Pada ulang tahun pernikahannya yang pertama, Hazel Frost menemukan suaminya, Mason Roux mencium wanita lain dengan kedua matanya. Dan yang lebih menghancurkan lagi, bahwa wanita itu adalah adik tiri suaminya, Jennifer.
Pernikahan yang seharusnya menjadi kebahagiaan pun perlahan berubah menjadi rahasia yang menyakitkan. Meski tahu hatinya tidak pernah benar-benar dimiliki, Hazel tetap bertahan. Ia mencoba membuat Mason melihatnya sebagai seorang istri, bukan sekadar wanita yang terpaksa harus dinikahi.
Namun semakin lama, Hazel mulai menyadari satu hal, bahwa tidak semua cinta bisa diperjuangkan sendirian. Lalu ketika ia akhirnya memilih berhenti dan pergi, Mason justru mulai menyadari perasaannya yang sebenarnya.
Tapi apakah semuanya sudah terlambat? Apakah Hazel masih bersedia kembali pada pria yang pernah menghancurkan hatinya? Atau justru Mason Roux yang akan menyesal seumur hidup karena kehilangan satu-satunya wanita yang benar-benar mencintainya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yellow Sunshine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 13
(Flashback H-28 sebelum pernikahan)
Siang ini terasa terlalu tenang. Aku duduk di dekat jendela kamarku, membiarkan cahaya matahari jatuh pelan di atas tanganku yang terdiam di pangkuan. Tidak ada yang benar-benar berubah di sekitarku. Rumah ini tetap sama, udara tetap hangat, dan suara aktivitas di lantai bawah terdengar seperti biasa. Namun ada sesuatu dalam diriku yang tidak lagi bergerak dengan cara yang sama.
Kini aku tidak menangis lagi. Bahkan tidak ada lagi air mata yang jatuh diam-diam seperti beberapa hari lalu. Tidak ada lagi napas yang tersengal karena menahan sesuatu yang terlalu berat. Tapi di saat yang sama, tidak ada juga semangat yang dulu membuatku terus melangkah tanpa ragu.
Ponselku tergeletak di sampingku. Layarnya menyala sesaat ketika notifikasi masuk—tapi bukan dari seseorang yang kutunggu. Aku menatapnya sebentar, tapi nama itu tetap tidak muncul. Tidak ada pesan, juga tidak ada tanda bahwa ia pernah ingin menghubungiku. Dan untuk pertama kalinya, aku tidak merasa ingin membuka percakapan itu.
Aku menyandarkan kepalaku ke dinding. 'Aku masih di sini…' batinku. Kalimat itu terlintas pelan di dalam pikiranku. '…tapi aku tidak lagi berlari ke arahnya.'
Kali ini aku memang tidak pergi, tapi aku juga tidak lagi mengejarnya. Dan entah mengapa, itu terasa seperti satu-satunya cara untuk tetap bertahan tanpa benar-benar hancur.
“Aku perhatikan akhir-akhir ini kau lebih sering di rumah, Sayang.”
Suara Ibu tiba-tiba menarikku kembali ke kenyataan. Aku menoleh dan mendapati Ibu sudah berdiri di ambang pintu, memperhatikanku dengan tatapan yang terlalu mengenal untuk bisa kuhindari.
“Apa aku tidak boleh berada di rumah sendiri?” jawabku ringan, mencoba terdengar biasa.
Ibu pun lalu tersenyum kecil, tapi matanya tidak benar-benar melepas perhatiannya dariku. “Boleh. Tapi biasanya kau punya tempat lain yang ingin kau datangi.”
Aku tidak langsung menjawab. Dan, Ayah yang baru saja lewat di belakang Ibu ikut berhenti sejenak. “Kau tidak ingin berkunjung ke rumah Mason lagi?”
Pertanyaan itu terdengar sederhana, tapi tidak dengan jawabannya.
Aku menarik napas pelan sebelum akhirnya berkata, “Tentu saja aku masih akan datang… kalau mereka mengundangku untuk datang.” jawabku. Kalimat itu keluar dengan tenang. Tidak ada nada terluka, dan tidak ada emosi yang berlebihan. Hanya sebuah jawaban yang terasa cukup.
Aku tidak lagi memaksakan diri untuk hadir. Tapi aku juga tidak menutup pintu sepenuhnya. Setelah itu, Ibu tidak bertanya lebih jauh. Ia hanya mengangguk pelan, seolah memahami sesuatu yang tidak perlu dijelaskan dengan kata-kata. Dan aku bersyukur untuk itu.
Hingga akhirnya, beberapa saat kemudian setelah Ibu dan Ayah kembali membiarkanku sendirian di dalam kamarku yang nyaman, sebuah kabar kembali mengejutkanku. Sarah datang berkunjung ke rumah kami, dan aku tidak menyangka Sarah akan datang sendiri ke sini.
Saat pelayan memberitahuku bahwa ia menungguku di ruang tamu, aku sempat berhenti di tengah langkah. Ada rasa heran yang tidak bisa kuabaikan. Wanita sesibuk Sarah jelas tidak akan datang tanpa alasan. Dan saat aku melihatnya duduk di sana, dengan senyum yang sama hangatnya seperti biasa, aku tahu bahwa ini bukan sekadar kunjungan biasa.
“Hazel,” ucapnya pelan. Lalu, memelukku hangat.
“Sarah.” , balasku sembari tersenyum kecil.
Kami saling menyapa tanpa jarak, seolah hubungan kami tidak pernah berubah sejak terakhir kali aku keluar dari rumahnya dengan hati yang retak.
“Aku ingin mengajakmu keluar,” katanya kemudian, langsung pada tujuannya.
Aku menatapnya beberapa detik. “Mengajakku keluar?” tanyaku jujur.
Ia tersenyum tipis. “Ya, Hazel. Aku ingin menghabiskan sedikit waktuku hari ini denganmu... juga ada sesuatu yang ingin kubicarakan.”
Aku tidak langsung menjawab, namun juga tidak menolak.
“Baik,” kataku akhirnya. Dan entah mengapa, aku sendiri tidak sepenuhnya tahu alasan aku mengatakan itu.
Mengapa ia datang sendiri? Pertanyaan itu terus mengikuti pikiranku saat kami berjalan keluar rumah menuju sebuah kafe yang kata Sarah merupakan salah saru tempat favorit Mason untuk menghabiskan sedikit waktu luangnya. Dan perjalanan itu dimulai dengan percakapan yang ringan.
Kami duduk di sebuah kafe dengan ruangan VIP yang tenang—cukup jauh dari keramaian, dan cukup dekat untuk membuat percakapan terasa lebih personal. Sarah tidak langsung membicarakan hal yang berat. Ia menanyakan hal-hal sederhana, tentang kegiatanku, tentang keluargaku, juga tentang hal-hal yang biasanya tidak membutuhkan jawaban panjang.
Aku menjawab dengan sopan, tapi tidak lagi sehidup dulu. Sejujurnya, aku menyadari itu. Dan sepertinya, ia juga menyadarinya.
“Hazel,” panggilnya pelan, setelah beberapa saat. Membuatku sontak menoleh.
“Bagaimana keadaanmu sebenarnya?” tanyanya. Pertanyaan itu terdengar sederhana. Tapi untuk pertama kalinya, aku tidak ingin menjawabnya dengan kebohongan yang nyaman.
Aku menatap cangkir di depanku, lalu berkata dengan suara yang lebih pelan dari biasanya, “Sarah. Sejujurnya, Mason tidak pernah menginginkanku.”
Aku tidak melihat wajahnya, tapi aku tahu ia sedang mendengarkan. “Dan sekarang…” aku menarik napas kecil, “…ia bahkan tidak mencoba membiarkanku masuk ke dalam dunianya.”, lanjutku.
Saat ini, tidak ada air mata yang keluar dan membasahi wajahku, juga tidak ada suara yang bergetar saat aku mengatakannya. Tapi kalimat itu cukup terasa berat saat keluar dari mulutku. Seolah setiap kata membawa sesuatu yang selama ini kutahan.
Beberapa detik berlalu dalam diam. Lalu Sarah berkata, dengan suara yang tidak berusaha menyangkal apa pun, “Aku tahu, Hazel.”
Aku sontak mengangkat wajahku. Dan untuk pertama kalinya, aku tidak melihat pembelaan di matanya, melainkan hanya penerimaan.
“Dan aku minta maaf,” lanjutnya pelan. “Kau harus menghadapinya.”
Ia tidak sedang membela Mason. Ia jug tidak mencoba membuatku merasa lebih baik dengan kata-kata kosong. Saat ini, ia hanya mengakui. Dan entah mengapa, itu membuat dadaku terasa sedikit lebih ringan.
“Mason tidak seperti yang terlihat,” katanya kemudian. Dan aku tidak ingin menyela.
Ia melanjutkan dengan perlahan, seolah memilih setiap kata dengan hati-hati. “Sejak kecil… Mason tidak pernah benar-benar diberi pilihan.”
Aku menatapnya. “Apa maksudmu?”
Ia tersenyum tipis, tapi bukan senyum yang ringan. “Rowan memang Ayah yang baik. Tapi, terkadang ia menjadi teralu keras kepada Mason. Banyak hal dalam hidupnya sudah ditentukan, Hazel. Apa yang harus ia lakukan, ke mana ia harus pergi, bahkan bagaimana ia harus menjadi dirinya yang sekarang ini.” jelasnya, membuatku terdiam.
“Ia tumbuh dengan satu hal yang selalu sama,” lanjutnya. “Sikap untuk selalu menerima.”
'Menerima', atu kata itu terasa jatuh tepat di dalam pikiranku.
“Dan ketika seseorang terbiasa hidup seperti itu…” ia berhenti sejenak, “…ia akan mulai mempertanyakan segala sesuatu yang datang tanpa ia pilih sendiri.”
Aku mengerti ke mana arah pembicaraan ini, yang tidak lain dan tidak bukan yaitu tentang perjodohan.
"Lalu, jika rencana perjodohan ini terlalu berat untuk Mason, kenapa kau mendukungnya, Sarah?" , tanyaku.
"Aku memang tidak selalu mendukung apa yang sudah Rowan rencanakan untuk Mason, Hazel. Tapi untuk kali ini, aku tahu bahwa rencana Rowan untuk menjodohkan Mason denganmu adalah rencana yang baik. Keluarga kami dan keluargamu sudah lama berteman baik. Dan, aku sudah menyukaimu bahkan hanya dari cerita yang kudengar, Hazel. Menurutku, kau adalah calon pasangan terbaik untuk Mason. Jadi, aku jelas mendukungnya."
"Meski harus membuat Mason terpaksa menerima itu?"
“Hazel, ada hal-hal yang terjadi di keluarga kami…” suara Sarah melembut, “…yang mungkin tidak pernah ia pahami sepenuhnya.”
Aku tidak bertanya lebih jauh. Tapi aku tahu, bahwa ia sedang berbicara tentang sesuatu yang lebih dalam. “Dan sejak itu… ia selalu berhati-hati pada sesuatu yang disebut hubungan.”
Aku menatap tanganku sendiri. Seolah semua potongan kecil itu mulai tersusun dengan sendirinya.
“Ketika sesuatu datang… tanpa ia pilih sendiri…” lanjutnya, “…ia akan menolaknya.”
Aku pun menahan napas, sembari berusaha mencerna setiap kata yang keluar dari bibir Sarah.
“Bukan karena ia membencinya. Tapi karena ia takut akan kehilangan kendali karenanya. Jadi, mungkin apa yang Mason lakukan padamu saat ini hanya karena ia belum bisa mempercayai bahwa hubungan itu akan berhasil. Bukan karena ia memang sengaja menolakmu.”
Kalimat itu menggema pelan di dalam kepalaku. Dan untuk pertama kalinya aku tidak melihat penolakan Mason sebagai sesuatu yang hanya menyakitkan. Tapi juga, sebagai sesuatu yang ia sendiri tidak sepenuhnya mengerti.
“Dan selama ini Jennifer selalu ada di sisinya ketika Mason dihadapkan oleh keputusan yang sudah Rowan tentukan. Sebagai adik yang selalu menyayangi kakaknya, Jennifer hadir untuk selalu mendukung dan menghiburnya.”
Aku mengangkat wajahku lagi. Sarah mengatakannya dengan nada yang ringan, tanpa ada penekanan khusus dan tanpa ada maksud tersembunyi yang terlihat. Tapi entah mengapa, kata itu terasa berhenti sedikit lebih lama di telingaku.
Selalu? Aku pun tidak bertanya, tapi pikiranku jelas mencatatnya.
“Aku tidak akan memaksamu bertahan, Hazel.”
Suara Sarah membawaku kembali. Dan aku kembali menatapnya. Kali ini, ia terlihat tenang, dan tidak ada tekanan dalam sorot matanya. “Tapi jika kau masih punya alasan untuk tetap di sana…” ia berhenti sejenak, “…maka, jangan menyerah terlalu cepat.”
Aku tidak langsung menjawab. Karena untuk pertama kalinya, aku benar-benar memikirkan itu. Sebuah lasan. Apakah aku masih punya alasan? Atau selama ini aku hanya bertahan karena perasaan yang tidak ingin kulepaskan?
Aku menunduk. Dan dalam diam itu, sesuatu perlahan berubah. 'Jadi ini bukan tentang aku tidak cukup…' pikirku. Pikiran itu muncul begitu saja. “…tapi tentang dia yang belum pernah benar-benar memilih.”
Aku menarik napas pelan. Lalu mengangkat wajahku kembali. “Aku tidak akan memaksanya mencintaiku,” kataku.
Kali ini, suaraku terasa lebih jelas dan lebih tenang. “Tapi aku juga tidak akan pergi…” aku berhenti sejenak, “…sebelum aku tahu aku benar-benar sudah mencoba.”
Sarah menatapku. Dan untuk pertama kalinya, ia tersenyum dengan cara yang berbeda. Bukan karena lega, tapi karena mengerti.
Hingga akhirnya, kamu meyudahi percakapan kami di kafe ini. Dan perjalanan pulang terasa lebih sunyi, meski tidak lagi menekan.
Aku menatap ke luar jendela, membiarkan bayangan kota bergerak pelan di antara pikiranku yang mulai lebih tenang. Saat ini, aku tidak merasa lebih bahagia, tapi tidak juga lebih yakin. Tapi, setidaknya aku tidak lagi merasa tersesat.
'Sepertinya, aku mulai sedikit mengerti dia…' batinku.
Aku memejamkan mata sejenak, namun ada sesuatu yang masih tertinggal. Sesuatu yang belum bisa kujelaskan. '…tapi ada sesuatu yang masih tidak bisa kupahami.'
Wajah itu muncul lagi di pikiranku. Jennifer. Cara ia berdiri di samping Mason, cara ia menatapnya, dan cara Mason menatapnya kembali. Lalu, aku membuka mata perlahan.
“… entah mengapa, perasaanku selalu berubah saat melihatnya bersama Jennifer.”
Aku tidak tahu apa arti perasaan itu, mungkin belum. Tapi aku tahu satu hal, bahwa perasaan itu tdak akan pergi begitu saja.