NovelToon NovelToon
Untuk Wanita Yang Pernah Menyelamatkanku

Untuk Wanita Yang Pernah Menyelamatkanku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Diam-Diam Cinta / CEO
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Lidya Ribka pandiangan

Alex Christopher Nozer, CEO muda sekaligus pemimpin mafia paling ditakuti di London, tak pernah percaya pada cinta. Hidupnya hanya dipenuhi darah, kekuasaan, dan pengkhianatan. Namun segalanya berubah sejak seorang wanita asing berulang kali menolongnya tanpa mengetahui siapa dirinya. Lauren Valencia Varles, gadis sederhana yang berhati lembut, tanpa sadar menjadi satu-satunya cahaya di dunia kelam Alex. Ketika takdir kembali mempertemukan mereka di perusahaan milik Alex, obsesi mulai tumbuh menjadi sesuatu yang jauh lebih berbahaya. Di balik status tunangan hasil perjodohan dan musuh yang mengincar kekuasaannya, Alex bertekad memiliki Lauren dengan caranya sendiri. Di dunia mafia, cinta bukan tentang kebebasan, melainkan kepemilikan. Mampukah Lauren bertahan di sisi pria yang rela menghancurkan siapa pun demi melindunginya, atau justru ia akan terjebak menjadi Wanita Simpanan Sang Mafia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lidya Ribka pandiangan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25. Mencari kelemahan alex

Di sebuah restoran privat di luar kota, jauh dari keramaian London, cahaya temaram lampu gantung antik menyinari ruangan yang sengaja disewa penuh malam itu, tidak menyisakan satu pun pelanggan lain selain rombongan kecil yang duduk mengelilingi meja kayu tua di tengah ruangan.

Gregor Aldric duduk di kepala meja, sosoknya tegap dan berotot meski baru menginjak usia tiga puluh tahun, rambut hitamnya dipotong pendek rapi, kontras dengan tato-tato gelap yang memenuhi kedua lengannya, menjalar dari pergelangan tangan hingga menghilang di balik lengan kemeja yang digulung kasar. Salah satu tato di lehernya, sebuah ular yang melilit belati, sedikit terlihat setiap kali ia menoleh, tanda dari masa lalu kelam yang tidak pernah sepenuhnya ia tinggalkan meski sekarang tampil sebagai investor muda yang terhormat di siang hari.

Di tangan kanannya, segelas wiski setengah penuh berputar pelan, es batunya berdenting kecil setiap kali ia menggoyangkannya. Di tangan kirinya, sebatang cerutu menyala, asapnya mengepul tebal ke udara, memenuhi ruangan dengan aroma tembakau yang menyengat, bercampur dengan bau kayu tua dan alkohol yang sudah menempel di sana bertahun-tahun.

"Aku tidak butuh alasan," kata Gregor, suaranya berat dan serak, hasil kebiasaan merokok yang sudah menempel sejak usianya masih sangat muda. Ia menyesap wiskinya sekali, matanya menatap tajam ke arah tiga pria berbadan besar yang duduk di seberang meja, masing-masing dengan ekspresi waspada, tidak berani banyak bicara di hadapannya. "Aku hanya butuh hasil."

Salah satu pria itu, bekas luka memanjang di pipi kirinya, mengangguk cepat. "Kami paham, Pak. Tapi Nozer Holdings sudah memperketat keamanan sejak insiden dua tahun lalu. Mendekati Alex secara langsung akan jauh lebih sulit sekarang."

Gregor tertawa pelan, suara tawa yang tidak menyentuh matanya sama sekali, dingin dan penuh perhitungan. Ia menghembuskan asap cerutunya perlahan ke udara, membiarkan asap itu melingkar di sekitar wajahnya sebelum menjawab. "Siapa bilang aku ingin mendekati Alex secara langsung lagi? Cara itu sudah kita coba lebih dari sekali. Kali ini, kita cari titik yang lebih lemah."

"Titik lemah, Pak?" tanya pria lain, suaranya ragu.

Gregor meletakkan gelas wiskinya perlahan, jarinya yang dipenuhi cincin perak besar mengetuk pelan permukaan meja kayu, matanya menyipit tajam, menyerupai predator yang sedang menyusun strategi berburu. "Kalian ingat setiap kali kita berhasil melukainya, entah dua tahun lalu, atau percobaan-percobaan sesudahnya? Selalu ada satu pola yang sama, yang selama ini kita abaikan begitu saja."

Ruangan itu hening sejenak, hanya suara samar denting es di gelas Gregor yang memecah keheningan.

"Selalu ada wanita yang sama yang muncul setelahnya," lanjut Gregor, suaranya turun menjadi bisikan berat yang justru terasa lebih mengancam dibanding teriakan sekalipun. "Bukan dokter dari rumah sakit mana pun, bukan pula orang suruhan yang biasa mengurus lukanya. Selalu wanita yang sama, setiap kali Alex pulang dalam keadaan babak belur akibat ulah kita. Aku baru menyadarinya setelah membandingkan laporan dari beberapa kali percobaan kita selama ini."

Pria berbekas luka itu mengerutkan kening. "Maksud Anda, wanita itu selalu ada di dekatnya setiap kali kita menyerang?"

"Tepat," jawab Gregor, menyesap wiskinya lagi, matanya berkilat penuh perhitungan. "Itu bukan kebetulan. Itu berarti wanita itu entah bagaimana selalu berada dalam jangkauan Alex, cukup dekat untuk selalu tahu ke mana harus mencarinya setiap kali dia terluka. Mungkin dia salah satu orang kepercayaannya, atau mungkin ada hubungan yang lebih personal di antara mereka."

"Cari tahu semua tentang dia," lanjut Gregor, meletakkan cerutunya di asbak, ekspresinya semakin serius. "Nama, wajah, di mana dia tinggal, apa hubungannya dengan Alex sebenarnya. Kalau benar dia orang yang begitu dekat dengannya, dia adalah kelemahan paling berharga yang pernah kita temukan."

Pria itu mengangguk, meski jelas ada keraguan yang tersembunyi di balik ekspresinya. "Baik, Pak. Akan kami usahakan."

Gregor tersenyum tipis, menyesap wiskinya sekali lagi, membiarkan cairan itu membakar tenggorokannya dengan cara yang sudah begitu familiar baginya. "Bagus. Karena kali ini, aku tidak berniat gagal lagi."

******

Malam sudah larut ketika Lauren mengunci pintu kamarnya dari dalam, duduk bersandar di kepala tempat tidur, kakinya yang masih dibalut perban ia luruskan perlahan di atas selimut. Sejak telepon aneh tadi sore, ia tidak bisa lagi merasa tenang sendirian di apartemen, terus menerus mengecek jendela dan pintu, memastikan semuanya terkunci rapat.

Ivy masih belum pulang, ada lembur mendadak di kantornya malam ini. Lauren sudah mengirim pesan singkat memberitahu keadaannya secukupnya, tanpa menceritakan detail telepon menakutkan itu, tidak ingin membuat sahabatnya semakin khawatir di tengah pekerjaan.

Ia menyalakan televisi kecil di kamarnya, mencoba mengisi keheningan dengan suara apa pun yang bisa mengalihkan pikirannya dari rasa was-was yang terus menggerogoti sejak sore tadi. Matanya sesekali melirik jam di dinding, menghitung berapa lama lagi sampai Ivy benar-benar pulang.

Terdengar suara ketukan dari arah pintu depan apartemen.

Lauren tersentak, jantungnya langsung berdebar kencang. Ia meraih kruknya, bangkit perlahan dari tempat tidur, melangkah hati-hati menuju pintu kamar, mencoba meyakinkan diri sendiri.

"Pasti Ivy. Dia lupa bawa kunci cadangan lagi, seperti minggu lalu."

Ia membuka kunci kamarnya, melangkah keluar menuju pintu depan, kruknya berdecit pelan di lantai kayu setiap kali ia bergerak. Ketukan itu terdengar lagi, lebih mantap kali ini.

"Ivy?" panggilnya, mendekati pintu, tangannya sudah siap membuka kunci.

Tidak ada jawaban dari luar, hanya keheningan sesaat sebelum ketukan itu terdengar sekali lagi.

Lauren menahan napas, tiba-tiba teringat kejadian sore tadi, telepon asing yang mengancamnya lewat rangkaian bunga lili. Tangannya berhenti di atas kunci pintu, keraguan kembali menjalar di dadanya.

"Siapa di sana?" tanyanya, suaranya sedikit bergetar.

Sebuah suara menjawab dari balik pintu, suara yang begitu familiar hingga membuat jantung Lauren berhenti sejenak sebelum kembali berdegup lebih kencang, kali ini karena alasan yang sama sekali berbeda.

"Ini aku," kata suara itu, rendah dan tenang seperti biasa. "Alex."

Lauren membeku di tempatnya, tangannya masih menggantung di atas kunci pintu, tidak yakin harus bereaksi bagaimana. Terakhir kali mereka bicara, ada kesepakatan jelas untuk menjaga jarak, terutama di luar urusan kantor. Dan sekarang, entah bagaimana, pria itu berdiri tepat di depan pintu apartemennya, malam-malam, tanpa pemberitahuan sebelumnya.

"Kenapa kau di sini?" tanya Lauren, masih belum membuka pintu sepenuhnya, suaranya campuran antara kaget dan bingung.

"Kau tidak masuk kerja hari ini," jawab Alex dari balik pintu, nadanya tetap datar, meski ada sesuatu yang tidak biasa terselip di dalamnya. "Aku perlu memastikan sendiri kau baik-baik saja."

Lauren menatap pintu di hadapannya lama, tangannya akhirnya bergerak memutar kunci, membuka pintu perlahan, mendapati Alex berdiri di ambang pintu, mengenakan mantel gelap, wajahnya diterangi lampu lorong yang temaram, matanya langsung menatap kaki Lauren yang masih dibalut perban begitu pintu terbuka penuh.

"Halo, Lauren," sapa Alex, sudut bibirnya tertarik tipis, senyum kecil yang jarang sekali ia tunjukkan, membuat suasana canggung di antara mereka sedikit mencair untuk sepersekian detik.

1
Chenyu Wang
crita nya bagus saya baru baca separuh tapi udah langsung sreg.. lanjutin sampe tamat ya..🙏🙏
Chenyu Wang: sama2..🙏
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!