NovelToon NovelToon
Menjadi Pengantin Pengganti

Menjadi Pengantin Pengganti

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Penyesalan Suami / Pengantin Pengganti
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Sia Masya

Kehidupan yang kujalani sudah sangat lah buruk. Menerima bantuan tapi ada hidupku yang dipertaruhkan. Mungkin inilah takdir hidupku, sudah seharusnya berterima kasih, karena pernah diangkat dari tumpukan sampah yang kotor

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sia Masya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

25

Ia membuka pintu rahasia itu perlahan. Betapa terkejutnya ia melihat seisi rumah berantakan tak beraturan. Benda‑benda kaca, pecah berkeping‑keping di lantai.

"Apa yang terjadi?" gumamnya pelan sambil melangkah hati‑hati. Dari balik celah dapur, matanya terbelalak menyaksikan pemandangan mengerikan di ruang tamu.

Ayahnya tergeletak tak berdaya di samping ibunya, darah segar terus mengalir dari tubuh ayahnya. Di depan mereka berdiri seorang pria berwajah kejam—wajah yang hingga kini masih terukir jelas di ingatannya, wajah ayah angkat Dian, Edo jahanam.

Ia melihat pria itu menampar ibunya berkali‑kali hingga wanita itu jatuh tersungkur. Tanpa sengaja, pandangan ibunya bertemu dengan matanya dari kejauhan. Sang ibu sama sekali tidak bergerak sedikit pun atau mengangkat tangan—ia hanya menatap tajam ke arah anaknya, matanya berbicara segalanya: penuh ketakutan, air mata mengalir deras, namun memohon dengan tegas agar Joshua segera menjauh, bersembunyi, dan jangan pernah menampakkan diri.

Hanya lewat sorot matanya saja, pesan itu sampai sepenuhnya ke hati Joshua kecil. Tiba‑tiba terdengar dua kali letusan senapan dan tubuh ibunya tersentak diam. Joshua kecil buru‑buru menutup mulutnya erat dan bersembunyi di balik tembok, air matanya mengalir deras. Namun saat hendak berbalik, salah satu penjahat melihatnya sambil menyunggingkan senyum licik.

"Ternyata ada tikus kecil yang bersembunyi! Tangkap dia!"

Joshua berlari secepat tenaga kakinya, melewati lorong persembunyian, lalu menembus pintu belakang menuju hutan di sekitar rumahnya.

"Bakar rumah ini! Jangan biarkan satu pun yang selamat! Kejar anak itu sampai dapat!" teriak suara kasar pemimpin itu.

Namun tiba‑tiba ia teringat adik kecilnya masih tertinggal di dalam sana—ia sudah berjanji pada ibunya untuk menjaga adiknya. Joshua kembali ke rumahnya melalui jalur lain, ia hanya bisa terpaku saat melihat api besar melahap habis rumahnya.

"Mama, papa, Cindy!" Ia berlari ke arah lorong rahasia di taman. Ia masuk dengan hati-hati.

Saat berhasil menjangkau adiknya, sebatang tiang terbakar rubuh ke arah mereka; Joshua menahan dengan punggungnya sendiri, meninggalkan bekas luka bakar besar yang tak akan hilang selamanya.

Para penjahat menemukan jejak kaki Joshua yang berhenti di depan pintu rumahnya.

"Sepertinya anak itu masuk ke dalam tuan."

"Biarkan saja. Sepertinya tidak ada ancaman lagi sekarang. Ayo pergi!"

Lalu pemandangan itu berubah seketika. Bukan lagi rumah yang terbakar, bukan juga lorong yang sempit.

Kini ia berdiri di tempat gelap gulita, melihat ayah, ibu, dan Cindy berjalan menjauh meninggalkannya.

"Ayah, Ibu… kenapa tinggalkan aku?" teriaknya pilu.

Namun kedua orang tuanya berbalik menatapnya tajam.

"Joshua kau bukan anak kami....."

"Apa maksud mu ibu?"

"Kau ingin menikah dengan anak dari seseorang yang telah membunuh kami."

"Tidak ibu... Dengarkan aku."

"Kau menyukainya. Itu berarti kau juga pembunuh kami... "

"Tidak ayah, aku.... Dengarkan aku..."

"Sayang ayo pergi..... Dia benar-benar tidak ingin membalas dendam kita."

"Tidak ibu... Ayah. Aku masih anak kalian, aku mohon jangan tinggalkan aku."

Joshua tersentak hebat dari tidurnya, keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya. Rasa perih di bekas luka punggungnya terasa kembali seolah baru saja terjadi.

Ia meremas selimutnya sekuat tenaga, campuran rasa marah, sedih, dan sedikit keraguan yang tak berani ia akui.

"Ayah, Ibu… tenanglah. Dendam kalian pasti akan kubalas. Edo dan seluruh keluarga nya, akan merasakan penderitaan berkali‑lipat lipat, sampai mereka meminta kematian mereka sendiri. Dan Dian… dia hanyalah alat untuk menghancurkan mereka. Tidak mungkin aku jatuh hati padanya. Tidak mungkin…"

Hari‑hari berlalu begitu indah dan penuh kelembutan di mata Dian. Setiap perlakuan manis, setiap janji setia, setiap perhatian kecil yang diberikan Joshua, semakin mengukuhkan keyakinannya bahwa ia telah menemukan orang yang paling tepat dan baik di dunia ini. Ia pun mulai menantikan dengan penuh harapan hari di mana masa satu tahun itu berakhir, menanti saat di mana ia akan dinikahi dengan tulus tanpa ikatan apa pun.

Namun jauh di lubuk hati Joshua, hal itu sama sekali tak ada artinya. Ia hanya tertawa dingin setiap kali melihat harapan besar dan kepercayaan murni di mata gadis itu. Baginya, waktu satu tahun itu hanyalah jangka waktu yang cukup untuk meruntuhkan kekuasaan, harta, dan nama baik ayah angkat Dian sepenuhnya—sebagai balas dendam yang telah ia rencanakan bertahun‑tahun lamanya demi kematian orang tuanya. Mengabulkan permintaan konyol itu hanyalah cara termudah agar Dian semakin percaya, bergantung padanya, dan jatuh sedalam‑dalamnya sebelum ia menjatuhkannya ke dasar kehancuran.

Sesuai janji yang diucapkannya malam itu, pada hari Minggu yang cerah namun disusun dengan sangat tertutup rahasia, Joshua datang melamar ke kediaman Dian. Yang mendampinginya hanya adik kandungnya yang masih kecil, Cindy serta asisten pribadi kepercayaan nya, pak Arya—satu‑satunya orang yang ia percayai di dunia ini. Sementara dari pihak Dian, sudah menanti pak Edo dan dan bu Sela, suasana berjalan tenang tanpa banyak orang yang tahu.

Joshua datang dengan berpakaian sangat rapi, bersih, dan berwibawa, membawa perlengkapan serta hadiah lamaran yang lengkap dan indah. Senyum manis yang menawan tak pernah lepas dari bibirnya, membuat kedua orang tua itu semakin kagum dan terkesan setengah mati.

Ia duduk dengan sopan di ruang tamu utama yang sederhana namun mewah, menatap ke arah Dian yang duduk agak jauh di sudut ruangan sambil menunduk malu‑malu, namun dari balik rambutnya yang indah, mata gadis itu berbinar bahagia tak tertahankan.

“Bapak, Ibu… saya datang ke sini hari ini bukan lagi sekadar memenuhi perjanjian lama yang pernah disepakati,” ucap Joshua dengan suara tenang, tegas, dan sangat meyakinkan, seolah setiap kata yang keluar adalah kebenaran mutlak dari sanubari. “Saya datang untuk memohon izin dengan sungguh‑sungguh dan tulus hati, agar Dian bersedia menjadi pendamping hidup saya selamanya. Saya berjanji akan menjaganya sekuat tenaga, melindunginya dari segala bahaya, serta berusaha membahagiakannya seumur hidup saya.”

Ayah angkat Dian mengangguk berulang kali dengan wajah puas dan lega, merasa segala rencananya berjalan persis seperti yang diharapkan. “Kami setuju sepenuhnya, Nak Joshua. Kami percaya sepenuhnya padamu untuk menjaga putri kami.”

Saat pandangan mereka sempat bertemu sejenak, Joshua perlahan mengedipkan sebelah matanya sedikit ke arah Dian—seolah memberi isyarat rahasia bahwa janji yang diucapkan di bawah langit malam masih dipegang teguh di hatinya. Hati Dian pun meleleh penuh rasa syukur dan bahagia; ia benar‑benar yakin bahwa di balik semua perjanjian awal itu, kini tumbuh rasa cinta yang murni di antara mereka berdua.

Di sisi lain, gadis kecil yang manis itu—Cindy—tak sabar lagi mendekat dengan senyum ceria dan polos sekali. “Mbak Dian… Cindy sudah tidak sabar sekali rasanya, Mbak Dian akhirnya masuk ke rumah kami nanti. Cindy akan sangat bahagia sekali. Akhirnya Cindy punya kakak perempuan yang cantik dan baik hati juga.” serunya riang sambil memegang lembut tangan Dian.

Dian tersenyum sangat lembut sambil mengelus kepala adik calon suaminya itu dengan penuh kasih sayang. “Mbak juga tidak sabar, Cindy. Sekarang mbak punya adik yang cantik, manis, dan seimut kamu.”

Keduanya pun saling bercengkraman dengan akrab, seolah tak ada jarak sedikit pun di antara mereka.

Namun tak ada satu pun orang di ruangan itu—termasuk Cindy—yang tahu apa yang bersembunyi di balik senyum sopan dan kata‑kata indah Joshua. Di dalam benaknya, pikiran Joshua berputar sangat dingin dan penuh kebencian, ‘Lihatlah betapa mudahnya aku mendapatkan kepercayaan kalian semua. Mulai hari ini, langkah demi langkah aku akan meruntuhkan segala yang kalian bangun dengan dosa dan darah… dan rasa percaya polos gadis inilah yang akan menjadi senjata paling tajam untuk menghancurkan kalian semua sampai ke akar‑akarnya.’

Upacara lamaran pun berlangsung sederhana namun penuh kehangatan dan harapan—hanya Dian satu‑satunya orang di ruangan itu yang benar‑benar bahagia tanpa beban, tak menyadari bahwa ia baru saja menyerahkan hatinya sepenuhnya kepada musuh terbesar keluarganya sendiri.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!