Sekar Sie bukan siapa-siapa.
Dia gadis biasa dari keluarga sederhana — ayah sudah meninggal, ibu sakit, adiknya masih kecil. Hidupnya hancur ketika Nyonya Tan, wanita paling berkuasa di keluarga Tan, memaksanya menyamar sebagai **Felicia Tan** — putri keempat keluarga Tan — untuk menikah masuk ke keluarga konglomerat Liem.
Alasannya? Felicia yang asli mengidap penyakit parah dan harus bersembunyi dari dunia.
Sekar tidak punya pilihan. Keluarganya dijadikan sandera. Satu langkah salah, identitas palsunya terbongkar, dan semua orang yang dia cintai akan menderita.
Tapi malam pertunangan, segalanya berubah.
Di lorong gelap Hotel Mulia, Sekar yang mabuk tanpa sengaja menyentuh orang yang paling tidak boleh dia sentuh — **Renard Liem**. Bukan tunangannya Kevin, tapi sepupu Kevin. Pewaris sejati keluarga Liem. Pria paling berbahaya di Jakarta.
Dan Renard... tidak melepaskannya.
Di balik wajah dinginnya, Renard menyimpan rahasia sendiri — dia **tahu** Sekar bukan Felicia. Tapi alih-alih membongkar kebohongannya, dia justru melindunginya. Membelikannya cincin rubah berlian merah. Mempertaruhkan nyawa untuknya. Menyerahkan seluruh kekayaannya atas nama Sekar.
Tapi cinta Renard datang dengan harga.
Sekar terjebak di antara pertarungan warisan keluarga Liem yang brutal — Darren si sepupu licik, Jesslyn si menantu yang menyimpan pisau di balik senyum, dan Engkong Liem yang memainkan semua orang seperti bidak catur. Belum lagi jantung Sekar yang semakin lemah, dan masa lalu Renard yang bisa menghancurkan segalanya...
Termasuk sebuah kebenaran tentang kematian ayah Sekar — kebenaran yang mengarah langsung ke tangan pria yang paling dia cintai.
**Bisakah cinta bertahan ketika semua yang kamu percaya ternyata kebohongan?**
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laras Cinta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 8
Bab 8: Wira
Seminggu setelah tinggal di Kediaman Liem, Sekar menerima telepon dari nomor yang tidak dikenal.
Saat itu ia sedang duduk di Paviliun Mei, pura-pura membaca katalog lama tentang Lukisan Mei Dingin. Di meja samping, ponsel baru dari Renard tergeletak diam. Ponsel lamanya bergetar di dekat vas bunga, layar menyala dengan nomor asing yang tidak memiliki nama.
Sekar menatapnya sampai panggilan hampir berakhir.
Lalu ia mengangkat.
"Felicia Tan?" Suara laki-laki di seberang terdengar santai, sedikit serak, seperti orang yang tersenyum sambil mengunyah sesuatu.
Sekar tidak menjawab langsung. "Siapa ini?"
"Orang yang tahu kamu bukan dia."
Dunia di sekelilingnya berhenti.
Jari Sekar mengencang pada ponsel. Ia menoleh ke pintu kamar, memastikan tidak ada pelayan di sana. "Anda salah sambung."
Laki-laki itu tertawa kecil. "Kalau aku salah, kenapa napasmu berubah?"
Sekar menutup mata sebentar.
Renard tahu. Lilian tahu. Itu sudah cukup untuk membuat hidupnya seperti berjalan di atas kaca. Tetapi suara asing ini, masuk lewat ponsel lamanya, membawa jenis ketakutan yang berbeda. Ketakutan yang tidak punya wajah, tidak punya aturan keluarga, tidak punya batas sopan santun.
"Apa maumu?"
"Kafe Seroja, jam tiga. Datang sendiri." Ia berhenti sebentar, lalu menambahkan, "Kalau tidak, satu amplop akan sampai ke tangan Engkong Liem sebelum makan malam."
Panggilan terputus.
Sekar menatap layar kosong.
Ia seharusnya memberi tahu Renard.
Ponsel baru itu ada di meja, diam seperti mata yang menunggu. Satu pesan ke R, dan mungkin masalah ini akan ditangani sebelum ia sempat keluar dari gerbang. Tetapi memanggil Renard setiap kali ada ancaman berarti menyerahkan lehernya lebih dalam ke tangan pria itu.
Sekar mengambil tas.
Untuk pertama kalinya sejak memasuki Kediaman Liem, ia meminta izin keluar dengan alasan membeli beberapa kebutuhan pribadi. Kepala pelayan tidak melarang, hanya menawarkan sopir. Sekar menerima. Menolak sopir justru akan terlihat aneh. Ia duduk di kursi belakang mobil keluarga Liem, menghafal jalan, menghitung kemungkinan, dan menyimpan ponsel baru di bagian terdalam tas.
Kafe Seroja terletak di jalan kecil dekat pusat kota. Tempatnya tidak buruk, tetapi bukan tempat keluarga Liem akan mengadakan pertemuan. Meja-meja kayu sempit, aroma kopi pahit, suara sendok beradu dengan cangkir, mahasiswa dan pekerja kantor duduk dengan laptop terbuka. Terlalu biasa. Justru karena itu, ancamannya terasa lebih nyata.
Laki-laki itu duduk di sudut.
Usianya mungkin tiga puluhan. Kemeja abu-abunya digulung sampai siku, rambutnya agak berantakan, wajahnya tidak cukup rapi untuk terlihat dari keluarga kaya tetapi terlalu percaya diri untuk disebut orang biasa. Ia mengangkat tangan ketika melihat Sekar.
"Nona Felicia."
Sekar duduk di depannya. "Nama Anda?"
"Wira Gunawan." Ia mendorong secangkir kopi yang belum disentuh ke arah Sekar. "Aku pesan. Kamu terlihat butuh."
"Saya tidak minum dari orang yang mengancam saya."
Wira tertawa. "Bagus. Setidaknya kamu tidak sebodoh wajahmu yang kalem itu."
Sekar meletakkan tas di pangkuan. "Bicaralah."
Wira mengeluarkan amplop cokelat dari dalam tas selempang. Ia tidak langsung membukanya, hanya menepuk permukaannya dengan dua jari.
"Di sini ada foto, catatan rumah sakit, dan beberapa salinan dokumen lama keluarga Tan. Cukup untuk membuat orang bertanya kenapa Felicia Tan punya riwayat yang berbeda sebelum pertunangan."
Darah Sekar terasa turun ke kaki.
"Dokumen bisa dipalsukan," katanya.
"Betul. Tapi pertanyaan tidak bisa dipalsukan. Begitu orang Liem mulai bertanya, keluarga Tan akan panik. Kamu akan panik. Dan orang yang panik biasanya membuat kesalahan."
Sekar menatap amplop itu. "Berapa?"
Wira bersandar, puas karena ia bertanya. "Lima ratus juta Rupiah untuk awal."
Sekar hampir tertawa.
Lima ratus juta.
Untuk keluarga Liem, angka itu mungkin hanya harga jam tangan. Untuk Sekar, itu terdengar seperti gunung yang dijatuhkan ke dada. Bahkan biaya obat Hwee Kin pun selama ini dibayar orang lain dengan rantai di ujungnya.
"Saya tidak punya uang sebanyak itu."
"Kamu akan menikah dengan Kevin Liem."
"Itu tidak berarti rekeningnya milik saya."
"Cari cara."
Sekar diam.
Di luar jendela, orang-orang berjalan lewat dengan payung kecil. Jakarta siang itu lembap, ramai, dan tidak peduli. Ia bisa saja bangkit, pergi, membiarkan Wira mengirim amplopnya. Namun bayangan Mama Hwee tanpa perawat dan Bella di depan gerbang Asrama Putri Mulia membuat tenggorokannya mengeras.
Ia mencondongkan tubuh sedikit.
"Kalau Anda mengirim amplop itu ke Liem, saya mungkin hancur," katanya pelan. "Tapi keluarga Tan juga hancur."
Wira mengangkat alis. "Itu urusan mereka."
"Benarkah?" Sekar menatap matanya. "Anda pikir Nyonya Tan akan diam jika tahu seseorang di luar sana membongkar skema yang mereka atur bertahun-tahun? Anda pikir dia akan hanya menyalahkan saya?"
Senyum Wira memudar sedikit.
Sekar tidak berhenti. Ia merasa takut sampai telapak tangannya dingin, tetapi rasa takut itu mulai berubah bentuk. Kalau ia tidak punya uang, ia masih punya satu hal: pengetahuan tentang orang yang lebih kejam daripada Wira.
"Saya hanya perempuan yang dipasang di depan. Anda menyerang saya, Anda menyentuh bisnis keluarga Tan. Kalau Liem tahu, Tan akan mencari siapa sumber bocornya. Dan Nyonya Tan tidak menyelesaikan masalah dengan surat somasi."
Wira mengetuk amplop. "Kamu sedang mengancamku?"
"Tidak." Sekar memaksa dirinya tersenyum tipis. "Saya sedang menjelaskan kenapa kita berdua sama-sama belum boleh mati hari ini."
Untuk pertama kalinya sejak pertemuan itu dimulai, Wira benar-benar memandangnya.
"Kamu bukan Felicia," katanya. "Tapi kamu cukup menarik."
Kata menarik membuat punggung Sekar mengingat suara Renard di taman. Ia menahan perubahan wajah.
"Turunkan angkanya," kata Sekar. "Beri saya waktu."
"Berapa lama?"
"Dua minggu."
"Tiga hari."
"Sepuluh."
Wira tertawa pendek. "Kamu tawar-menawar seperti ibu-ibu di pasar."
"Dan Anda memeras seperti orang yang belum pernah bertemu Nyonya Tan. Kita sama-sama belajar."
Wira menatapnya beberapa detik, lalu memasukkan amplop kembali ke tas.
"Tujuh hari. Seratus juta dulu."
Sekar tidak punya seratus juta. Tetapi tujuh hari lebih baik daripada sore ini. Ia mengangguk.
"Kalau kamu bawa orang Liem, aku akan tahu," kata Wira.
"Kalau Anda mendekati keluarga saya, Nyonya Tan akan tahu."
Mereka saling menatap, dua orang yang sama-sama tidak memegang pisau terbesar tetapi cukup putus asa untuk saling melukai.
Sekar berdiri lebih dulu.
Ia tidak menyentuh kopi.
Di luar kafe, udara terasa lebih berat daripada sebelumnya. Sopir keluarga Liem menunggu di seberang jalan. Sekar berjalan ke arah mobil dengan langkah stabil, baru membiarkan lututnya melemah sedikit saat duduk di kursi belakang.
Ia belum menang.
Ia hanya membeli waktu.
Ponsel baru di dalam tas bergetar.
Sekar membukanya dengan jari dingin.
Pesan dari R hanya dua kata.
Tadi siapa?
Sekar menatap layar itu sampai huruf-hurufnya terasa seperti borgol.
Ia pikir setidaknya di luar Kediaman Liem ia bebas dari mata rumah itu.
Ternyata ia salah.