhirnya selalu tidak jadi. Kenapa? Karena ia tidak tahu apa yang harus dikatakannya kepada wanita itu. Dan sekarang wanita itu sudah pulang namun dalam keadaan tidak baik-baik saja.

Saat tiba di rumah, pengurus rumah tangga menyapanya namun Sian mengabaikannya. Pria itu langsung pergi ke lantai dua dan bergegas menuju ke kamar utama.

Pria itu bergegas menuju ke balkon saat siluet yang ia cari berada di sana. Sian berdiri di belakang Kinara untuk waktu yang cukup lama. Berharap bahwa perempuan di depannya merasakan kehadirannya. Namun sayangnya ia tak merasakan kehadirannya.

Sian merasa cemas melihat Kinara yang hanya duduk diam di sana. Pria itu menghampirinya. “Apa yang kamu lakukan di sini?”

“Tidak ada, hanya ingin merasakan udara segar.”

Sian menatapnya dengan waktu yang agak lama.

“Berapa lama lagi kamu akan kembali syuting?”

Kinara menoleh ke arah Sian dengan terkejut. Ia menilik ekspresi Sian. Wajah pria itu tenang. Dia tidak memiliki ekspresi marah atau pun kesal.

“Dua hari lagi.”

“Apakah sesuatu yang tidak nyaman terjadi pada saat syuting?”

“Hm.”

“Apakah ada seseorang yang menggertakmu di sana?”

“Hm.”

Kemarahan muncul di mata Sian. “Siapa yang berani menggertakmu? Apakah kamu tidak bisa menggertaknya kembali? Jika kamu tidak bisa, katakan saja padaku. Aku akan membantumu menamparnya!”

Kinara menggigit bibirnya agar tidak tertawa. Berbanding terbalik dengan Sian. Pria itu lebih marah lagi dan berjalan mondar-mandir di depan Kinara.

Sian tiba-tiba meraih pergelangan tangan Kinara.

“Ayo kita pergi. Aku akan membuatnya lebih menderita.”

“Tidak! Terima kasih.”

“Apa yang kamu takutkan ‘anak ayam’?”

“Anak ayam?”

Kinara tidak bisa menahan tawa. Sian menjadi diam dan segera menoleh ke arah Sian. Pria itu terpaku melihatnya tersenyum dengan binar yang indah. Ia belum pernah melihatnya tertawa bebas. Ia menyukai senyumnya dan binar matanya.

Kinara berhenti tertawa saat Sian menatanya. Ia takut Raja iblis yang kejam dan dingin akan kembali lagi.

“Itu tidak seserius yang kamu pikir.”

Faktanya, Kinara sungguh merasa Ruhi sungguh kelewatan. Dia dengan sengaja melakukan kesalahan agar pengambilan gambar diulang-ulang. Apalagi saat itu Kinara harus beradegan ke cebur di kolam.

“Baiklah aku akan melepaskannya kali ini.”

Sudut bibir Kinara kembali melengkung. Sian menatapnya sebelum menoleh dan ikut tersenyum tipis.

“Kamu pulang ke rumah, apa ada sesuatu yang tertinggal?”

“Tidak ada. Berapa jam kau tidur semalam?”

Suara Sian membuat Kinara tersentak. ”Apa?”

”Berapa jam kau tidur semalam?” ulang Sian.

“Kenapa?”

“Tidak! Hanya saja...”

Sian langsung menarik Kinara agar berdiri lalu membungkam bibir Kinara. Pria itu mendorong tubuh Kinara agar masuk ke kamarnya dan mengimpitnya di tembok.

Pria itu mencium lebih agresif dan terkesan buru-buru. Meskipun begitu, Kinara terbuai dengan ciuman itu. Perempuan itu mengalungkan tangannya di leher Sian.

Setelah libur dua hari, Kinara kembali syuting. Kinara melihat adegan Lin bersama Ruhi. Mereka terlibat adegan dan akting mereka terlihat alami. Itu bisa dipahami karena mereka beberapa kali terlibat bersama.

Setelah mengambil beberapa adegan kini giliran Kinara. Tapi ia melihat Lin sedang protes ke sutradara.

“Bagaimana bisa kami tidak mempunyai adegan romantis sama sekali? Naskah ini berubah total.”

“Ya, penulis mengubah sedikit alur ceritanya dan produser menyetujuinya. Lin, maaf jika ini mendadak tapi begitulah adanya.”

Kinara mengerutkan keningnya. Apa yang dikatakan Lin memang benar. Di dalam naskah sama sekali tidak ada adegan pelukan, ciuman bahkan pegangan tangan. Itu sangat berbeda dengan naskah awal. Meskipun begitu Kinara tak begitu memperlasahkannya.

Setelah melakukan adegan seharian. Akhirnya mereka makan malam. Semua kru makan malam di sebuah restoran dekat dengan lokasi syuting.

Restoran itu bergaya prasmanan jadi Kinara menaruh mengambil makanan yang ia suka. Ketika Kinara mencari tempat duduk. Tiba-tiba Lin melambaikan tangan. Dia duduk di dekat jendela.

“Winter, duduk di sini! Aku ingin mendiskusikan sesuatu.”

Kinara berjalan dengan ragu-ragu. Tatapannya berkeliaran dan menatap Ruhi yang menatapnya dengan tidak suka. Kebetulan Ruhi duduk bersama Lin di sana.

Lin mengetuk bangku di sampingnya dengan jari telunjuk. ”Duduklah.”

“Terima kasih.”

“Winter, apakah kamu sudah menghafal dialogmu untuk besok?”

“Ya, aku sudah menghafalnya.”

“Apakah ini semua yang kamu makan?” tanya Lin menatap piring Kinara.

“Ya,” jawab Kinara.

“Kamu harus lebih banyak makan. Syuting itu akan menguras energimu.” Lin mengecamnya dan menaruh daging sapi di piring Kinara.

“Terima kasih.”

Kunyahan Ruhi berhenti sejenak sebelum ia melanjutkannya kembali dan menatap Kinara.

Dalam hatinya ia membatin. ”Kamu pikir, kamu seorang Puteri. Kenapa Lin memanjakannya.”

“Lin, kamu masih tidak menyukai acar timun.”

Mata Kinara langsung beralih ke Ruhi. Lalu matanya bergerak turun dan berhenti di tangan gadis itu yang menyentuh lengan Lin.

“Ya, aku tidak suka.” sahut Lin sambil tersenyum kecil kepada Ruhi.

“Winter, apakah kamu mempunyai pekerjaan setelah syuting selesai?”

“Sepertinya tidak ada.”

“Aku mempunyai teman yang mengelola produk kosmetik. Mereka mencari model untuk menjadi pasanganku. Aku menemukan kepribadian dan penampilanmu sangat cocok.”

Kinara melihat rahang Ruhi mengertak. Kinara heran, tetapi ia sungguh tidak ingin berada di dekat Lin jika itu harus menyulut genderang perang untuk Ruhi.

“Katakan tidak dan pergi dari sini. Kamu mengganggu kami.” Ruhi kembali membatin.

“Aku harus mendiskusikannya pada manajerku.”

“Baiklah aku tunggu kabar baiknya.”

Ruhi diam dan menyeka bibirnya. Ia kemudian mengangkat kepala saat meletakan serbetnya. Ia bangkit dari duduknya dengan satu gerakan mulus

“Winter, aku ingin bicara denganmu. Jika kamu punya waktu.”

1
Bunda Safira
pingin jdi kinara aja dheee
Ni Made Ratmini
tdk mengerti ceritanya berbelit.
Rubiatun
Leon anak siapa ya.
Aerik_chan: hayo ditebak😁
total 1 replies
Amilia Indriyanti
mamulo goblog si kinara
Amilia Indriyanti
mamulo goblog si kinara
tp lakon Yo tetep lakon
Yanti Novianti
berbelit"
Amilia Indriyanti
kinara iku goblognya Ra k3tulungan
Yundari Gayosa
uda sama hyok aja kinara
tabina ruby
Luar biasa
Elisabeth Ratna Susanti
terharu aku baca di part ini
Elisabeth Ratna Susanti
like plus favorit di karya keren ini......awal yang top banget. visualnya juga top 👍
Dewi Bekti
Luar biasa
Lela
masak meninggal sih thor
Anis Swari
semangattttttttt
Anis Swari
Sian perhatian....
Anis Swari
Bang sian lagi pms ya
Anis Swari
ini tuh cerita the best
Anis Swari
Sian sudah jatuh cinta sama Kinara
Anis Swari
asyik Sian tipe2...you die if you touch her
Anis Swari
real life dan di novel sama2 cakep
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!