NovelToon NovelToon
THE LAZY GENIUS

THE LAZY GENIUS

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Misteri / Anak Genius
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Ardyan1

Yamada adalah seorang jenius.
Ia mampu memahami hampir segala sesuatu dengan cepat—akademik, olahraga, teknologi, strategi, bahkan berbagai keterampilan yang dianggap sulit oleh orang lain.
Masalahnya hanya satu.
Dia terlalu malas untuk menggunakannya.
Bagi Yamada, hidup yang ideal hanyalah hidup tenang tanpa masalah.
Tidak perlu menjadi nomor satu.
Tidak perlu mendapat perhatian.
Tidak perlu berusaha lebih keras dari yang diperlukan.
Sampai suatu hari, kehidupannya berakhir.
Ketika membuka mata kembali, Yamada mendapati dirinya berada di dunia yang tidak pernah ia kenal.
Lebih aneh lagi, ia tidak terlahir sebagai bayi.
Ia terbangun dalam tubuh seorang anak laki-laki berusia lima belas tahun.
Tubuh itu memiliki kehidupan, keluarga, kenangan, dan sebuah rahasia yang tidak diketahui Yamada.
Kemudian sebuah suara terdengar di kepalanya.
[System Initialization.]
[Host detected.]
[Synchronization rate: 17%.]
[Warning.]
[This body already possesses an owner.]

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ardyan1, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 13: Akademi Asteria

Ibu kota Kerajaan Asteria, Kota Asteria, jauh lebih besar daripada desa kecil Yamada di kaki Hutan Elaria. Jauh lebih besar, jauh lebih ramai, jauh lebih berisik, dan jauh lebih... merepotkan.

Dari jendela kereta yang sudah memasuki gerbang kota di hari kedua perjalanan, Yamada bisa melihat semuanya, bahkan tanpa harus mendongakkan kepala terlalu tinggi.

Menara-menara tinggi dari batu putih yang menjulang ke langit, dengan bendera kerajaan berkibar di puncaknya, menara pengawas, menara sihir, menara lonceng kuil. Menara-menara itu begitu tinggi hingga bayangannya menutupi beberapa blok perumahan.

Toko-toko berjejer rapat di sepanjang jalan utama, menjual segala macam barang yang belum pernah Yamada lihat di desa: senjata berkilauan di etalase pandai besi, ramuan berwarna-warni di toko alkemis yang mengeluarkan asap tipis, buku-buku sihir yang melayang-layang di depan toko buku, buah-buahan yang tidak dikenalnya yang bersinar pelan.

Guild Petualang yang besar, dengan papan pengumuman raksasa di depannya yang penuh dengan kertas permintaan, dari mencari kucing hilang sampai membunuh naga. Orang-orang dengan baju besi dan jubah compang-camping keluar masuk dengan wajah lelah tapi membawa kantong koin.

Kuil Dewi Asteria yang megah, dengan patung dewi setinggi 10 meter di depannya, dengan air mancur suci yang tidak pernah berhenti mengalir, tempat orang-orang berdoa sebelum ujian masuk akademi.

Dan di tengah kota, di atas bukit kecil yang dikelilingi tembok putih tinggi, yang terlihat bahkan dari gerbang kota yang jaraknya dua kilometer—

Akademi Asteria.

Bangunan utamanya begitu besar, begitu megah, hingga Yamada yang sedang bersandar malas di jendela kereta harus mendongakkan kepala sepenuhnya ke atas untuk melihat puncak menara utamanya. Bangunan itu terbuat dari batu putih dan marmer biru, dengan ratusan jendela kaca patri, dengan taman-taman luas di sekelilingnya, dengan lapangan latihan yang terlihat bahkan dari sini, dan dengan sebuah kristal raksasa yang melayang di atas menara utama, yang berputar pelan dan memancarkan cahaya keemasan, sebagai sumber energi akademi.

"Wow." Satu kata itu keluar begitu saja dari mulut Yamada, tanpa bisa ditahan. Bukan wow karena kagum ingin belajar, tapi wow karena... "Bangunannya besar sekali, pasti capek kalau harus naik turun tangga setiap hari."

Elena yang duduk di sebelahnya, yang sudah dua kali ke ibu kota bersama ayahnya untuk menjual hasil panen, tersenyum melihat reaksi Yamada, reaksi yang sangat Yamada.

"Pertama kali melihatnya secara langsung? Bukan dari gambar di buku?"

"Ya. Pertama kali." Jawab Yamada jujur. "Di buku terlihat besar, tapi aslinya... lebih besar. Dan lebih merepotkan."

"Kau terlihat bersemangat. Matamu berbinar." Goda Elena, menyikut lengannya.

"Tidak. Sama sekali tidak bersemangat." Yamada menguap lebar, menutup mulut dengan punggung tangan. "Aku hanya melihat-lihat. Melihat-lihat seberapa jauh aku harus berjalan dari asrama ke kantin. Semakin besar bangunannya, semakin jauh kantinnya."

Elena tertawa, tawa yang membuat beberapa penumpang lain menoleh. Aria yang duduk di seberang mereka sejak di kereta, yang juga menuju akademi, hanya tersenyum tipis melihat interaksi mereka, sambil memeluk buku Teori Sirkuit Mana-nya yang kini sudah ada coretan diagram baru dari Yamada.

Kereta berhenti di depan gerbang akademi yang besar, gerbang besi hitam dengan ukiran lambang akademi: sebuah buku terbuka dengan pedang dan tongkat sihir bersilang di belakangnya.

Mereka masuk ke aula pendaftaran. Aula yang sangat besar, dengan langit-langit setinggi 15 meter, dengan pilar-pilar marmer, dan dengan ratusan siswa baru yang berkumpul, semuanya berusia sekitar 15-16 tahun, dengan pakaian terbaik mereka, dengan wajah tegang, bersemangat, dan penuh harap.

Ratusan. Ada yang dari keluarga bangsawan dengan jubah mahal, ada yang dari keluarga pedagang kaya, ada yang dari desa-desa jauh seperti Yamada dan Elena, ada yang dari ras Beastfolk dengan telinga hewan, bahkan ada satu dua Elf dengan telinga panjang yang terlihat menonjol di antara kerumunan manusia.

Di depan aula, ada panggung kecil, dan di atas panggung ada sebuah kristal besar, seukuran bola sepak, yang diletakkan di atas pedestal batu. Kristal itu bening, tapi di dalamnya ada kabut putih yang bergerak pelan. Di sebelahnya berdiri seorang penguji, seorang pria tua dengan jubah penyihir biru tua dan topi runcing, dengan jenggot putih panjang.

Tes pertama adalah tes mana. Tes untuk mengukur kapasitas mana bawaan, potensi sihir. Tes paling dasar, tapi paling menentukan kelas mana seorang siswa akan ditempatkan.

Satu demi satu siswa maju, dengan urutan nama yang dipanggil.

"Mana 82. Kelas C." Kata penguji, setelah seorang anak laki-laki menyentuh kristal dan kristal itu bersinar biru muda pelan.

Anak itu turun dengan wajah sedikit kecewa tapi lega.

"Mana 91. Kelas C."

"Mana 103. Kelas B. Lumayan."

Satu per satu, angka-angka disebutkan. Rata-rata siswa baru memiliki mana antara 80 sampai 120. Di atas 150 sudah dianggap berbakat. Di atas 200 sudah dianggap jenius.

Kemudian nama dipanggil, nama yang sudah dikenal Yamada selama dua hari perjalanan.

"Aria Luvellia."

Aria yang berambut biru keperakan itu maju dengan langkah tenang, tanpa gugup. Wajahnya yang tenang dan dingin membuat beberapa siswa berbisik, "Keluarga Luvellia? Keluarga Archmage?"

Dia meletakkan tangan putih pucatnya yang ramping di atas kristal bening itu.

Sesaat tidak ada apa-apa.

Kemudian—

BWOOM!

Kristal itu menyala terang, sangat terang, bukan biru muda, tapi biru keperakan yang menyilaukan, dengan semburat ungu di tepinya. Cahaya itu memenuhi seluruh aula pendaftaran, membuat semua orang harus menyipitkan mata. Kabut putih di dalam kristal berputar dengan sangat cepat, seperti badai.

Penguji yang tadinya mengantuk, langsung berdiri tegak, mata tuanya membelalak.

"Mana... Mana 412! Kelas S! Kelas S! Rekor tahun ini!"

Aula menjadi ramai seketika. Ratusan siswa berseru, berbisik, bertepuk tangan. "412! Gila! Itu mana Archmage muda!" "Keluarga Luvellia memang monster!" "Dia pasti langsung masuk kelas elit!"

Yamada yang berdiri di belakang, di sudut aula bersama Elena, mengangkat alis, sedikit terkesan, tapi juga sedikit... waspada.

"Hebat. 412. Sesuai dengan Unknown threat level-nya." Gumamnya pelan, hanya untuk dirinya sendiri dan untuk teman sekamarnya di dalam kepala.

Dia memang bukan orang biasa. Aku sudah bilang. Jawab suara di dalam kepalanya.

Kemudian, setelah keributan Aria mereda, nama berikutnya dipanggil.

"Yamada. Desa Elaria."

Gilirannya. Elena mendorong punggungnya pelan, "Ayo, giliranmu. Jangan bikin malu desa."

Yamada berjalan maju dengan langkah malas, dengan tangan di saku mantelnya yang sudah diperbaiki ibunya, dengan wajah yang masih mengantuk karena tidur di kereta. Dia tidak terlihat gugup sama sekali, yang membuat beberapa siswa bangsawan memandangnya dengan tatapan meremehkan, "Anak desa, paling mananya 50."

Dia menyentuh kristal bening itu, meletakkan telapak tangannya di atasnya, seperti yang dilakukan siswa lain. Kristal itu dingin.

Satu detik.

Dua detik.

Tiga detik.

...

Tidak terjadi apa-apa. Tidak ada cahaya biru muda, tidak ada cahaya biru tua, tidak ada cahaya perak. Kristal itu tetap bening, kabut putih di dalamnya bahkan berhenti bergerak, seolah-olah membeku. Tidak ada suara, tidak ada getaran.

Hening.

Penguji menatap kristal, mengerutkan kening, mengetuk pedestalnya.

Kemudian dia mengumumkan, dengan suara yang sedikit bingung dan sedikit... kasihan,

"Mana... 0. Tidak ada mana. Kelas... tidak ada kelas. Gagal?"

Semua orang di aula tertawa. Tawa yang keras, tawa yang mengejek, tawa yang khas anak-anak bangsawan yang menemukan hiburan baru.

"0! Mana 0! Bagaimana bisa hidup dengan mana 0?!" "Anak desa mana 0 mau masuk Akademi Sihir! Lucu sekali!" "Pulang saja jadi petani!"

Elena yang ada di belakang menutup wajahnya dengan kedua tangan, "Yamada... aduh..."

Yamada sendiri menatap kristal yang tidak menyala itu dengan tatapan datar, tidak malu, tidak marah, bahkan tidak terkejut. Dia malah memiringkan kepalanya, menatap kristal itu seperti menatap barang rusak.

"Rusak?" Tanyanya pada penguji tua itu, dengan suara yang tenang.

Penguji itu menggeleng, dengan wajah serius, "Tidak. Kristalnya normal. Baru dikalibrasi pagi ini. Aria tadi 412 dengan kristal yang sama. Kristalnya berfungsi dengan baik. Mana-mu memang... tidak terdeteksi."

Elena sudah ingin maju untuk membela, tapi Yamada mengangkat bahu, dengan ekspresi yang justru terlihat... lega.

"Bagus."

"Bagus dari mana?! Mana 0 itu gagal total! Kau tidak bisa masuk kelas sihir!" Bisik Elena dengan panik, menarik lengan mantelnya.

"Aku tidak perlu ikut kelas sihir yang merepotkan yang harus menghafal 100 lingkaran sihir." Jawab Yamada dengan logika malas yang sangat jujur, sambil melepaskan tangannya dari kristal. "Kalau mana 0, berarti aku bebas. Aku bisa tidur di perpustakaan tanpa disuruh latihan sihir."

Beberapa siswa yang mendengar itu tertawa lebih keras, mengira Yamada sudah gila karena malu.

Namun tepat pada saat itu, saat Yamada berbalik untuk turun dari panggung—

sistem yang sudah tiga hari tenang, tiba-tiba muncul di depan wajahnya, hanya dia yang bisa melihatnya, dengan warna merah dan tulisan berkedip.

[Mana measurement error.]

[Crystal cannot measure host mana due to authority restriction and irregular soul.]

[Actual mana value: ??? - Exceeds crystal limit. Crystal is too weak.]

[Recommendation: Do not reveal true value. Keep Mana 0 as cover.]

Yamada yang membaca itu, tersenyum tipis, senyum yang tidak terlihat oleh siapa pun karena dia menunduk, senyum seorang pemalas yang baru saja mendapatkan alasan sempurna untuk bermalas-malasan secara resmi.

"Sepertinya bukan nol." Bisiknya pelan, hanya untuk dirinya sendiri dan untuk dua jiwa di dalam kepalanya.

Dan di barisan depan, Aria Luvellia yang berambut biru keperakan, yang tadinya melihat keributan itu dengan tatapan tenang, kini menatap Yamada dengan mata ungunya yang sedikit menyipit, dengan tatapan yang tidak percaya bahwa mana 0, karena dia, dengan mata khususnya, bisa melihat sesuatu yang tidak bisa dilihat kristal: pusaran mana yang sangat besar, sangat padat, yang berputar pelan di dalam tubuh Yamada, pusaran yang bahkan lebih besar dari miliknya yang 412.

Tapi dia diam, tidak mengatakan apa-apa, hanya tersenyum kecil, senyum yang sama seperti di kereta.

Menarik.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!