NovelToon NovelToon
Respect

Respect

Status: sedang berlangsung
Genre:Spiritual / Matabatin / Hamil di luar nikah
Popularitas:84
Nilai: 5
Nama Author: Anisa Rahayu

Arisa Salsa Bila atau Acha adalah seorang pramuniaga minimarket yang ceria, rajin, namun terkadang egois dan kekanak-kanakan. Suatu hari ia bertemu dengan Andra Nathan Ardimana, pemuda pekerja keras yang merintis usaha percetakan sablon sandal. Di balik sikap keras kepalanya, Nathan memiliki hati yang lembut dan selalu mengalah demi orang lain.

Hubungan mereka tumbuh menjadi cinta yang tulus. Namun, kebahagiaan itu tidak berlangsung lama ketika keluarga mereka menolak hubungan tersebut karena perbedaan latar belakang dan berbagai kesalahpahaman. Hinaan, penolakan, dan tekanan membuat hubungan mereka berkali-kali berada di ambang perpisahan.

Meski begitu, Nathan dan Acha memilih bertahan. Mereka belajar bahwa cinta tidak cukup hanya dengan rasa sayang, tetapi juga membutuhkan rasa hormat, kepercayaan, pengorbanan, dan penerimaan. Di tengah segala luka, mereka membuktikan bahwa perjuangan yang dilakukan dengan tulus tidak akan pernah sia-sia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anisa Rahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 22. Respect

Sinar matahari pagi yang hangat menyapa kulit Acha yang sedang duduk di kursi santai di halaman depan rumahnya.

Udara pagi itu terasa sejuk, membantu memulihkan sedikit tenaga di tubuhnya yang masih terasa lemas setelah dua hari terbaring di tempat tidur.

Di pergelangan tangan kanannya, plester bekas jarum infus masih menempel, menjadi pengingat bisu betapa parahnya kondisi tubuhnya kemarin.

Sambil menikmati kehangatan pagi, tatapan Acha menerawang jauh ke depan. Pikirannya perlahan melayang, kembali teringat pada awal mula dia bisa jatuh sakit separah ini.

Kejadian itu bermula dari hari di mana dia ikut mendampingi keluarganya merayakan acara kelulusan Fitri, adiknya, yang sempat tertunda cukup lama.

Hari itu sebenarnya dipenuhi tawa dan kebahagiaan. Mereka sempat mendaftar untuk melakukan sesi foto studio keluarga demi mengabadikan momen spesial kelulusan Fitri, dilanjutkan dengan makan bersama di sebuah restoran favoritnya Fitri.

Mengingat kembali detik-detik dia tumbang di hadapan keluarganya, Acha menghela napas pelan, bersyukur karena dia kini sudah diberikan kesempatan untuk bangun dan kembali bernapas di pagi yang cerah ini.

Acha mengembuskan napas pelan, meresapi kehangatan mentari pagi sambil mengingat kembali hari kelulusan Fitri.

Sebenarnya, tidak ada satu pun percakapan tegang atau konflik di antara mereka hari itu. Semuanya berjalan begitu hangat dan penuh suka cita.

Mulai dari tawa renyah mereka di dalam studio foto saat sang fotografer mengarahkan gaya, hingga candaan Yanto yang meledek porsi makannya Fitri yang terlalu banyak di restoran.

Ranti juga tampak sangat bahagia melihat kedua putrinya berkumpul lengkap tanpa ada halangan.

Tidak ada perdebatan, tidak ada perselisihan paham, dan tidak ada cekcok sedikit pun. Hari itu murni dipenuhi kebersamaan keluarga yang harmonis.

Justru karena suasananya begitu membahagiakan dan santai, Acha memilih untuk memendam rasa lelahnya rapat-rapat.

Dia tidak ingin merusak momen spesial kelulusan adiknya hanya karena mengeluhkan pusing atau tubuhnya yang mulai limbung.

Dia terus memaksakan senyum dan mendampingi keluarganya hingga acara selesai.

Hingga akhirnya, begitu mereka tiba di rumah dan pintu tertutup, pertahanan tubuh Acha benar-benar runtuh.

Kelelahan yang sejak tadi dia tumpuk dan abaikan mendadak merusak seluruh sistem tubuhnya, membuatnya ambruk tak sadarkan diri di hadapan keluarganya yang seketika berubah panik.

Kenangan tentang detik-detik dia ambruk di ruang tamu itu masih menyisakan rasa ngilu di dada Acha. Dia ingat betul bagaimana kepanikan langsung merajai rumah begitu tubuhnya terbanting lemah ke lantai.

"Ya ampun Acha" Ucap Ranti, langsung histeris memanggil namanya sambil menepuk-nepuk pipinya yang sudah pucat pasi.

"Mamah tenang dulu yah biar papah bawa Acha ke kamarnya dulu" Ucap Yanto menenangkan Ranti.

Sementara Yanto, dengan sigap langsung mengangkat tubuhnya untuk dibaringkan di sofa, lalu mondar-mandir menelepon dokter langganan keluarga dengan suara bergetar.

"Loh kenapa sih teh....hiks..."Fitri, bahkan menangis histeris karena ketakutan melihat kakaknya mendadak tak sadarkan diri tanpa memberikan respon apa pun.

Semua kekacauan itu terjadi begitu cepat, kontras dengan tawa bahagia yang baru saja mereka bagi di restoran beberapa jam sebelumnya.

Di tengah lamunannya yang menerawang jauh ke masa-masa panik itu, lamunan Acha mendadak buyar ketika dia mendengar suara notifikasi yang masuk ke dalam handphonenya Acha.

Acha menolehkan kepalanya perlahan ke arah handphonenya. Dari balik ponselnya terdapat notifikasi dari Nathan yang bilang kalau sebentar lagi dia akan berangkat untuk kerumahnya Acha.

Jantung Acha berdegup sedikit lebih cepat begitu melihat notifikasi pesan yang dikirim oleh Nathan, masih tidak menyangka kalau kedekatannya dengan Nathan berjalan secepat ini.

Di tengah sisa-sisa rasa lemas yang masih mendera tubuhnya, Acha teringat bahwa keluarganya—terutama kedua orang tuanya—belum tahu menahu tentang keberadaan Nathan, apalagi status hubungan mereka yang serius.

Dengan langkah pelan dan hati-hati, Acha beranjak dari kursi santainya di halaman depan rumahnya.

Dia segera masuk ke dalam rumah untuk memberitahu keluarganya sebelum Nathan keburu mengetuk pintu.

"Mamah... Papah..." panggil Acha lembut saat menemui kedua orang tuanya yang sedang duduk santai di ruang keluarga bersama Fitri.

Ranti, Yanto, dan Fitri langsung menoleh ke arah Acha dengan sorot mata penuh perhatian. Ranti bahkan langsung bangkit dan mendekati sulungnya itu dengan cemas.

"Acha? Kok udah bangun? Kenapa nggak istirahat aja di kamar? Badan kamu kan masih lemas, Nak."

Acha menggeleng pelan sambil tersenyum tipis untuk menenangkan mamahnya.

"Aku udah agak enakan kok, Mah, bosen kalau tiduran mulu di kamar. Oh iya... ada yang mau aku omongin sebentar."

"Ngomong apa, teh? Ada apa?" tanya Fitri penasaran.

Acha menarik napas sebentar, meredakan sedikit rasa gugup di dadanya.

"Itu... ada teman aku yang datang mau jenguk. Dia dari kemarin nyariin aku pas aku pingsan, tapi karena kemarin aku nggak ada kabar, dia baru sempat kesini sekarang."

Yanto yang duduk di sofa menyeringai kecil seraya melipat tangannya di dada, menatap sang putri dengan tatapan menyelidik bercampur geli.

"Teman? Teman kerja atau teman yang 'spesial' nih, sampai bela-belain dateng sepagi ini?" tanya Yanto dengan nada bercanda khas seorang ayah.

Ranti ikut tersenyum penuh arti. "Iya, jangan-jangan cowok kamu ya, Cha? Yang kemarin sempat kamu ceritain?"

Wajah Acha langsung merona merah menahan malu mendapat godaan dari kedua orang tuanya. Dia hanya bisa mengangguk pelan sambil merapikan rambutnya yang sedikit berantakan.

"Iya, Mah, Pah... Namanya Nathan. Dia mau masuk buat ketemu sama Mamah, Papah, dan Fitri sekalian mau minta izin buat jenguk aku secara langsung."

Mendengar pengakuan Acha, Yanto dan Ranti saling berpandangan sejenak sebelum akhirnya mengangguk tersenyum, menyambut niat baik pemuda yang sudah datang jauh-jauh demi putri mereka.

"A Nathan itu sebenarnya... Mau datang sekarang. Tadi dia udah ngabarin kalau dia mau jalan ke rumah, makanya aku buru-buru kasih tahu Mamah sama Papah dulu sebelum dia beneran nyampe depan pintu."

Ranti kontan terkekeh pelan melihat tingkah anak sulungnya yang tampak salah tingkah.

"Oh, jadi belum nyampe nih? Wah, sigap juga ya pacar kamu, tumben-tumbennya ada cowok berani dateng pagi-pagi gini buat jenguk kamu."

"Makanya itu, Mah. Dia kan sempat panik banget karena dua hari kemarin aku nggak ada kabar pas pingsan. Jadi begitu tahu aku udah sadar dan ngasih tahu alamat rumah ini, dia langsung mau ke sini," jelas Acha dengan nada lirih, ada secercah rasa bersalah sekaligus haru di balik suaranya.

Yanto, sang ayah, mengangguk-angguk bijak sambil tersenyum tipis. Sorot matanya menyiratkan ketertarikan untuk segera mengenal pemuda yang sudah membuat putrinya begitu cemas sekaligus dicemaskan itu.

"Bagus kalau gitu. Artinya dia anak yang bertanggung jawab dan benar-benar peduli sama kamu, Cha. Kalau dia udah sampai depan, suruh masuk aja. Papah sama Mamah pengen kenalan langsung sama cowok yang udah bikin anak gadis kita klepek-klepek ini."

Mendengar restu dan lampu hijau yang diberikan oleh sang ayah, Acha merasa jauh lebih lega.

Belum sempat dia membalas perkataan papahnya, suara derap langkah kaki terdengar berhenti tepat di teras rumah, disusul dengan ketukan pelan di pintu utama.

Acha menoleh ke arah pintu dengan jantung yang kembali berdegup kencang. Pertemuan pertama Nathan dengan keluarganya—dalam situasi yang cukup dramatis ini—akan segera dimulai.

Suasana di dalam kamar Acha terasa hangat. Sebelum kedatangan Nathan yang sebentar lagi tiba, Ranti—sang mamah—memutuskan untuk membantu Acha membersihkan dirinya.

Mengingat putrinya itu baru saja bangun dari pingsan panjang dan tubuhnya masih sangat lemas, Ranti dengan telaten mengelap tubuh Acha dengan air hangat (diwaslap) serta membantunya mengenakan pakaian yang lebih bersih dan nyaman.

Acha duduk bersandar di tepi tempat tidur, membiarkan mamahnya merapikan pakaiannya dengan penuh kasih sayang.

Tiba-tiba, di tengah kesunyian kamar itu, suara dering panggilan video dari ponsel Acha yang tergeletak di atas nakas berdering nyaring. Layar ponsel tersebut menyala terang, menampilkan nama Nathan di sana.

Acha melirik sekilas ke arah ponselnya, lalu menatap Ranti dengan wajah merona malu.

"Mah... itu A Nathan video call," gumam Acha pelan, merasa tidak enak mengangkatnya karena posisinya sedang dibantu berpakaian.

Ranti tersenyum maklum melihat keponakan—eh, putri sulungnya—yang salah tingkah.

"Ya udah, angkat saja atau kasih ke Fitri biar nggak penasaran dia nyarinya," jawab Ranti lembut sambil tetap merapikan kancing baju Acha.

Belum sempat Acha meraih ponselnya, pintu kamar terbuka sedikit dan Fitri sang adik muncul sambil membawa ponsel Acha yang terus berdering.

"Teh, Handphone loh bunyi nih, dari A Nathan. Mau diangkat nggak? Mumpung dia lagi video call, kayaknya dia nyasar deh gara-gara banyak belokan komplek," ujar Fitri dengan nada usil khas seorang adik.

Acha menggeleng pelan, wajahnya semakin memerah. "Fit, tolong angkat dong. Bilangin aja gue lagi... euh, lagi dibantu Mamah ganti baju."

Fitri terkekeh geli, lalu dengan sigap menggeser tombol hijau pada layar ponsel tersebut dan langsung mengangkat panggilan video dari Nathan.

"Halo, A Nathan!" sapa Fitri langsung sambil mengarahkan kamera depan ke wajahnya sendiri, sementara di belakangnya Ranti masih tampak sibuk merapikan pakaian Acha.

Di seberang layar, wajah Nathan yang tampak tegang dan duduk di balik kemudi mobil langsung muncul. Pria itu terlihat kebingungan di sebuah persimpangan komplek perumahan.

"Eh, kamu siapa? Kok kamu yang angkat? Acha nya mana?" tanya Nathan dengan napas agak terburu-buru, terdengar panik.

"Aku adiknya teh Acha" Ucap Fitri singkat

"Duh, Aa di mana nih? Tadi disuruh belok kiri di pos satpam, tapi ini banyak banget belokan kecilnya, aa takut salah jalan terus malah nyasar makin jauh."

Fitri tertawa kecil melihat kepanikan di wajah calon kakak iparnya itu.

"Makanya, jangan terlalu ngebut deh, A. Makanya nyasar kan? Teh Acha-nya lagi nggak bisa pegang Handphone dulu, lagi dibantu Mamah dipakaikan baju soalnya dia masih lemas banget habis bangun tidur."

Mendengar penjelasan Fitri, ekspresi Nathan di layar seketika melunak, berganti dengan rasa khawatir.

"Oh... gitu. Bilangin sama Acha jangan buru-buru ya, suruh pelan-pelan aja. Terus ini Aa harus belok ke mana lagi, dek? Tolong arahin Aa dong biar nggak nyasar."

Fitri pun mengangguk, lalu mulai memandu arah dengan sabar, sementara Ranti dan Acha di kamar hanya bisa tersenyum melihat tingkah Nathan yang begitu antusias sekaligus ketakutan salah arah demi bisa segera bertemu dengan Acha.

"Oke, A Nathan, coba dengar baik-baik instruksi dari aku ya," ucap Fitri dengan nada serius yang dibuat-buat, bertindak seolah-olah dirinya adalah pemandu jalan profesional.

Di layar ponsel, Nathan mengangguk patuh sambil tetap memegang kemudi mobilnya dengan sebelah tangan.

"Iya, siap, Komandan. Aa dengerin. Ini di depan aa ada pertigaan sama pohon mangga besar, harus ke mana nih?"

"Nah, pas banget! Di pohon mangga itu, aa belok ke kiri. Terus lurus aja sekitar lima puluh meter sampai nemu warung kelontong warna biru di sebelah kanan jalan," jelas Fitri dengan lancar.

"Oke, kiri di pohon mangga, terus cari warung biru. Lanjut?" tanya Nathan sambil mulai memutar setir mobilnya perlahan mengikuti arahan.

"Nah, pas di depan warung biru itu, aa belok kanan masuk ke jalan paving. Rumah aku ada di urutan keempat dari pojok, pagar rumahnya warna hitam minimalis ada tanaman hias gantungnya," sambung Fitri memberikan patokan yang sangat jelas.

Ranti yang sudah selesai merapikan kancing baju Acha kini mendekat ke arah Fitri, ikut melongok ke layar ponsel sambil tersenyum geli.

"Jangan ngebut-ngebut ya bawa motornya, Nak Nathan. Pelan-pelan aja, jalannya agak sempit di bagian dalam," pesan Ranti dengan nada ramah yang sengaja dia perdengarkan lewat suara Fitri.

Di seberang layar, mata Nathan tampak melebar kaget saat mendengar suara seorang wanita paruh baya yang menyapanya.

Wajah pria itu langsung berubah kikuk dan salah tingkah seketika, menyadari bahwa dia baru saja berbicara tidak santai dengan calon ibu mertuanya.

"Eh... i-iya, Tante! Baik, Tante... Maaf kalau saya agak ribet nyarinya," balas Nathan dengan nada canggung, membuat Fitri dan Ranti kompak terkekeh geli di ujung telepon.

"Udah, nggak apa-apa. Lanjutin aja bawa motornya, ditunggu ya," ujar Fitri sambil terkekeh, lalu langsung menutup panggilan video tersebut agar Nathan bisa fokus berkendara.

Di dalam mobil, Nathan menarik napas dalam-dalam untuk meredakan rasa malunya, lalu kembali fokus menyetir.

Benar saja, tidak butuh waktu lama baginya untuk menemukan warung kelontong biru dan berbelok ke jalan paving yang dimaksud.

Begitu dia melihat sebuah rumah dengan pagar hitam minimalis dan tanaman hias gantung yang asri, Nathan langsung menghentikan motornya tepat di depan gerbang.

Pria itu mematikan mesin, merapikan jaketnya sejenak, lalu keluar dari mobil dengan perasaan lega bercampur debaran jantung yang kembali bergemuruh kencang. Dia akhirnya sampai di tujuan.

Suasana di ruang tamu rumah Acha terasa begitu hangat dan cair setelah kedatangan Nathan.

Setelah sempat dilanda rasa canggung karena pertemuan pertamanya dengan Ranti dan Yanto, kini Nathan duduk berdampingan dengan Acha di sofa panjang.

Secangkir teh hangat yang disuguhkan Ranti mengepul pelan di atas meja, menemani percakapan santai di antara mereka.

Yanto, yang duduk di sofa seberang, menatap Nathan dengan tatapan penuh keakraban sembari melempar pertanyaan pembuka untuk mengenal lebih jauh sosok pemuda yang datang menjenguk putrinya itu.

"Jadi, Nathan... kalau boleh tahu, kesibukan sehari-hari sekarang apa? Rumah aslinya daerah mana?" tanya Yanto ramah.

Nathan tersenyum tipis, merapikan duduknya sejenak sebelum menjawab dengan nada jujur dan terbuka.

"Iya, Om. Kalau soal tempat tinggal, kebetulan saya tinggal di rumah peninggalan orang tua saya sebelum mereka meninggal dunia, Om, Tante," jawab Nathan tenang.

"Orang tua saya sudah lama berpulang, jadi sekarang saya praktis sudah sebatang kara dari sisi keluarga inti."

Mendengar hal itu, Ranti langsung menunjukkan ekspresi iba. Sorot matanya melembut, menatap Nathan dengan penuh empati.

"Oh, begitu... Yang sabar ya, Nak Nathan. Pasti berat ya ditinggal orang tua sejak lama."

Nathan mengangguk pelan sambil tersenyum simpul. "Iya, Tante, makasih. Tapi alhamdulillah saya nggak sepenuhnya sendiri kok. Saya masih punya dua orang saudara tiri dari ibu saya, tapi kami punya latar belakang keluarga yang agak beda karena bapak dari tiap anak itu berbeda-beda," cerita Nathan tanpa ada rasa canggung sedikit pun.

Acha yang duduk di sampingnya mendengarkan dengan penuh perhatian, sementara tangannya sesekali merapikan ujung selang infus yang masih terpasang di pergelangan tangannya. Dia tahu betul betapa mandirinya Nathan dalam menjalani hidup.

Yanto manggut-manggut mendengar penjelasan tersebut. "Wah, perjalanan hidup kamu lumayan berliku juga ya. Terus, untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari dan bertahan hidup, sekarang kamu kerja di mana atau ada kesibukan apa di rumah?"

"Soal pekerjaan, saya nggak kerja ikut orang lain, Om. Saya merintis usaha sendiri di rumah, buka jasa percetakan sablon," jelas Nathan dengan mata yang berbinar antusias.

"Fokus utamanya ke sablon tatak sandal. Alhamdulillah, walaupun kecil-kecilan, pesanannya lumayan jalan terus dan bisa jadi pegangan hidup saya sampai sekarang."

Ranti dan Yanto tampak terkesan mendengar penuturan Nathan. Di usia mudanya, pemuda itu sudah menunjukkan kemandirian, ketekunan, dan tanggung jawab yang besar—sifat-sifat yang langsung membuat kedua orang tua Acha menaruh rasa hormat dan simpati mendalam kepadanya.

Mendengar cerita Nathan tentang perjuangan hidupnya yang mandiri dan sebatang kara, Yanto tersenyum kecil.

Ada binar penuh pemahaman dan kenangan masa lalu yang terpancar dari sorot mata pria paruh baya itu.

Yanto kemudian meletakkan cangkir tehnya ke atas meja, lalu bersandar santai ke sofa sembari menatap Nathan lekat-lekat.

"Cerita kamu soal perjuangan hidup itu... bikin om jadi ingat masa muda dulu, Than," ucap Yanto membuka percakapan dengan nada hangat dan bernada nostalgia.

Ranti yang duduk di samping suaminya spontan melirik Yanto, lalu tersenyum tipis seraya menggelengkan kepala pelan, seolah tahu cerita mana yang akan diungkit oleh suaminya itu.

Yanto melanjutkan ceritanya dengan santai. "Dulu waktu om mau ngelamar tante, perjuangannya jauh lebih bikin jantungan dari pada kamu sekarang nyari alamat rumahnya Acha. Om dulu cuma anak orang biasa, dari keluarga yang serba kekurangan alias miskin. Sementara Mamah Acha..." Yanto menunjuk Ranti dengan dagunya,

"...berasal dari keluarga terpandang yang kaya raya dan punya kedudukan."

Nathan mendengarkan dengan seksama, sementara Acha tampak tersenyum kecil, sudah hafal di luar kepala dengan cerita klasik perjuangan cinta orang tuanya itu.

"Tentu saja orang tua Mamah Acha sempat menolak mentah-mentah," lanjut Yanto mengenang masa lalunya.

"Mereka menganggap derajat kami terlalu jauh berbeda. Takut Mamah Acha hidup susah kalau nikah sama om. Tapi, om nggak patah arang. Om sadar kalau cinta aja nggak cukup, jadi om buktikan lewat kerja keras, ketulusan, dan sikap tanggung jawab yang konsisten setiap hari."

Yanto mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan, menatap Nathan langsung di mata dengan sorot penuh penghargaan.

"Om datengin orang tuanya Mamahnya Acha berkali-kali, nggak pernah nyerah nunjukin kalau om serius dan sanggup melindungi anak gadis mereka. Sampai akhirnya, ketulusan dan kerja keras om luluhin juga hati mereka, sampai akhirnya kami direstui dan bisa menikah sampai punya anak-anak."

Yanto menepuk paha Nathan pelan penuh keakraban. "Makanya, om paham banget sama posisi kamu, Than. Kalau kamu orangnya ulet, pekerja keras, dan tulus sayang sama Acha, om sangat menghargai itu. Derajat atau materi itu bisa dicari dan diusahakan bersama, tapi ketulusan hati itu yang paling mahal."

Mendengar restu tersirat dan pengalaman hidup yang dibagikan langsung oleh calon ayah mertuanya, dada Nathan terasa lapang seketika.

Beban dan rasa canggung yang sempat dia rasakan langsung menguap, tergantikan oleh rasa haru dan rasa hormat yang teramat besar kepada Yanto dan Ranti.

Mendengar ucapan bijak serta restu yang tersirat jelas dari Yanto, seketika beban berat yang sejak kemarin menghimpit dada Nathan seolah terangkat tak bersisa.

Dia menoleh ke arah Acha, mendapati sang kekasih sedang menatapnya dengan binar mata berkaca-kaca penuh kebahagiaan.

Senyuman lebar terkembang di bibir keduanya, meluapkan rasa lega yang teramat sangat karena rintangan terbesar dalam hubungan mereka—restu dari orang tua—ternyata bisa dilalui dengan begitu hangat.

"Makasih banyak, Om, Tante... Atas ilmu dan pelajarannya, buat saya ini berarti banget," ucap Nathan dengan suara tulus bergetar, menyalami tangan Yanto dan Ranti bergantian sebagai bentuk rasa hormat dan terima kasihnya.

Ranti tersenyum hangat sambil menepuk punggung tangan Nathan pelan.

"Sama-sama, Nak Nathan. Yang penting kamu bisa jaga Acha dengan baik ke depannya."

Suasana ruang tamu yang tadinya diliputi ketegangan kini berubah menjadi begitu akurat dan penuh keakraban.

Merasa suasana sudah jauh lebih cair dan perut mereka mulai keroncongan menjelang siang hari, Nathan tiba-tiba teringat akan sesuatu yang sudah dia siapkan di motornya.

"Eh, omong-omong, tadi pas di jalan ke sini saya sempat mampir dulu ke tempat makan langganannya Acha," ujar Nathan sambil sedikit merapikan duduknya, tampak antusias.

"Saya ingat banget Acha pernah cerita kalau dia lagi pengen banget mie ayam langganannya itu."

Acha langsung menoleh dengan mata berbinar-binar begitu mendengar kata 'mi ayam'. "Wah, beneran, A?! Mie ayam abang mangkal yang di dekat perempatan itu ya?" tanya Acha girang, seolah lupa bahwa tenaganya masih agak lemas akibat infus.

"Iya, betul!" balas Nathan tersenyum lebar.

"Tapi tenang, Cha, saya nggak cuma beli buat kamu doang kok. Saya sengaja beli empat bungkus sekalian buat kita makan bareng-bareng di sini—buat Om Yanto, Tante Ranti, Fitri, sama buat kamu juga."

Mendengar perhatian kecil namun sangat manis dari Nathan itu, Ranti dan Yanto kembali dibuat kagum. Pemuda itu tidak hanya sopan dan pekerja keras, tetapi juga sangat peka dan tahu cara mengambil hati seluruh anggota keluarga.

"Wah, kebetulan banget, om dari tadi pagi malah belum sarapan nasi, dari bau mie ayamnya sih udah pasti enak nih," kata Yanto sambil tertawa renyah menyambut antusiasme Nathan.

Fitri yang sejak tadi mendengarkan dari dekat langsung bersorak girang sambil bertepuk tangan kecil. "Asyik! Ditraktir calon kakak ipar nih! Makasih ya, a Nathan!"

Tanpa menunggu lama, Nathan segera beranjak pamit sebentar ke teras untuk mengambil bungkusan mi ayam yang ia taruh di mobilnya. Sementara itu, Acha membantu mamahnya menyiapkan piring dan mangkuk di meja makan.

Kebahagiaan malam tadi yang sempat tertunda kini terbayar lunas, menciptakan kehangatan keluarga baru yang begitu indah bagi Acha dan Nathan.

Setelah selesai menikmati mi ayam bersama di ruang keluarga dengan penuh canda tawa, suasana mendadak terasa lebih akrab dan hangat. Namun, di balik keceriaan itu, Ranti tidak lupa dengan kondisi kesehatan putri sulungnya.

Melihat jam dinding yang sudah menunjukkan pukul tiga sore, Ranti langsung bangkit dan mengambil obat yang sudah diresepkan dokter untuk Acha dari atas nakas.

"Yuk, Acha. Waktunya minum obat dulu ya, biar badan kamu cepat fit dan infusnya bisa segera dilepas," kata Ranti lembut sambil menyodorkan beberapa butir obat serta segelas air hangat kepada putrinya.

Acha menurut. Dia meminum obatnya dengan tertib, dibantu oleh Fitri yang sigap menyodorkan gelas.

Setelah obat itu tertelan, rasa kantuk yang datang dari efek obat dan sisa kelelahan langsung menyerang tubuh Acha. Matanya perlahan mulai terasa berat.

Melihat kondisi Acha yang mulai mengantuk, Nathan yang duduk di sofa seberang langsung tahu batasan. Dia melirik sekilas ke arah jendela luar di mana langit sore mulai berubah jingga, lalu berinisiatif untuk pamit.

Dengan nada santai namun penuh pertimbangan, Nathan bertukar pandang dengan Yanto dan Ranti.

"Om, Tante... sepertinya saya pamit pulang saja ya. Hari juga sudah mulai sore, dan saya nggak enak kalau terlalu lama mengganggu waktu istirahat Acha. Dia kan belum sepenuhnya pulih dan butuh tidur total supaya cepat sembuh."

Yanto mengangguk mengerti, sorot matanya menyiratkan persetujuan sekaligus apresiasi.

"Iya, Nak Nathan. Bagus kalau kamu paham. Kesehatan Acha memang harus jadi prioritas utama sekarang. Jangan sungkan-sungkan main ke sini lagi kalau Acha sudah pulih, ya."

Ranti ikut mengangguk ramah. "Betul kata Om. Terima kasih banyak ya untuk mie ayamnya hari ini, dan hati-hati di jalan pulangnya."

Mendengar ucapan keluarganya, Acha yang matanya sudah setengah terpejam berusaha tersenyum manis ke arah Nathan.

"Makasih ya, A... udah mau datang jauh-jauh jenguk aku," ucap Acha dengan suara lirih karena sudah mengantuk berat.

Nathan tersenyum hangat, merasa lega luar biasa karena kunjungan hari ini berjalan jauh lebih baik dari yang dia bayangkan.

"Iya, sama-sama, Sayang. Kamu istirahat yang nyenyak ya, jangan mikirin apa-apa dulu. Besok-besok aku pasti main ke sini lagi."

Setelah berpamitan dan bersalaman penuh takzim kepada Yanto dan Ranti, Nathan melangkah keluar rumah dengan hati yang lapang, meninggalkan Acha yang perlahan terlelap dalam tidur pulasnya yang tenang.

Selepas meninggalkan rumah Acha dengan hati yang jauh lebih tenang dan berbunga-bunga, Nathan tidak langsung pulang ke rumahnya sendiri.

Dia mengarahkan laju kendaraannya menuju rumah Umi Nani, tempat di mana keluarga besar sedang berkumpul.

Setibanya di sana, suasana rumah tampak begitu semarak dan ramai. Umi Nani bersama sanak saudara yang lain rupanya sedang mengadakan acara kumpul keluarga sekaligus syukuran kecil-kecilan. Di bagian halaman belakang, aroma harum dari bumbu bakaran langsung menguar menyambut kedatangan Nathan.

“Wah, pas banget nih si abang baru datang! Yuk, langsung gabung bantu kipas-kipas arang!” seru salah satu saudaranya dari arah area pemanggangan.

Ternyata, sore menjelang malam itu mereka sedang mengadakan acara makan-makan bakar-bakaran (barbeque ala keluarga) untuk mempererat tali silaturahmi. Panggangan arang tampak mengepulkan asap tipis dengan deretan daging, sosis, dan ikan yang siap dibakar.

Nathan yang tadinya merasa lelah sehabis berkendara seketika tersenyum lebar. Suasana hangat dan riuh khas keluarga besar itu langsung meredapkan sisa-sisa penat di kepalanya.

Tanpa banyak basa-basi, dia melempar jaketnya ke kursi terdekat, menyingsingkan lengan bajunya, lalu bergabung dengan para sepupu dan paman yang sudah sibuk mengipasi arang dan melumuri bahan makanan dengan bumbu.

Di tengah keriuhan tawa dan canda gurau keluarga Umi Nani, Nathan menikmati momen tersebut dengan perasaan lapang.

Hari ini benar-benar hari yang sempurna baginya—setelah ketegangan kemarin dan kelegaan mendapat restu dari orang tua Acha, kini dia bisa menutup hari dengan berkumpul bersama keluarganya sendiri dalam kehangatan yang luar biasa.

Malam harinya, setelah melewati hari yang melelahkan namun penuh kelegaan, Acha tertidur pulas di kamarnya berkat efek obat dan rasa lelah yang masih mendera tubuhnya.

Di dalam lelapnya tidur itu, alam bawah sadar Acha membawanya ke dalam sebuah mimpi yang terasa begitu nyata sekaligus mengherankan.

Acha mendapati dirinya berada di sebuah taman yang sangat asri dengan hamparan rumput hijau dan cahaya keemasan yang menenangkan.

Di hadapannya, berdiri seorang wanita paruh baya berparas lembut, mengenakan pakaian serba putih dengan senyuman hangat yang begitu meneduhkan hati siapa pun yang melihatnya.

Wanita itu menatap Acha lekat-lekat, lalu melangkah mendekat secara perlahan.

"Kamu Acha, kan?" tanya wanita itu dengan suara yang begitu lembut, selembut angin sore.

Acha yang merasa kebingungan hanya bisa mengangguk pelan dalam mimpinya. "Iya... benar. Tante ini... siapa ya? Kok tahu nama saya?"

Wanita itu tersenyum semakin lebar, lalu meraih tangan Acha yang masih terpasang plester infus, menggenggamnya dengan penuh kehangatan.

"Saya Siska... Bundanya Nathan," jawab wanita itu tenang.

Seketika napas Acha tertahan dalam mimpi. Jantungnya berdegup kencang karena rasa terkejut.

Bagaimana bisa? Acha tahu persis bahwa Siska adalah almarhumah ibunda Nathan yang telah lama berpulang, dan selama ini dia sama sekali belum pernah mengenalnya.

Apalagi melihat atau bertemu dengan wanita itu semasa hidupnya. Bahkan, foto mendiang Siska pun jarang sekali Nathan tunjukkan karena rasa rindunya yang teramat dalam.

Sebelum Acha sempat melontarkan pertanyaan kebingungannya, Siska menggenggam tangan Acha semakin erat, menyalurkan rasa hangat yang menenangkan jiwa.

"Terima kasih ya, Nak... Terima kasih karena sudah ada di sisi Nathan selama ini. Anak itu sudah melalui banyak hal berat sendirian sejak kami tinggalkan," ucap Siska dengan binar mata berkaca-kaca penuh ketulusan.

"Sekarang, Tante titip Nathan ya sama kamu... Jaga dia, sayangi dia, dan temani terus langkahnya, ya, Acha?"

Belum sempat Acha menjawab atau mengiyakan permintaan itu, sosok Siska perlahan-lahan memudar, tersapu oleh cahaya putih hangat yang semakin terang, meninggalkan Acha yang terpaku seorang diri di taman tersebut.

Gasp!

Acha tiba-tiba terperanjat terbangun dari tidurnya. Napasnya terengah-engah, dadanya naik turun dengan cepat, dan keringat dingin tampak membasahi pelipisnya.

Kamar tidurnya sudah gelap gulita, hanya ditemani cahaya lampu tidur yang kekuningan.

Acha meraba dadanya sendiri, mencoba menetralisir debaran jantungnya yang masih menggila. Mimpi itu terasa begitu hidup, seolah-olah almarhumah Siska benar-benar hadir dan berbicara langsung kepadanya.

Di tengah keheningan malam itu, bayangan wajah wanita dalam mimpinya dan sosok Nathan berkelebat silih berganti di dalam kepala Acha, meninggalkan sejuta tanya dan rasa haru yang mendalam.

Be to continued

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!