NovelToon NovelToon
KUTUKAN KUYANG

KUTUKAN KUYANG

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Kutukan / Tumbal
Popularitas:13.5k
Nilai: 5
Nama Author: Siti H

Teror yang mengguncang Desa Keramat sudah melahirkan kondisi yang mencekam bagi warga.

Dimana ada banyak anak-anak yang menghilang, wanita hamil, dan bahkan orang dewasa tak luput dari serangan tersebut.

Siapakah penerornya?

Ikuti kisah selanjutnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti H, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Darah Di Tepi Sungai Mahakam

Anjing siluman itu menggeram.

Bulunya berwarna hitam legam, matanya merah menyala seperti bara. Dari mulutnya menetes air liur yang kalau terkena tanah langsung berasap.

Arkan merangkak mundur. Napasnya terputus-putus. "Sial!" ia mengetatkan kembali ikatan sarungnya.

Dua botol di sarungnya tiba-tiba terasa berat, dan dingin seperti es. Lalu berdenyut seolah benda hidup.

“Grrrr...”

Anjing itu menggelengkan kepalanya, dan dengan gerakan cepat menerjang ke arah Arkan yang tampak masih mengatur napasnya..

Arkan mengangkat mandau di tangannya. Lalu menyabetkannya ke arah Sang Siluman Anjing.

Wuuuussh!

Sabetannya meleset. Anjing itu terlalu cepat gerakannya.

Srrrrrt!

Anjing itu mendarat di atas rerumputan dengan seretan sejauh dua meter dari belakang punggung Arkan, dengan menggunakan kukunya yang runcingnya.

Tanah mengeluarkan asap tipis dari lubang goresan tersebut.

Sebelum Arkan sempat menoleh, ia sudah menerjang kembali.

CRAAAK!

Rahangnya mengunci lengan Arkan. Taringnya menancap di lengan dengan begitu dalam, hingga menembus daging.

“Aaaargh!” pekik Arkan menahan rasa sakit

Darah memancar deras. Tulang rasanya seperti remuk. Wajah Arkan meringis kesakitan, sembari menggeretakkan giginya demi manahan rasa denyutan.

Arkan mencoba tidak merasa panik. Dia mengingat ajaran Atok Guro “Kalau kamu hendak melawan siluman anjing, jangan lawan taringnya. Tetapi kamu cukup lawan di bagian hidungnya.”

Dengan tangan yang satunya, Arkan merogoh saku. Meremas daun kelor dan juga garam, serta tambahan bubuk kemenyan. Lalu dengan gerakan yang cepat, ia sumpalkan ke hidung anjing itu.

KEEEEENG!

Anjing itu melolong panjang. Tubuhnya menggelepar. Dan dengan seketika, sosok hitam bertubuh besar itu melepaskan gigitannya.

Matanya tersa perih. Ia mundur beberapa langkah, sembari mengais tanah.

Kesempatan itu di pergunakan oleh Arkan dengan cukup baik.

Arkan beranjak bangkit dengan nafasnya yang tersengal. Dengan terseok-seok. Ia menggenggam mandaunya, dan dengan cepat menyerang Siluman Anjing tersebut.

Craaaash!

Satu tebasan berhasil memenggal kepala Siluman Anjing.

Traaak!

Kepala anjing itu bergelinding. Lalu tubuhnya ikut ambruk, dan menggelepar.

Kemudian berubah menjadi asap, dan perlahan meledak.

Buuuum!

Serpihannya seperti percikan kembang api, dan menghilang tersapu angin.

"Huh, huh, huh," nafas Arkan terasa cukup berat. Ia menyapu lengannya. Lalu kembali berlari menuju ke arah sungai.

Ia tiba di tepi Sungai Mahakam.

Air sungainya berwarna putih susu. Arusnya cukup deras.

Di belakangnya, terdengar suara jeritan Dayang Sari semakin dekat.

“ARKAAAN!!! KEMBALI KAN MINYAKKU!!!”

Suara itu bukan suara manusia lagi. Terdengar berat dan menggema. Seperti ada dua suara dalam satu tubuh. Itu adalah suara Dayang... dan juga suara Induk Jarum yang menjadi satu.

Arkan berhenti dengan tangannya yang masih mengalir darah pekat membasahi lengan kemejanya.

Ia sudah terjebak, tidak dapat lari lagi. Luka di lengan dan punggung terlalu dalam.

Dari atas pohon, Tubuh Dayang Sari merosot turun. Rambut panjangnya menjuntai. Dari sudut matanya meneteskan cairan pekat darah.

Giginya meruncing. Itu bukan lagi Dayang Sari, tapi raganya sudah dikuasai oleh Induk Jarum.

Dayang Sari, berjalan sempoyongan, pahanya berlumur darah karena tusukan mandau tadi.

“Kau pikir bisa lolos?” Dayang Sari tertawa. Kek kek kek..."

Arkan menatap sang gadis yang kini sudah bukan lagi diri aslinya. Hatinya bimbang bercampur perih.

“Kembalikan! Itu warisan Damang Jaya—Atokku! Itu hidupku!”

Arkan menelan salivanya. Tenggorokannya terasa kering.

"Kau mau ini?" Arkan mengangkat sarungnya yang membentuk tas dan tempat menyimpan dua botol tersebut. "Ambil sendiri!" Arkan melompat ke dalam sungai.

Ia tahu airnya dalam. Tetapi ia sudah terbiasa berenang dan mengikuti alur sungai, lalu mengapungkan dirinya.

"Tidaaaaak!" pekik Dayang Sari dengan suara lengkingan yang cukup panjang, hingga menembus pekatnya malam.

Kemudian ia mencengkram botol berwarna Kuning dengan cukup kuat, di tengah sungai. Berharap terpecah oleh batu.

Tetapi tangannya berhenti.

Dia ingat kata Atok Guro saat tadi sebelum ia berangkat menyusup ke rumah Atok Damang Jaya. “Kalau kau pecahkan, dia mati. Tapi kutukannya tidak akan putus. Induk Jarum akan mencari wadah baru. Tujuh keturunan Dayang akan tetap terkena kutukannya.

Arkan mengepalkan tangannya. Air sungai sampai dada menenggelamkannya, terasa cukup dingin dan membeku.

Dayang Sari yang di kuasai oleh Induk Jarum mengirimkan bola api dengan kobaran yang begitu panas, dan melesat terbang melayang di belakangnya.

Wuuussh!

Udara panas langsung menyapu wajah Arkan.

Bola api menyeringai. Aura kemarahan begitu kuat kepada Arkan.

“Kembalikan minyak tuanku!!” raung Bola Api tersebut.

Arkan tidak menoleh. Ia langsung memeluk dua botol itu ke dada.

“Aku tidak akan pecahkan! Aku akan putuskan perjanjiannya! Di tempat asalnya!” gumamnya dengan suara serak. Bercampur lelah

Bola api itu tertawa melengking. “Tidak ada yang bisa putuskan! Itu perjanjian darah dengan Induk Jarum di Gunung Muller!” bentaknya dengan keras.

Sementara itu, dari arah seberang sungai, Atok Guro berteriak: “Arkan! Kau benar! Satu-satunya cara, bawa dia ke ke Makam Tua Tebing Kapur Batok Tenevang. Di hulu Sungai Mahakam! Di sanalah perjanjian pertama dibuat saat dua ratus tahun lalu!”

Bola Api itu langsung menoleh. Matanya merah berkobar api. “TIDAK! Kalau ke sana, aku dan Induk Jarum akan disiksa!”

Bola Api itu langsung menuju ke arah ubun-ubun Arkan yang hanyut terbawa arus sungai.

Ia ingin menghisap habis isi kepala Arkan, agar tidak bisa membawa dua botol tersebut ke Hulu Mahakam di Gunung Muller.

Tetapi Arkan sudah mengambil keputusan. Ia tak ingin kalah dengan sang Iblis.

Dia melemparkan garam bercampur daun kelor yang hampir habis meleleh ke arah Bola Api.

Wuuuussh!

Sssrrrrk!

Aaaaaaaarrrggh!

Pekik Bola Api itu ketakutan. Sosok tersebut menjerit melengking dan bergerak mundur.

Arkan bergegas berenang, menuju ke tepi. Atok Guro menyambutnya.

“Tok! Kita ke Gunung Muller! Sekarang!” ucapnya dengan nafas tersengal, tubuhnya basah kuyup dan pucat pasi, sembari menyerahkan sarung berisi dua botol Minyak Kuyang.

Atok Guro menerimanya, kemudian memeriksanya.

"Sebelum ke sana, kamu harus membuat pagar kampung terlebih dahulu. Taburkan garam kasar dan remasan daun kelor, sirih, serta air tujuh sumur yang kau dapatkan semalam. Serta gendong dia."

Tangan Atok Guro menunjuk ke arah tubuh seorang gadis yang tergeletak pingsan

"Hah?!" Arkan tersentak kaget saat melihat siapa yang ada di depannya.

"Kenapa Atok bisa mengalahkan Induk Jarum?" tanya Arkan dengan rasa penasaran.

"Nanti saja menjelaskannya. Sekarang urus dia, bawa ke pondok." titahnya pada sang murid.

Arkan hanya mengangguk patuh. Lalu beranjak menghampiri sang gadis yang tergeletak tak sadarkan diri.

Rambut panjangnya acak-acakkan. Sedangkan lehernya, terlihat bekas seperti sayatan yang merupakan pertanda jika ia adalah titisan Kuyang.

Arkan menggendongnya. Meski lengannya masih mengalami luka bekas gigitan Siluman Anjing dan punggungnya juga parah. Ia mencoba tetap kuat.

Ia berjalan dengan sempoyongan.

1
V3
ternyata Arkan lebih memilih untuk tinggal di Tenevang daripada pulang ke Kota berkumpul dengan Ibu nya 🫣😔
V3
apakah di kampung Hilir sdh PD tahu yaaa JK Dayang Sari adalah si Kuyang dan mo PD nuntut balas PD Dayang Sari ❓🤔
V3
duuuh ... aku kok ikutan deg degan yaaa ,,, kira-kira ada peristiwa apa yaaa di Hilir ❓🤔
FiaNasa
semoga saja ada jalan kluar terbaik bagi Arkan agar bisa berkumpul lagi dg ibunya
tati st🌼🌼
udah tamat ya 😭
neni nuraeni
di tunggu kelanjutannya kak
💜⃞⃟𝓛 🆈🅰🆈🆄🅺🍒⃞⃟🦅🏡s⃝ᴿ
lha ini apa yg melakukan ehem2 saat mentruasi itu kah yg di guna2 sama dayang sari wktu masih jadi kuyang kah
apakah itu KK othot
💜⃞⃟𝓛 🆈🅰🆈🆄🅺🍒⃞⃟🦅🏡s⃝ᴿ
waduh pindah kah nnti penjaganya
💜⃞⃟𝓛 🆈🅰🆈🆄🅺🍒⃞⃟🦅🏡s⃝ᴿ
semoga Arkan smlt dan jd manusia lagi kasihan deh ibunya
💜⃞⃟𝓛 🆈🅰🆈🆄🅺🍒⃞⃟🦅🏡s⃝ᴿ
syukuralah selamat tp arkan gmn ya
💜⃞⃟𝓛 🆈🅰🆈🆄🅺🍒⃞⃟🦅🏡s⃝ᴿ
melas men sihh podoan
💜⃞⃟𝓛 🆈🅰🆈🆄🅺🍒⃞⃟🦅🏡s⃝ᴿ
melas men sihh podoan
💜⃞⃟𝓛 🆈🅰🆈🆄🅺🍒⃞⃟🦅🏡s⃝ᴿ
welah makan tumbal lagi
💜⃞⃟𝓛 🆈🅰🆈🆄🅺🍒⃞⃟🦅🏡s⃝ᴿ
tolong lah memang kau tak bisa keluar dr situ tp Krn kau penjaga maka lenyapakan dlu pemganggu nya
💜⃞⃟𝓛 🆈🅰🆈🆄🅺🍒⃞⃟🦅🏡s⃝ᴿ
lha terus piye KK Siti
💜⃞⃟𝓛 🆈🅰🆈🆄🅺🍒⃞⃟🦅🏡s⃝ᴿ
wehhhpiye iki berhasil ora
💜⃞⃟𝓛 🆈🅰🆈🆄🅺🍒⃞⃟🦅🏡s⃝ᴿ
wehhhpiye iki berhasil ora
💜⃞⃟𝓛 🆈🅰🆈🆄🅺🍒⃞⃟🦅🏡s⃝ᴿ
lanjutkan KK makin ser2 aja
💜⃞⃟𝓛 🆈🅰🆈🆄🅺🍒⃞⃟🦅🏡s⃝ᴿ
nahhh terus piye jal
💜⃞⃟𝓛 🆈🅰🆈🆄🅺🍒⃞⃟🦅🏡s⃝ᴿ
wehhh ngeri juga ya hiiiii
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!