PERNAHKAH KALIAN MEMAKAN LOLIPOP?
BAGAIMANA RASANYA MANIS?
Eirina karamyka Aldirck seorang gadis manis yang menyukai lolipop.
MAU TAU KENAPA SUKA LOLIPOP?
NONTON LOLIPOP MANIS BY NILA EDRINA
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nila edrina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25
Ruangan bawah tanah itu masih dipenuhi bau asap dan debu sisa ledakan.
Mahendra berdiri memandangi amplop putih yang baru saja dilemparkan pria misterius bernama Orion.
Di bagian depannya hanya tertulis satu kalimat.
"Kebenaran tentang keluarga Eiri dimulai dari Pulau Arkan."
Tak seorang pun langsung menyentuhnya.
Ergan mengangkat tangan memberi isyarat kepada anak buahnya.
"Periksa dulu."
Salah seorang anggota tim segera mengeluarkan alat pendeteksi bahan peledak.
Beberapa menit berlalu.
"Tuan."
"Tidak ada bahan peledak."
"Tidak ada alat pelacak."
Mahendra mengangguk pelan.
"Buka."
Ia mengambil amplop itu dengan hati-hati.
Suara sobekan kertas memecah keheningan.
Di dalamnya terdapat tiga benda.
Sebuah foto lama.
Sebuah kunci kuningan kecil.
Dan secarik surat yang sudah menguning dimakan usia.
Eiri mengambil foto itu lebih dulu.
Matanya langsung membesar.
Di dalam foto terlihat seorang pria dan wanita muda sedang tersenyum di depan sebuah mercusuar tua.
Di tengah mereka berdiri seorang anak perempuan berusia sekitar lima tahun yang sedang memegang lolipop merah.
Eiri membeku.
"Itu..."
"Itu aku..."
Air matanya mulai menggenang.
Mahendra ikut memperhatikan foto tersebut.
"Orang di sebelahmu..."
"Itu ayah dan ibumu?"
Eiri mengangguk perlahan.
"Iya..."
"Tapi..."
"Aku sama sekali tidak ingat pernah datang ke tempat ini."
Ergan membalik foto itu.
Di bagian belakang terdapat tulisan tangan.
Pulau Arkan 17 Agustus 2004
Mahendra mengernyit.
"Jadi sejak kecil..."
"Kamu memang pernah berada di Pulau Arkan."
Eiri menggigit bibirnya.
Kepalanya kembali terasa berdenyut.
Kilasan-kilasan bayangan muncul begitu cepat.
Laut.
Mercusuar.
Suara ombak.
Dan...
Seorang pria yang terus berkata,
"Jangan pernah kembali ke pulau ini..."
"Ah..."
Eiri memegang kepalanya.
Mahendra segera menopang tubuhnya.
"Eiri."
"Aku tidak apa-apa..."
"Masih belum jelas."
"Tapi suara itu..."
"Aku pernah mendengarnya."
Ergan kemudian membuka surat yang berada di dalam amplop.
Mahendra segera mengambil alih.
"Biarkan aku yang membacanya."
Ia membuka lipatan surat dengan hati-hati.
Tulisan tangan di dalamnya tampak mulai pudar.
Namun setiap kalimat masih bisa dibaca.
Jika surat ini sampai ke tanganmu, berarti seseorang telah menemukan tempat persembunyian kami.
Eiri... maafkan Ayah karena telah menyeretmu ke dalam semua ini.
Napas Eiri tercekat.
Mahendra melanjutkan membaca.
Ayah tidak punya banyak waktu. Jika suatu hari ingatanmu hilang, itu berarti mereka berhasil. Tetapi percayalah, semua yang Ayah lakukan hanyalah untuk melindungimu.
Air mata Eiri jatuh tanpa bisa ditahan.
Mahendra membaca bagian berikutnya.
Jangan percaya siapa pun yang membawa nama Hanzel.
Seluruh ruangan mendadak sunyi.
Ergan dan Mahendra saling berpandangan.
Victor...
Adrian...
Keduanya memiliki nama belakang Hanzel.
Surat itu berlanjut.
Masih ada seseorang yang mengetahui seluruh kebenaran. Namanya Rivan. Jika kau bertemu dengannya, dengarkan semua penjelasannya. Dia adalah satu-satunya orang yang masih bisa kau percaya.
Mahendra mengepalkan surat itu.
"Rivan..."
"Berarti dia memang bukan musuh."
Tiba-tiba...
"Tuan!"
teriak salah seorang anggota tim dari ujung lorong.
Mahendra menoleh.
"Apa?"
"Kami menemukan ruang server yang masih utuh!"
Mahendra langsung berdiri.
"Antarkan kami ke sana."
Tanpa membuang waktu, Mahendra, Eiri, Ergan, dan beberapa anggota tim segera mengikuti petugas itu menuju sebuah ruangan yang tersembunyi di balik laboratorium tua.
Tak seorang pun menyadari...
Dari kejauhan...
Sepasang mata sedang mengawasi mereka melalui kamera kecil yang masih aktif.
Di sebuah tempat yang tidak diketahui...
Victor Hanzel tersenyum tipis sambil mematikan layar monitornya.
"Bagus..."
"Mereka menemukan surat itu."
"Permainan memasuki babak berikutnya."
Victor Hanzel perlahan menyandarkan tubuhnya di kursi.
Di hadapannya, belasan layar monitor menampilkan berbagai sudut ruang bawah tanah yang baru saja dimasuki Mahendra dan yang lainnya.
Senyumnya tak pernah hilang.
"Seperti yang kuduga..."
"Mereka mengikuti semua petunjuk."
Darius yang berdiri di sampingnya tampak ragu.
"Tuan, bukankah itu terlalu berisiko?"
"Kalau mereka benar-benar menemukan semua rahasia Proyek EDEN..."
Victor menggeleng pelan.
"Mereka hanya menemukan apa yang ingin kutunjukkan."
"Tidak lebih."
Ia mematikan seluruh monitor.
"Sementara rahasia yang sesungguhnya..."
"...masih terkubur di Pulau Arkan."
---
Di sisi lain...
Mahendra, Eiri, Ergan, dan anggota tim tiba di sebuah ruangan yang dipenuhi komputer tua.
Rak-rak besi berdiri memenuhi dinding.
Kabel-kabel berserakan di lantai.
Debu tebal menutupi hampir seluruh peralatan.
Salah seorang teknisi segera memeriksa sumber listrik cadangan.
"Tuan."
"Masih ada daya."
Mahendra mengangguk.
"Nyalakan."
Beberapa detik kemudian...
Layar komputer mulai menyala satu per satu.
Suara kipas mesin memenuhi ruangan.
Teknisi itu mengetik cepat di papan ketik.
Namun wajahnya perlahan berubah serius.
"Tuan..."
"Semua data telah dihapus."
Mahendra mengernyit.
"Semuanya?"
"Hampir semuanya."
"Tapi..."
"Ada satu folder yang masih utuh."
"Apa isinya?"
Teknisi membuka folder tersebut.
Di dalamnya hanya terdapat dua berkas.
Sebuah video.
Dan satu file bernama:
E-17
Mahendra menunjuk video itu.
"Putar dulu."
Video mulai diputar.
Layar memperlihatkan laboratorium yang sama, tetapi dalam keadaan masih baru.
Beberapa ilmuwan berlalu-lalang.
Di tengah ruangan...
Seorang anak perempuan kecil duduk di atas kursi.
Kedua tangannya diikat sabuk pengaman.
Eiri mendadak memegang dadanya.
"Nggak..."
Mahendra langsung menoleh.
"Eiri?"
"Aku..."
"Kenapa aku..."
Air mata mulai mengalir.
Anak kecil di dalam video perlahan mengangkat wajahnya.
Semua orang membeku.
Karena anak itu...
Adalah Eiri.
"Tidak..."
bisik Eiri.
"Itu aku..."
Di dalam video, seorang pria berjas putih menghampiri Eiri kecil.
Wajahnya tidak terlihat jelas.
Namun suaranya terdengar sangat tegas.
"Subjek E menunjukkan perkembangan yang stabil."
"Kemampuan mengingatnya berada di atas rata-rata."
"Persiapkan tahap berikutnya."
Mahendra mengepalkan tangan.
"Kurang ajar..."
Video terus berjalan.
Eiri kecil mulai menangis.
"Ayah..."
"Aku mau Ayah..."
Suara tangis itu membuat dada Eiri sesak.
Mahendra tanpa sadar menggenggam tangan Eiri lebih erat.
"Tidak apa-apa."
"Kamu tidak sendirian lagi."
Video mendadak berhenti.
Layar berubah hitam.
Kemudian muncul tulisan putih.
AKSES DIBATASI.
Ergan mencoba membuka kembali file tersebut.
Namun tidak bisa.
"Tuan."
"Video ini sengaja dipotong."
Mahendra mengangguk.
"Lanjutkan ke file berikutnya."
Teknisi mengklik berkas E-17.
Namun sebelum file terbuka...
Komputer tiba-tiba mengeluarkan bunyi nyaring.
Bip... Bip... Bip...
"Ada apa?"
teriak Ergan.
Teknisi membelalakkan mata.
"Seseorang meretas server!"
Di layar muncul tulisan merah besar.
AKSES TIDAK SAH TERDETEKSI.
Seluruh komputer di ruangan itu menyala bersamaan.
Kemudian...
Muncul wajah Victor Hanzel.
Ia menatap kamera sambil tersenyum tenang.
"Selamat malam..."
"Eiri."
"Mahendra."
"Kalian memang lebih cepat dari perkiraanku."
Mahendra melangkah mendekati layar.
"Victor!"
"Apa maumu sebenarnya?!"
Victor hanya tersenyum.
"Kalian sedang mencari masa lalu."
"Tapi..."
"Bagaimana kalau aku memberitahu sedikit rahasia?"
Tatapan Eiri langsung tertuju pada layar.
Victor melanjutkan,
"Orang yang membuatmu kehilangan ingatan..."
"...bukan aku."
Semua orang membeku.
"Bahkan..."
"Orang itu masih hidup."
Mahendra mengerutkan dahinya.
"Siapa dia?!"
Victor tertawa pelan.
"Kalau kuberitahu sekarang..."
"Permainan ini akan berakhir terlalu cepat."
Lalu senyumnya perlahan menghilang.
"Datanglah ke Pulau Arkan."
"Kalau kalian cukup berani."
"Di sana..."
"Kalian akan bertemu dengan orang yang selama ini bersembunyi."
Layar mendadak dipenuhi gangguan.
Beberapa detik kemudian...
Seluruh komputer mati bersamaan.
Ruangan kembali gelap.
Tak ada seorang pun yang berbicara.
Karena mereka sadar...
Pulau Arkan bukan lagi sekadar petunjuk.
Melainkan tempat yang akan menentukan seluruh jawaban tentang masa lalu Eiri.
Bersambung