Dendam masa lalu menuntut balas. Seorang musuh besar mengincar putri tunggal sepasang pembunuh bayaran legendaris gadis yang telah dilatih menjadi "Ratu Kematian". Namun, rencana itu membentur dinding tebal. Peladen data sekolah elite SMA Garuda Bangsa dilindungi enkripsi militer ketat, menyembunyikan identitas sang target di balik kabut digital.
sementara target baru memulai tahun ajaran baru, sistem mendeteksi enam siswi baru di kelas X-A yang datanya terkunci total. Demi memastikan dendamnya terbalas, sang musuh nekat menculik keenam gadis itu.
Disekap di dalam palka kapal kargo yang gulita, enam gadis asing berbalut almamater merah marun ini terpaksa menekan ego mereka. Insting predator mereka menyatu, mengubah tempat penyekapan menjadi ladang pembantaian demi merebut kembali kebebasan. Malam itu, adalah awal mula The Elite akan terbentuk.
apakah Mereka mampu mempertahankan the elite karna status mereka yang cukup tak biasa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zayyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Senyum Boneka di Balik Layar Kaca
"Semua kontainer dari Singapura sudah lolos dari dermaga tiga, Ayah. Petugas bea cukai yang baru itu sudah menerima 'hadiah' mereka tepat pukul delapan malam tadi."
Suara itu terdengar sangat renyah, halus, dan menggemaskan seperti suara seorang anak sekolah dasar yang sedang melaporkan nilai ujiannya kepada orang tua. Namun, kalimat yang diucapkannya justru berbanding terbalik dengan penampilan fisiknya. Camellia Putri duduk dengan santai di atas sebuah kursi putar ergonomis di dalam ruang kerja yang dipenuhi oleh belasan layar monitor yang menyala terang. Dengan tinggi seratus enam puluh lima sentimeter dan wajah yang sangat imut (baby face), Camellia sering kali dikira sebagai anak di bawah umur yang tersesat di dalam rumah mewah itu. Rambut panjangnya yang hitam legam dibiarkan terurai bebas, menjuntai indah melewati bahunya yang mungil. Kulitnya putih bersih, tampak berpendar di bawah siraman cahaya biru dari deretan monitor di depannya.
Di belakangnya, seorang pria paruh baya dengan pakaian safari rapi sedang mengisap cerutu dengan khidmat. Pria itu adalah Hendra Putri, bos besar sindikat gangster yang menguasai jalur penyelundupan barang ilegal skala internasional di Asia Tenggara.
"Kau yakin tidak ada jejak digital yang tertinggal, Camellia?" tanya Hendra, menyemburkan asap cerutunya ke udara, matanya yang tajam menatap punggung kecil putrinya.
Camellia memutar kursi rodanya perlahan, menghadap sang ayah. Bibirnya yang merah muda alami mengulas senyuman manis tanpa dosa, memperlihatkan lesung pipit kecil di pipi kirinya. Gestur tubuhnya tampak begitu tenang, nyaris seperti boneka porselen yang tidak berbahaya. "Ayah meragukan kemampuanku? Aku sudah menghapus manifes muatan asli dari peladen pusat pelabuhan dan menggantinya dengan daftar suku cadang traktor tua. Bahkan badan intelijen negara pun tidak akan menemukan keganjilan itu dalam waktu lima tahun ke depan."
Hendra terkekeh pelan, rasa bangga terpancar jelas dari garis-garis wajahnya yang keras. "Kau memang aset paling berharga yang pernah kumiliki, Amel. Otak jeniusmu itu jauh lebih mematikan daripada ratusan senapan laras panjang milik anak buahku di gudang."
"Tentu saja, Ayah," jawab Camellia, nadanya beralih manja seraya meraih segelas susu cokelat hangat di atas mejanya. Dia meminumnya sedikit, meninggalkan bekas busa tipis di atas bibirnya yang langsung disekanya dengan saputangan sutra. "Lalu, bagaimana dengan urusan sekolahku? Hari Senin besok adalah hari pertama, bukan?"
Hendra berjalan mendekat, meletakkan dokumen pendaftaran fisik ke atas meja kaca Camellia. "SMA Internasional Garuda Bangsa. Kau akan masuk ke sana menggunakan identitas putri dari seorang importir alat-alat kesehatan kelas menengah. Jangan sampai membuat kesalahan."
Camellia menaikkan sebelah alisnya yang tipis, matanya yang besar dan bulat menatap dokumen itu dengan pandangan yang mendadak berubah menjadi sangat dingin dan licik sebuah kilatan yang langsung meluruhkan kesan imut dari wajahnya. "Masuk ke sekolah borjuis dan bersikap seperti siswi bodoh yang hanya tahu cara berbelanja? Itu adalah keahlian utamaku, Ayah. Orang-orang bodoh di sana akan sangat mudah dimanipulasi jika mereka mengira aku hanyalah gadis kecil yang penakut."
"Tapi kau harus tetap waspada, Camellia," sahut Hendra dengan nada bicara yang berubah serius. Pria itu mengetuk layar monitor yang menampilkan grafik peladen data SMA Garuda Bangsa. "Ada yang aneh dengan peladen sekolah itu. Semalam, salah satu peretas terbaik kita mencoba menyisipkan program pelacak ke dalam daftar murid baru, namun sistemnya langsung mendeteksi dan menghancurkan program tersebut. Ada lima akun murid baru yang datanya dienkripsi dengan protokol keamanan tingkat militer. Dan salah satu akun itu adalah milikmu yang sudah diatur oleh orang dalam kita."
Camellia memutar kembali kursinya menghadap barisan monitor. Jemarinya yang lentik dan kecil bergerak dengan kecepatan luar biasa di atas papan ketik mekanisnya. Dalam hitungan detik, baris-baris kode berwarna hijau mulai bermunculan di layar utama.
"Aku sudah mengetahuinya sejak dua hari yang lalu, Ayah," ucap Camellia, suaranya kini terdengar datar dan berwibawa, mencerminkan sisi jeniusnya yang dingin. "Sistem keamanannya sangat impresif. Enkripsi tingkat militer level sembilan. Aku mencoba mencari celah lewat backdoor, tetapi peladen itu dilindungi oleh dinding api berlapis yang sangat dinamis. Jika dipaksakan masuk, sistem akan langsung mengunci data secara permanen."
"Artinya, ada lima orang lain di sekolah itu yang menyembunyikan identitas asli mereka, sama seperti dirimu," kata Hendra, melipat kedua tangannya di dada dengan cemas.
Camellia menyeringai kecil, sebuah senyuman yang sangat licik dan menyeramkan untuk wajah seimut dirinya. "Itu artinya, sekolah baru ini tidak akan membosankan, Ayah. Lima monster lain yang bersembunyi di balik seragam putih-abu-abu... Aku bertaruh mereka adalah anak-anak dari organisasi saingan kita, atau mungkin... aparat penyamar."
"Apapun atau siapa pun mereka, jangan biarkan dirimu mencolok, Amel," peringat Hendra tegas. "Tugas utamamu di sana adalah memetakan jalur logistik baru melalui koneksi anak-anak pejabat bea cukai yang bersekolah di sana. Jangan terlibat dalam konflik horizontal dengan lima murid misterius itu."
Camellia menyandarkan punggungnya pada kursi, memainkan seuntai rambut panjangnya yang terurai dengan ujung jarinya. "Aku tahu batasannya, Ayah. Di sekolah nanti, aku akan menjadi Camellia Putri gadis yang ramah, sedikit canggung, selalu tersenyum, dan suka membantu membersihkan papan tulis. Aku akan menjadi teman yang paling tidak dicurigai oleh siapa pun. Dan sementara mereka sibuk pamer kekuasaan, aku akan meretas ponsel mereka satu per satu saat mereka lengah."
Hendra tersenyum puas melihat ketegasan putrinya. "Bagus. Pertahankan performamu. Aku akan pergi ke pelabuhan sekarang untuk memeriksa bongkar muat terakhir." Setelah menepuk bahu mungil Camellia, Hendra melangkah keluar dari ruangan, membiarkan putrinya kembali tenggelam dalam dunianya yang sunyi.
Begitu pintu ruang kerja itu tertutup rapat, senyuman manja di wajah Camellia lenyap sepenuhnya. Wajah imutnya kini tampak datar tanpa emosi, sedingin es di kutub. Dia menatap tajam ke arah lima ikon profil kosong yang dilindungi kode enkripsi di layar monitornya. Bagi Camellia, enkripsi yang tidak bisa ditembus lewat jalur digital adalah sebuah penghinaan terhadap kejeniusannya.
"Kalian pikir bisa bersembunyi di balik dinding kode ini?" gumam Camellia dengan nada rendah yang sarat akan ancaman.
Dia meraih tas sekolah ransel merah mudanya yang tergantung di dekat meja, membukanya, dan memasukkan sebuah perangkat keras modifikasi berbentuk mirip diska lepas biasa ke dalam kantung tersembunyi. Perangkat itu adalah alat penangkap sinyal wi-fi portabel yang mampu menyadap seluruh lalu lintas data dalam radius lima puluh meter.
Camellia berdiri, melangkah mendekati jendela kaca besar yang menampilkan pemandangan malam kota Jakarta yang basah oleh sisa hujan. Rambut panjangnya yang terurai tampak berkilau diterpa cahaya kota dari kejauhan. Dia mengepalkan jemari tangannya yang halus, membayangkan hari Senin yang akan datang dalam hitungan jam.
"SMA Garuda Bangsa..." Camellia mengeja nama itu dengan senyuman licik yang kembali terukir di wajah cantiknya.
Dia tahu, hari Senin besok akan menjadi awal dari permainan catur yang sangat berbahaya. Enam gadis dari dunia hitam, dipaksa memakai seragam yang sama, duduk di kelas yang sama, dan saling mengintai satu sama lain tanpa mengetahui siapa lawan dan siapa kawan. Namun bagi Camellia Putri, permainan psikologis seperti ini adalah bakat alaminya sejak kecil. Dengan gerakan yang sangat anggun, dia mematikan seluruh layar monitor di ruang kerjanya, membiarkan kegelapan menelan seluruh ruangan, bersiap menyambut badai rahasia yang akan segera dimulai di bawah atap sekolah elit tersebut.