NovelToon NovelToon
Hamka Putra Arwah Hidup

Hamka Putra Arwah Hidup

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Mata Batin / Mengubah Takdir
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Ridwan01

Sebuah kejadian membuat Haris yang merupakan seorang pemimpi perusahaan besar langsung hancur.
Dia kehilangan segalanya dalam satu hari dan memilih untuk mengakhiri hidupnya tapi setelah mati, dia justru menemukan kenyataan kalau orang yang selama ini dia sembunyikan mengandung anaknya.
Hamka Haris Stuart, seorang anak buta warna yang lahir dari rahim adik angkat Haris yang terus di sakiti karena hanya seorang anak dari istri kedua.
Bagaimanakah Hamka bisa menemukan warna dalam hidupnya setelah dia tahu kalau ayah yang selama ini dia panggil Daddy bukanlah ayah kandungnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ridwan01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Memusnahkan manekin 2

‎Manekin itu tiba tiba saja menarik Hamka yang sedang konsentrasi berdzikir. Manekin itu bahkan membuat Hamka berhadapan dengannya yang kini membungkus tubuh Hamka agar terikat bersamanya.

‎"Bakar, bakar kalau kalian bisa" sinis Mara 

‎"Jangan pedulikan Hamka dad, serang saja makhluk ini, dia memang harus musnah" ucap Hamka

‎"Haris lakukan sesuatu, bawa setan itu ke suatu tempat agar kita bisa bebas menyerangnya" ucap Sutinah karena Haris terlihat khawatir pada Hamka.

‎Haris mengeluarkan belati api miliknya dan meminta Langit membaca surat Al ikhlas secara terus-menerus dan tidak boleh berhenti. Dengan satu kali sabetan, belati itu langsung mengeluarkan benang dan melilit tubuh manekin itu hingga terikat di pinggangnya, sementara Sutinah membacakan sesuatu ke arah benang yang seketika itu membuat Haris, Sutinah, Langit dan Hamka menghilang dari sana.

‎"Hamka, kemana mereka?" tanya Liam

‎"Gue nggak tahu, tapi kita urus dulu orang Ini yang semakin menggila, sepertinya dia sudah mulai sadar kalau Tante Karina itu sudah meninggal dan manekin itu bukan Tante Karina" jawab Lintang

‎"Karina... Karina kamu di mana?" tanya Bram memeluk guci yang merupakan rumah Mara.

‎"Tunggu dulu, guci itu kan rumahnya manekin itu, mungkin saja Tante Karina ada di dalam sana, mungkin Tante Karina tertahan di sana" ucap Liam

‎Liam segera mengambil guci itu dan Lintang memegangi Bram agar dia tidak memecahkan guci yang mungkin nanti di butuhkan Langit untuk menahan sosok Mara di dalamnya.

‎"Berikan itu padaku, itu tempat hantunya Karina, Karina Istriku ada di sana dan akan selalu bersamaku!" bentak Bram

‎Plak.

‎"Berisik! gue udah mulai kesal lihat Lo sejak tadi ngomong istriku Istriku tapi Lo bunuh dan Lo jadikan manekin!" umpat Liam menampar Bram sampai dia pingsan.

‎"Parah Lo bang, kalau dia mati gimana" kaget Lintang

‎"Bodo, gue Gedeg sama dia, cinta tapi mendua, cinta tapi nggak mau berkorban, malah mengorbankan orang yang mencintai dia dengan tulus" jawab Liam

‎Liam membuka guci itu, di dalamnya memang ada sebuah jantung yang sudah di awetkan, bahkan bentuknya masih terlihat utuh, hanya sudah kering dan tak di sentuh Liam karena dia takut pingsan dan melihat kejadian di mana Bram melakukan pengawetan pada jasad Karina.

‎"Hiks... Suamiku mana"

‎"Suamiku..."

‎"Tuh dia nyariin Lo" ucap Liam karena Karina ternyata memang ada di dalam guci itu.

‎Sosok Karina keluar dengan pakaian terakhir yang dia pakai, tapi matanya terlihat kosong atau tidak ada bola matanya sama sekali, dia hanya berdiri dan berkeliling ke semua tempat tanpa bisa pergi jauh dari Bram ataupun guci itu.

‎"Hiks.. Suamiku"

‎"Itu, suami kamu pingsan, dia kelelahan karena menangisi kamu, kamu peluk saja dia supaya kamu tidak kehilangan dia lagi" ucap Lintang mengarahkan sosok Karina ke arah Bram yang sedang terbaring pingsan.

‎"Menurut Lo, mereka bagusnya di apain ya?" tanya Liam

‎"Buat Karina terus menghantui Bram dan buang guci itu jauh jauh supaya mereka tidak di ganggu manekin itu lagi" jawab Lintang

‎"Kasusnya?" tanya Liam

‎"Dia tidak akan di hukum juga, dia pasti di anggap gila dan biarkan saja dia jadi gila beneran" jawab Lintang dan meski ragu, Liam mengangguk.

‎"Ayo kita ke tempat Daddy dan yang lain" ajak Liam menuntun Lintang untuk keluar dari apartemen itu.

‎Sebelum keluar dia menatap sosok Karina yang terus berada di pelukan Bram, bahkan Liam sengaja membiarkan Bram bisa melihat Karina supaya saat dia bangun, dia sadar kalau dia akan di ikuti sosok qorin Karina seumur hidupnya.

‎Ceklek.

‎"Huaaa Liam, Lintang kenapa Lo semua lama!" pekik Izhar dan Zaheer yang langsung memeluk Liam dan Lintang.

‎"Kami harus menyusul Daddy, ayo ikut kami lagi" jawab Liam

‎"Mumun ikut" pekik Mumun 

‎"Ayo Tante, Sekalian tunjukkin tempat Daddy dan yang lain" jawab Lintang

‎"Beres" jawab Mumun

‎Mumun terbang ke arah luar apartemen dan menuju ke tempat parkir mobil Hamka berada. Setengah jam berkendara, mereka akhirnya sampai di sebuah lapangan bola yang cukup luas, lapangan yang berada cukup jauh dari pemukiman itu aman dan tidak akan membuat banyak orang tahu aktifitas yang ada di dalam sana.

‎"Daddy!" panggil Liam

‎"Buka gucinya Liam" ucap Langit yang sedang memegangi manekin itu bersama Haris dan Sutinah karena dia tidak mau melepaskan Hamka.

‎"Ggrrr.... Aku tidak mau pergi dari dalam tubuh ini, aku sudah hampir mendapatkan tubuh baru!" ucap Mara.

‎"Jangan pernah berharap terlalu banyak Mara! Dunia kita dan manusia itu tidak akan bisa bersatu, kamu terlalu banyak bermimpi!" ucap Haris

‎"Aku tidak peduli, asal aku bisa mendapatkan satu orang saja yang jadi abdiku itu sudah cukup, aku sudah mendapatkan Bram dan dia yang akan jadi abdiku sampai dia mati!" bentak Mara 

‎Srak.

‎"Aakhhh sialan!" umpat Mara saat Liam melempari dia dengan sirih merah yang di berikan Hamka pada Izhar tadi siang, begitupun dengan jantung Karina yang ada di dalam guci itu.

‎Srak.

‎"Aakhh! Hentikan! Jangan baca apa pun lagi!" teriak Mara yang akhirnya melempar Hamka hingga terjatuh tapi berhasil di tangkap Haris.

‎"Hhhrrrrrr"

‎Manekin itu tiba tiba saja retak di beberapa bagian, Langit khawatir karena itu artinya sosok asli yang ada di dalam manekin itu akan menampakkan wujudnya, dan jika itu terjadi, mereka akan sulit mengalahkan sosok asli Mara yang punya tinggi lebih tinggi dari sosok asli Buto ijo yang pernah dia lihat.

‎"Bakar sekarang juga, Hamka! Bacakan wirid yang di ajarkan Opa Adrian!" perintah Langit dan Hamka berdiri untuk membacakan wirid itu.

‎"A'udzubillaahiminasyaitaanirrajiim bismillahirrahmanirrahim"

‎"Haris biarkan belati api milikmu tetap ada di tubuhnya supaya sosok aslinya tidak akan bisa keluar" ucap Sutinah

‎"Tenang saja, tidak akan aku biarkan dia muncul, akan aku buat dia terbakar juga" jawab Haris

‎ Mumun juga tidak tinggal diam, dia membantu mereka dengan cara meniupkan angin putih miliknya supaya sosok Mara terkecoh, karena asap yang keluar dari angin itu akan mengeluarkan efek lemas pada makhluk yang di kelilingi asap itu.

‎"Bagus Mumun, sekarang Hamka kamu alirkan energi kamu ke dalam belati Haris supaya energi cambuk itu bisa langsung membakar Mara" ucap Langit

‎"Baik dad" jawab Hamka segera mengeluarkan energinya.

‎"Tidak akan aku biarkan kalian menang! Aku sudah bertahun-tahun lamanya menunggu saat ini!" Teriak Mara mengeluarkan seluruh kekuatannya hingga tangan dan wajah manekin Karina semakin terlepas.

‎"Bismillahirrahmanirrahim, kamu tidak akan bisa menggangu manusia lagi Mara!" Ucap Haris menghembuskan bola api ke dalam cambuk api dan energi Hamka sampai menembus masuk ke dalam tubuh manekin Karina.

‎"Aakhhhh tidak! Teriak Mara yang tubuhnya mulai terbakar dari dalam 

‎"Jantungnya, masukkan ke dalam api itu juga supaya Karina tak lagi terikat perjanjian dengan sosok itu" ucap Langit mengalirkan energi hitam miliknya supaya sosok itu semakin terbakar habis.

‎Brak. Dhuar.

‎Guci itu di lempar Liam dan tiba tiba saja terjadi ledakan dahsyat di sana, Hamka segera melindungi tubuh para manusia di sana dengan tubuhnya, Sedangkan Sutinah memastikan sosok Mara sudah mati dan tidak akan bangkit lagi setelah jantung Karina ikut terbakar di dalam sana.

‎"Alhamdulillah" ungkap semuanya

‎"Hamka cape" keluh Hamka memeluk Langit yang langsung menggendongnya untuk pulang.

‎"Itu gimana dad?" Tanya Liam

‎"Haris, nenek Sutinah dan Mumun yang akan mengurusnya, ayo kalian juga pulang, sudah larut malam" jawab Langit

‎"Gendong" ucap Izhar dan Liam segera menggendong Izhar yang memang terlihat pucat.

‎"Lo baik baik aja kan?" Tanya Zaheer khawatir

‎"Gue butuh mama dan papa untuk ngurus gue selama satu minggu" jawab Izhar

‎"Sakit beneran dia, ayo segera pulang" ucap Lintang

1
Tri Handayani
ah kasihan sekali izhar😇😇😇
Ridwan01: iya kak kasihan dia 🙏
total 1 replies
Fitriputri
lanjuttt thor
Ridwan01: siap kak terima kasih 🙏
total 1 replies
Fitriputri
lanjuttt💪
Ridwan01: terima kasih kak 🙏
total 1 replies
Ridwan01
Selamat datang di dunia Hamka
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!