Diana Ayuningtyas, Berniat memberikan kejutan. dengan sengaja mendatangi Apartemen Gilang Wijaya - sang kekasih, untuk merayakan ulang tahunnya.
Tetapi malah mendapatkan kenyataan bahwa kekasihnya ternyata tinggal bersama wanita lain.
"Kamu siapa ?"
"Aku? Aku tunangan pemilik Apartemen ini!"
Duarrr...
Diana langsung terdiam mematung, tidak ingin percaya.
"Sayang ! Siapa yang datang ?"
Tapi suara Gilang dari dalam, yang memanggil wanita di depannya ini dengan panggilan mesra, membuatnya tidak bisa menahan nya lagi.
Sebelum Gilang datang, Diana segera pergi dengan air mata yang perlahan mengalir.
Lift perlahan tertutup, matanya menatap lurus ke depan, hatinya bergemuruh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dunia_halusinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Bab 28: Janji yang Dipaksa dan Kehadiran yang Mengganggu
Keesokan harinya....
Gilang duduk termenung sendiri di ruang kerja restaurant nya, dia memiliki beberapa restaurant yang sudah terkenal dan beberapa unit hotel.
Matanya memandang kosong ke jendela besar yang menampakkan keramaian kota.
Sejujurnya, dari sekian banyaknya wanita yang pernah dia pacari, hanya Diana yang membekas di hatinya.
"Aku tidak pernah menyangka, hidupku akan menjadi serumit ini!" Gumamnya pada diri sendiri.
Tidak ada siapapun, hanya dirinya sendiri, yang sejak tadi terdiam sambil sesekali menghela nafas panjang.
Gilang adalah seorang playboy, dia memiliki banyak wanita, tetapi hanya pada Diana, dia tidak pernah berbuat macam-macam.
Dan ketika Diana tiba-tiba menghilangkan, barulah dia sadar, mungkin dia sudah mencintai nya.
Pikirannya masih berputar dengan kehidupan lalu..
Hingga tiba-tiba...
Clara datang, tanpa mengetuk pintu dia masuk.
mengenakan baju putih yang menutupi perutnya yang mulai sedikit membuncit.
“Sayang, kamu kenapa ? Kamu lagi gak enak badan” tanya Clara dengan suara lembut, mencoba menyentuh tangan Gilang yang diletakkan di meja.
Gilang melepaskan tangannya perlahan, lalu menghela napas panjang.
"Ada apa?" Tanya Gilang dingin
Matanya masih fokus ke jendela, tanpa melihat pada Clara.
Mendengar nada dingin itu, Clara merasa hatinya panas, tangannya gatal ingin menjambak, menampar, meluapkan kekesalannya.
Setelah kejadian hari itu,
Di rumahnya...
Clara menjadi amukan ayahnya, dia di caci maki tidak berguna, dan ayahnya yang serakah tidak mau tau, bagaimana pun caranya, dia harus menikah dengan pewaris dari Wijaya group ini.
"Aku sudah bersusah payah untuk hamil, agar kita segera menikah, dan aku menjadi nyonya muda Wijaya, tetapi karena wanita itu, semua nya menjadi sulit ! Dasar wanita pembawa sial !" Ujar Clara dalam hati
"Gilang, aku minta maaf ! Aku berjanji tidak akan mengulangi nya lagi" Ujar Clara dengan penuh sesal, wajahnya begitu meyakinkan meskipun itu hanya akting.
Gilang menoleh, di menghela nafasnya terlebih dahulu.
"Clara, kita batalkan saja pernikahan kita !" Tidak ada kelembutan, nada suaranya bahkan sangat datar tanpa ekspresi
"A - apa ?"
Clara langsung merasakan getaran dingin menyelimuti tubuhnya. Dia menggigit bibir dalam, menunggu kelanjutan kalimat Gilang dengan hati yang berdebar kencang.
“Aku tidak yakin apakah kita benar-benar cocok untuk satu sama lain. Tapi tenang, aku akan bertanggung jawab penuh pada anak yang ada di kandunganmu. Aku akan memberi apa saja yang dia butuhkan, tanpa syarat,” ujar Gilang dengan nada tegas namun penuh rasa prihatin.
Tidak... Ini tidak boleh terjadi. Batin Clara, dia tidak ingin menjadi amukan ayahnya lagi.
Seketika itu juga, Clara menangis histeris. Air matanya tumpah.
Dia mengangkat suara, menangis dengan terisak-isak. “Jadi kamu ingin membatalkan pernikahan? Apakah karena kamu masih mencintai Diana? Apakah kamu berniat merebutnya dari ayahmu?”
Gilang terdiam.
Bibirnya menggigit erat, tidak bisa menjawab pertanyaan itu.
Benarkah dia masih mencintai Diana? Ya, mungkin sedikit, tapi dia tahu batasnya.
Diana adalah istri ayahnya, dan dia tidak akan pernah melanggar kepercayaan itu.
Namun, keheningan itu malah membuat Clara semakin yakin dengan dugaan dirinya.
“Jawab aku, Gilang! Apakah itu karena dia?” teriak Clara semakin keras.
“Aku sudah bersusah payah selama ini! Aku selalu mencoba menjadi yang terbaik untukmu, selalu mengikuti keinginanmu! Dan ini balasannya? Kamu ingin meninggalkanku hanya karena wanita itu?”
Dia menangis semakin keras, tubuhnya terguncang hebat.
Aktingnya begitu sempurna, sampai Gilang sendiri merasa terpancing.
Tepat sekali, Clara adalah wanita yang nekad.
Matanya melihat gunting kecil yang diletakkan di meja. Tanpa berpikir panjang, dia meraih gunting itu dengan cepat, lalu mengarahkannya pada perutnya.
"Clara, apa yang kau lakukan?"
Gilang panik. Dia berdiri cepat, berusaha merebut benda itu dari tangan Clara. “Clara, berhenti! Jangan lakukan hal bodoh!”
Akhirnya... umpan terpancing juga !
Clara menyeringai jahat, tetap memegang gunting itu erat.
“Jika kamu membatalkan pernikahan, aku akan mengakhiri hidupku dan hidup anak ini!”
Gilang mencoba mendekat, dan berusaha meraih benda tajam itu.
"Jangan gegabah, Clara! Kau tidak menyayangi anakmu sendiri?" Pekik Gilang tidak habis pikir
"Justru karena aku menyayanginya, aku tidak ingin dia hidup tanpa ayah, dan menjadi hinaan orang, jadi lebih baik dia tidak di lahirkan, aku juga tidak sanggup kehilangan mu!" Clara menangis, berusaha meyakinkan.
"Aku sudah berjanji akan bertanggung jawab sepenuhnya, jika perlu, biar aku saja yang membesarkan nya. Kamu bisa bebas pergi atau bersama orang lain. Aku yang akan merawatnya" Rayu Gilang, dia mencoba untuk membujuk
"Aku mencintaimu, Gilang. Selama ini aku sudah bersabar begitu lama. Bahkan ketika kamu mempunyai banyak wanita, aku selalu menunggu mu"
Gilang meremas rambutnya prustasi,
"Tapi aku tidak mencintaimu, A ku tidak men cin ta i mu " Ujar Gilang dengan penuh penekanan, berharap Clara akan mengerti
Meski Clara hanya mengejar harta, tetapi ketika Gilang mengatakan itu dengan penuh keyakinan.
Kenapa rasanya hatiku sakit... Clara memegang dadanya yang tiba-tiba sesak
"Kamu jahat ! KAMU JAHAT!" Teriak Clara, dia mengayunkan gunting itu ke perutnya.
Gilang membulatkan matanya dan langsung bergerak cepat menangkap tangan yang sudah dekat dengan perutnya.
“ JANGAN !! Aku tidak akan membatalkannya, Clara! Berhenti, tolong!” teriak Gilang, mata membasahi air mata melihat anak yang dikandung Clara dalam bahaya.
Dia mendekat perlahan, hatinya penuh ketakutan.
Clara terus mengancam, gerakan tangannya sedikit bergoyang. “Kamu harus berjanji, Gilang! bahwa kamu akan menikahiku, dan tidak akan pernah meninggalkanku untuk siapa pun, termasuk Diana!”
Meski hatinya resah...
Gilang menyerah. Dia mengangkat tangan, menunjukkan bahwa dia tidak akan melakukan apa-apa.
“Baik… aku janji. Aku akan menikahimu. tapi aku mohon jangan lakukan hal ini lagi pada dirimu dan anak kita.”
Hanya setelah itu, Clara melepaskan guntingnya.
Benda itu jatuh ke lantai dengan suara klink, dan Clara langsung menjatuhkan diri ke lantai, menangis lagi namun kali ini dengan rasa lega.
Gilang segera mengangkat gunting itu dan menyimpannya jauh dari jangkauan Clara, hatinya lelah.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Beberapa minggu kemudian, pernikahan Gilang dan Clara dilaksanakan.
Acara megah dan mewah digelar di salah satu hotel bintang lima milik Gilang sendiri dengan dekorasi yang indah dan penuh kemewahan.
Bunga-bunga putih dan emas menghiasi setiap sudut aula, menciptakan suasana yang mewah dan anggun.
Ratusan tamu terhormat hadir — rekan bisnis, kolega, kerabat, dan orang penting di dunia bisnis kota.
Arga dan Diana duduk di tempat khusus keluarga, berdampingan dengan Nyonya Amara.
Arga memperkenalkan Diana pada beberapa rekan bisnisnya yang baru datang, dan tampak jelas bahwa mereka sedikit terkejut.
“Wah, Tuan Arga! ternyata sudah menikah kembali?istrinya sangat muda dan cantik!” kata salah satu rekan bisnis, Pak Hendra, dengan mata yang membulat tak percaya.
Arga tersenyum bangga, melingkarkan lengan di pinggang Diana. “Pak Hendra. Ini Diana, istriku. Kami sudah menikah beberapa bulan yang lalu, hanya saja tidak mengumumkan secara luas.”
Diana tersenyum, menjabat tangan Pak Hendra. “Salam kenal, Pak Hendra. Senang bertemu dengan anda.”
Meskipun banyak yang memuji dan menyapa dengan ramah, Diana tidak kehabisan mendengar bisikan buruk dari beberapa tamu, terutama kelompok wanita yang duduk di sudut aula.
“Wanita muda seperti itu, pasti hanya mengincar harta Tuan Arga. Jual diri mungkin,” bisik salah satu wanita dengan nada meremehkan.
“Itu pasti. Nanti, ketika Tuan Arga bosan, dia akan langsung di depak dari keluarga. Itu sudah jelas,” tambah yang lain.
Diana merasa hatinya terasa sakit, tapi dia berusaha tetap tenang. Ia tidak ingin membuat keributan di tengah acara yang seharusnya bahagia.
Merasa perlu sejenak menyegarkan diri, dia meminta pamit ke toilet.
“Mau aku antar, Sayang?” tanya Arga dengan nada lembut.
Diana menggeleng. “Tidak usah, Mas. Aku bisa sendiri. Nanti aku segera kembali.”
Di toilet, Diana baru saja selesai dengan panggilan alamnya.
Tetapi, sebelum dia bisa keluar, dia mendengar suara beberapa wanita yang masuk dan berbicara dengan keras.
“Kamu lihat tadi? Wanita yang duduk bersebelahan dengan Tuan Arga? Katanya istri barunya. Pasti hanya karena hartanya saja,” ujar salah satu wanita.
“Lihat saja nanti, tidak lama lagi dia akan diusir. Tuan Arga pasti akan bosan dengan dia,” tambah yang lain.
Diana menyembunyikan diri di balik pintu kamar mandi, hati terasa berdenyut nyeri.
Benarkah akan seperti itu? Apakah Mas Arga akan bosan denganku nanti? pikirnya, mata mulai berkaca-kaca.
Dia berusaha untuk tidak terbawa perasaan, tetapi hatinya tetap ngilu karena kemungkinan yang mereka ucapkan.
"Aku yakin, Mas Arga bukan orang seperti itu.!" Ujarnya memberi semangat
Setelah wanita itu pergi, Diana bersiap keluar.
Namun, langkahnya terhenti lagi ketika mendengar dua orang wanita lain datang dan berbicara.
“Kamu lihat Nona Wulan tadi, Dia terlihat sangat akrab dengan Tuan Arga dan Tuan Gilang ya?” ujar salah satu wanita.
“Ya, Aku rasa mungkin Tuan Arga sebentar lagi akan menikah lagi dan menjadikannya istri kedua. Mereka sangat cocok, usianya juga tidak terlalu jauh beda,” jawab yang lain.
"Syuttt.. Jangan sembarang bicara, bagaimana jika istrinya mendengar!" Ujar teman wanita itu
"Tapi emang benar, Nona Wulan itu sangat cocok dengan Tuan Arga, bukankah Tuan Arga suka daun muda!" Ujarnya sambil tertawa kecil
Diana merasa dadanya semakin sesak.
Siapa itu Wulan?
Mengapa mereka berkata begitu? pikirnya,
hatinya gundah oleh rasa cemburu yang mulai membara.
Dia menunggu sampai kedua wanita itu pergi,
baru kemudian keluar dari toilet, merapikan penampilannya dengan tangan yang sedikit gemetar.
Ketika dia kembali ke aula, pandangannya langsung mencari Arga.
Dari kejauhan, dia melihat suaminya sedang berbicara dengan seorang wanita cantik dan seksi yang mengenakan gaun malam berwarna biru tua yang menonjolkan bentuk tubuhnya.
Wanita itu tertawa riang, dan Arga juga tampak senang berbincang dengannya.
Gilang berdiri di samping mereka, juga terlihat akrab dengan wanita itu.
Perasaan campur aduk memenuhi hati Diana.
Dia mendekat dengan langkah perlahan, lalu langsung merangkul lengan Arga dengan lembut.
Arga yang melihatnya, tersenyum dengan penuh kasih sayang.
“Kamu sudah kembali, Sayang?” ujar Arga.
Diana tersenyum manis, dengan sedikit di paksakan.
Gilang menyadari perubahan raut wajah Diana, tetapi Arga masih tetap santai berbicara dengan wanita itu
Arga kemudian memperkenalkan Diana pada wanita cantik di depannya. “Ini istriku, Diana.”
Wanita itu tertegun sesaat, mata memandangnya dengan pandangan yang tidak terduga.
Namun, dia segera menormalkan raut wajahnya, lalu mengulurkan tangan.
“Salam kenal, Mbak Diana. Aku Wulan, adiknya Kak Sarah — ibunya Gilang,” ujarnya dengan suara yang terdengar sopan namun sedikit dingin.
Diana merasa dada terasa semakin sesak.
Jadi ini dia Wulan yang mereka bicarakan tadi? pikirnya, sambil menjabat tangan Wulan dengan hati tidak karuan.
Dia mulai menyadari bahwa menjadi istri Arga Wijaya bukanlah hal yang mudah, ada banyak kejutan, baik dari orang luar maupun dari masa lalu yang tiba-tiba muncul kembali.