Telah ku lewati perjalanan panjang dengan air mata...
lelah ku melangkah dengan harapan yang hampa....
ku cari sinar terang tuk jalan gelap didepan mata, namun tak kunjung ku jumpa...
Hati menjerit serta memanjatkan doa....
berharap semua cepat mendapatkan akhir bahagia....
Di tengah hati gudah dan gelisah secercah cahaya datang menerpa....
ke hadiran yang ku nanti telah tiba...
dan ku pilih dirimu tuk melengkapi hidup dan menemani sisa umur ku...
Tak banyak ku pinta padamu cukup cintai ku segenap jiwamu dan bimbing aku agar tetap di jalan yang benar...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raudah Sahidah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cinta Dan Obsesi
Malam semakin larut, dan cahaya bulan yang masuk perlahan melalui celah tirai jendela menjadi satu-satunya penerang di dalam kamar Rania yang remang itu. Di atas tempat tidurnya yang empuk, Rania duduk bersandar pada tumpukan bantal, punggungnya terasa lelah setelah seharian berdiri dan bergerak ke sana kemari di restoran, namun pikirannya jauh lebih lelah daripada tubuhnya. Matanya terpaku pada layar ponsel yang redup di tangannya, jari-jarinya bergerak pelan di atas layar, membuka dan menutup kontak yang sama berulang kali nama Dimas.
Ia ingin menelponnya. Sangat ingin. Sejak kepergian Dimas dari restoran, wajah pria itu tak pernah lepas dari pikirannya. Setiap kali ia menutup mata, yang ia lihat hanyalah tatapan Dimas, senyum Dimas, suara Dimas semuanya berputar tanpa henti di kepalanya, membuatnya tak tenang, tak bisa istirahat, tak bisa berhenti memikirkan cara agar bisa semakin dekat dengannya.
"Tapi... alasannya apa?" Pikirnya cemas.
" Sudah malam begini, apa yang akan kukatakan jika aku menelponnya? Halo Kak Dimas, aku kangen...itu terlalu berani, terlalu jelas, dan kak Dimas pasti akan merasa aneh"
" Halo Kak, ada yang ingin kutanyakan... tapi pertanyaan apa? Aku tidak punya hal khusus untuk ditanyakan"
Semua alasan yang terlintas di benaknya terasa pura-pura, terasa dibuat-buat, dan ia takut Dimas akan menyadari perasaannya, lalu menjauhinya. Itu yang paling ia takutkan bukan ditolak, tapi dihindari.
Rania menghela napas panjang, lalu membiarkan ponsel itu tergeletak di sampingnya, menatap langit-langit kamar dengan tatapan kosong.
" Harus bagaimana?" batinnya.
"Aku harus menemukan cara. Aku harus menemukan alasan. Aku harus bisa bicara dengannya, lebih sering, lebih dekat... sebelum wanita itu Ibu Rosita Wijaya benar-benar mengambilnya dariku"
Di tengah kebingungan dan kegelisahan yang membelenggunya itu, tiba-tiba ponsel di sampingnya berdering nyaring, memecah keheningan malam yang sunyi. Rania tersentak hebat dari lamunannya, jantungnya berpacu kencang seketika, dan tanpa berpikir dua kali ia langsung meraih ponsel itu dengan tangan yang sedikit gemetar. Matanya berbinar penuh harap.
"Pasti Kak Dimas! Pasti dia yang menelponku! Mungkin dia juga merindukanku!" batinya.
Namun saat layar ponsel itu menyala dan menampilkan nama penelepon, harapan itu seketika runtuh dan berganti dengan rasa kecewa yang mendalam. Bukan nama Dimas yang tertera di sana. Melainkan nama yang sudah sangat ia kenal, Yuna.
Rania menghela napas berat, rasa kecewa itu menjalar ke seluruh tubuhnya, membuatnya terasa malas dan tak berminat untuk mengangkat telepon itu. Namun panggilan itu terus berdering, dan akhirnya dengan berat hati ia menggeser tombol hijau, lalu meletakkan ponsel di telinganya dengan nada yang sudah terlihat jelas malas dan tak bersemangat.
"Ya... ada apa, Yun?" ucap Rania datar, tanpa sedikit pun senyum di wajahnya.
Dari seberang sana, suara Yuna terdengar ceria dan lantang, penuh semangat yang justru semakin membuat Rania merasa lelah.
"Wah, wah... kamu kenapa, Ran? Kok gak semangat gitu? Kamu... memangnya gak kangen sama aku?" tanya Yuna dengan nada bercanda namun tulus.
Rania memutar bola matanya pelan, lalu menjawab singkat, "Enggak"
"Iihh kamu jahat banget sih!" seru Yuna pura-pura tersinggung, meski nada bicaranya tetap terdengar akrab dan hangat.
"Kita kan udah lama banget gak ketemu, Ran. Kamu gak kangen sama sahabatmu ini?"
"Ya elah, Yun" jawab Rania seraya merebahkan tubuhnya di atas kasur yang empuk, menatap langit-langit kamar dengan tatapan kosong.
"Dari sini ke kota cuma kurang dari satu jam. Bukan sampai ke luar negeri juga. Gak perlu berlebihan gitu lah"
"Tapi kan tetap aja kita udah lama gak ketemu" tekad Yuna, suaranya terdengar sedikit merajuk namun tetap ramah.
"Aku kan sering kepikiran kamu, Ran. Kamu di sana baik-baik aja? Kerjaan gimana? Semua lancar?"
Rania menghela napas pelan, sedikit tersentuh oleh perhatian sahabatnya itu, meski pikirannya masih tertuju pada hal lain.
"Ya sudah, besok kita ketemu aja kalau begitu. Biar puas ngobrolnya" ucapnya sekadar untuk menenangkan Yuna, sekaligus agar telepon itu segera berakhir.
Namun Yuna seakan memiliki pertanyaan lain, suaranya berubah menjadi lebih serius saat ia bertanya, "Memangnya kamu gak bantu Bu Rahma lagi, Ran?"
Rania menggeleng pelan meski Yuna tak bisa melihatnya, lalu menjawab, "Sudah enggak. Sekarang aku kerja di kota, Yun. Di Narira Resto. Pulang-pergi tiap hari"
Seketika itu juga, keheningan menyelimuti seberang telepon. Yuna diam. Diam cukup lama hingga Rania mulai merasa aneh. Seakan nama itu Narira Resto membawa sesuatu yang lain, sesuatu yang Yuna ketahui namun belum sempat ia ucapkan. Seakan nama itu membuatnya tertegun, membuatnya berpikir, membuatnya menyadari sesuatu yang penting.
"Kok diam?" tanya Rania bingung, sedikit terganggu oleh keheningan itu.
"Jadi gak ketemu besok? Kalau gak bisa ya udah, gak usah dipaksa"
Yuna tersentak dari keheningannya, suaranya terdengar sedikit tergagap dan berbeda dari sebelumnya, seakan ia sedang berusaha menyembunyikan kegelisahan atau keterkejutan yang mendalam.
"Ah... besok? Besok ya... kayaknya gak bisa deh, Ran. Maaf banget. Aku harus ke kampus, dan... ada beberapa hal yang perlu aku urus. Hal penting, soalnya"
Rania mengerutkan kening, semakin bingung dengan perubahan sikap sahabatnya itu.
"Yun, kamu aneh banget sih dari tadi. Ada apa sebenarnya? Kok diam tadi pas aku bilang Narira Resto? Kamu tahu tempat itu?"
Yuna terdiam sejenak, lalu menjawab dengan nada yang berusaha terdengar biasa saja namun tetap terdengar sedikit tegang.
"Bukan... bukan gitu. Aku cuma... pernah dengar namanya aja. Restoran yang lumayan terkenal, kan? Pemiliknya... Ibu Rosita Wijaya, kan?"
Hati Rania berdegup kencang mendengar nama itu disebut oleh orang lain oleh Yuna, sahabat. Ia duduk kembali dari posisi berbaring, matanya menatap tajam ke arah jendela yang gelap.
"Kamu tahu Ibu Rosita Wijaya?" tanyanya pelan namun penuh penasaran.
"Pernah dengar, itu aja" jawab Yuna cepat, seakan tak ingin membahas hal itu lebih jauh.
"Udah dulu ya, Ran. Aku harus lanjut belajar. Besok aku kabarin lagi soal ketemuan ya. Assalamu'alaikum"
Sebelum Rania sempat menjawab, telepon itu sudah terputus. Bunyi nada sibuk terdengar berulang-ulang di telinganya, namun Rania tak segera meletakkan ponsel itu. Ia masih duduk mematung di tempat tidurnya, pikirannya berputar semakin cepat dan semakin gelap.
"Yuna tahu Ibu Rosita Wijaya...?" batinnya.
"Dan dia terdengar terkejut saat tahu aku kerja di sana. Ada apa sebenarnya? Apa yang dia sembunyikan? Atau... apakah semua orang di kota ini tahu siapa wanita itu? Apakah dia wanita yang sangat penting, sangat kaya, sangat dihormati sehingga Kak Dimas pun tertarik padanya?"
Pikiran itu semakin membakar hatinya. Cemburu yang tadinya samar kini tumbuh menjadi api yang besar dan panas. Ia meletakkan ponselnya di meja samping tempat tidur, lalu menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, menarik napas dalam-dalam berusaha menenangkan dirinya namun tak berhasil.
"Tidak boleh seperti itu"batinnya semakin keras, semakin tegas, semakin tak terbendung.
"Aku tidak boleh diam saja. Aku harus bertindak. Kalau Kak Dimas mendekati wanita itu karena statusnya, karena hartanya, karena namanya maka aku harus menunjukkan bahwa aku juga bisa. Aku bisa lebih baik, aku bisa lebih tulus, aku bisa lebih mencintainya daripada wanita itu. Dan kalau bukan karena itu... kalau memang Kak Dimas menyukainya karena perasaan maka aku harus membuatnya melihat bahwa aku ada di sini, bahwa aku lebih pantas untuknya, bahwa aku lebih cocok mendampinginya"
Rania menurunkan tangannya, menatap pantulan dirinya di cermin lemari yang redup. Matanya yang biasanya lembut kini tampak tajam, penuh tekad yang keras dan berbahaya. Ia meraih kembali ponselnya, membuka kontak Dimas sekali lagi dan kali ini, ia tak lagi ragu. Ia tak lagi bingung soal alasan. Karena ia sadar satu hal jika ia menunggu, ia akan kehilangan. Jika ia diam, ia akan kalah. Dan ia tidak mau kalah.
"Kak Dimas milikku" gumamnya pelan namun tegas, suaranya bergetar karena emosi yang tertahan.
"Dan tidak peduli siapa Ibu Rosita Wijaya itu, tidak peduli apa yang dia miliki atau siapa dia... aku tidak akan membiarkan siapa pun mengambilnya dariku. Mulai sekarang, aku akan mendekatinya. Aku akan mencari cara. Aku akan menjadi orang yang ada di sisinya, bukan wanita lain"
Jari-jarinya bergerak cepat di layar ponsel, mengetik pesan singkat namun penuh makna yang akan menjadi langkah pertamanya langkah yang kelak akan mengubah segalanya, langkah yang akan membawa benih perselisihan di antara mereka semua.
( "Selamat malam, Kak Dimas. Maaf mengganggu malam-malam begini. Aku cuma mau bilang... terima kasih sudah baik pada ku selama ini...Oh ya ka bisa ketemu besok..Semoga Kakak tidak keberatan ya...")
Rania membaca pesan itu berulang kali, memastikan nada bicaranya terdengar sopan, ramah, namun menyisakan ruang untuk lebih dekat. Lalu, dengan satu tarikan napas panjang, ia menekan tombol Kirim.
Saat pesan itu terkirim dan tanda centang muncul di layar, Rania tersenyum, senyum yang penuh harapan, namun juga penuh tekad yang buta. Ia tak tahu bahwa wanita yang ia anggap saingannya itu adalah kakak kandungnya sendiri. Ia tak tahu bahwa Dimas sudah berjanji pada Rina untuk selamanya. Dan ketidaktahuan itu, ditambah dengan cinta yang berubah menjadi obsesi, perlahan-lahan membuka pintu bagi kesedihan yang besar bagi mereka semua.
Bersambung...