Xun JeHa, seorang anak yg lahir dengan kondisi tubuh cacat, jantungnya mengalami kebocoran menjadikan tubuhnya mudah lelah, serta kualitas tulang yg rendah membuat dirinya sama sekali tidak mempunyai harapan menjadi seorang pendekar.
Namun suatu kejadian telah merubah itu semua, merombak kehidupannya dan membuatnya menjadi pendekar tanpa tanding.
Sanggupkah pemuda berwajah rupawan itu memikul tanggung jawab dengan kekuatan yang dia miliki..??
Update setiap senin-jum'at.
sabtu-minggu libur (family time)
©by RubahPerak77
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RubahPerak77, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tragedi di Malam Buta II
Meskipun hari sudah malam dan jalan setapak yang dilalui nya sepi, bagi mereka yang terbiasa melalui jalan tersebut itu bukanlah sebuah masalah.
Saat sudah berada di pertengahan jalan antara desa dan sekte Pedang Pinus, sayup sayup JeHa mendengar jerit kesakitan dan teriakan minta tolong yang arahnya berasal dari tengah hutan. Bocah itu pun menjadi bimbang antara mengacuhkan suara tersebut dan lanjut berjalan atau mencari asal suara itu. Namun karena suara itu terdengar mirip dengan suara ibu nya, JeHa pun akhir nya membulatkan tekad untuk mencari asal suara tersebut.
JeHa segera menyiagakan telinganya, berharap bisa memperkirakan arah suara tersebut, suara itu terdengar makin lemah dan akhirnya menghilang. Tetapi JeHa sudah bisa menduga dari arah mana suara itu berasal. JeHa tidak bisa berlari terus menerus karena penyakit di jantungnya, ia pun berjalan pelan hingga dirinya melihat sebuah gubug, JeHa yakin arah suara jeritan yang tadi dia dengar berasal dari sana, secara perlahan lahan JeHa mendekati Gubug itu.
JeHa melihat ada lubang di dinding, dia pun mengintip dan bersembunyi di balik semak semak. Meskipun penerangan di dalam gubug hanya berasal dari nyala api lilin, tapai itu sudah cukup bagi JeHa untuk melihat apa yang sedang terjadi di dalam gubug tersebut.
Jantung JeHa hampir copot, nafasnya jadi berat dan tidak beraturan. Mata JeHa melotot saat ia melihat seorang gadis sedang digagahi laki laki.
"Ahhh..ahhh..hentikan..kumohon..ahhh".
Gadis tersebut terlihat memberontak, namun apa daya, kondisi tubuh yang sudah lemah membuat penolakananya sangat tidak berarti. Apalagi Laki laki itu terlihat dikuasai nafsu, sehingga sangat buas mencumbu tubuh gadis muda yang saat ini hanya bisa menangis dan meratapi nasib.
JeHa hanya melihat adegan itu sekilas dan segera menutup mata nya. ia sadar bahwa adegan itu tidak layak ditonton oleh anak seumuran nya. Akan tetapi yang membuat JeHa lebih shock adalah ketika ia mengetahui identitas laki laki tersebut.
"Ini tidak mungkin, Tetua Feng adalah orang yang baik", tentu saja JeHa hanya membatin.
Setelah Feng Shen sudah selesai menyalukan mafsu bejadnya, ia bergegas memakai pakaiannya dan menutupi tubuh gadis muda tersebut dengan kain.
"Siapa disana..??", Feng Shen menjadi gugup saat terdengar ada suara langkah kaki berlari menjauh.
"Tunggu disini dan jangan pernah berfikir untuk kabur jika masih ingin hidup" setelah mengancam gadis tersebut, Feng Shen langsung berlari keluar dan segera mengejar sosok yang terlihat samar di kejauhan.
Entah berapa jauh JeHa berlari, yang pasti tubuhnya benar benar lemas saat ini. Nafasnya pun semakin memburu, membuat langkah kaki nya terasa berat. Hingga akhirnya JeHa pun terhenti saat sudah berada di tepi jurang.
"Celaka, aku memilih jalan yang salah", JeHa mengutuk diri nya sendiri. Dia memang berlari tanpa melihat arah dikarenakan shock dengan apa yang dia lihat barusan. Lelaki yang selama ini dia anggap sebagai pria baik baik, bakan menjadi panutan nya ternyata memiliki sifat brengsek. Entah bagaimana nasib dari gadis malang itu, namun yang pasti JeHa sendiri merasa bahwa nasib nya pun tak akan lebih baik.
Badannya mulai membiru, dadanya mulai sesak, dan nafasnya mulai terputus putus. Belum sempat ia berfikir apa yang harus dilakukan nya, ketika dari arah belakang telah muncul sesosok laki-laki yang saat ini tidak ia harapkan kedatangannya.