Enam tahun menunggu suami pulang dari Korea, Nandin percaya semua pengorbanannya akan terbayar. Ia membesarkan dua anak kembar seorang diri, bekerja siang malam demi menyambung hidup, sementara suaminya tak pernah mengirim nafkah sedikit pun.
Namun kepulangan suaminya justru membawa surat perceraian.
Pengkhianatan itu menghancurkan hidup Nandin hingga ia kehilangan kewarasannya dan harus menjalani rehabilitasi di sebuah pondok di Jawa Timur. Terpisah dari kedua putri yang sangat dicintainya, Nandin berjuang bangkit dari luka yang nyaris merenggut hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dhatu Lukita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
WAJAH YANG PERNAH DILUPAKAN
Ada luka yang sembuh karena waktu.
Ada luka yang sembuh karena maaf.
Dan ada luka yang hanya bisa sembuh ketika seseorang yang hilang akhirnya kembali ditemukan.
Meski baru lewat foto.
Meski baru lewat kenangan.
Meski baru lewat nama.
Bagi Nandin, itu sudah cukup untuk membuat jantungnya kembali berdetak dengan alasan yang berbeda.
Pagi itu pondok rehabilitasi terasa lebih ramai dari biasanya.
Suara pisau beradu dengan talenan terdengar dari dapur.
Aroma bawang goreng menyebar sampai halaman belakang.
Beberapa penghuni pondok sedang membersihkan sayuran.
Sebagian lagi menyapu halaman.
Dan di tengah kesibukan itu, ada satu pemandangan yang membuat Bu Hesti tersenyum setiap kali melihatnya.
Nandin.
Perempuan yang dulu hanya duduk menatap kosong berjam-jam kini sedang mengiris wortel dengan serius.
Sesekali masih melamun.
Sesekali masih kehilangan fokus.
Namun jauh berbeda dibanding tiga tahun lalu.
"Nandin."
panggil Bu Hesti.
Perempuan itu menoleh.
"Iya Bu?"
"Tolong ambil cabai yang di rak belakang."
"Baik."
Jawabannya sederhana.
Tetapi cukup membuat Bu Hesti terharu.
Karena dulu.
Sekadar diajak bicara saja Nandin sering tidak merespons.
Saat mengambil cabai, tiba-tiba langkahnya terhenti.
Di sudut dapur ada seorang ibu penghuni pondok yang sedang menyuapi anaknya.
Anak kecil itu tertawa.
Lalu memeluk ibunya.
Sederhana.
Sangat sederhana.
Namun entah kenapa.
Dada Nandin mendadak terasa sesak.
Tangannya otomatis memegang dada.
"Nandin?"
Bu Hesti langsung mendekat.
Perempuan itu menunduk.
Air matanya jatuh tanpa suara.
"Aku..."
"Aku kangen mereka."
Bu Hesti langsung mengerti.
Karena kini nama itu tidak lagi hilang.
Shella.
Sherly.
Sementara itu.
Di kota lain.
Bu Rini sedang menjalankan rencana yang bahkan tidak berani ia ceritakan kepada Pak Kiai.
Bukan karena buruk.
Tetapi karena ia takut berharap terlalu tinggi.
Ia ingin mendekati Shella dan Sherly.
Pelan-pelan.
Tanpa membuat Bu Sri curiga.
Hari itu Bu Rini sengaja datang ke sekolah TK tempat kedua anak itu belajar.
Bukan untuk menculik.
Bukan untuk membawa mereka pergi.
Ia hanya ingin mengenal mereka lebih dekat.
Karena selama ini pertemuan mereka selalu diawasi keluarga Wisnu.
Jam istirahat.
Anak-anak berlarian di halaman sekolah.
Ada yang bermain perosotan.
Ada yang bermain ayunan.
Ada yang saling kejar-kejaran.
Dan di bawah pohon mangga.
Shella dan Sherly sedang duduk berbagi bekal.
Bu Rini memperhatikan dari kejauhan.
Matanya langsung berkaca-kaca.
Karena semakin besar mereka tumbuh.
Semakin mirip Nandin.
Terutama senyum Shella.
Dan cara Sherly memiringkan kepala saat berpikir.
Persis ibunya.
"Bu Rini!"
teriak Sherly saat melihatnya.
Anak itu langsung berlari.
Bu Rini berjongkok.
Lalu memeluknya erat.
"Kangen Bu Rini?"
"Kangeeen!"
Shella ikut mendekat.
Meski lebih tenang dibanding saudara kembarnya.
"Belajar apa hari ini?"
tanya Bu Rini.
"Menggambar keluarga."
jawab Sherly.
Jawaban itu membuat hati Bu Rini langsung berdebar.
Karena ia tahu ke mana arah pembicaraan ini akan pergi.
"Kamu gambar siapa saja?"
tanya Bu Rini hati-hati.
Shella membuka buku gambarnya.
Ada dirinya.
Ada Sherly.
Ada Ayah.
Ada Nenek.
Ada Raka.
Ada Tante Seline.
Namun di pojok kertas.
Ada gambar seorang perempuan.
Sendirian.
"Itu siapa?"
Suara Bu Rini hampir bergetar.
Shella menunduk.
"Mama."
Jawaban itu membuat dadanya langsung sesak.
"Kenapa digambar sendiri?"
tanya Bu Rini.
"Karena Mama jauh."
kata Shella pelan.
"Guru bilang keluarga harus lengkap."
"Aku gak tahu Mama ada di mana."
Di pondok rehabilitasi.
Hari itu Pak Kiai kembali mengajak Nandin berbicara.
Mereka duduk di teras mushala.
Angin sore bertiup pelan.
Suasana tenang.
"Nduk."
"Iya Kiai."
"Kamu masih ingat anak-anakmu?"
Nandin mengangguk.
Meski tidak semua kenangan sudah kembali.
Namun sekarang ia bisa mengingat nama mereka setiap hari.
Bahkan wajah mereka mulai muncul lebih jelas dalam mimpi.
"Kalau diberi kesempatan bertemu..."
Pak Kiai berhenti sejenak.
"Apa yang ingin kamu lakukan?"
Air mata langsung muncul di mata Nandin.
"Aku mau peluk mereka."
Hanya itu.
Tidak ada kemarahan.
Tidak ada dendam.
Tidak ada keinginan membalas siapa pun.
Hanya ingin memeluk anak-anaknya.
Dan jawaban sederhana itu membuat Pak Kiai semakin yakin.
Kesembuhan Nandin ada di sana.
Sementara itu.
Di rumah Bu Sri.
Seline sedang memegang ponsel dengan tangan dingin.
Sangat dingin.
Karena malam sebelumnya ia menemukan sesuatu yang tidak bisa lagi dianggap kebetulan.
Perempuan Korea itu.
Perempuan yang sering muncul di media sosial Wisnu.
Ternyata bukan sekadar teman kerja.
Seline menemukan foto lain.
Foto yang lebih pribadi.
Lebih dekat.
Lebih menyakitkan.
Mereka sedang makan berdua.
Tidak ada rekan kerja lain.
Tidak ada teman.
Hanya mereka.
Seline memperbesar foto itu.
Lalu memperhatikan satu hal.
Jam tangan Wisnu.
Jam yang pernah ia belikan saat ulang tahun.
Tidak mungkin salah.
Itu Wisnu.
Seratus persen.
Malam itu.
Ia tidak langsung menelepon.
Tidak langsung marah.
Tidak langsung membuat keributan.
Ia menunggu.
Karena kadang.
Orang yang bersalah akan membuka kebohongannya sendiri jika diberi waktu.
Benar saja.
Dua hari kemudian.
Wisnu menelepon.
Seperti biasa.
Nada suaranya santai.
"Apa kabar?"
Seline tersenyum tipis.
Pahit.
"Baik."
"Anak-anak sehat?"
"Sehat."
Percakapan berjalan normal beberapa menit.
Lalu Seline bertanya.
"Kamu tadi habis dari mana?"
"Dari kerja."
Jawaban cepat.
Terlalu cepat.
"Yakin?"
Wisnu langsung diam.
"Maksudnya?"
"Aku lihat foto kamu."
Hening.
Sangat lama.
Sampai suara napas Wisnu terdengar jelas.
"Foto apa?"
Seline hampir tertawa.
Karena dulu.
Ketika menjadi selingkuhan.
Ia juga sering mendengar pertanyaan seperti itu.
Pertanyaan orang yang sedang mencari waktu untuk menyusun kebohongan.
"Jangan bohong sama aku."
kata Seline pelan.
"Aku capek dibohongi."
Wisnu langsung berubah.
Nada suaranya meninggi.
"Kamu ngapain ngurusin media sosial orang?"
Seline membeku.
Karena reaksi itu sangat familiar.
Terlalu familiar.
Dan biasanya hanya muncul ketika seseorang merasa terpojok.
"Ada hubungan apa kamu sama perempuan itu?"
tanya Seline.
Wisnu tertawa pendek.
Sinis.
"Gak ada."
"Bohong."
"Gak ada."
"Bohong."
Pertengkaran pertama mereka akhirnya pecah malam itu.
Bukan pertengkaran besar.
Namun cukup untuk meninggalkan retakan.
Retakan pertama yang nantinya akan menjadi jurang.
Setelah telepon ditutup.
Seline duduk sendirian.
Matanya panas.
Dadanya sesak.
Dan untuk pertama kalinya.
Ia benar-benar memahami apa yang dulu dirasakan Nandin.
Rasa ketika instingmu mengatakan sesuatu salah.
Tetapi orang yang kamu cintai terus membuatmu merasa gila karena mencurigainya.
Di pondok rehabilitasi.
Nandin justru sedang perlahan menemukan dirinya kembali.
Ia mulai bercanda dengan penghuni lain.
Mulai tersenyum.
Mulai membantu memasak.
Mulai ikut kegiatan tanpa dipaksa.
Bahkan beberapa penghuni baru tidak menyangka bahwa perempuan pendiam itu pernah mengalami gangguan yang sangat berat.
Namun jauh di dalam hati.
Ada satu keinginan yang terus tumbuh setiap hari.
Bertemu Shella.
Bertemu Sherly.
Dan tanpa disadari siapa pun.
Hari itu semakin dekat.
Karena Bu Rini tidak berniat menyerah.
Sama sekali tidak.
Meski harus melawan keluarga Wisnu.
Meski harus diam-diam.
Meski harus mencari celah sekecil apa pun.
Ia sudah berjanji pada dirinya sendiri.
Seorang ibu dan anak-anaknya tidak boleh dipisahkan selamanya.
Sementara di tempat lain.
Takdir juga sedang menyiapkan seseorang yang akan mengubah arah hidup Nandin selamanya.
Seseorang yang bahkan belum pernah ia temui.
Seorang pemuda.
Yang saat itu belum tahu bahwa hidupnya akan segera berpotongan dengan perempuan yang pernah kehilangan segalanya.
semangat pejuang rupiah..
semangat pejuang garis dua..
dan semangat untuk menulisnya, kak..
🥰🥰🥰
aku mampir lagi..
cerita yg bikin aku sadar, jgn trlalu percaya ke siapapun meski itu suami sndiri..
🥲🥲🥲