Seina dan Sora adalah saudari kembar yang dibuang oleh orang tua kandung mereka. Takdir membawa Seina diadopsi keluarga kaya, sementara Sora tumbuh dalam kemiskinan.
Diliputi iri hati, Sora berusaha merebut kehidupan adiknya. Namun, ambisinya berakhir tragis. Seina pun tewas setelah diracuni oleh kakaknya.
Ketika waktu berputar kembali, Seina memilih menyerahkan semua yang dulu menjadi miliknya.
"Kalau memang itu yang kau inginkan... ambillah semuanya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
Begitu seluruh keluarga masuk ke rumah, Mira menceritakan bahwa kotak kue itu sebenarnya diberikan oleh keluarga Sia kepada Seina. Namun gadis kecil itu tidak tega menghabiskannya sendiri.
Ia sengaja membawa pulang semua kue itu agar bisa dinikmati bersama keluarganya.
Mendengar penjelasan itu, satu per satu kakaknya menerima bagian masing-masing.
Sikap mereka terhadap Seina pun perlahan mulai berubah menjadi lebih hangat.
Hanya kakak keempat yang masih mendengus pelan. Tanpa mengatakan apa-apa, ia langsung berbalik dan masuk ke kamarnya.
Seina memandang ke arah pintu yang tertutup itu sambil menghela napas kecil. Entah kapan kakak keempat benar-benar mau menerimanya.
Melihat wajah putrinya sedikit murung, sang ayah tersenyum lembut.
"Sudahlah... Kalau dia tidak mau makan, biarkan saja."
Namun Seina segera menggeleng dan berkata, "Tidak, aku akan menyisakan satu potong untuk Kakak Keempat."
Ucapan itu membuat sang ayah terdiam. Padahal hanya tersisa satu potong terakhir, tetapi putrinya masih memikirkan kakaknya yang paling keras kepala.
Semakin ia melihat Seina, semakin terasa betapa cepat gadis kecil itu tumbuh dewasa.
Sementara itu, kakak kedua memakan kuenya dengan penuh semangat.
"Bu! Benarkah ini kue dari ibu kota?"
Mira tersenyum tipis dan menjawab dengan lembut, "Memang tidak semua orang bisa mencicipi kue dari sana."
"Dulu..." Ia hampir saja melanjutkan kalimatnya, tetapi segera menghentikan diri.
Kakak kedua sama sekali tidak menyadarinya.
"Wah... Kalau begitu aku juga pernah makan kue terkenal itu! Dulu teman sekelasku selalu membanggakan dirinya karena sempat mencicipinya."
"Aku tidak menyangka sekarang giliranku."
Kakak sulung ikut mengangguk.
"Aku juga pernah mendengar nama toko itu, tempat itu memang sangat terkenal."
Mira kemudian menoleh kepada Seina.
"Seina..."
"Bagaimana kau bisa tahu tentang toko itu? Apakah para pelayan keluarga Sia yang memberitahumu?"
Seina tersenyum malu-malu. "Bukan, Bu.. Sebenarnya ini bukan Kue Ekor Phoenix dari toko itu. Aku hanya tidak sengaja mendengar para pelayan membicarakan toko itu."
"Karena semua orang tampak sangat menghormatinya, aku sengaja memakai namanya untuk menakut-nakuti Nenek Sun."
"Aku hanya sedang menggertaknya."
Ruangan langsung menjadi sunyi. Semua orang memandang Seina dengan ekspresi yang sama.
Tak seorang pun menyangka seorang anak berusia enam tahun mampu berpikir sejauh itu.
Kakak kedua yang tadi merasa sedang menikmati kue paling lezat di dunia tiba-tiba berhenti mengunyah. Ia menatap potongan kue di tangannya.
"...Jadi ini bukan?" Ia menggigit lagi, rasanya memang biasa saja.
Tanpa pikir panjang, ia langsung memasukkan sisa kuenya ke dalam mulut sekaligus.
Melihat tingkah kakaknya, Seina hampir tertawa.
Malam itu keluarga mereka memutuskan membuat pangsit bersama.
Setelah mencicipi kue pada siang hari, Mira mengajak seluruh keluarga berkumpul di dapur.
Bagi Seina, ini adalah pengalaman yang sangat baru.
Di kehidupan sebelumnya, saat tinggal di keluarga Hartono, lalu setelah memasuki keluarga bangsawan, selalu ada pelayan yang mengurus semua kebutuhannya.
Bahkan cara berjalan, cara duduk, hingga cara memegang sumpit pun diatur oleh guru tata krama. Ia tidak pernah benar-benar bebas, namun kehidupan sekarang berbeda.
Ia ingin hidup sesuka hatinya dan tidak ingin lagi menjadi burung cantik yang dikurung di dalam sangkar emas.
Kebebasan jauh lebih berharga daripada kemewahan.
Saat semua orang sibuk membungkus pangsit, kakak kedua tiba-tiba tertawa terbahak-bahak.
"Seina! Pangsitmu jelek sekali!"
Seina menunduk melihat hasil buatannya, memang bentuknya aneh. Namun menurutnya, setidaknya masih bisa dimakan.
Belum sempat ia membela diri, sang ayah sudah lebih dulu menegur.
"Masih berani mengejek adikmu? Pangsitmu sendiri juga tidak lebih bagus."
Kakak kedua langsung menutup mulut, ia hanya bisa menggaruk kepala sambil nyengir.
Sang ayah kemudian menoleh kepada Mira.
"Nanti masakkan pangsit buatan Seina secara terpisah. Ayah ingin memakannya sendiri."
Mira tersenyum geli namun tetap menganggukkan kepalanya
Seina yang mendengar itu langsung berbinar.
"Kalau begitu nanti aku akan membuat lebih banyak lagi untuk Ayah."
Sang ayah tertawa puas.
"Putriku memang paling menyayangi Ayah."
cerita nya juga seru