"Bagi dunia, aku anak dari sahabatnya. Bagi hatiku, dia pria yang harus kumiliki."
Aluna (20 tahun) menyembunyikan cinta rahasia pada Marko Janitra (45 tahun), sahabat karib ayahnya sekaligus CEO dingin Janitra Group. Demi mendekat, Aluna nekat magang di kantor Marko.
Marko membentengi diri rapat-rapat demi etika dan persahabatan. Namun di antara perbedaan usia 25 tahun dan godaan manis sang anak sahabat, sanggupkah benteng dingin sang CEO bertahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A.J Lim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25 : Kembali ke pelukan Rumah
Kabar kepulangan Ardi dan Sinta dari Singapura datang secara mendadak pagi itu. Sinta, ibu Luna, meminta izin ke dokter untuk menjalani masa tunggu jadwal pengobatan lanjutannya di rumah sendiri karena kerinduan yang membuncah pada tanah air—terutama pada putri semata mayangnya.
Di dalam SUV hitam yang membelah jalanan menuju Bandara Soekarno-Hatta, suasana hati Luna mendadak bercampur aduk. Ada rasa bahagia yang membuncah karena akan memeluk kedua orang tuanya setelah berminggu-minggu terpisah. Namun di sisi lain, ada rasa berat dan sedih yang menusuk dadanya.
Hari ini adalah hari terakhirnya tinggal di penthouse mewah milik Marko.
"Kok mukanya ditekuk gitu, Sayang?" panggil Marko lembut, memutus keheningan seraya melirik ke samping. Tangannya terulur menggenggam jemari Luna di atas paha.
Luna mendesah pelan, menyandarkan kepalanya ke bahu kokoh Marko. "Aku seneng banget Papa sama Mama pulang, Om. Tapi... aku sedih. Mulai nanti malam aku gak bisa nemenin Om sarapan lagi, gak bisa ngomong manis sebelum tidur... aku bakal kangen banget tinggal di rumah Om."
Marko menyunggingkan senyum hangat, mengecup kilat puncak kepala Luna dengan penuh kasih sayang. "Saya juga pasti bakal merasa kehilangan, Aluna. Rumah saya bakal sepi lagi kayak kuburan. Tapi kan kita masih ketemu tiap hari di kantor. Kalau kangen, kita bisa jalan habis pulang kerja, kan?"
"Beda tahu, Om!" celetuk Luna mengerucutkan bibirnya. "Kalau di rumah kan aku bebas meluk Om kapan aja."
Marko terkekeh rendah, mengacak rambut Luna gemas. "Udah, jangan cemberut terus. Nanti Papa sama Mama kamu curiga kalau liat muka anaknya dilipat begitu."
Suasana terminal kedatangan internasional bandara terasa riuh. Begitu sosok Ardi yang mendorong kursi roda Sinta keluar dari pintu kedatangan, Luna tak sanggup menahan diri lagi. Gadis itu berlari kecil dan langsung menghambur memeluk ibunya erat-erat, disusul pelukan hangat ke arah sang papa.
"Mama! Papa! Luna kangen banget!" seru Luna dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
Sinta mengelus kepala putrinya lembut, mencium kedua pipi Luna penuh kerinduan. "Mama juga kangen banget sama anak nakal Mama ini. Kamu penurut kan selama ditinggal?"
Ardi tertawa renyah, menepuk bahu Marko yang berdiri di belakang Luna dengan setelan jas rapinya. "Gimana, Ko? Anak gadis gue ini bikin kepala lu pusing gak selama tinggal di rumah lu?"
Marko tersentum tipis, menatap Ardi dengan raut wajah yang diusahakan setenang mungkin. "Enggak kok, Di. Aluna anak yang baik dan mandiri. Justru rumah gue jadi ramai karena ada dia."
"Terima kasih banyak ya, Ko," ujar Ardi tulus, menjabat tangan sahabatnya itu erat. "Gue gak tahu harus balas kebaikan lu gimana lagi. Tanpa bantuan lu jagain Luna, gue gak bakal tenang nemenin Sinta berobat di Singapura."
Mendengar ucapan tulus dari ayahnya, dada Luna berdesir aneh. Ada rasa bersalah yang menyelinap pelan saat menyadari bahwa pria yang begitu dipercayai ayahnya kini telah menjadi kekasih rahasianya.
Malam harinya, suasana kediaman keluarga Raharja terasa hangat dan penuh suka cita. Marko diundang secara khusus untuk ikut makan malam bersama sebagai bentuk rasa terima kasih.
Hidangan khas Nusantara tersaji lengkap di meja makan. Di tengah-tengah santap malam, Ardi menoleh ke arah Marko dengan wajah penasaran.
"Eh iya, Ko... kemarin waktu gue telepon Luna, dia sempat cerita soal pekerjaan di kantor. Gimana perkembangan kerja samanya Janitra Group sama brand ambassador baru itu? Siapa namanya... Jessi ya?" tanya Ardi santai.
Clang.
Sendok di tangan Luna mendadak beradu keras dengan piring porselennya. Wajah Luna seketika berubah keruh, matanya mendelik tajam menatap Marko dari balik meja.
Marko yang sadar betul kekasih kecilnya sedang membakar cemburu refleks menelan ludah kaku. Pria matang itu berdeham pelan untuk menetralkan suaranya.
"Soal Jessi... urusannya sudah ditangani sepenuhnya sama Yoga, Di," jawab Marko cepat dengan nada sedatar mungkin. "Gue gak ikut campur lagi. Kerja samanya juga cuma sebatas kontrak profesional."
"Lho? Bukannya kemarin-kemarin lu sempat dekat sama dia? Kata rumor di kalangan pengusaha kan begitu," pancing Ardi seraya tertawa kecil.
"Rumor ngawur itu, Di," tegas Marko menyangkal keras, sama sekali tak berani melirik wajah Luna yang makin ditekuk. "Gue gak ada hubungan apa-apa sama Jessi."
Luna mendengus pelan, lalu sengaja mengalihkan pembicaraan dengan menceritakan kejadian-kejadian konyolnya selama magang di kantor. Gelak tawa pun kembali pecah memenuhi ruang makan rumah Raharja, mencairkan ketegangan terselubung di antara Marko dan Luna.
Pukul sembilan malam, Marko sudah kembali ke penthouse-nya.
Keheningan yang menusuk seketika menyambutnya begitu ia melangkah masuk. Tidak ada lagi suara tawa riang Luna di ruang keluarga, tidak ada lagi aroma harum sampo manis yang biasa merebak di koridor kamar, dan tidak ada lagi sosok gadis yang suka usil mengganggunya.
Marko melepaskan jasnya, merebahkan tubuhnya di sofa empuk ruang tamu yang terasa begitu luas dan sepi.
Ting!
Ponselnya bergetar. Sebuah panggilan video dari kontak bertuliskan Aluna masuk. Marko tersenyum lebar, langsung menggeser tombol hijau.
"Om Marko! Kangen!" sapa suara ceria Luna dari layar ponsel. Gadis itu sedang tiduran di kasur kamarnya dengan piyama bergambar kartun.
"Baru beberapa jam pisah, udah bilang kangen aja," goda Marko seraya menyandarkan kepalanya di sofa. "Rumah saya mendadak sepi banget nih gak ada kamu."
"Makanya, makanya! Makanya Om harus cepet-cepet sah-in aku biar bisa tinggal bareng terus!" celetuk Luna polos tanpa beban.
Marko terkekeh rendah, hatinya menghangat mendengarkan celotehan manis itu. "Iya, nanti ya kalau waktunya sudah tepat."
"Oh iya, Om... besok aku izin gak masuk kantor ya," ujar Luna merapikan posisi tidurnya. "Anak-anak magang besok harus ke kampus ada bimbingan dosen buat laporan berkas."
"Iya, gak apa-apa. Selesaikan dulu urusan kampusnya," tutur Marko lembut. "Jangan lupa istirahat ya, Sayang. Jangan tidur kemalaman."
"Siap, Bos Besar! Good night, Om Marko. Love you!"
"Love you too, Aluna."
Setelah sambungan telepon terputus, senyum di bibir Marko perlahan menghilang. Keheningan ruangan kembali menyergapnya.
Pria matang itu bangkit, melangkah menuju jendela kaca besar yang memperlihatkan kerlap-kerlip lampu kota Jakarta dari lantai atas. Marko menyesap cangkir teh hangatnya, merenung dalam-dalam.
Pikirannya melayang kembali pada momen makan malam tadi—pada tatapan mata Ardi yang begitu penuh kepercayaan saat menjabat tangannya.
"Ardi..." gumam Marko pelan pada dirinya sendiri.
Bayangan kemarahan sahabat karibnya itu mulai menari-nari liar di dalam otaknya. Bagaimana jika Ardi tahu bahwa ia, pria menduda belasan tahun yang dipercayai menjaga anak gadisnya, malah menjalin hubungan asmara secara diam-diam dengan Luna?
Apakah Ardi akan merasa dikhianati habis-habisan? Apakah Ardi akan mengamuk, memukulnya, dan memutus ikatan tali persahabatan yang sudah mereka bangun puluhan tahun dari nol?
Rasa cemas dan beban moral itu mendadak menghantam dada Marko hingga terasa sangat sesak.
Tiba-tiba, suara denting notifikasi dari laptop kerjanya yang menyala di meja ruang tamu terdengar pendek. Sebuah email masuk di luar jam kerja.
Marko melangkah mendekati meja, melirik layar laptopnya yang menyala terang di tengah remang ruangan.
Subjek email tersebut ditulis dengan huruf kapital tebal yang teramat mencolok dari pengirim anonim:
[URGENT & CONFIDENTIAL] FOTO & VIDEO SKANDAL HUBUNGAN GELAP CEO JANITRA GROUP DENGAN ALUNA RAHARJA.
Mata Marko membelalak sempurna. Cangkir teh di tangannya hampir saja terlepas saat membaca kalimat pengantar di bawahnya:
"Email ini sedang berjalan dalam sistem pengiriman otomatis. Jika dalam waktu 1x24 jam Anda tidak menuruti tuntutan kami, berkas ini akan langsung terkirim otomatis ke email pribadi Ardi Raharja dan seluruh jajaran direksi Janitra Group."
Bahaya besar yang ditakutkan Marko akhirnya meledak lebih cepat dari yang ia perkirakan. Siapakah sosok dalang di balik ancaman pemerasan ini, dan bagaimana Marko mempertahankan rahasia cintanya dari kehancuran?