Hukum tidak berpihak pada Anggita, jadi aku yang akan jadi hukumnya. Satu misi yang menjadi tujuanku hancurkan Arvin Teriaz. Aku Nabila Azzahra, topengku sekretaris, senjataku kode. Rencana sempurna begitu sempurna sampai Galen Teriaz, dokter yang membenci darahnya sendiri, mengulurkan tangan dalam misiku.
Apakah misi mereka berhasil dalam, menghancurkan seorang Arvin Teriaz ?
Baca selengkapnya !
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indah Mayaddah f, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19 KOORDINAT NERAKA
Jam 14.35, jalan menuju Cileunyi melaju 3 mobil TNI, 1 helikopter di atas sedangkan sirine nggak berhenti. Di dalam mobil pertama: Wijaya sopir, Galen di samping, Nabila dan Anggita di belakang dipeluk 2 prajurit perempuan. HP Galen masih di tangan, layar nunjukin titik merah yang menunjukkan Gudang tua di pinggir rel kereta.
"Berhenti" Perintah Dendram
Mobil menepi 500 meter dari lokasi, danrem lewat HT
"Drone sudah di udara 4 orang bersenjata terdeteksi di dalam, 1 di atap sniper" Jawab Wijaya
"Kolonel, ini jebakan. Izin saya kirim tim dulu" Ucap Dendram
Wijaya menatap Galen, Galen menatap balik.
"Nggak, Danrem" Jawab Wijaya.
"Dia minta kita, kalau kita kirim tim Anggita yang jadi taruhan" Ucap Dendram
Galen mengepal
"Aku ikut, ayah" Ucap Galen
"Nggak" Potong Nabila
"Kalian berdua, kamu dan Anggita tunggu di sini dengan pengamanan penuh" Ujar Wijaya
Anggita menggenggam tangan Nabila
"Bila... aku ikut" Bisik Anggita
"Tenang, di sini ada aku" Bisik Nabila lalu mengecup kening Anggita
"Kamu harus kuat di sini, biar aku dan paman ijaya bisa fokus nyelametin kita semua" Lanjut Nabila
*****
Jam 14.50 Wijaya dan Galen keluar, tanpa rompi, tanpa senjata. Hanya hormat prajurit, 50 meter dari gudang, pintu terbuka. Di dalam gelap, tercium bau karat dan darah lama. Lampu neon kedip 1x, di tengah ruangan, ada 1 kursi dan di atasnya: orang bertopeng tengkorak. Di sampingnya ada 4 anak buah bersenjata. Di atap, bayangan sniper.
"Selamat datang, Kolonel," Suara dari balik topeng begitu serak
"Dan anak durhaka" Lanjutnya
Wijaya maju 2 langkah…
"Lepasin sandera yang kamu punya, bicara sama aku" Ucap Wijaya
"Sandera? Ahahahaha" Tawa orang itu
"Oh... maksudmu Anggita? Dia aman untuk sekarang" Balasnya
Dia melempar remote ke lantai, layar di dinding nyala yang menampilkan Nabila dan Anggita di dalam mobil yang dikelilingi 6 prajurit.
"Lihat? Aku bisa matiin mereka kapan aja" Kata topeng itu
"Tombolnya ada di sini" Lanjutnya
Galen melangkah maju…
"Kamu siapa?! Apa maumu?!" Tanya Galen
"Mauku?" Orang bertopeng itu berdiri
"15 tahun lalu adikku mati karena ulah ayahmu, Kolonel. Dia nolak ikut C-12, kalian bunuh dia" Jawab Orang bertopeng itu membuat dahi Wijaya mengerut
"Aku nggak pernah..." Ucap Wijaya namun terpotong
"Diam!" Bentak orang bertopeng itu
"Kamu dan C-12 itu sama! kotor! makanya aku bikin C-12 yang baru, lebih bersih dan lebih kuat" Lanjut Dia menunjuk Galen.
"Dan kamu... kamu seharusnya jadi kami, tapi kamu pilih cinta" Tambahnya
Dia nunjuk layar, Galen maju lagi.
"Jangan sentuh dia! Atau …" Teriak Galen
"Atau apa?" Topeng itu menekan tombol di remote
DI LAYAR 2 prajurit di mobil Nabila sedang kelimpungan, karena ditembak dari jauh, terdengar Nabila menjerit yang sedang menutup tubuh Anggita.
"BERHENTI!!" Teriak Wijaya
"Tuh kan, gampang" Ucap Orang bertopeng itu santai
"Jadi gini, Kolonel. Pilihanmu : Serahkan semua bukti, bubarkan Garuda Putih dan mati di sini. Aku yang datang ke Kodam dan bawa pulang Anggita" Lanjut Orang bertopeng
Hening…
Wijaya menutup mata, 15 tahun dia selalu kalah. Tapi hari ini tidak lalu dia buka mata.
"Ada pilihan ke-3" Ucap Orang bertopeng
Wijaya menatap Galen, mendapat angguk kecil. Galen paham, 26 tahun jadi anak prajurit dia memahami semua kode yang di berikan ayahnya.
Dalam 1 detik:
Wijaya menerjang ke kiri untuk menghindari tembakan, Galen melempar perban di bahunya ke lampu membuat lampu itu pecah dan ruangan menjadi gelap.
"BAKAR!!" Teriak Danrem
dari luar pintu didobrak, Granat cahaya, tembakan bersahutan. Galen berguling, meraih pistol yang jatuh dari salah satu anak buah. Tembakan-tembakan, dia hindari. Galen berlari ke arah orang bertopeng itu namun orang bertopeng itu menembaknya.
DOR …
Bahu Galen kena lagi, darahnya mengalir tapi Galen tetap maju. Dia menjambak topeng itu, lalu membuka topeng itu …
Galen sangat mengenal orang bertopeng itu …
"Om... Om Bayu?" Suara Galen tercekat.
Bayu Teriaz adalah adik bungsu Wijaya Teriaz, yang katanya mati 15 tahun lalu. Bayu tersenyum dan darah di bibirnya.
"Kamu telat, keponakan" Ucap Bayu
Dia menekan remote 1x lagi.
DI LAYAR: Mobil Nabila meledak.
"TIDAK!!!" Teriak Wijaya dan Galen bersamaan.
Danrem dan tim masuk, langsung melumpuhkan semua anak buah Bayu.Wijaya lari keluar lalu Galen menyusul, walau bahunya berdarah.
"MOBIL ITU!!" Teriak Wijaya.10 meter dari gudang, menunjuk mobil hitam terbakar.
Prajurit menyemprot, Wijaya mendorong 2 prajurit.
"NABILA!! ANGGITA!!" Teriak Wijaya
Dan untungnya Nabila dan Anggita sudah keluar, sebelum mobil itu meledak. Tak lama terdengar suara ambulans meraung, karena Nabila terkena tembakan namun membuka mata dan menatap Galen.
"Tolong... jaga... Anggita..." Ucap Nabila
Lalu matanya terpejam.
"BILA!!" Galen berteriak, dia menggenggam tangan Nabila erat.
Bayu digelandang lewat, dia tertawa …
"AHAHAHA, kamu lihat? C-12 selalu menang, Kak" Ucapnya
Wijaya berdiri. Berjalan ke arah adiknya.
BUGHT!
Tinju Wijaya menghantam rahang Bayu,
"Kamu bukan adikku," Desis Wijaya.
"Kamu seorang monster" Lanjut Wijaya
Polisi militer menarik Bayu pergi, Di dalam ambulans, Galen menggenggam tangan Nabila dan Anggita. Anggita menangis di pelukan Nabila
"Bila... Bila bangun..." Teriak Anggita
Galen menatap Wijaya lewat kaca, ayahnya mengangguk. Perang belum selesai, tapi mereka sudah kehilangan terlalu banyak dan dendam baru saja berubah jadi neraka.