NovelToon NovelToon
The General'S Captive Lady

The General'S Captive Lady

Status: sedang berlangsung
Genre:Pernikahan Kilat / Dijodohkan Orang Tua / Mafia / Aliansi Pernikahan
Popularitas:529
Nilai: 5
Nama Author: indri novianti

"The General's Captive Lady" adalah novel fiksi romantis-militer yang penuh ketegangan politik, trauma masa lalu, dan pembalasan dendam.
Claudia, seorang putri yang terbuang dan disiksa sejak kecil oleh faksi Crimson Raven. Demi menutupi ketamakan mereka, reputasi Claudia dihancurkan di mata publik hingga ia dicap sebagai wanita glamor yang buruk. Saat faksi Raven kalah perang, ia dikorbankan menjadi sandera politik dan dikirim kepada Reymond Oliver Smith, seorang panglima perang aliansi yang terkenal dingin dan kejam.

Hubungan mereka awalnya dipenuhi kebencian dan kesalahpahaman, bahkan Claudia sempat dijebloskan ke ruang bawah tanah karena fitnah dari bapaknya. Namun, jeritan trauma masa kecil Claudia di tengah sakit parah akhirnya meruntuhkan dinding es di hati Reymond. Penyelidikan rahasia pun dimulai, membongkar asal-usul Claudia yang sebenarnya sebagai pewaris sah bangsa

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indri novianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Penjaga di Balik Bayang-Bayang

Detak jarum jam dinding terdengar seperti ketukan vonis di dalam kamar yang mendadak terasa menyempit itu. Aroma antiseptik bercampur wangi lavendel yang samar mengantung di udara. Di atas ranjang ukuran king-size, tubuh Cla tampak begitu ringkih, kontras dengan kasur megah yang menopangnya.

Dokter pribadi keluarga Smith bergerak cepat memberikan ramuan penurun demam dan membalut dahi Claudia dengan kompres hangat. Setelah memastikan kondisi fisik sang nona stabil meski masih dalam ketidaksadaran total.

Dokter paruh baya itu merapikan stetoskopnya dengan gerakan lambat, sengaja mengulur waktu demi mengumpulkan keberanian.

"Demamnya sangat tinggi akibat kelelahan fisik dan tekanan mental yang ekstrem, Tuan Smith," lapor dokter dengan nada rendah.

"Untuk malam ini, beliau harus terus dipantau agar panasnya tidak naik lagi, Tuan," ujar sang dokter, suaranya sengaja direndahkan seolah takut mengusik ketenangan helaan napas Cla yang berat. "Saya sudah memberikan dosis obat terbaik yang aman untuknya."

Rey tidak bergeming. Kedua tangannya terbenam dalam saku celana bahan hitamnya, sementara tatapannya tertuju lurus pada wajah pucat Cla yang sesekali meringis dalam tidurnya. "Lalu?" sahut Rey dingin, tanpa menoleh.

"Satu hal lagi, Tuan," ucap dokter itu. Kalimatnya menggantung. Ia berdehem kecil, melirik cemas pada rahang tegas Rey yang mengeras.

"Ada apa?" Tatapan mata elang Rey kini beralih tajam, mengunci sang dokter di tempatnya.

"Seandainya—" Dokter itu meremas pelan tas medisnya. Ada keraguan besar yang menahan lidahnya. Ia tahu persis rumitnya benang merah yang mengikat kedua orang di kamar ini. Batasan-batasan tak kasatmata yang selama ini mereka jaga. "Hm... tubuh Nona Cla memang sangat panas saat ini, namun—"

"Bicaralah yang jelas, Dokter. Jangan membuat saya kehilangan kesabaran dengan kalimat patah-patah Anda," potong Rey. Suaranya tidak keras, namun getaran dingin di dalamnya sanggup membuat nyali siapa pun menciut. Sifat dominannya menuntut kejelasan instan.

Dokter itu menarik napas panjang, memutuskan untuk mengabaikan rasa takutnya demi keselamatan pasien.

"Tubuh nona memang membara karena demam, Tuan Rey. Namun, reseptor di otaknya justru mengirimkan sinyal sebaliknya. Saat ini, dia merasa seperti sedang membeku di tengah badai salju. Menumpuknya dengan selimut tebal hanya akan memerangkap panas di dalam tubuhnya dan itu berbahaya."

Rey mengernyitkan alis, setitik kecemasan mulai menyusup di antara keangkuhannya. "Lalu?"

"Anjuran medis terbaik saat ini adalah pertukaran suhu tubuh secara langsung."

Kamar itu mendadak hening seketika.

"Apa maksudnya?" Tanya Rey, suaranya kini berbisik tajam. Atmosfer di sekitar mereka mendadak berubah pekat oleh ketegangan yang tak terucap.

Dokter itu melangkah mundur satu tapak menuju pintu keluar, memberikan jarak aman sebelum melepaskan kalimat terakhirnya. "Anda harus menghangatkan tubuh nona tanpa penghalang apa pun. Kulit ke kulit, Tuan. Hanya itu cara tercepat untuk menstabilkan suhunya secara alami malam ini. Saya permisi."

Pintu kayu jati itu tertutup dengan bunyi klik yang halus, meninggalkan Rey dalam keheningan yang mencekam. Pandangannya perlahan kembali jatuh pada Cla yang mulai menggigil kecil di balik selimut, memicu pergulatan batin yang hebat di dalam benak pria itu.

Bunyi klik pintu yang tertutup seolah memutus satu-satunya pasokan udara di kamar itu. Rey masih berdiri di tempat yang sama, kaku seperti patung, dengan tatapan yang terkunci pada sosok ringkih di atas ranjang.

Tanpa penghalang apa pun.

Kata-kata dokter tadi terus berdengung di kepalanya, berputar seperti kaset rusak yang mengejek akal sehatnya. Kalimat itu bukan sekadar anjuran medis; bagi Rey, itu adalah sebuah undangan menuju wilayah terlarang yang selama ini setengah mati ia hindari.

"Sial," umpatnya lirih, nyaris tak terdengar.

Ia meraup wajahnya kasar. Jemarinya yang gemetar mengendurkan dasi yang mendadak terasa mencekik lehernya. Rey egois, ia tahu itu. Ia bisa mendapatkan apa pun yang ia inginkan di dunia ini hanya dengan satu jentikan jari. Namun, menyentuh Cla dalam kondisi tak berdaya seperti ini? Itu bertentangan dengan seluruh prinsip yang ia agungkan.

Ada dinding tebal yang sengaja ia bangun di antara mereka. Dinding yang terbuat dari ego, dendam, dan rahasia masa lalu. Jika malam ini ia meruntuhkan dinding itu demi sepotong alasan medis, Rey tahu tidak akan ada jalan kembali. Dia akan kalah oleh perasaannya sendiri—sebuah kelemahan yang tidak boleh ia tunjukkan pada siapa pun, termasuk pada wanita yang kini sedang sekarat di hadapannya.

“Ego atau nyawanya, Rey?” Sebuah suara di sudut gelap benaknya berbisik, menuntut jawaban instan.

Suara erangan kecil memutus perdebatan di kepalanya. Di atas ranjang, tubuh Cla mulai bergetar hebat. Bibirnya yang pucat tampak membiru, bergumam tak jelas menahan gigilan yang menyiksa. Kedua tangan wanita itu mencengkeram ujung selimut, mencoba mencari kehangatan yang sia-sia dari selembar kain.

Melihat itu, pertahanan Rey retak. Rasa angkuh yang beberapa detik lalu mencengkeram erat hatinya, menguap tanpa bekas, digantikan oleh rasa takut yang luar biasa. Takut kehilangan.

"Kenapa kau selalu membuatku tidak punya pilihan, Cla?" gumam Rey, suaranya sarat akan keputusasaan yang dalam.

Langkah kakinya yang biasanya tegas kini terasa berat saat mendekati sisi ranjang. Setiap tapak yang ia ambil terasa seperti sedang melangkah di atas pecahan kaca. Perlahan, Rey duduk di tepi kasur. Duduk di ruang paling intim milik wanita itu.

Tangannya terulur, ragu-ragu di udara selama beberapa detik sebelum akhirnya mendarat di kening Cla. Kulit wanita itu terasa begitu membakar, berbanding terbalik dengan tubuhnya yang terus menggigil kedinginan. Sentuhan itu seperti menyengat kesadaran Rey.

Ini bukan lagi tentang batasan, tentang gengsi, atau tentang hubungan rumit mereka. Ini tentang menyelamatkan Cla.

Rey menarik napas panjang, memejamkan mata sejenak untuk menenangkan debaran jantungnya yang menggila. Saat matanya kembali terbuka, keraguan itu telah lenyap dari manik matanya. Yang tersisa hanyalah kilat tekad yang bulat. Dengan gerakan perlahan namun pasti, jemarinya mulai bergerak menuju kancing teratas kemejanya sendiri...

...----------------...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!