NovelToon NovelToon
Rahasia Dua Tubuh

Rahasia Dua Tubuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi
Popularitas:824
Nilai: 5
Nama Author: Rachmat Rachimullah

Bagaimana rasanya terbangun di pagi hari dan mendapati dirimu memiliki dua kehidupan yang sepenuhnya berbeda?
Selama ini, hidup 'Bara' adalah sebuah komedi pahit. Bertubuh gemuk, pendek, dan selalu dilingkupi rasa tidak percaya diri, ia menjadi sosok tak kasat mata yang selalu diremehkan di lingkungan sosialnya. "Aku ini siapa?" menjadi pertanyaan retoris yang terus menghantui hari-harinya di kamar yang berantakan.
Namun, takdir memainkan lelucon yang teramat gila.

Tanpa ada penjelasan ilmiah maupun magis, Bara mendadak terbangun dengan dua tubuh yang terhubung pada satu jiwa yang sama.

Saat tubuh aslinya tertidur, kesadarannya berpindah ke tubuh seorang pria lain: sosok yang sempurna, tinggi, tampan, atletis, dan berbalut setelan jas mewah dengan latar belakang gemerlap kota metropolitan. Di satu sisi, ia adalah pria malang yang terpinggirkan; di sisi lain, ia adalah pangeran sempurna yang dipuja semua orang.

"ketika takdir memberikan mu dua tubuh, mana yg akan kamu pilih?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rachmat Rachimullah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Paprika TV (2)

Langit Surabaya mulai berubah jingga ketika Bara menghidupkan sepeda motornya. Bella masih berdiri di depan gerbang rumah sambil memeluk tas kecilnya erat-erat. Wajah gadis itu belum sepenuhnya kembali ceria setelah kejadian di gang sempit tadi.

"Beneran nggak mau mampir dulu?" tanya Bella.

Bara melepas helmnya sebentar. "Nggak usah. Orang tuamu pasti lagi nunggu."

Bella mengangguk pelan. "Iya sih..."

Beberapa detik suasana menjadi canggung. Bella kemudian tersenyum kecil.

"Bara."

"Hm?"

"Makasih..."

"Nggak usah."

"Belum selesai." Bella menggeleng.

"Makasih banyak."

"Kalau kamu nggak datang..."

Bella tidak sanggup melanjutkan kalimatnya.

Bara hanya tersenyum tipis. "Yang penting sekarang kamu selamat."

Bella menundukkan kepala. "Aku benar-benar nggak nyangka."

"Dunia internet ternyata seseram itu."

Bara menyandarkan kedua tangannya di setang motor. "Internet itu sama seperti dunia nyata."

"Maksudnya?"

"Ada orang baik."

"Ada juga orang yang memakai topeng."

Bella menghela napas panjang. "Kayaknya aku terlalu gampang percaya sama orang."

"Kamu cuma terlalu percaya kalau semua orang berpikir sebaik dirimu." jawab Bara

Bella terkekeh kecil. "Itu sindiran ya?"

"Bukan."

"Itu fakta."

Bella akhirnya tertawa. Tawa yang sejak tadi menghilang akhirnya kembali terdengar.

"Oke deh."

"Sebagai rasa terima kasih..." Bella mengangkat telunjuknya.

"Aku traktir makan."

"Nanti aja."

"Nggak boleh nolak."

"Boleh."

"Nggak."

"Boleh."

"Nggak."

Perdebatan konyol itu berlangsung hampir satu menit. Sampai akhirnya Bella menyerah.

"Yaudah."

"Tapi utangnya tetap ada."

Bara mengangguk. "Kalau memang kamu maksa."

Bella tersenyum lebar. "Deal."

"Jangan lupa ditagih."

"Siap, Bos."

Bara kembali mengenakan helmnya. "Dadah."

"Hati-hati."

Motor Bara perlahan menjauh meninggalkan rumah Bella. Namun senyum di wajahnya perlahan memudar. Pikirannya justru kembali pada satu hal.

**Paprika TV.**

Perjalanan menuju kos terasa lebih sunyi dari biasanya. Lampu-lampu jalan mulai menyala. Suara kendaraan berlalu-lalang memenuhi jalan raya. Namun kepala Bara justru sibuk menyusun potongan-potongan informasi.

"KingDragon."

"Gift bernilai besar."

"Pertemuan mendadak."

"Target perempuan muda."

Semua itu terasa terlalu rapi.

"Kalau cuma orang iseng..." gumam Bara pelan.

"...kenapa caranya sistematis?"

Ia teringat satu hal. Semalam sebelum Bella menerima gift dari KingDragon.

Streamer lain yang ia lihat juga mengalami hal serupa. Ada seseorang yang sengaja menghabiskan uang dalam jumlah sangat besar padahal isi siaran mereka biasa saja.

"Ini bukan soal hiburan."

Motor Bara akhirnya berhenti di depan kos sederhana tempat ia tinggal ia langsung masuk ke kamar tas dilempar ke atas kasur, sepatu belum sempat dilepas.

Hal pertama yang ia lakukan justru mengambil ponselnya.

"Ayo kita lihat lagi."

Paprika TV kembali terbuka. Beranda langsung dipenuhi siaran langsung dari berbagai daerah. Bara memilih menonton satu per satu.

Live pertama.

Seorang pemuda hanya duduk diam sambil menatap kamera. Tidak berbicara. Tidak tersenyum. Bahkan hampir tidak berkedip.

Jumlah penonton hampir lima ribu.

"..."

Bara mengernyit.

Kolom hadiah terus berjalan.

*"Mawar x100."*

*"Mobil Sport."*

*"Istana."*

*"Meteor."*

Hadiahnya terus berdatangan padahal streamer itu tidak melakukan apa-apa. Bara keluar dari siaran itu. Berpindah ke live berikutnya.

Kali ini seorang pria berteriak-teriak sejak awal.

"KALIAN SEMUA BODOH!"

"GAK ADA YANG NGERTI GUE!"

Meja dipukul. Kursi dilempar. Komentar justru semakin ramai.

*"Keren bang."*

*"Marah lagi bang."*

*"Gas terus."*

Gift kembali mengalir. Jumlahnya bahkan lebih besar. Bara semakin heran. Ia membuka live ketiga. Seorang perempuan menangis. Tidak menjelaskan alasan. Hanya menangis selama hampir dua puluh menit.

Penontonnya belasan ribu. Gift terus masuk.

Live keempat. Seseorang tidur. Benar-benar tidur. Tidak ada aktivitas lain. Tetap ditonton ribuan orang. Bara akhirnya meletakkan ponselnya beberapa detik.

"Lalu..."

"Apa sebenarnya yang dijual platform ini?"

Ia mengambil buku catatan kecil. Mulai menulis.

**Konten tidak berkualitas.**

**Penonton sangat banyak.**

**Gift bernilai besar.**

**Interaksi aneh.**

**Banyak akun misterius.**

Semakin lama ia berpikir semakin banyak pertanyaan muncul.

"Kalau algoritmanya normal..."

"...konten seperti ini seharusnya tenggelam."

Ia membuka kembali aplikasi kali ini bukan menu live. Melainkan informasi perusahaan. Beberapa halaman muncul.

Nama pengembang, alamat kantor, perusahaan induk. Sampai akhirnya tatapan Bara berhenti pada satu nama perusahaan.

"Sebentar..."

Ia memperbesar layar. Nama itu terasa tidak asing. Beberapa detik kemudian Bara langsung membuka galeri ponselnya.

Ia mencari sebuah foto kartu nama foto yang ia ambil beberapa minggu lalu saat dirinya ditawari kontrak eksklusif oleh sebuah perusahaan musik.

Bara menyandingkan kedua gambar itu. Matanya langsung menyipit.

"Perusahaan yang sama..."

Bukan lebih tepatnya. Perusahaan musik itu merupakan salah satu anak perusahaan dari grup yang menaungi Paprika TV.

Jantung Bara berdetak sedikit lebih cepat.

"Jadi..."

"Mereka bukan cuma bergerak di musik."

Potongan puzzle mulai saling terhubung. Perusahaan musik, kontrak eksklusif, paprika TV, gift bernilai besar, streamer baru, promosi besar-besaran. Semuanya berada di bawah payung perusahaan yang sama.

"Tapi..."

"Apa tujuan akhirnya?"

Bara kembali bersandar di kursinya untuk pertama kalinya kemampuan analisanya seolah menemui jalan buntu. Ada sesuatu yang sangat besar. Namun masih tersembunyi Ia bisa melihat bayangannya tetapi belum bisa melihat bentuknya.

Keesokan paginya. Sekolah kembali ramai.

Arif datang sambil membawa roti.

"Bro."

Bara menoleh. "Apa?"

"Gue mimpi semalam."

"Terus?"

"Gue jadi streamer."

Ani yang baru datang langsung tertawa. "Kontennya apa?"

"Gue tidur." jawab Arif

Bella menyahut cepat. "Wah cocok."

Arif langsung protes. "Heh!"

"Tidur juga butuh bakat."

Bella tertawa. "Kalau itu sih Lo juaranya."

Suasana kelas kembali dipenuhi tawa. Namun Bara terlihat lebih banyak diam. Hal itu rupanya disadari oleh seseorang.

Okid. Ia berjalan mendekati Bara. Duduk di bangku sebelahnya. Tanpa berkata apa pun.

Bara menoleh. "Lagi mikir."

Okid mengangguk pelan. Bara sudah terbiasa.

Okid memang lebih sering mendengar daripada berbicara.

"Aku semalam buka Paprika TV." ucap Bara

Okid tetap diam.

"Aneh."

"Aneh banget."

Bara mulai menceritakan semuanya. Tentang streamer yang hanya diam. Tentang streamer yang marah-marah. Tentang hadiah virtual bernilai besar. Tentang perusahaan induk.

Hingga keterkaitannya dengan perusahaan musik yang pernah menawarkan kontrak kepadanya. Selama hampir sepuluh menit. Okid tidak memotong sedikit pun ia hanya mendengarkan sesekali mengangguk. Tatapannya tetap tenang. Bara mengakhiri ceritanya.

"Intinya..."

"Aku yakin ada sesuatu."

"Tapi aku belum tahu apa."

Okid kembali mengangguk lalu berdiri.

"Hah?" Bara mengernyit.

"Udah?"

Okid mengangguk sekali lagi.

"Lah." Bara bingung

"Bantu mikir kek."

Okid hanya menepuk pelan bahu Bara. Kemudian berjalan keluar kelas.

Arif yang melihat itu langsung berkomentar. "Wah."

"Meeting tercepat sedunia."

Bella ikut menimpali. "Durasi bicara Okid hari ini?"

Arif mengangkat satu jari. "Nol koma nol nol satu detik."

Bara hanya menggeleng sambil tersenyum tipis ia tahu diamnya Okid bukan berarti tidak peduli.

Di tempat lain tidak jauh dari sekolah. Sebuah mobil hitam berhenti di depan sebuah bengkel tua. Okid turun seorang diri ia berjalan masuk ke dalam.

Bengkel itu tampak biasa dari luar namun setelah melewati pintu belakang suasananya berubah.

Beberapa pria sedang duduk mengelilingi meja begitu melihat Okid datang semuanya langsung berdiri.

"Selamat pagi, Bos."

Okid mengangguk pelan.

Salah satu pria bertubuh kekar mendekat. "Perintah?"

Okid mengeluarkan ponselnya menampilkan logo Paprika TV. Pria itu memperhatikan dengan serius.

Okid akhirnya berbicara singkat. "Cari."

Hanya satu kata namun pria itu langsung mengerti. "Apa saja yang harus dicari?"

Okid mengangkat dua jari. "Pemilik."

"Lalu?" tanya pria itu

"Tidak."

"Itu saja?"

Okid mengangguk.

Pria itu tersenyum. "Baik."

"Kami mulai hari ini."

Okid berbalik meninggalkan ruangan tidak ada penjelasan panjang tidak ada pidato. Namun seluruh orang di ruangan itu langsung bergerak menjalankan tugasnya masing-masing.

Sementara itu, jauh di luar sana, Bara masih belum menyadari bahwa tanpa diminta, sahabat pendiamnya telah mulai membuka jalur penyelidikan sendiri dan tanpa mereka ketahui...

Semakin dalam mereka menggali tentang Paprika TV, semakin dekat pula mereka pada rahasia yang selama ini disembunyikan oleh orang-orang yang bermain di balik layar.

Rahasia yang nilainya jauh lebih besar daripada sekadar aplikasi media sosial.

1
Ilham Rachmatullah
ahaha pika pikaa🤣
Jian Fitriana
jangan lama’ thor update nya 🤭
rey
semangat thor 🔥🔥
RR
halo teman-teman sekalian. tolong bantu berikan ulasan yaa agar saya lebih semangat untuk memberikan tulisan-tulisan terbaik. jangan lupa like nya terimakasih
rey: semangat thor 🔥🔥🔥
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!