NovelToon NovelToon
Warisan DENDAM

Warisan DENDAM

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Misteri / Iblis
Popularitas:332
Nilai: 5
Nama Author: `AzizahNur`

Enam pelaku. Enam putusan. Enam kematian yang selalu datang setelah sidang berakhir.

Sebagai hakim muda, Blair dikenal karena putusannya yang tegas dan tidak mudah dipengaruhi. Namun setiap kali sebuah persidangan selesai, seseorang selalu mati dengan cara yang menyerupai dosanya sendiri.

Saat Theodore, penyelidik dari Badan Anti Kriminal, mulai menelusuri rangkaian kematian itu. Blair justru dihantui oleh ingatan yang terasa asing. Obat-obatan yang terus ia konsumsi, masa lalu yang hilang, dan sosok yang seolah hidup di balik kesadarannya perlahan menyeretnya pada sebuah kebenaran yang seharusnya tetap terkubur.

Di balik pengadilan yang terlihat oleh semua orang, ternyata selalu ada pengadilan lain yang tersembunyi dari cahaya dan ketika hukum gagal memberi keadilan, seseorang akan datang untuk menagih akibat yang tak pernah tercatat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon `AzizahNur`, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 25 : Pantas menindasnya

Jeritan melengking memecah gudang yang tenggelam dalam sunyi malam. Suaranya tak terputus, setiap teriakan justru terdengar semakin nyaring, semakin putus asa.

Daniel tergeletak di lantai. Tubuhnya terpelintir dalam posisi yang tak wajar; kedua tangan dan kakinya ditekuk ke arah berlawanan, tulang-tulangnya patah. Napasnya tersengal, pendek-pendek, bercampur isak. Air mata mengalir di pipinya saat ia berusaha menyeret tubuhnya menjauh, menjauh dari sosok yang berdiri tenang di belakangnya.

“Tidak ada… tidak ada hakim yang melakukan hal sekeji ini,” gumamnya parau. “Ini… ini kejahatan.”

Langkah Blair berhenti tepat di belakangnya.

Alisnya terangkat tipis. Ia melangkah mendekat, lalu menginjak punggung Daniel cukup kuat untuk menghentikan gerakannya. Daniel mengerang, wajahnya menekan lantai tanah.

Blair menunduk. Suaranya rendah, nyaris berbisik.

“Semua ini tidak akan pernah terjadi,” katanya pelan, “kalau kalian tidak lebih dulu memilih melakukannya.”

Ia mengangkat kakinya, lalu menegakkan tubuh.

“Anak sekolah,” lanjutnya, suaranya kini datar. “Seharusnya belajar. Memikirkan masa depan. Bukan memikirkan siapa yang bisa dihancurkan, siapa yang bisa dikendalikan.”

Blair berbalik.

Pandangan tajamnya tertuju pada Emily dan teman-temannya. Mereka refleks melangkah mundur, napas tertahan saat menyadari perhatian Blair kini sepenuhnya pada mereka.

Tawa singkat keluar dari bibir Blair, tanpa kehangatan.

“Membully,” katanya perlahan. “Merampas hak orang lain. Menghancurkan hidup seseorang… bahkan sampai membunuh.”

Ia melangkah maju satu langkah.

“Itu bukan pikiran yang seharusnya dimiliki anak sekolah.”

Tatapannya menyapu mereka satu per satu.

“Merekam penderitaan seolah hiburan. Menghapus jejak kematian seolah dia tidak pernah hidup.”

Napas Emily tercekat. Ia menggeleng keras.

“Aku tidak pernah berniat membunuh,” katanya tergesa. “Dia… dia mati karena lemah.”

“Hm?” Blair mengangkat dagunya. “Lemah?”

Pandangan Blair melirik lampu yang menggantung di langit-langit gudang, bergoyang pelan.

Ia menarik napas dalam... lalu melesat.

Dalam sekejap, tangannya sudah menjambak rambut salah satu teman Emily. Tubuh gadis itu tersentak, tersandung ke belakang sebelum Blair menariknya turun dengan kasar.

Blair mencondongkan tubuh, berbisik di dekat telinganya.

“Kalau dia lemah,” ucapnya dingin, “berarti kalian pantas menindasnya?”

Gadis itu menggeleng panik, air mata mengalir. "L-lepaskan aku..."

“A-aku mohon—”

“Jadi,” lanjut Blair, suaranya tetap tenang, “bolehkah aku membalikkan semuanya?”

Kepala gadis itu dihantamkan ke lantai.

Sekali.

Dua kali.

Tiga kali.

Bunyi benturan tumpul menggema. Jeritan pecah, lalu berubah menjadi erangan saat darah mengalir dari keningnya. Blair akhirnya melepaskan rambutnya begitu saja. Tubuh itu terkulai, gemetar.

Emily menjerit.

“Lepaskan dia! Hentikan! Aku—aku bisa melaporkan ini ke polisi!”

Blair berhenti. Ia menoleh perlahan. Pandangan matanya tenang saat menatap Emily.

“Polisi?” tanyanya ringan.

Ia melangkah menjauh dari tubuh gadis yang berdarah, lalu berdiri tegak di hadapan mereka.

“Kenapa polisi baru terpikirkan sekarang?” lanjutnya. “Karena tindakanku?”

Tatapannya mengeras.

“Lalu tindakanmu sendiri...bukan kejahatan?”

Mendengar itu, tubuh Emily menegang. Rahangnya mengeras saat pandangannya berpaling, tangannya mengepal begitu kuat hingga kuku-kukunya menekan telapak sendiri.

Langkah Blair mendekat perlahan, terukur hingga ia berdiri tepat di hadapan Emily. Jarak mereka nyaris tak ada.

Blair mencondongkan tubuh. Tatapannya tajam, dingin. Suaranya merendah, berubah menjadi bisikan yang menekan.

“Kenapa?” katanya. “Tidak bisa menjawab?”

Emily menelan ludah. Napasnya tercekat.

“Atau,” lanjut Blair tanpa memberi jeda, “karena yang melakukannya adalah sahabat korban sendiri... itu bukan kejahatan?”

1
Ibu'e Arfan Call
seru deh bacanya,👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!